
Alin tertegun melihat sosok yang ada di hadapannya kini tengah duduk santai, kakinya bahkan bersila sambil menikmati makanan di depannya. Saking terkejutnya, Alin bahkan sampai menjatuhkan tas dan makanan yang sempat ia beli sebelum ke rumah sakit.
"Alin." ucap Fandra yang terkejut akan kedatangan adiknya yang mendadak itu.
"Ohhh, jadi kalian bersekongkol." Alin mengambil tasnya dan melempar pada orang yang sedang duduk di brankar.
"Brakkk."
Ya, orang itu adalah Devan. Pria itu sudah sadar, tapi tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Fandra. Dia yang pertama mengetahui ini, dan entah sejak kapan.
"Alin, kau bisa membunuhku dengan tasmu, kau fikir aku sudah pulih benar, kepalaku bahkan masih sakit." ucap Devan dengan wajah kesal, mendapat serangan mendadak dari Alin.
"Aku tidak perduli, bahkan aku ingin sekli membunuhmu kak. Kau sudah membohongni kami, kau bahkan tidak kasihan pada Kinan. Dia itu kan sedang Hamil. Kau tega sekali." marah Alin. Wanita itu melipat tangannya ke dada dengan wajah tertekut, dia benar-benar tidak terima.
"Bukan begitu Al. Kakak ingin membuat kejutan di pesta ulang tahunnya besok. Awas saja kau sampai membocorkan rahasia ini. Akan aku bunuh kau." ancam Devan dengan gerakan menyayat leher.
"Cihhh, aku pasti akan mengatakannya pada Kinan."
"Awas saja jika kau berani." Devan mendelik, dia benar-benar kesal dengan Alin.
Alin tidak memperdulikan ancaman Devan. Wajahnya yang semula marah kini berubah sendu, Alin langsung menghambur ke pelukan Devan, bahkan badan Devan sampai terhuyun ke belakang karna ketidak siapannya menangkap tubuh Alin.
"Hiksss. Aku merindukan kakak." ucap Alin di sela tangisan nya. Dia benar-benar merindukan sosok Devan yang sudah seperti kakaknya sendiri.
"Sudah, kau itu sudah besar. Jangan cengeng, kaka usah tidak apa-apa, kakak juga sangat merindukan kamu dan juga yang lain nya." balas Devan.
Alin melepas pelukannya, mengusap sisa air mata yang tumpah begitu saja karna bahagia.
"Ingat, jangan sampai Kinan dan yang lainnya tau soal ini. Dan kakak minta tolong, jangan sampai Kinan datang ke rumah sakit. Mengerti."
Alin mengangguk, dia mengerti apa yang harus dia lakukan.
"Tapi kak, sejak kapan kaka sadarkan diri, kenapa hanya kak Fandra yang tau?"
__ADS_1
"Devan baru sadar pagi tadi. Dan kebetulan kakak yang jaga. Awalnya kakak ingin memberitau semuanya, tapi mendengar penjelasan Devan, ya apa boleh buat, kakak hanya bisa setuju." jawab Fandra santai.
"Sekarang, kau pulanglah. Dan bawa Kinan kemanapun asalkan dia tidak sampai kemari. Dan sore nanti kak Fandra yang akan membawa Kinan ke tempat yang sudah kami siapkan."
Alin mengangguk, wajahnya yang ceria mendominasi hatinya. Alin meninggalnan rumah sakit dengan wajah ceria, tapi sesampainya di tempat parkir Alin melihat seseorang yang baru-baru ini ia kenal tengah berbincang dengan seorang wanita.
"Bukankah dia Fani, jadi mereka saling kenal, atau mereka punya hubungan khusus." batin Alin.
Alin ingin mendekat, tapi akal sehatnya kembali berbicara. Dia pun mengurungkan niatnya, Alin pun masuk ke dalam mobilnya tanpa berbuat ikut campur. Karna memang itu bukan urusannya, yang paling penting adalah mencegah Kinan agar tidak menghancurkan pesta kejutan untuknua.
