
Tiga rombongan keluarga yang memutuskan untuk berlibur ke puncak itu sudah sampai di tempat tujuan. Mereka semua di sambut oleh dua orang penjaga villa yaitu Pak Mahmud, dan Ibu Minah dengan suka ria. Pasalnya Danu sang pemilik villa sangat jarang berkunjung kesana, sampai dua penjaga itu berfikir jika tuannya itu sudah pindah dari Indonesia.
"Slamat datang Den Danu, dan semuanya. Kami sangat senang Den Danu dan keluarga kembali berkunjung kesini. Sudah sangat lama ya, saat terakhir Aden berkunjung ke villa, bibik sampe ngira Aden sudah pindah daru Indonesia." ucap Buk Minah cepat.
Danu terkekeh mendengar ucapan pengurus villanya yang begitu setia padanya." Maaf ya Bik, saya sangat sibuk setelah menikah, jadi tidak sempat liburan kesini. Ohhh ya Bik, ini istri saya Amel dan putra saya Devan. Dan ini istrinya Devan, namanya Kinan. Putri dari sahabat saya Nathan. Bibik masih ingat."
"Oalah, den Nathan toh. Putrinya cantik sekali ya, cocok sama den Devan." ucap Bik Minah cepat.
" Bagaimana kabar bibik sekeluarga, sehat." sapa Nathan. Mereka memang dekat karna dulu Danu sering mengajaknya dan Fino ke villanya hanya untuk sekedar liburan sekolah. Tapi ya, semenjak mereka menikah mereka tidak pernah lagi berkunjung, bahkan mereka sudah lupa kapan terakhir mereka berkunjung kesini.
"Semua sehat Den, Alhamdulillah." jawab bik Minah.
"Syukurlah bik." ucap Nathan.
"Kalau begitu, mari Aden dan Non semua. Bibik sudah membersihkan kamar untuk kalian semua." ucap Bik Minah memandu semuanya masuk ke dalam Villa.
Satu persatu pasangan memasuki kamar mereka, sementara Nessa dan Alin mereka di tempatkan satu kamar, agar ada yang menjaga Nessa. Dan Dika memiliki kamar sendiri.
Luas villa yang dimiliki Danu hampir 1 hektar, jadi tidak heran jika kamarnya juga sangat banyak. Villa pribadi itu Danu beli saat ia pertama kami mendapat untung dari bisnis yang dia kelola di Indonesia. Dan itu juga tanpa sepengetahuan ayahnya, Adam.
"Bik, kamar kami dimana?" tanya Devan saat dirinya dan Kinan saja yang belum mendapat kamar.
"Ohh, untuk kamar Den Devan dan Non Kinan berada di sana." tunjuk Bik Minah ke arah dekat kolam.
"Loh, kamarnya terpisah Bik !." ucap Kinan
"Iya Non. Kata den Danu, Non Kinan dan Den Devan baru menikah kemarin, jadi kalian dapat kamar khusus. Mari den,non bibik antar kesana." ucap Bik Minah memandu Devan dan Kinan ke kamarnya.
Devan tersenyum penuh arti saat mendengar ucapan bik Minah, dia sungguh senang karna kamarnya paling berbeda. Tentu saja karna papanya sangat mengerti dirinya. Setelah ini Devan sepertinya harus berterimakasih pada papanya itu.
__ADS_1
"Kak, apa yang kau fikirkan? senyum-senyum sendiri. Aku jadi takut kakak kesambet setan penjaga villa ini." ucap Kinan bergidik lalu segera menyusul Bik Minah dan meninggalkan suaminya.
Devan yang mendengar ucapan Kinan semakin di buat gemas. Tingkahnya yang semakin pemalu setelah menikah membuat Devan selalu ingin menggoda istrinya itu.
"Nah, ini kamar Nona dan Den Devan." Bik Minah membuka kamar yang terletak di di ujung lorong. Kamar itu sangat luas dan letaknya terpisah dari kamar lainnya.
"Bik Minah tinggal ya den, non, selamat menikmati liburannya." ucap Bik Minah cepat.
"Trimakasih Bik." ucap Kinan yang langsung di angguki oleh Bik Minah.
Setelah bik Minah pergi, Devan dan Kinan segera masuk ke dalam kamar mereka. Kamar itu ternyata sudah di hias seperti kamar pengantin pada umumnya. Banyak bunga mawar bertaburan menghiasi tempat tidur king size dan juga lantai kamar itu, hiasan di dalam kamar itu membuat Kinan merasa jika mereka sedang berbulan madu saja.
