Will You Marry Me

Will You Marry Me
Penjelasan


__ADS_3

Pagi ini Devan sedang berdiri di depan sebuah rumah besar, ia ingin menjelaskan semua kejadian yang Kinan dengar semalam. Ya, saat ini Devan sedang berada di depan rumah kediaman Sanjaya. Devan ingin menjelaskan jika semua yang di dengar oleh Kinan itu tidak benar. Hari ini Devan juga membawa Lucia untuk meyakinkan Kinan akan semua yang terjadi.


"Dev, ayo kita masuk. Kau masih takut Kinan menolakmu?" Lucia menatap Devan dengan jengah, pasalnya Devan sungguh membuatnya kesal dengan terus menatap bangunan yang ada di depannya.


"Aku takut dia masih marah dan akan menolakku Luc." ucap Devan lirih


Plakkk


Lucia memukul lengan Devan, sekali lagi pria di sebelahnya ini membuat Lucia semakin naik darah.


"Jika Kinan memang mencintaimu, dia akan mendengarkan semua penjelasan darimu. Kau harusnya yakin, bukan malah tertunduk seperti orang yang sudah kalah sebelum berperang." ucap Lucia cepat


Devan menatap Lucia, ia tidak menyangka jika gadis keturunan Indonesia Jerman itu akan membantunya sedemikian rupa. Padahal harusnya gadis itu marah padanya karna sudah menolak menikah dengannya.


Plakkk


Lucia kembali memukul lengan Devan dan menyadarkan pria itu dari lamunannya." Kenapa kau melihatku seperti itu, apa kau mulai jatuh cinta padaku, hmm." goda Lucia dengan kedipan mata genitnya.


Devan yang melihat tingkah konyol Lucia pun terkekeh geli. "Jangan menggodaku seperti itu, aku jadi geli melihatnya. Lebih baik sekarang kita masuk." ajak Devan.


Mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam rumah besar itu. Di dalam, Devan dan Lucia di sambut oleh Anel yang sedang menyiapkan sarapan.


"Tumben pagi-pagi kesini Dev, apa ada hal yang penting?" tanya Anel


"Iya Bi, Devan ingin mencari Kinan, apa kinannya sudah bangun Bi?" tanya Devan


"Sepertinya dia sudah bangun, karna hari ini Kinan bilang dia akan pergi ke Surabaya untuk menggantikan Fandra menemui clian penting." jawab Anel cepat


"Begitu ya Bi. Bisa gak Bibi panggilkan Kinan sebentar, ada yang Devan ingin katakan ke Kinan Bi, ini sangat penting." mohon Devan.


Anel melihat ada yang aneh dengan Devan, lalu pandangan mata Anel beralih pada gadis yang duduk di sebelah Devan.


"Apa kalian_"


"Ohh, maaf Bi, kenalkan ini Lucia, cucu sahabat kakek di Berlin." ucap Devan memperkenalkan Lucia.


"Halo tante,maaf ya kami mengganggu sepagi ini. Saya Lucia tante." Lucia memperkenalkan dirinya dengan sopan

__ADS_1


"Ohh, hay Lucia. Saya Anel, mamanya Kinan. Kalau begitu kalian tunggu sebentar yah, biar Bibi panggilkan Kinan dulu." ucap Anel lalu berlalu ke atas untuk memanggilkan Kinan.


Kamar Kinan


"Sayang, kamu sudah siap! sepagi ini?" tanya Anel saat melihat putrinya sedang asyik di depan cermin.


"Iya mah, aku akan berangkat pukul 9 nanti, dan saat ini aku harus pergi ke kantor untuk mengambil berkas yang tertinggal disana." jelas Kinan.


"Baiklah, jangan lupa kabari mama jika kau sudah sampai di sana. Dan yah, ada Devan di bawah sedang menunggumu, katanya sih ada hal penting yang ingin ia katakan." ucap Anel lagi.


Deg....!


Jantung Kinan berdetak sangat cepat, ucapan Lucia dan Devan kembali terngiang di kepalanya. Saat ini Kinan masih belum ingin menemui pria itu. Dia tidak ingin mendengar apapun dari Devan.


"Sayang, kamu dengar mama." panggil Anel saat putrinya itu tidak menghiraukan ucapannya.


Kinan tersadar dari lamunannya, ia menatap Anel dengan sorot mata sendu.


"Bilang sama kak Devan, Kinan belum mau bertemu dengannya ma." ucap Kinan yang membuat Anel mengerutkan dahinya. Anel tau jika sedang ada masalah antara Devan dan Kinan.


" Sayang, kamu tidak boleh seperti ini, jika kamu punya masalah dengan Devan, cobalah untuk menyelesaikannya dengan hati tenang. Masalah tidak akan selesai jika kamu menghindarinya nak." ucap Anel mencoba memberi nasihat kepada putrinya itu.


Anel menghela nafasnya, dia tau jika saat ini Kinan masih ingin menenangkan dirinya, walau Anel tidak tau masalah apa yang sedang Kinan dan Devan hadapi, tapi Anel mencoba untuk tidak terlalu ikut campur.


"Baiklah, mama mengerti. Turunlah untuk sarapan sebelum kamu berangkat ke kantor." ucap Anel lalu meninggalkan Kinan sendiri.


Anel turun ke bawah untuk menemui Devan dan Lucia.


