Will You Marry Me

Will You Marry Me
Penyatuan Cinta


__ADS_3

"Ran, habis ini kita jalan-jalan di sekitar villa yuk, kayaknya seru deh. Udaranya sejuk, pasti enak jalan-jalan sambil liat pemandangan sekitar." ucap Alin penuh semangat


"Bo_


"Tidak, Kinan akan menemaniku di kamar. Kami lelah dan perlu istirahat." potong Devan dengan tatapan tajam.


"Cihhh, kakak gak seru. Mentang- mentang pengantin baru, nempel terousss kayak prangko." sindir Alin.


"Kak, aku gak capek kok. Boleh ya aku ikut jalan-jalan sama Alin." mohon Kinan


"Gak, sekali gak ya tetep gak. Nanti biar aku yang nemenin kamu jalan- jalan sore." tolak Devan.


Kinan menecbikan bibirnya karna kesal dengan ucapan suaminya. Baru juga sehari nikah, Devan sudah sangat posesif terhadapnya. Padahalkan ini waktu yang baik untuk menghindar dari suaminya itu.


"Kau berlebihan Devan. Izinkan istrimu jalan-jalan bersama Alin dan Nessa, atau malam nanti mama kan menyuruh Kinan tidur bersama Alin dan Nessa karna kau yang terlalu posesif." ancam Amel.


"Tapi ma_


"Tidak ada tapi-tapian." potong Amel


Devan menghela nafasnya pasrah. Dia tidak mungkin membantah ucapan Amel, mamanya. Karna ancaman mamanya tidak pernah bohong. Mamanya akan melakukan apapun yang dia mau.


"Baiklah, kau boleh jalan-jalan bersama Alin dan Nessa." ucap Devan pasrah.


Ketiga gadis itu bersorak gembira, mereka sangat puas melihat wajah Devan yang tertunduk lesu.


"Kak Devan tidak perlu sedih, biar Dika yang menemani kakak di kamar." ucap Dika dengan senyum mengejek. Sementara Devan mendengus kesal melihat senyum adik iparnya itu


****


Makan siang berakhir, Anel, Nathan, Amel dan Danu memutuskan untuk bersantai di taman yang ada di belakang villa. Sementara Alin, Kinan dan Nessa melakukan rencana awal mereka, berjalan-jalan di sekitar Villa. Dan Devan pun akirnya memutuskan untuk ikut dengan ketiga gadis itu bersama dengan Dika.


"Wahhh, pemandangannya indah banget ya, tau uncle Danu punya villa sekeren ini, aku pasti lebih milih liburan disini daripada jauh-jauh ke Paris." ucap Alin cepat.


"Hmmm, aku juga. Andai dari dulu papa bilang punya villa disini, mungkin aku juga akan sering berlibur kesini." timpal Kinan.


"Kak, apa kau juga tidak tau jika uncle Danu punya villa disini?" tanya Dika ke Devan.

__ADS_1


"Hmmm, aku juga tidak tau jika papa punya villa disini. Dan ini pertama kalinya aku kemari." jawab Devan.


"bagaiman bisa kakak juga tidak tau, anak macam apa kakak ini." ucap Kinan menatap suaminya.


"Hahhhhh, aku tidak tau karna papa tidak pernah memberitauku tentang villa ini. Jika aku tau, pasti sudah lama aku mengajakmu berlibur disini." ucap Devan.


"Ehhh, disana ada suangi, kita kesana yuk." heboh Alin saat dia melihat sebuah suangai di unjung jalan.


Semua mata melihat ke arah tangan Alin yang menunjuk letak suangai yang dia lihat.


"Tidak, disana itu berbahaya, kau tidak lihat jika suangai itu dekat dengan hutan." ucap Devan cepat.


"Tapi sepertinya gak apa-apa kak, lagian kan masih dalam kawasan Villa." ucap Kinan


"Gak usah kesana Ki, bener kata kak Devan. Bahaya kalau kita terlalu deket sama Hutan." ucao Nessa khawatir.


" Kamu takut Ness?" tanya Kinan melihat wajah Nessa yang terlihat pucat.


"Iya Ki, aku takut." jawab Nessa cepat.