...****...
Pukul 1 siang, Alin tiba di kediaman Sanjaya, dia melihat Kinan sudah siap untuk pergi, terlihat jelas dari pakaian yang ia kenaka dan jiga tas kecil yang menggantung di pundaknya. Alin yang panik segera mendekati Kinan.
"Alin, kamu sudah pulang nak? Ada apa, apa ada masalah? Kamu terlihat panik?" tanya Anel bertubi. Anel takut terjadi sesuatu.
"Ahhh, tidak Bi. Mmm, Alin hanya ingin mengajak Kinan pergi, takut kedulian Kinan pergi ke rumah sakit." jawab Alin sedikit gugup.
"Jangan pergi ke rumah sakit yah, kau harus membantuku dulu. Plisss." mohon Alin.
"Bantu apa sih Al, aku buru-buru ini. Kak Fandra akan marah jika tidak ada yang menggantikannya."
"Tidak akan."Alin menarik tangan Kinan, membawanya ke hadapan Anel." Aku sudah bilang sama kak Fandra tadi. Nanti ada Dika juga kok yang bakalan gantiin Kak Fandra." bujuk Alin. Dia harus berhasil membawa Kinan pergi. Jika tidak semua akan berakhir sia-sia.
"Sayang, kamu temenin aja Alin dulu, nanti juga Papa akan ke rumah sakit menggantikan Fandra, ada Mama Amel sama Papa Danu juga, jadi kamu bisa santai nemenin Alin." bujuk Anel, dia juga ingin putrinya bersantai sejenak.
"Tuhh kan Ki, banyak orng yang nungguin kak Fandra." Alin merengek. Berharap Kinan akan menerima bujukannya.
"Tak, tak, tak."
Suara yang tidak asing di indra pendengaran semua orang. Ya, suara itu adalah suara tongkat milik Nessa, wanita itu sedang berjalan menuju ke arah Kinan dan Alin. Mungkin karna mendengar suara Alin datang.
"Al, Ki, kalian mau pergi?" tanga Nessa setelah dia sampai di depan Alin dan Kinan.
__ADS_1
"Iya nih Sya, tapi Kinan gak mau ikut." jawab Alin cepat.
"Ikut aja Ki, sekalian aku juga mau ikut kalian, boleh kan?"
"Boleh banget sya." jawab Alin penuh semangat
Kinan menghela nafasnya, karna jika Nessa yang mengajaknya dia tidak akan bisa menolak, mungkin karna keadaan Nessa yang membuat Kinan tidak tega untuk menolak. Sementara itu Alin yang begitu senang dengan kedatangan Nessa. Alin benar-benar lupa jika Kinan tidak akan bisa menolak Nessa.
Beberapa menit kemudian mereka sudah siap. Tapi Alin sebenarnya masih bingung akan membawa Kinan kemana. Karna ini benar-benar mendadak.
"Al, kita mau kemana sih ini?" tanya Kinan.
Sejam tadi mereka hanya memutari taman, entah kemana Alin akan membawanya. Alin yang juga mulai lelah pun menepikan mobilnya. Gadis tomboy itu menyandarkan punggungnya di kursi kemudi.
"Entahlah." jawab Alin.
"Al, gimana kalau kita ke mall aja, atau ke taman hiburan." usul Nessa.
"Tidak." ucap Alin cepat." Aku takut jika kita ke Mall kejadian tempo hari kembali terjadi, lo tau betapa takutnya aku dan Kinan. Dan jika kita ke taman hiburan, Kinan sama lo bakalan capek." imbuh Alin.
"Terus kita kemana donk." ucap Kinan yang sudah mulai bosan.
Alin terlihat berfikir, dan tidak sia-sia. Dia menemukan satu tempat yang cocok untuk mereka datangi.
"Gue tau kemana harus ngajak kalian. Pergi sekarang."
"Terserah lo."
Alin terkekeh dan langsung menancap gas mobilnya menuju tempat yang akan membuat mereka nyaman.
.
.
__ADS_1