
"Suara itu. Benarkah dia?"
"Hahahaha, kau mengenali suaraku Kinan, kau sudah tau sekarang siapa aku?" wanita itu kembali berjalan mendekati Kinan sampai wajahnya terlihat jelas berada di bawah lampu yanh pencahayaannya tidak terlalu terang, tapi cukup untuk melihat wajah yang kini tengah berdiri di depan Kinan.
Deg...!
" Lucia, kau. Kenapa kau melakukan ini padaku, bukankah kau sendiri yang menginginkan aku bersama dengan kak Devan, lalu apa ini?"
"Awalnya aku memang ingin membantu kalian, tapi aku juga sangat mencintai Devan, aku tidak rela kau menikah dengan Devan, karna Devan hanya milikku, dia milikku." triak Lucia
"Tapi kenapa kau tidak mengatakannya dengan jujur, kenapa harus seperti ini. Aku bisa membantumu bersama kak Devan jika kamu memang mencintainya."
"Cihhhh, apa sekarang kau takut mati Kinan, kau sudah tidak mau memperjuangkan cintamu. Tapi sayangnya semua itu sia-sia, karna Devan tidak mencintaiku, dia hanya mencintaimu Kinan, hanya mencintaimu." Lucia mempertegas ucapannya, seolah Lucia sedang memberi tau orang lain.
"Iya Luc, kak Devan memang sangat mencintaiku, tapi cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu."
"Tidak Ki, tidak ada cinta yang bisa tumbuh seiring berjalannya waktu jika hati seorang sudah terpatri dengan orang lain." ucap Lucia dengan tatapan yang tidak bisa Kinan artikan.
"Lucia, perca_
Plakkkk
Tamparan keras mendarat di pipi Kinan, sudut bibir gadis yang tengah terikat tak berdaya itu terlihat berdarah. Kinan meringis menahan rasa perih di bagian kanan wajahnya. Kinan begitu syok mendapat perlakuan seperti itu dari Lucia.
Lucia mendekati Kinan lalu menarik rambutnya ke belakang, membuat Kinan kembali meringis karna rasa sakit di kepalanya. Lucia mendekatkan wajahnya ke telinga Kinan lalu membisikan sesuatu yang tidak bisa di dengar oleh seseorang yang ada di balik pintu.
"Ingat itu baik-baik Kinan, aku akan membuatmu menderita, karna jika aku tidak bisa memiliki Devan maka kau pun tidak." Lucia melepas cengkraman tangannya di kepala Kinan lalu pergi dari ruangan itu dengan segera.
Sementara Kinan menatap kepergian Lucia dengan wajah sendu, Kinan menundukkan kepalanya setelah pintu ruangan yang minim cahaya itu tertutup rapat.
Ruangan Lain
"Apa yang kau katakan pada wanita Jala*g itu tadi, kenapa kau seperti membisukan sesuatu padanya. Dengar, jangan coba-coba untuk mengkhianatiku Lucia, kau sendiri sudah bersumpah padaku." ucap seorang wanita yang sedang berdiri membelakangi Lucia.
__ADS_1
"Kau tenang saja, aku tidak akan mengkhianatimu, kau tau sendiri jika Kinan sudah membuat aku gagal menikah dengan Devan, jadi kenapa aku tidak memanfaatkan semua ini untuk menyiksanya." ucap Lucia cepat
Wanita itu berbalik untuk melihat exspresi yang di tunjukan Lucia." Baiklah, aku percaya padamu. Aku percayakan dia padamu, aku harus kembali ke apartemen agar tidak ada yang curiga padaku."
"Tentu saja, aku akan menjaga Kinan dengan baik. Zeline." ya, wanita yang bersama Lucia saat ini adalah Zeline.
Zeline tersenyum penuh kemenangan." Ingat jika rumah ini sudah di penuhi oleh orang-orangku, jadi jika kau macam-macam maka orang-orangku akan langsung menghabisi kalian berdua." peringatan Zeline tidak membuat Lucia takut sama sekali. Lucia bahkan tersenyum seakan ancaman Zeline itu tidak menakutinya sedikitpun.
Selepas Lucia memastikan Zeline sudah jauh dari rumah tua itu, Lucia segera kembali ke ruangan tempat Kinan di sekap.
"Ki, kau tidak apa-apa kan, maafkan aku, tolong maafkan aku." sesal Lucia saat melihat luka di sudut bibir Kinan.
Kinan tersenyum agar Lucia tidak terlalu mengkhawatirkannya." Kau menamparku sangat kuat, tentu saja ini sangat sakit." Kinan terkekeh melihat perubahan wajah Lucia yang terlihat begitu sendu, dia pasti merasa sangat bersalah.
"Tapi ini tidak terlalu sakit saat aku tau kau kesini untuk menyelamatkanku, bahkan kau tidak perduli dengan keselamatanmu."lanjut Kinan.
