
Semua orang terkejut mendengar ucapan Devan, mata Amel dan Danu bahkan sampai melebar akibat ucapan putranya itu. Mereka tidak menyangka akan keputusa yang di ambil oleh Devan.
Danu menghela nafasnya dengan berat, tatapan kecewa sangat kentara di matanya. Danu tau apa yang membuat putranya itu mengambil keputusan ini.
"Apa kau yakin nak, jangan paksakan dirimu, aku tidak ingin putriku menderita karna pernikahan ini." ucap Mario tegas.
"Tidak tuan Mario, aku benar-benae serius." ucap Devan dengan tegas.
Plakkk
Tanpa di sangka-sangak tamparan keras di pipi Devan melayang dari tangan Amel. Wajahnya memerah menahan amarah. Ia tidak menyangka jika putranya akan mengambil keputusan dalam sebuah desakan.
"Jika itu yang terbaik untukmu jalankanlah Van, tapi jangan harap setelah ini kau bisa menemui putriku. Kau kembali menorehkan luka untuknya yang masih setia menunggumu disana tanpa tau apa yang terjadi." ucap Amel mencoba tidak kembali menampar putra tunggalnya itu.
"Mama dan papa akan kembali ke Indonesia, dan dengar baik-baik Van. Doa mama akan selalu menyertaimu, tapi jangan harap kami ada disaat kau bertunangan. Dan setelah satu cincin kau sematkan di jari Lucia, maka cincin yang kau sematkan di jari Kinan akan terlepas. Dan setelah itu cobalah untuk melupankan putriku Van. Meskipun suatu saat nanti kau menyesal dan ingin kembali, maka kami orang pertama yang akan menghalangimu."
Ucapan Amel terhenti seiring dengan langkahnya menjauh dari ruangan mertunya. Biarlah orang mengatakan jika dia ibu yang kejam, tapi terlepas dari semua itu, Amel hanya ingin Devan menjadi pria yang tegas. Bisa mengambil sebuah keputusaa tanpa ada rasa terpaksa.
Pandangan mata Devan mengiringi kepergian orang tuanya,ucapan Amel bagaikan sebuah pedang yang menghujam tepat di hatinya. Ia begitu takut akan ancaman dari mamanya yang tidak akan membiarkan dirinya bertemu dengan Kinan. Devan tertunduk lemas di tempat duduk yang ada di depan ruangan itu, Devan ingin sekali berteriak tapi ia sadar saat ini masih di rumah sakit. Sampai sebuah tangan menyentuh bahunya menyadarkan Devan jika masih ada Lucia dan keluarganya disana.
Lucia tersenyum saat pandangan mereka bertemu, sejak tadi wanita itu hanya diam tanpa berniat untuk ikut campur,melihat kejadian yang begitu banyak ia saksikan oleh matanya sendiri.
"Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak menginginkannya, sungguh, aku juga tidak akan tega melihat tunanganmu sakit hati karna kita. Kau tenangkanlah dirimu dulu, aku akan mencoba bicara dengan kakek dan membujuknya, tapi aku butuh waktu sampai kakek sembuh.Sementara ini kita bisa berpura-pura dulu, kau setuju." ucap Lucia dengan senyum tulus.
Lucia bukan gadis yang munafik, jika dirinya ditanya apa dia mnyukai Devan, tentu saja dia akan menjawab, iya.Bahkan Lucia menyukai Devan pada pandangan pertamanya. Tapi Lucia tidak ingin egois, dia tidak mau menghancurkan hidup orang lain hanya demi kebahagiaannya semata. Maka dari itu Lucia akan membantu Devan untuk berjuang mendapatkan cintanya.
__ADS_1
Devan mentap mata yang menyiratkan ketulusan, tidak ada kebohongan sama sekali di mata Lucia."Trimaksih, kau wanita yang baik, semoga kau mendapat laki-laki yang lebih baik dari aku." ucap Devan akhirnya.Ia mencoba untuk mempercayai gadis yang saat ini ada du sebelahnya itu.
Lucia terkekeh mendengar ucapan Devan, pria di depannya sungguh lucu menurutnya."Aku harap aku mendapat pria sepertimu." canda Lucia.
