
pukul 7 malam Kinan sudah berada di kediaman Ghenio, ia sengaja datang lebih awal karna ingin membantu Amel mempersiapkan makan malam. Kinan memang tidak tau jika Devan sudah berada di Indonesia, karna yang Kinan tau Devan masih berada di Berlin. Siang tadi saat dia mengirim pesan untuk Devan, dia tidak mengatakan jika orang tua Devan mengundangnya untuk makan malam,karna memang Kinan tidak ingat untuk mengatakan itu.
"Aunty ke_
"Mama sayang, stoppanggil Aunty, ok." potong Amel saat Kinan kembali memanggilnya Aunty.
"Hehehe, maaf mah." ucap Kinan dengan cengiran khasnya. "Mah, tadi aku liat seorang wanita sedang duduk di taman depan, itu siapa ya ma?" tanya Kinan yang penasaran akan kehadiran Lucia
"Ohhh gadis itu, dia namanya Lucia sayang, cucu dari sahabat kakek Devan. Dia kesini untuk berlibur." jawab Amel sekenanya, tapi yang di katakan Amel tidak ada salahnya, karna Lucia memang cucu dari sahabat kakek Adam.
"Ohhh, dia cantik ya mah. Kalau kak Devan liat dia pasti kak Devan akan suka sama dia." ucap Kinan yang masih mengingat ucapan Devan siang tadi.
"Kau cemburu sayang? hmmm kalau misalnya kakek Devan jodohin dia sama Lucia bagaimana?" tanya Amel yang membuat wajah Kinan seketika berubah.
"Aku mungkin akan mengalah kali Ma, lagian itu kan pilihan kakek,aku mah apa atuh." ucapan Kinan membuat Amel seketika terbahak, calon menantunya itu sungguh polos dan sangat baik. Persis seperti Anel.
"Baiklah, kau akan tau kebenaranya nanti sayang. Sekarang kita ke susun makanan ini di meja makan dulu." Amel mengaja Kinan membawa semua makanan itu ke meja makan. Setelah semua siap, Amel mengajak Kinan dan Lucia makan malam.
"Lucia, perkenalkan ini Kinan. Dan Kinan ini Lucia." ucap Amel saat Kinan dan Lucia sudah duduk di meja makan.
"Halo, I'm Lucia." ucap Lucia memperkenalkan dirinya.
"Saya Kinan, senang berkenalan denganmu Lucia." ucap Kinan dengan senyum termanisnya.
"Aku juga, dan aku harap kiya bisa menjadi teman. Karna di Indonesia aku tidak punya teman." ucap Lucia cepat
"Tentu saja Lucia, dengan senang hati. Nanti aku akan mengajakmu berkeliling di kota ini." balas Kinan.
"Kinan, kita tunggu satu orang lagi yah sebelum makan malamnya kita mulai." ucap Amel yang membuat Kinan bertanya-tanya.
__ADS_1
"Apa mama mengundang seseorang lagi, tapi siapa?" tanya Kinan penasaran.
Amel tersenyum penuh arti, dia tau jika Kinan tidak tau jika Devan sudah ada di Indonesia.
"Nah itu dia orangnya." ucap Amel yang seketika memalingkan tatapan Kinan.
Kinan melihat seorang pria turun dari lantai atas dengan sebuket bunga yang menutupi wajahnya. Kinan seperti mengenali fostur tubuh pria itu, tapi logi Kinan masih berjalan. Tidak mungkin Devan ada di Indonesia, tapi jika itu memang benar Devan, kinan akan langsung memukul pria itu.
"Tutup mulutmu itu sayang, jangan biarkan lalat yang pertama mencicipi bibir sexy mu itu." ucap Devan fulgar yang Kinan seketika sadar dari lamunannya.
Kinan menatap tidak percaya, pria yang kini ada di hadapannya benar-benar Devan, pria yang beberapa hari ini sangat ia rindukan. Tanpa aba-aba Kinan langsung berhambur ke pelukan Devan, membuat laki-laki itu sedikit terdorong ke belakang karna menerima pelukan mendadak dari Kinan.
"Kau jahat kak, kenapa kau tidak bilang jika kau sudah kembali." ucap Kinan sambil menangis sesenggukan.
"Hey, sorry sayang,kenapa kau malah menangis, aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu." ucap Devan sambil mengelus kepala Kinan.
Kinan yang baru sadar jika dirinya saat ini masih berada di meja makan langsung melepas pelukannya dan segera mengusap air matanya.
"Karna apa sayang, kenapa kau diam?" tanya Devan yang mulai khawatir.
"Ahhh tidak, aku senang kakak sudah kembali. Ayo kita makan, kasian mama dan papa pasti sudah lapar." ajak Kinan cepat. Dia tidak ingin berasumsi sendiri, Kinan akan menunggu penjelasan dari Devan saja tentang siapa Lucia.Karna tidak mungkin ini hanya kebetulan.