"Kau suka sayang?" tanya Devan yang sudah berada di belakang Kinan, mengeratkan pelukannya pada perut rata istrinya.
"Hmmm, sangat suka kak. Ini sangat indah." jawab Kinan cepat.
"Bukankah bulan madu di dalam negeri sendiri itu lebih enak, suasananya juga tidak kalah dari negri lain." ucap Devan lagi.
Devan membalik tubuh istrinya agar mereka bisa saling berhadapan. Devan menatap istrinya dengan tatapan lembut, tangan besar Devan membelai wajah yang selalu membuatnya gila saat mereka terpisah selama tiga tahun. Belaian tangan besar Devan membuat Kinan memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan penuh rindu di dalam hati mereka.
Jangan tanya apa yang Kinan rasakan saat ini, rasa takut, gugup dan juga bahagia bercampur jadi satu. Ia memasrahkan dirinya pada pria yang kini telah sah menjadi suaminya. Kinan sudah siap dengan apapun yang terjadi, karna hak suaminya dan juga kewajibannya sebagai seorang istri mengharuskannya untuk menerima semuanya.
Melihat istrinya memejamkan mata, Devan menggerakkan tangannya, membelai bibir merekah Kinan. Menyentuh benda yang membuatnya candu saat pertama kali menyentuhnya. Perlahan Devan mendekatkan bibirnya di bibir Kinan. Awalnya hanya lu*atan kecil, semakin lama ha*rat yang bergejolak di dalam diri keduanya membuat keduanya menginginkan lebih.
Devan menuntun Kinan ke tempat tidur tanpa melepas pagu*nnya, mengikis jarak dari keduanya. Tangan Devan sudah bergerak tak beraturan, meraba apapun yang ada.Deru nafas keduanya saling bersautan, Sementara Kinan hanya pasrah mendapat serangan dari suaminya itu.
Saat Devan memulai aksinya, tiba-tiba suara ketukan pintu membuat Kinan terkejut hingga reflek mendorong tubuh Devan hingga terjungkal ke bawah.
Bug.....!
__ADS_1
"Awww. Sayang kenapa kau mendorongku." ucap Devan sambil mengelus bojongnya yang terasa sakit.
"Maaf kak, ada orang diluar." jawab Kinan sambil merapikan pakaian dan juga rambutnya yang berantakan karna ulah suaminya.
"Cihhh, pengganggu." Devan berdecak kesal karna orang yang sedang mengetuk pintu kamar mereka. Sementara Kinan hanya terkekeh melihat wajah suaminya yang terlihat menahan kesal.
Kinan berjalan ke arah pintu, membukanya sedikit melihat siapa yang ada di depan pintu kamarnya.
"Halo Ki, sory yah ganggu. Om Danu nyuruh gue manggil lo dan kak Devan untuk makan siang. Semuanya udah nunggu di meja makan." ucap Alin dengan senyum tanpa dosa
"Hmm, ok. Bentar lagi gue sama kak Devan bakalan nyusul. Lo duluan aja ya."ucap Kinan cepat
"Ok. ehh iya, tempat makannya ada di sebelah selatan, nanti lo lurus terus belok kanan, di deket kolam." jelas Alin sebelum meninggalkan Kinan.
"Ok, tanks ya." balas Kinan
Setelah Alin pergi, Kinan kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat suaminya tengah duduk dengan wajah tertekuk.
"Kak, tadi itu Alin. Kita sudah di tunggu untuk makan siang, aku mandi dulu ya." ucap Kinan lalu masuk ke dalan kamar mandi tanpa memperdulikan wajah suaminya yang terlihat kesal.
Sementara Devan terus saja menggerutu karna ulah Alin. Dia sangat kesal, karna jika Alin tidak datang, dia pasti sudah mencetak gol pertamanya. Tapi harapannya harus pupus karna ulah keluarganya juga. Mereka mengirim Alin di waktu yang tidak tepat.
" Sepertinya aku harus memasang papan larangan supaya mereka tidak mengganggu kegiatanku lagi." ucap Devan dengan menggebu-gebu.
[Bersambung]
.
.
__ADS_1
š„Author ikut berduka atas jatuhnya pesawat Sriwijaya AIR SJ- 182 dengan penerbangan Jakarta- Pontianak Kepulauan seribu. Semoga semua korban bisa cepat di temukan, dan bagi Timsar yang sedang melaksanakan tugasnya di beri kelancaran dalam melakukan tugas mereka. Tidak lupa untuk seluruh keluarga korban yang di tinggalkan diberi ketabahanš
. . .