"Aku hanya tidak mau perempuan tidak tau malu seperti Zeline sampai menyakitimu Ki."
"Sekarang ceritakan, kenapa kau bisa tau rencana Zeline?" tanya Kinan penasaran
Flashback On
Lucia yang baru saja keluar dari mall tanpa sengaja mendengar pembicaraan seseorang yang suaranya seperti Lucia kenal. Perlahan Lucia mendekati pemilik suara itu, semakin dekat dan semakin jelas.
"Ingat, kau harus menculik wanita yang bernama Kinan, dan sekap dia di rumah tua yang ada di tengah hutan sana. Siksa wanita itu sampai dia mau membatalkan pernikahannya." ucap Zeline dengan nada suara penuh kebencian.
Deg..!
Jantung Lucia berdetak cepat, tangannya mengepal dengan deru nafas semakin tak terkontrol, Lucia tidak menyangka jika Zeline adalah wanita ular yang tidak tau trimakasih.
"Lucia, kau ada disini, sejak kapan ka_
"Cukup mendengar percakapanmu tadi." sela Lucia dengan seringai licik.
__ADS_1
"Percakapanku, yang mana, aku tidak mengerti." ucap Zeline terlihat mencoba tenang.
"Cihhh, tidak usah terlalu berusaha menutupi rasa gugupmu. Aku tidak akan mengatakan pada siapapun, tapi aku bahkan akan membantumu untuk melancarkan semua rencanamu." ucapan Lucia membuat Zeline terlihat berfikir
"Maksudmu?" tanya Zeline masih berpura-pura tidak mengerti
"Aku akan membantu mu untuk menculik Kinan , Karna sebenarnya aku juga tidak suka dia menikah dengan Devan. Jika dia tidak ada, mungkin aku yang akan ada di posisinya saat ini." ucap Lucia mencoba meyakinkan Zeline.
"Baiklah, sepertinya kau bisa di percaya."
"Ok, Deal." ucap Lucia mengulurkan tangannya
"Deal." balas Zeline
Flashback off
"Ki, maafin aku sekali lagi yah, aku belum bisa lepasin kamu sekarang, Zeline menyita ponselku, tapi aku sudah meninggalkan surat di mobil untuk Devan, semoga saja dia melihat surat itu dan membacanya, sehingga mereka bisa cepat sampai disini. Dan tolong maafkan aku jika aku akan menyakitimu lagi." ucap Lucia dengan wajah penuh penyesalan, tapi jika Lucia tidak melakukan ini, Zeline pasti akan menyiksa Kinan lebih parah dari ini.
"Aku mengerti, setidaknya aku tidak sendiri disini, ada kau yang menemniku, trimakasih Lucia, trimakasih." ucap Kinan tulus.
"Tentu saja aku akan disini bersamamu. Maaf Ki, aku harus pergi, sebentar lagi Lucia pasti akan datang, aku tidak ingin dia curiga, dan yah pegang pisau ini untuk melindungimu, dan dengar baik-baik, ikatan tangan dan kakimu sudah aku kendurkan, jika terjadi sesuatu cepatlah pergi dari sini, sementara aku akan mencari cara mengalihkan semua penjagaan yang ada di luar."
"Tapi Luc, bagaimana denganmu, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu." Kinan menatap Lucia dengan wajah sendu dan penuh rasa khawatir.
Lucia membalas tatapan Kinan."Jangan mengkhawatirkanku Ki, aku akan baik-baik saja, fikirkan dirimu sendiri, jangan ragu meninggalkan tempat ini, pergilah ke arah selatan, disana kau akan menemukan jalan, lalu pergi ke desa yang tidak jauh dari sana."
"Lucia, hikss.... aku tidak akan meninggalkanmu disini, kita pergi berdua, aku yakin kak Devan dan yang lainnya akan segera menyelamatkan kita." Kinan mulai menangis, dia tidak ingin meninggalkan Lucia sendiri di tempat terkutuk ini.
"Aku juga yakin itu Ki, tapi sekarang kau harus berusaha sendiri, Zeline tidak akan mengampunimu setelah ini Ki, dia itu psikopat, dia tidak akan mengampunimu dan membiarkan mu hidup bahagia. Aku mohon, aku akan memberimu isyarat, jika sudah aman aku akan bertepuk dua kali, dan setelah itu lari secepat mungkin, mengerti." ucap Lucia mencoba memberi pengertian
Setelah mengatakan itu Lucia keluar dari ruangan tempat Kinan di sekap, sementara Kinan hanya bisa menangisi keadaannya saat ini, Kinan tidak tau harus berbuat apa, melarikan diri sendiri atau bersama Lucia menghadapi ini.
[Bersambung]
__ADS_1
🍃Author gak bisa up banyak-banyak karna lagi capek banget. Jadi mohon permaklumannya.