Will You Marry Me

Will You Marry Me
Acara makan malam


__ADS_3

Hari ini Devan sudah berjanji akan mengajak Kinan bertemu dengan kakeknya. Pagi tadi Devan sudah memberi tau Kinan jika kakeknya datang ke Indonesia dan ingin bertemu dengan Kinan. Tentu saja Kinan sangat terkejut, dan juga sangat takut. Kinan masih belum siap bertemu dengan kakek Devan, dia takut jika kakek Devan masih belum bisa menerimanya sebagai calon istri Devan.


"Kak, kamu kenapa? kok bengong?" tanya Nessa saat pertanyaannya yang pertama tidak Kinan jawab.


" Ehhh, aku tidak apa-apa Nes, tadi kamu tanya apa?" tanya Kinan mengalihkan pembicaraan.


"Beneran, kamu bohong ya kak? lagi mikirin kak Devan ya? kok tangannya gemetaran gini, mikirin malam pertama ya?" ledek Nessa


"Hmmm, gak usah sok tau. Aku bukan mikirin iti tau, dasar otak mesum." ucap Kinan cepat, ia sungguh tidak habis fikir dengan Nessa. Kenapa dia bisa berfikir seperti itu, padahal Kinan saja belum kepikiran sampai kesana.


"Hehehe, siapa tau aja kan kak, trus kakak lagi mikirin apa?" tanya Nessa yang tidak berhenti penasaran.


"Kakak mikirin kakek Adam, kakeknya kak Devan, katanya dia sekarang ada di Indonesia dan malam nanti kakak di undang makan malam. Aku takut Ness kalau kakek Adam belum bisa nerima aku." ucap Kina dengan suara lemah.


"Aduh Kak, kamu itu jangan pesimis gitu donk, cinta itu harus di perjuangkan. Kak Devan sudah berjuang untuk kamu, dan sekarang gantian donk. Ini itu ujian dalam cinta sejati kak." ucap Nessa sok dewasa.


"Hahhhh, ngomong sih gampang Dek, tapi yang ngejalanin itu yang susah." ucap Kinan cepat.


"Kenapa harus susah kak, tinggal di jalanin aja kan. Lagipula kakak kesana gak sendirian kan. Mama, papa dan juga Dika juga ikut kan kesana." ucap Nessa yang membuat Kinan sedikit terkejut.


"Siapa yang bilang?"


"Mamah tadi, katanya om Danu ngundang papa sama mama ke acara makan malam di rumah om Danu. Itu berarti kan kakak gak sendiri." ucap Nessa cepat.


" Benarkah, tapi kenapa. Apa kakek Adam sudah menerima aku ya, ahhhh tapi itu kan gak mungkin, atau kakek Adam punya rencana lain." ucap Kinan. Dia semakin takut dengan bayangan pertengkaran di kepalanya.


"Jangan terlalu di fikirkan, nanti kakak stres, terus pingsan, terus struk giman. Nanti kak Devan gak mau sama kakak lagi donk." ucap Nessa cepat.


"Cihhhh, hayalan kamu itu lebih horor dari pada aku tau." ucap Kinan mencubit lengan Nessa hingga wanita itu meringis


" Ihhh, sakit tau kak." Nessa berdecak kesal saat Kinan mencubitnya.


"Siapa suruh ngayalin aku struk." ucap Kinan ketus.


"Iya maaf, kan aku cuma ngingetin kakak aja, biar gak stres. Ehhh ya kak, tadi waktu aku ke rumah sakit, aku ketemu sama dokter kenalan kakak itu loh. Siapa ya namanya." Nessa mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk kanannya, mencoba mengingat siapa nama dokter kenalan Kinan." Ohh ya, Kenzo. Tadi dia nanyain kakak, terus aku jawab aja gak tau."ucap Nessa saat mengingat nama Kenzo.


"Kamu jutekin dia Nes?" tanya Kinan cepat


"Hmmm, aku cuma takut kalau dia berbuat jahat sama aku, jadi aku jawab singkat terus pergi ninggalin dia gitu aja." ucap Nessa cepat.

__ADS_1


"Ness, dokter Kenzo itu baik. Kamu jangan terlalu jutek sama cow, siapatau aza Kenzo suka sama kamu." ucap Kinan yang membuat Nessa berdecak kesal


"Jangan buat harapan palsu kak, mana ada cowok yang mau sama cewe buta kayak aku. Dokter lagi, di mimpi pun aku tidak pernah berharap kak." ucap Nessa mencoba tegar.


Kinan menggenggam tangan Nessa, dia tau jika adik angkatnya itu mencoba untuk tegar." Jangan bicara seperti itu lagi, aku tidak suka. Kamu itu sempurna, dan masalah penglihatan kamu, mama dan papa pasti bisa menemukan donor untuk kamu, jadi berhenti bicara omong kosong. Kamu tau Ness, ada yang bilang jika cinta itu buta. Jika ada seorang pria yang baik dan berhati tulus, dia tidak akan melihat kekurangan kamu, tapi dia pasti bisa melihat kelebihan kamu tanpa menilai apa yang kurang dari diri kamu."


"Hmmm, aku mengerti kak, tapi bolehkan untuk aku tidak terlalu berharap. Jika memang aku memiliki jodoh aku tidak akan menolak, tapi jika memang tidak, akupun tidak apa-apa. Karna aku sudah cukup memiliki keluarga yang begitu menyayangi aku. Aku hanya takut kasih sayang yang aku dapat sekarang tidak aku dapat di luar sana." ucap Nessa dengan wajah sendu.


