
...Di dalam sebuah kehidupan memang tidak selamanya akan berjalan sesuai keinginan. Tapi jika kita selalu berdoa dan bersabar dalam setiap cobaan yang di dapat, maka setiap usaha yang kita lakukan tidak akan sia-sia....
*****
Kinan menunggu Devan bangun dari Koma'nya. Harapan di hatinya tidak pernah putus, walau terkadang dalam fikirannya ingin sekali menyerah, apalagi dalam kondisinya saat ini. Tapi saat mengetahui kondisi suaminya semakin membaik, Kinan semakin yakin jika pengorbanan dan kesetiaannya tidak akan sia-sia.
Sudah hampir satu bulan ini Devan Koma. Kinan puan selalu menunggu. Beruntung Kinan tidak pernah mengidam yang aneh-aneh, mungkin calon buah hati mereka mengerti jika ayahnya saat ini tengah berjuang antara hidup dan mati. Kinan pun sangat bersyukur dengan itu, walaupun mungkin dirinya tidak seberuntung orang lain yang bisa merasakan masa ngidam di dampingi suami mereka.
Kinan tersenyum, menggenggam kuat tangan yang sama sekali tidak pernah berbalik menggenggamnya. Kinan merindukan belaian tangan besar itu, rindu akan setiap sentuhan yang selalu ia rasakan setiap harinya. Tapi kini Kinan harus lebih bersabar untuk merasakan hal itu lagi.
"Hiksss." hanya tangisan itu yang selalu terdengar setiap Kinan ingin memulai cerita di pagi hari. Menceritakan apa saja yang dia alami, menceritakan kondisi cuaca setiap harinya. Berharap Devan akan merespon ceritanya walau hanya dengan gerakan jari saja.
Tapi setiap di akhir ceritanya, Kinan harus menelan pil pahit. Suaminya tidak pernah mau meresponnya.
Kinan mengusap sisa air matanya, berusaha tegar karna pagi ini dia akan memulai ceritanya. Menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan.
"Kak." panggil Kinan lemah." Apa selama ini kau tidak pernah mendengarkan ku. Kau tidak pernah mau merespon setiap ceritaku, tidak mau ikut merasakan apa yang aku rasakan, kenapa kak?" Kinan memasang wajah cemberut, walau Kinan tau jika suaminya itu tidak akan melihatnya, tapi Kinan tetap melakukan itu.
"Kau tau kak, pagi ini hujannya sangat lebat, aku bahkan sampai berdebat dengan Mamah karna dia tidak mengijinkanku mengunjungimu. Tapi kau tau, Mama selalu kalah denganku, saat aku memakai alasan anak kita yang ingin bertemu dengan papanya." mengelus perutnya yang mulai sedikit membuncit.
"Kak, apa kau tidak ingin menjadi suami yang sempurna, dengan memenuhi setiap ngidam yang aku rasakan. Apa kau tidak ingin melihat perutku yang perlahan semakin membesar ini." Kinan mengelus wajah suaminya, berharap kali ini Devan akan membuka matanya." Aku menunggumu kak, dan aku berharap kau akan bangun sebelum anak kita lahir. Aku ingin kaulah orang yang pertama mendengar tangisan anak kita, menggendongnya dan merasakan tangan kecilnya menggenggam tanganmu."
"Kau selalu bilang, jika nanti aku hamil kau akan selalu berada di sampingku, memenuhi setiap keinginanku. Tapi mana buktinya, kau malah senang berlama-lama dengan tidurmu."
Kinan menarik nafasnya, dia mulai kehabisan stok sabar. Ingin sekali rasanya Kinan kembali menangis, tapi itu tidak ada gunanya, hanya membuang tenaga.
"Ki." suara Nessa terdengar tidak jauh darinya, Gadis itu masuk ke dalam ruangan Devan setelah selesai pemeriksaan. Hari ini Nessa cek up setelah sebulan tidak melakukan cek up rutinnya.
Setelah kejadian sebulan lalu Nessa sedikit takut, dia tidak ingin bertemu dengan Kenzo lagi, bukan karna Nessa tidak mencintai Kenzo, tapi Nessa hanya ingin menjauh perlahan. Dia juga meminta pada Nathan untuk tidak menghancurkan keluarga Kenzo termasuk Mamanya. Karna kali ini Nessa tidak akan memberi celah pada Kenzo untuk mendekatinya lagi. Tekat Nessa sudah bulat, walaupun hatinya sakit, tapi inilah yang terbaik untuknya.
"Kau menangis lagi?" pertanyaan itu selalu di iringi dengan senyum di wajah cantiknya. Nessa tau jika saudarinya itu sudah sangat merindukan suaminya, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan selain berdoa.
"Aku hanya lelah sya." jawab Kinan sambil mengusap air matanya.
"Benarkah."merasa tidak percaya." Kau fikir seorang gadis buta itu juga tuli. Aku bisa mendengar suara tangisanmu Ki, jadi jangan mencoba untuk berbohong." ucap Nessa cepat.
