
Hari ini Nessa sedang berada di rumah sakit tempat biasa dia melakukan pemeriksaan. Nessa terlihat duduk dengan gelisah, pasalnya pagi tadi dia mendapat telpon dari dokter pribadinya yang memberi kabar jika dia sudah mendapat donor mata. Tapi Nessa harus melakukan pengecekan terlebih dulu apa mata yang akan dia terima bisa cocok dengannya, karna jika tidak dia harus menunggu lagi.
"Minum" tempat duduk yang Nessa duduki sedikit bergoyang karna ulah seorang pria yang sedang menyodorkan minuman ke tangan Nessa.
"Trimakasih." ucap Nessa
"Kau disini sendiri?" tanya Ken. Ya, pria yang memberikan minuman untuk Nessa adalah Kenzo, beberapa hari ini Ken seperti sedang mendekati Nessa. Tapi Nessa tidak ingin terlalu berharap, karna Ken sudah menyukai wanita lain. Dan tentunya itu bukan dirinya.
"Tidak, aku bersama mama." jawab Nessa
"Donornya sudah ada?"
"Katanya."
"Kenapa? kau tidak yakin?"
Nessa menggeleng lemah, dia memang tidak yakin. Dia takut berharap, karna sudah beberapa kali harapannya runtuh karna donornya tidak cocok.
"Tenanglah, aku yakin kau akan cepat bisa melihat lagi." Ken menggenggam erat tangan Nessa. Nessa yang terkejut langsung menggeser duduknya hingga membuat genggaman tangan Ken terlepas.
"Ma_af, apa kamu tidak sedang sibuk?" tanya Nessa mengalihkan rasa gugupnya.
Ken tersenyum melihat wajah Nessa yang terlihat malu-malu." Tidak, aku sedang free. Kenapa?"
"Tidak, aku hanya bertanya."
"Sya, jika aku mengajakmu untuk makan malam, apa kau akan menolak lagi?" tanya Ken tanpa ada rasa ragu di dalam pertanyaannya.
Nessa terdiam, dia tidak tau harus menjawab apa, terhitung sudah 3 kali ini Kenzo mengajaknya makan malam. Dan Nessa selalu menolak ajakan Kenzo, banyak alasan yang membuat Nessa tidak menerima ajakan Ken, salah satunya adalah kebutaannya. Nessa tidak ingin membuat Ken malu karna mengajak wanita buta makan malam, karna Nessa tau jika Ken sangat populer dengan gelar yang Ken punya.
"Kenapa diam, kau menolak lagi." Ken membalik badannya, menatap wajah Nessa yang sedang menunduk, ya tantunya Nessa tidak akan tau jika dia sedang di tatap Ken." Nessa, aku ingin tau apa yang membuatmu selalu menolak ajakan ku, apa ada yang salah dariku atau kau masih takut dan tidak percaya padaku?"
Nessa menggeleng lemah, Nessa sama sekali tidak takut dan tidak meragukan Ken, hanya saja Nessa tidak ingin terlalu berharap.
"Kau menggeleng, itu berarti tidak ada yang salah denganku, lalu kenapa kau selalu menolak ku." suara Ken melunak, tatapan matanya sendu.
"Maaf Ken, tapi aku benar-benar tidak bisa." Nessa bangkit, dia hendak pergi dari sana, tapo tangan besar Ken membuat Nessa berhenti seketika.
"Sya, aku mencintaimu." ucapan Ken membuat Nessa membeku seketika. Dia tidak percaya pada pendengaran nya sendiri.
"Lepas Ken." Nessa berontak, mencoba melepas pegangan tangan Ken pada pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Kenapa Sya, apa kau tidak memiliki perasaan padaku?" Nessa bungkam, perhatian yang Ken berikan beberapa minggu ini cukup membuat Nessa tertarik pada Dokter muda itu. Tapi Nessa tidak bisa, dia masih takut untuk menerima seorang pria dalam hidupnya yang penuh kegelapan ini.
"Ken, aku mohon lepas." ucap Nessa lagi. Tapi Ken masih tidak mengindahkan ucapan Nessa, dua masih setia menggenggam tangan Nessa erat.
"Aku tidak akan melepasmu Sya, aku mohon. Aku sangat mencintaimu sya." ucap Ken lagi.
"Maaf Ken, tapi aku tidak bisa, tolong lepas Ken." suara Nessa mulai bergetar, dia tidak bisa lagi menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ken berdiri, tepat di depan Nessa. Melihat Nessa yang akan menangis mulai tidak tega." Baiklah." Ken menghela nafasnya dalam, menangkup wajah cantik Nessa yang terlihat mendung." Aku tidak akan memaksamu Sya, aku akan menunggu sampai kau siap menerimaku. Aku tidak pernah mempermasalahkan keadaanmu, karna cinta itu buta. Begitupun dengan cinta kau."
Nessa masih diam, dia tidak tau harus berkata apa. Nessa merasakan genggaman tangan Ken terlepas, mendengar suara derap langkah menjauh darinya. Itu artinya Ken sudah pergi.
Kaki Nessa lemas, dia merosot kan tubuhnya hingga terduduk kembali ke kursi semula ia duduki. Nessa menangkup wajahnya, bahunya bergetar pertanda Nessa mulai menangis. Hatinya perih, dadanya sesak saat pria yang juga dia cintai tidak bisa ia miliki. Nessa hanya tidak ingin egois, dia tidak ingin Ken mendapat gadis buta sepertinya.