"Aku yakin tuhan sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu, dan jika saat itu datang, aku akan menjadi orang pertama yang akan mendaftar untuk menjadi pengiring mempelai wanitanya." ucap Kinan cepat


" Hahaha, aku berharap saat itu tiba kakak sedang memiliki bayi mungil, sehingga aku tidak akan di iringi oleh kakak. Karna jika kau menjadi pengiring ku, mungkin aku akan terus menundukan kepalaku karna kakak akan terus menggodaku." ucap Nessa cepat. Dia sudah membayangkan itu, karna Nessa tau bagaimana tabiat Kinan.


"Dasar kau ini. sudah ahhhh aku mau ke bawah, mau nemuin mama sama papa, kamu mau ikut?"


"Gak dech kak, aku mau istirahat, capek."


"Yaudah, aku ke bawah dulu ya."


Kinan turun ke bawah untuk mencari mama dan papanya, menanyakan kebenaran yang di katakan oleh Nessa. Karna jika itu benar, berarti Kinan tidak perlu terlalu khawatir. Dia bisa sedikit lega karna nanti ada orang tuanya disana. Dan apapun yang akan terjadi Kinan akan menghadapinya.


**


**


Satu jam perjalanan Devan tempuh, dan kini dia sudah berada di depan rumah kediaman Sanjaya. Rasa gugup sngat terlihat dari raut wajah Devan, entah kenapa dia begitu gugup, padahal dia sudah sangat sering bertemu dengan Kinan dan keluarganya.


"Kak Devan, kau disini? ada apa?" tanya Dika saat melihat Devan ada di depan pintu


Devan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia merasa malu pada calon adik iparnya itu." Kakak ingin menjemput Kinan." jawab Devan malu.


"Cie...cie, kan kak Kinan bisa berangkat bareng kita kak, pake di jemput segala." Goda Dika yang membuat Devan bertambah malu.


"Gak usah kayak perempuan kak, pake merona segala." ledek Dika lagi.Ayo masuk kak, kak Kinan masih siap-siap." ucap Dika mempersilahkan Devan untuk masuk.


Devan mengikuti langkah Dika masuk ke dalam. Di ruangan tengah Devan tidak melihat siapapun, mungkin mereka semua masih bersiap-siap.


"Kakak tunggu disini yah, yang lainnya masih bersiap. Dika tinggal keluar sebentar ya kak." pamit Dika. Devan pun hanya mengangguk saja.


Selang beberapa menit setelah Dika pergi, Anel dan Nathan terlihat menuruni tangga. Devan yang merasa sangat gugup sampai tidak sadar jika calon mertuanya sudah berada di depannya dengan menatap Devan dengan tatapan bingung.

__ADS_1


"Ehmmmm." suara bariton Nathan membuat Devan terlonjak kaget.


"Devan, sedang apa kamu disini nak?" tanya Anel cepat


" Maaf Bi, Devan kesini ingin menjemput Kinan." jawab Devan cepat


"Kenapa kau harus menjemputnya, Kinan bisa berangkat bersama kami, kenapa kau harus repot, kau fikir Kinan tidak akan ada yang mengntar." ucap Nathan menatap tajam Devan.


"Pah, kau itu membuat Devan takut. Dia itu calon suaminya, jadi sangat wajar jika ia ingin menjemput Kinan. Kau seperti tidak pernah muda saja." ketus Anel." Kamu tunggu Kinan sebentar ya Van, dia sedang bersiap. Kami berangkat duluan ya." ucap Anel pada Devan dan segera menarik suaminya meninggalkan Devan.


Setelah Anel dan Nathan pergi, Devan terlihat lebih lega. Entah kenapa sahabat papanya itu sekarang lebih sensitif, la lebih cepat marah setelah kejadian penculikan itu, tapi Devan maklum saja, karna itu juga kesalahannya. Kadi resiko bagi Devan jika papa mertuanya itu masih kesal kepadanya.


"Kak Devan, sedang apa kakak disini? mama, papa dan Dika mana?" tanya Kinan yang baru saja sampai di ruang tengah.


"Cantik, sangat cantik." ucap Devan tanpa menjawab pertanyaan Kinan.


Kinan yang menyadari tatapan Devan kepadanya merasa sedikit kesal, karna pertanyaannya tidak di jawab tapi malah melihatnya dari atas sampai bawah.


"Kak, apa kau akan menatapku terus?" kinan berdecak kesal di depan Devan.


Devan terkekeh gemas melihat tingkah Kinan yang seperti anak kecil yang sedang meminta permen." Maaf sayang, aku sedang menikmati seorang bidadari yang baru saja turun dari lantai atas."


Blus....!


Pipi Kinan merona karna ucapan Devan, dia sampai lupa akan kekesalannya.


"Hmmmm, aku memang sudah cantik daru lahir kak, kau baru sadar. Kemana saja kau selama ini." ucap Kinan dengan bangga.


" Benarkah, mungkin aku baru saja terbangun dari mimpiku yang buruk." ucap Devan.


"Jadi selama ini kau mimpi buruk kak !, dan apa sekarang kau masih bermimpi buruk?"


" Tidak, aku sudah bangun dari mimpi itu."


"Hmmm, baguslah kalau begitu, jadi apa kita akan terus mengobrol disini sampai makan malamnya terlewatkan dan kakek akan semakin tidak suka denganku."


Ucapan Kinan membuat Devan sadar jika mereka masih di rumah Kinan." Maaf sayang, aku hampir saja lupa, ayo kita brangkat sekarang."


Devan bergegas mengajak Kinan pergi ke rumahnya, disana semua orang pasti sudah menunggu mereka. Dan semoga saja kakeknya tidak marah, begitupun dengan Nathan. Karna Devan tau jika dua orang itu paling tidak suka menunggu .

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2