__ADS_1
"Aku hanya lelah sya, kak Devan sama sekali tidak ingin bangun." ucap Kinan lemah.
"Aku yakin, tidak lama lagi kak Devan pasti bangun. Kau adalah istrinya, jadi kau pasti tau bagaimana dia berjuang demi dirimu." ucap Nessa.
" Lalu bagaiman denganmu?" tanya Kinan mengalihkan topik pembicaraan. Kinan tau jika Nessa saat ini juga tengah berjuang melupakan cintanya.
"Aku, memang kenapa denganku?" tanya Nessa pura-pura tidak mengerti. Padahal Nessa tau betul apa yang Kinan tanyakan.
"Jangan pura-pura seperti itu, aku tau jika kau sedang berjuang melupakan cintamu." menatap Nessa yang raut wajahnya terlihat berubah." Sya. Mama, Papa, aku dan kak Fandra tidak melarangmu untuk jatuh cinta dan mencintai Kenzo. Karna kami tau dia tidak bersalah, kami juga tau jika Kenzo sangat mencintaimu. Dan aku berharap kau bisa memikirkan ini baik-baik." ucap Kinan
Nessa menghela nafasnya, sudah beberapa kali dia mendengar kata yang sama."Ki, aku tidak ingin membahasnya. Lagipula, kakak Kenzo sudah memberitahu ku, jika Kenzo tidak ada di Indonesia lagi, Mamanya sudah mengirimnya ke Belanda. Jadi aku tidak ingin mengingatnya lagi."
"Tapi Sya_
"Ki, aku mohon. Biarkan semua berjalan sesuai takdirku, biarkan aku memulai hidupku yang baru." potong Nessa.
Kinan mendesah mendengar ucapan Nessa, dia tidak tau harus seperti apa meyakinkan saudarinya itu.
Andai kamu tau jika Kenzo selalu memperhatikanmu setiap hari Sya, tapi jika cintamu kuat, aku yakin kau akan merasakan kehadirannya." Batin Kinan.
****
"Pah, kau sedang apa?" tanya Anel saat melihat suaminya tengah duduk dengan laptop di pangkuannya.
Nathan memalingkan tatapannya, melihat Anel tengah berjalan ke arahnya." Aku sedang memeriksa Email yang di kirim Aldo tenteng perusahaan baru yang akan di kelola Dika nanti." jawab Nathan sambil tersenyum.
"Apa sudah selesai?"
"Hmmm, belum. Apa ada hal yang penting sayang, kau ingin bicara sesuatu?" tanya Nathan, dia tau jika istrinya sedang gelisah.
"Iya, ini tentang Nessa."
Nathan mengerutkan keningnya, menatap wajah istrinya yang terlihat begitu khawatir." Kenapa dengan Nessa? apa keluarga Kenzo mengganggunya lagi?"
"Tidak. Bukan masalah itu."
__ADS_1
"Lalu?"
Anel menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan." Aku memikirkan keadaannya sayang, aku berencana membawa putri kita ke Singapore, melakukan pengobatan disana dan mencarikan donor mata yang pas disana."
Nathan tersenyum, dia menutup laptopnya lalu beranjak mendekati Anel. Duduk di samping istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Lalukan apapun demi kebaikan putri kita sayang, tapi fikirkan juga putri kita yang lainnya. Devan masih belum sadar, kita tidak bisa meninggalkan Kinan dalam kondisi seperti ini."
Ucapan Nathan membuat Anel tertegun, dia baru sadar jika putrinya yang lain juga tengah mengalami musibah.
"Sayang, kita akan membawa Nessa kesana setelah ulang Tahun Kinan minggu depan."
"Kau benar sayang, dan aku berharap di ulang Tahun putri kita itu ada keajaiban untuk rumah tangganya."
"Aku juga berharap seperti itu."
"Lagipula ada Amel dan Danu yang akan menjaga putri kita. Aku akan membicarakan ini pada Kinan nanti."
"Iya itu lebih baik sayang. Sekarang bersiaplah, kita akan ke rumah sakit untuk melihat kondisi menantu kita."
Anel mengangguk, dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket akibat berkutat dengan dapur. Sementara Nathan melanjutkan pekerjaannya sembari menunggu Anel selesai bersiap.
.
.
[Bersambung]
Maaf ya jika Author lama tidak muncul. Author lagi ada projek lain di *** Jika ada yang suka membaca di Apl itu, kalian bisa baca karya Author yang berjudul: Jihan
Cover nya seperti yang di bawah ini π
Dan sengaja Author bikin nama pena Baruπ
__ADS_1
Untuk Will you marry me Author usahakan Tamat akhir bulan ini. Dan untuk karya Si kembar Darren dan Daffa akan author lanjutkan awal bulan april.
Rencananya kisah cinta Alin dan Rendy akan Author pindah di ***.π