" Lebih baik kita balik ke villa aja kak, kasian kak Nessanya, kayaknya udah capek." usul Dika


"Yaudah, ayo." timpal Kinan.


Mereka puan akhirnya kembali ke villa karna Nessa sudah terlihat lelah, dan waktunya untuk Nessa meminum obatnya. Mereka semua berjalan dengan sedikit candaan agar lelah mereka sedikit berkurang. Karna jarak mereka meninggalkan villa cukup jauh.


****


20 menit kemudian mereka sampai di Villa, Alin membawa Nessa ke kamar mereka, Dika, Devan dan Kinan pun ikut kembali ke kamarnya karna mereka juga sangat lelah.


Sesampainya di kamar, Kinan langsung menghempaskan badangan ke tempat tidur. Ini pertama kalianya kinan berjalan cukup jauh, dan itu membuat badan dan kakinya terasa pegal.


"Sayang, kau sudah tidur?" tanya Devan saat melihat Kinan memejamkan matanya.


"Belum kak, tapi aku sangat lelah." jawab Kinan dengan mata masih terpejam.


Devan naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya di samping tubuh Kinan. Menatap wajah istrinya yang memang terlihat sangat lelah. Devan membelai wajah Kinan dengan lembut, dan sesekali mencium pipi Kinan. Beberapa menit kemudian, Devan mendengar dengkuran halus dari istrinya, pertanda jika Kinan sudah terlelap. Devan pun hanya tersenyum melihat wajah istrinya yang begitu tenang. Devan pun ikut memjamkan matanya, terlelap menyusul sang istri ke alam mimpi.

__ADS_1


*****


Pukul 5 sore, Kinan terbangun karna suara ketukan pintu dari depan kamarnya. Dengan malas Kinan beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu kamarnya.


"Dika, ada apa?" tanya Kinan dengan malas.


"Mama nyuruh Dika ngeliat kakak, soalnya dari kakak masuk kamar terus gak keluar- keluar. Kakak baru bangun ya?" tanya Dika saat melihat bentuk Kinan yang acak-acakan .


"Kakak gak apa- apa dek. Bilang ke mama, kakak bakalan keluar pas makan malam. Kakak capek." ucap Kinan.


"Yaudah, biar Dika bilang ke mama. Ohhh ya kak, kami juga mau jalan- jalan ke kebun teh yang ada di ujung jalan sana, kakak gak mau ikut." ucap Dika cepat.


"Gak, kakak masih capek karna jalan siang tadi, kalian aja." ucap Kinan.


"Yaudah, selamat istirahat kak." ucap Dika lalu meninggalkan kamar Kinan. Sementara Kinan langsung menutup pintu kamarnya saat Dika sudah pergi.


" Siapa sayang?" tanya Devan melihat Kinan menutup pintu kamarnya


"Kakak udah bangun, tadi itu Dika kak. Katanya mama ngajak kita jalan- jalan ke kebun teh. Tapi aku masih capek, jadi aku tolak." jawab Kinan.


"Ohhh, yaudah sini." Devan menepuk ruang kosong di sampingnya


"Kenapa kak?" tanya Kinan, duduk di sebelah Devan.


Devan bangkit dari tidurnya, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Kinan lalu memeluknya mesra." Aku mencintaimu Kinan, sangat mencintaimu." bisik Devan.


Tubuh Kinan meremang mendapat bisikan yang begitu intim di telinganya.Wajahnya memerah karna malu.


Devan menarik tengkuk Kinan hingga wajah mereka saling berhadapan. Wajah Kinan semakin memerah karna malu, degup jantungnya semakin cepat. Mungkin bahkan Devan bisa mendengar suara jantungnya itu.


Perlahan Devan menempelkan bibirnya di bibir Kinan, merasakan manisnya bibir yang membuatnya candu. Kali ini Devan tidak akan melepas istrinya. Lum*tan kecil kini menjadi semakin menggebu, deru nafas keduanya semakin panas. Tangan Devan sudah menyelusup masuk ke dalam kaos yang Kinan kenakan, mengikis jarak di antara keduanya. Sore hari dengan udara yang begitu sejuk menjadi saksi penyatuan cinta mereka.


[Bersambung]


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2