
"Kau."
Aline benar-benar terkejut melihat wajah tengil di depannya. Entah kenapa Aline merasa kesialan sedang bersamanya hari ini.
"Apa Kau kesini hanya ingin menatapku saja? atau kau baru sadar jika aku sangatlah tampan." Rendy tersenyum jahil, dia senang melihat wajah konyol Aline saat melihatnya.
"Cihh, kau benar-benar pria besar kepala." Aline mendengus kesal, dia menghempas tubuhnya dengan kasar ke sopa tepat di depan Rendy. Sementara Rendy, dia malah tertawa melihat Aline.
"Hahaha, aku tidak besar kepala, tapi itu kenyataannya." ucap Rendy dengan wajah sok nya.
"Baik, cukup. Aku kesini untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan mu, bukan untuk mendengar kenarsisanmu." ucap Aline dengan nada kesal.
"Ups, ok silahkan di mulai." Rendy mendengarkan persentasi yang di bawakan Aline, Sebenarnya tidak seutuhnya mendengarkan, dia sedang melihat betapa cantiknya Aline jika di lihat dari dekat. Entah sejak kapan Rendy mengagumi sosok Aline, tapi yang Rendy tau dia mulai menyukai gadis yang selalu di anaknya bertengkar itu.
"Tuan, nona Aline sudah selesai." ucap Sekertaris Rendy, tapi sayangnya bosnya itu masih terus menatap wanita di depannya tanpa sadar.
"Tuan."
"Tuan."
"Kenapa hahh?" tanya Rendy kesal, dia masih belum sadar
"Maaf tuan, tapi nona Aline sudah selesai." ucap Marcel, asisten Rendy itu bahkan terlihat kesal melihat kelakuan tuan mudanya.
"Iya, aku tau. Mengacau saja."
"Cihh, apa dia sudah mulai gila, bahkan sejak tadi matanya hanya memandangku." batin Aline.
"Baiklah, akan aku pertimbangkan nanti, sekarang aku harus pergi."
Aline melebarkan bola matanya, pria di depannya itu benar-benar menguji kesabarannya. Ingin sekali rasanya Aline menendang wajah Rendy hingga babak belur, tapi tidak, Aline harus sedikit bersabar, karena kerja sama ini cukup penting baginya.
"Hmm, baiklah, akan aku tunggu, terimakasih atas waktunya." ucap Aline mencoba bersikap baik.
__ADS_1
"Hmm tidak masalah." Rendy pergi dengan menahan tawa melihat bagaimana reaksi Aline.
Sementara Aline menghentakkan kakinya karena begitu kesal melihat wajah tengil itu."Astaga, ingin sekali aku memukul wajahnya itu." jerit Aline tertahan.
Aline meninggalkan cafe itu setelah Rendy sudah tidak terlihat lagi, dia hanya tidak ingin pria itu mengira Aline mengikutinya.
***
Kediaman Devan
Kinan sedang memanjakan diri setelah membuat suaminya Devan begitu panik. Pagi tadi Kinan merasa mulas pada perutnya yang seketika membuat wajah Devan memerah dan di penuhi keringat dingin. Devan memang sudah siap menjadi ayah, tapi melihat istrinya kesakitan membuat nyali Devan menciut, dia bahkan menelpon Amel dan menyuruhnya segera pulang.
"Sayang, bagaimana? Apa masih sakit?" tanya Devan terdengar begitu khawatir.
"Tidak kak, sudah tidak lagi, kakak tidak perlu khawatir."ucap Kinan santai.
"Bagaimana tidak khawatir sayang, kau begitu kesakitan."
"Ini belum apa-apa, jika waktunya sudah tiba mungkin kakak akan jantungan melihatku nanti." Kinan menahan tawanya melihat wajah lucu sang suami. Entah kenapa Kinan sangat suka mengerjai Devan.
Suara bel kediaman itu mengalihkan pandangan keduanya, mereka berfikir siapa yang bertamu di siang hari seperti ini.
"Istirahat lah, aku akan melihat siapa yang datang." ucap Devan. Kinan hanya mengangguk patuh, dia sudah cukup membuat suaminya tegang.
Devan turun ke bawah, melihat siapa yang menganggu aktifitas nya. Devan bahkan tidak pergi ke kantor demi menjaga Kinan hari ini.
Pintu di buka
"Astaga, kakak lama sekali membuka pintunya." ucap Aline.
Ya, setelah dari cafe tadi Aline memutuskan untuk pergi ke rumah Kinan, dia sangat merindukan saudarinya itu.
"Kau itu, kenapa selalu tidak sabaran. Kau pikir aku ini pengangguran."
__ADS_1
Aline menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya, membuat Devan terkejut dan hampir menabrak gadis di depannya itu."Ehh, iya. Kenapa kakak bisa di rumah? apa kakak tidak ke kantor?" tanya Alin.
"Kau itu, bisa tidak jangan berhenti mendadak seperti itu." kesal Devan." Aku tidak bekerja karena Kinan mulai tidak nyaman, kelahirannya sudah dekat." jawab Devan sambil melewati Aline begitu saja.
"Lalu dimana Kinan sekarang?"
"Dia ada di kamar, tapi ingat jangan ganggu dia, biarkan dia beristirahat."
"Baik kak, tenang saja." wajah Aline terlihat riang, dia langsung berlari ke atas seperti anak kecil. Devan yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Tapi Devan senang, setidaknya ada yang menemaninya menjaga Kinan.
"Kinan." panggil Aline, gadis itu berlari dan duduk di depan Kinan.
"Astaga Aline, kau disini." wajah Kinan terlihat senang, sudah beberapa hari ini Aline tidak mengunjunginya.
"Tentu saja, aku sangat merindukanmu Kinan." Aline memeluk saudarinya dengan bahagia.
"Hey, apa kau tidak ke kantor? Kenapa kau bisa kesini?" tanya Kinan saat pelukan haru mereka terlepas.
"Aku bosan bekerja Kinan, apa lagi belakangan ini aku di ganggu orang yang sangat menyebalkan."
Kinan mengangkat satu alisnya, tidak biasanya Aline mengeluh seperti ini."Hmm, orang menyebalkan? siapa?"
"Nanti aku ceritakan, kau pasti juga akan kesal mendengarnya."
"Kenapa aku harus kesal, jika yang mengganggumu itu seorang pria aku pasti akan senang." goda Kinan.
"Cihh, diam lah, kau membuat aku kembali kesal." keluh Aline.
"Wahh, jadi benar. Hahaha, sepertinya aku akan segera mendapat undangan." Tawa Kinan begitu nyaring, membuat Aline menekuk wajahnya, bukannya Aline mendapat ketenangan, dia malah semakin kesal.
Hari ini Aline benar-benar sial, jika Kinan tidak sedang hamil, mungkin Aline sudah menggulat Kjnan dan membuatnya wanita di depannya itu tidak akan berhenti tertawa.
.
__ADS_1
.
.