Mereka semua melanjutkan makan malam dengan sedikit perbincangan, cukup banyak yang mereka bahas, termasuk tentang kakek Devan yang sudah lebih baik. Sementara Kinan hanya menjawab sedikit pertanyaan yang di tanyakan oleh Amel. Dan sisanya Kinan pakai untuk melihat interaski Devan dan Lucia.
Pukul 9 malam
Setelah selesai makan malam, Devan mengajak Kinan ke taman belakang. Karna ada hal penting yang Devan ingin katakan pada Kinan, dan juga ada kejutan untuk gadis itu.
"Tunggu disini ya sayang, aku akan segera kembali, aku akan memberi kejutan yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu." ucap Devan cepat. Devan meninggalkan Kinan di taman belakang untuk mengambil sesuatu di dalam.
__ADS_1
Angin dingin menusuk hingga ke tulang, Kinan yang hanya menggunakan dress tanpa lengan merasa kedinginan. Devan yang sudah pergi sepuluh menit yang lalu tidak kunjung muncul, tapi Kinan pun masih setia menunggu. Tapi setelah beberapa menit lagi Kinan menunggu Devan masih belum muncul juga, Kinan yang merasa sudah kedinginan pun memutuskan untuk menyusul Devan ke dalam. Tapi baru saja Kinan sampai di ambang pintu samar-samar Devan mendengar suara Devan dan Lucia.
Kinan berjalan mendekat ke arah suara Devan dan Lucia berada. Semakin dekat, semakin jelas pula yang suara mereka terdengar di telinga Kinan.
"Apa yang kau katakan Dev, apa kau akan menunda memberi tau hubungan kita. Jangan gila kamu, kita cuma punya waktu hanya satu bulan saja. Dan aku tidak akan bisa menambah waktu lagi untuk ini. Setelah satu bulan kakek tidak akan menyuruh kita untuk bertunangan lagi,tapi dia pasti langsung menyuruh kita untuk menikah." ucap Lucia dengan nada tegas.
"Aku tidak bisa menyakiti hati Kinan Luc, aku belum siap.Bagaimana jika Kinan tidak menerima penjelasan ku, bagaimana." ucap Devan yang terlihat frustasi
"Kau itu laki-laki, cobalah untuk tegas Dev. Aku yakin Kinan bisa menerima semua ini, aku sangat yakin dia akan mengerti kondisi kita saat itu. Jangan membuang waktumu lagi Dev, ini sudah malam. Cepatlah kembali, jika tidak Kinan akan curiga."
Devan menghela nafasnya dengan keras, ia menetralkan detak jantungnya sebelum kembali menemui Kinan. Dan saat Devan berbalik dia mendapati Kinan sudah berdiri tidak jauh darinya dengan wajah merah dan air mata yang membanjiri wajahnya.
"Jadi ini kak, ini kejutan yang akan kau berikan hahhhh,kejutan yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku." ucap Kinan dengan keras. Hatinya sakit, sangat sakit mendengar semua obrolan Devan dan Lucia
"Kinan, sejak ka_pan kau disitu?" tanya Devan yang begitu terkejut, begitu juga Lucia. Gadis itu tidak menyangka Kinan ada di belakang mereka saat itu.
Kinan tersenyum meremehkan, dia tidak menyangka jika Devan begitu tega melukainya dengan cara seperti ini."Cukup mendengar semua percakapan kalian." ucap Kinan dengan tatapan menghujam
"Kinan, kami bisa jel_
"Cukup, tidak ada yang perlu kalian jelaskan lagi, aku sudah mendengar semuanya. Sekarang aku mengerti akan semua teka-teki yang di ucapkan oleh Mama dan kau kak.Aku sekarang mengerti semua. Aku mengerti." Kinan berlari sekencang mungkin meninggalkan kediaman Ghenio.Hatinya terluka, rasa sakit yang di torehkan Devan tidak akan pernah hilang dari ingatannya.
"Kenapa kau diam sejak Dev, cepat kejar Kinan." ucap Lucia yang kesak saat melihat Devan masih berdiri mematung melihat kepergian Kinan. Devan yang baru sadar jika Kinan sudah tidaka ada di hadapannya langsung berlari keluar menyusul Kinan. Tapi sayangnya mobil Kinan sudah melaju keluar dari kediamannya
"Shitt." umpat Devan sambil meremas rambutnya. Saat ini Devan sudah membuat kesalahan besar dengan tidak menuruti ucapan Lucia.
[Bersambung]
🍃Author sudah bilang kan untuk berkomentar lah yang baik-baik saja. Karna ini cerita saya yang buat, jika saya mengikuti kemauan kalian berarti ini cerita bukan dari pemikiran saya donk. Kalau begitu kalian saja yang buat ceritanya. Apa kalian fikir saya bikin cerita cuma main ketik saja, kepala saya rasanya mau pecah untuk menentukan alur cerita ini. Kalian cuma busa nuntut doang tanpa mau menghargai Authornya.
__ADS_1
Tolong bijaklah dalam berkomentar, sudah kebijakan Novelnya ribet. Kalian bikin tambah ribet lagi. Komentar negatif kalian bisa bikin Author jadi males buat lanjutin ceritanya.