Sementara itu dari kejauhan Anel melihat putri angkatnya itu menangis, dia tau apa yang sudah terjadi, karna Anel cukup lama berdiri disana dan melihat semua yang terjadi.
Anel melangkahkan kakinya kembali saat dia melihat putrinya sudah kembali baik-baik saja. Anel tidak ingin bertanya, karna tidak ingin melukai hati putrinya itu. Lebih baik jika Anel diam dan pura-pura tidak mengetahui yanh sebenarnya.
"Sayang, ayo kita pulang." Nessa mendongak, merasakan tangan Anel menyentuh pundaknya. Nessa mencoba tersenyum, memperlihatkan jika dia baik-baik saja.
"Sudah selesai ya Ma?"
Nessa mengangguk lalu bangkit dari tempat duduknya. Nessa mengambil tongkat yang selalu menuntunnya kemanapun dia pergi. Nessa melangkahkan kakinya berjalan mengikuti langkah kaki Anel. Nessa tidak merasa kesulitan karna dia sudah terbiasa dengan rumah sakit itu, dan hafal akan jalan menuju parkir. Nessa mempelajari semua itu karna tidak ingin terlalu merepotkan keluarganya.
*****
Perusahaan Ghenio
Devan sedang sibuk dengan berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Hari ini Devan membantu papanya mengurus perusahaan karna Danu dan Amel sedang berkunjung ke salah satu krabat yang berada di Surabaya. Devan begitu serius hingga tidak memperhatikan yang lainnya.
Brak....!
Devan terlonjak kaget saat ada yang menggebrak meja kerjanya. Devan mendongak, melihat siapa sosok yang sudah menggangu pekerjaannya.
"Kampret, lo mau bikin gue jantungan hahhhh." triak Devan sambil melempar bolpoin yang dia pegang ke arah orang yang sudah membuatnya terkejut.
"Hoho, slow Men. Habis lo tegang amat, gu panggil beberapa kali gak juga lo respon." seorang pria dengan perawakan tinggi, putih dan memiliki rahang sempurna duduk dengan santai di sofa ruang kerja Devan. Dia adalah Rendy.
"Cihhh, ngapain lo kesini? ganggu pekerjaan gue aja lo." ucap Devan
"Gue cuma pengen liat aktifitas pengantin baru aja, sekalian mau tanya soal Rangga."
__ADS_1
Dahi Devan menyerit, tidak biasanya Rendy bertanya tentang Rangga." Tumbel lo inget sama Rangga, ada apa nih?" tanya Devan penuh selidik.
"Jangan mikir yang gak-gak, gue cuma kangen aja sama tu oncom, dia udah gak pernah hubungin gue lagi sekarang. Gue cuma mau tau apa dia masih hidup atau sudah mati."
Devan melempar kembali bolpoin yang dua pegang hingga mengenai wajah tampan Rendya.
"Sialan lo, lo pikir wajah gue kertas." kesal Rendy
"Muka lo emang kayak kertas, kertas tebel malah. Lo mau Rangga ngubungin lo lagi setelah apa yang lo lakuin pada hubungan Rangga dan Fani. Cihhhh, gak habis fikir gue sama lo." sinis Devan.
"Hahhhh." Rendy menghela nafasnya berat, dia tidak percaya jika Devan dan Rangga masih tidak mempercayainya.
"Terserah lo aja, yang penting gue udah jujur sama kalian. Dan jika kalian masih tidak percaya, itu hak kalian." Devan melihat wajah Rendy yang berubah sendu. Devan sempat berfikir jika Rendy memang sengaja membuat hubungan Fani dan Rangga Renggang. Tapi saat mendengar ucapan Rendy, Devan sedikit meragu.
Devan hendak bangkit dari tempatnya sekarang, tapi baru saja Devan mengangkat tubuhnya separuh Devan dan Rendy mendengar keributan dari depan ruangan Devan. Devan dan Rendy ingin melihat apa yang terjadi, tapi baru saja mereka melangkah pintu ruangan Devan terbuka dengan kasar hingga orang membukanya terjatuh ke lantai.
Brakkkk.....!
"Aduhhh."
[Bersambung]
.
.
Sedikit cerita tentang Rendy, Fani dan Rangga ya.
Fani adalah cinta pertama Rendy, tapi Fani lebih memilih Rangga karna Rangga adalah cinta Fani sejak mereka SMA. Penolakan cinta Fani membuat Rendy kecewa dan pada akhirnya membuat Rendy tidak menyukai hubungan serius dengan wanita. Dan saat hubungan Rangga dan Fani retak semua menyalahkan Rendy, karna pada saat itu Rendy mengenalkan seorang wanita kepada Rangga dan membuat cinta Rangga berpaling dari Fani.
.
.
Terus kira-kira yang membuat keributan dan jatuh di depan dua pria tampan itu siapa ya?😅
.
Kali ini Author akan menggabung perjalanan cinta Nessa dan Ken begitupun dengan kisah cinta Alin di cerita Will you marry me. Karna Author fikir satu judul untuk mereka semua itu sangat pas.
Jadi jangan lupa selalu dukungan kalian dengan Like, comment dan juga vote kalian.🙏
__ADS_1