"Kalau begitu kami permisi dulu, mulai besok kita akan bersandiwara sampai kakek sembuh, dan setelah itu kita akhiri sandiwara ini." lanjutnya.
"Baiklah, terimakasi. Dan maafkan aku tuan Mario dan untuk anda nyonya Jasmin." ucap Devan cepat
"Tidak masalah nak, kami sangat mengerti. Kami akan mendoakanmu supaya kau selalu bahagia, dan ya, panggil aku Tante, ok." ucap Jasmin cepat
"Baik tante." ucap Devan cepat.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi. Om berharap tuan Adam cepat pulih." doa tulus Mario.
"Trimakasih, hati-hati di jalan."
**
**
Sementara Kinan yang sedang sibuk dengan berkasnya merasa begitu lelah, ia merasa hari ini begitu panjang bagi kinan. Dan entah kenapa hatinya begitu gelisah, sesaat Kinan memikirkan Devan yang belum memberinya kabar sama sekali.
Siang ini Kinan memutuskan untuk makan siang di luar, dia sudah ada janji dengan Alin untuk makan di cafe biasa.Kinan yang bary saja sampai di loby melihat seorang wanita yang tengah di marahi oleh wanita uang berpakaian stap kantornya.
"Ada apa ini? kenapa kau memarahinya seperti itu?" tanya Kinan. Tiga orang yang sedang mengucapkan kata-kata tidak pantas menurut Kinan seketika menghentikan ucapannya. Mereka menatap takut ke arah Kinan.
__ADS_1
"Kenapa kalian diam, cepat jawab." bentak Kinan dengan wajah galaknya. Tidak ada yang menyangka jika Kinan yang terkenal ramah ternyata memikiki bakat terpendam.
"Maaf, nona Kinan, kami hanya memberi taunya saja." ucap salah satu dari tiga wanita itu.
"Cihh, kau kira aku ini bodoh hahhh, sekarang enyah kalian dari sini, jangan pernah mengganggunya lagi, jika sampai aku melihat kalian lagi, maka aku pastikan kalian tidak terlihat lagi disini." ancam Kinan hingga membuat ketiganya pergi dengan takut.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kinan sambil membantu wanita yang tengah tertunduk di lantai.
"Tidak apa-apa Nona, terimakasih karna sudah membantu saya." ucap wanita itu
"Jangan sungkan, kau pasti karyawan baru ya. Kenalkan namaku Kinan." ucap Kinan sambil mengulurkan tangannya.
"Namaku Zeline." Zeline membalas uluran tangan Kinan.
"Ahhh ya, aku mau pergi makan siang, kau mau ikut." tanya Kinan dengan wajah sumringah, ia sungguh senang bisa mendapat teman baru.
"Tidak nona, saya tidak pantas." ucap Zeline cepat. Dua tau siapa Kinan, karna saat Kinan menolongnya tida wanita itu sangat takut melihat Kinan, dan pastilah Kinan bukan orang sembarangan.
"Jangan panggil aku nona, panggil aku Kinan ok, dan aku tidak suka di tolak. Kita saat ini teman, dan jangan tolak pertemananku ini." ucap Kinan lagi.
Zeline merasa tidak enak menolak ajakan Kinan."Baiklah,aku tidak akan menolak." ucap Zeline akhirnya.
"Good gilr, ayo kita pergi sekarang, saudaraku sudah menunggu kita." ajak Kinan penuh semangat.
Mereka berdua meninggalkan kantor menuju cafe biasa tempat Kinan dan Alin selalu menghabiskan kebosanan mereka. Di dalam perjalanan Kinan selalu saja bicara,berbeda dengan Zeline yang hanya diam saja, Zeline sebenarnya sangat takut keluar sendiri seperti ini, dirinya takut dengan mantan kekasihnya yang bisa kapan saja datang dan menyeretnya.
__ADS_1
[Bersambung]
๐Lucia itu baik kok, tapi untuk meyakinkan kakek Adam,itu yang susah. Jadi jangan julit dulu sama Lucia ya.๐