"Devan, Bibi tidak tau kamu sedang ada masalah apa dengan Kinan, tapi Bibi minta maaf karna Kinan belum ingin menemuimu." ucap Anel saat dia sudah duduk di depan Devan dan Lucia


"Tapi Bi, Devan harus segera menjelaskan semuanya salah faham ini pada Kinan." ucap Devan masih kekeh.


"Maaf Dev, Bibi tidak bisa memaksa Kinan jika dia sudah tidak mau." ucap Anel mencoba membuat Devan mengerti


"Tapi Bi_" ucapan Devan terhenti saat tangan Lucia memegang bahu Devan. Lucia mencoba membuat Devan mengerti.


"Maaf tante, boleh saya ke atas menemui Kinan, sebentar saja." mohon Lucia

__ADS_1


Anel menatap Lucia dengan yang begitu memohon."Baiklah, Bibi harap dia tidak menolakmu." ijin Anel


Lucia naik ke lantai atas tempat kamar Kinan berada,setelah Anek menunjukan letak kamar Kinan Lucia bergegas kesana. Dia tidak ingin membuang-buang waktu saat ini.


Tokkk tokk tokk


Lucia mencoba mengetuk pintu kamar Kinan. Beberapa kali tidak ada jawaban dari yang punya kamar, tapi setelah beberapa kali Lucia mengetuk, ia melihat gagang pintu mulai bergerak,pintu kamar Kinan mulai terbuka. Lucia melihat Kinan berdiri di ambang pintu dengan wajahnya yang menampakan keterkejutan.


"Hai Ki, boleh aku masuk." ucap Lucia dengan senyum di wajahnya, seperti tidak pernah terjadi apa2 di antara mereka.


"Maaf Lucia, tapi aku buru-buru saat ini." ucap Kinan Lalu ingin keluar dari kamarnya.


"Ki,tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Aku dan Devan hanya punya waktu satu bulan saja, dan jika kau masih kekeh seperti ini, aku pastikan kau akan menyesal seumur hidupmu." ucap Lucia yang seketika membuat langkah Kinan terhenti.


Kinan tersenyum sinis mendengar ucapan Lucia, ia berbalik agar bisa melihat wajah Lucia." Apa yang mau kau jelaskan lagi padaku, belum cukupkah kalian menyakiti aku dan membuat aku seperti orang bodoh yang tidak peka akan situasi. Tidak perlu waktu satu bulan untuk membuat aku menyesal karna saat ini pun aku sudah menyesal karna menerima kak Devan lagi ke dalam hidupku." ucap Kinan dengan wajah memerah.


"Dengar Lucia, aku tidak perduli jika kalian akan bertunangan ataupun menikah. Aku benar-benar tidak perduli. Kau dan kak Devan bebas melakukan apapun, aku akan melepaskan kak Devan untukmu."


Lucia menghela nafasnya dengan kasar mendengar ucapan Kinan. "Cihhh, benarkah itu Ki. Pastinya aku akan sangat berterimakasi karna kau sudah sangat baik mau melepas cintamu untukku, pastinya aku akan menjadi wanita yang sangat beruntung bisa mendapatkan Devan. Tapi sayangnya tidak semudah itu untuk mendapatkan hati Devan untukku,bahkan aku sudah kalah sebelum berperang. Karna Devan sama sekali tidak tertarik padaku, dia hanya mencintaimu Ki, dia sangat mencintaimu." ucap Lucia lirih.


"Kau tau ki, jika Devan memang menerima perjodohan kami, untuk apa aku dan Devan harus repot-repot terbang ke Indonesia. Seharusnya aku sudah menikah dengan Devan satu minggu yang lalau jika memang Devan juga mencintaiku. Tapi tidak, Devan dia memilihmu, dia mencintaimu dan tidak ada yang lainnya, aku terbang ke Indonesia hanya untuk membantu Devan bersatu denganmu,karna Kakek sangat percaya padaku, dari situlah Devan di perbolehkan pulang ke Indonesia, karna aku memberi alasan akan meminta restu pada orang tuan Devan." lanjutnya.


"Kinan, cobalah untuk memahami keadaan kami. Apa yang kamu dengar tadi malam itu semua tidak benar. Devan hanya takut jika kau tidak menerima penjelasan darinya dan salah faham akan semua kejadian ini. Devan menolak keras perjodohan kami, tapi itu tidak bisa ia lakukan di depan kakek karna kondisi kakek yang masih belum stabil.Devan takut jika jantung kakek akan kambuh lagi. Aku mohon mengertilah Ki, aku tidak punya banyak waktu untuk membantu kalian, karna aku hanya di ijinkan manetap di Indonesia satu bulan saja." jelas Lucia panjang lebar. Sementara Kinan hanya menunduk meresapi kata-kata yang di ucapkan Lucia.


"Kau tidak bohong kan? apa kau tidak akan menjadi musuh dalam selimut yang akan menusukku dari belakang seperti yang kebanyakan ada di novel." ucapan Kinan membuat Lucia terbahak keras. Apa yang di fikirkan gadis di depannya ini. Pikirannya sudah di setting oleh kebanyakan cerita yang ada di novel kebanyakan.


"Jangan konyol Kinan, berhentilah membaca novel seperti itu. Atau kau akan terus berkhayal seperti itu." ucap Luci saat tawanya terhenti


"Ya, siapa tau saja, aku kan hanya waspada." ucap Kinan menutupi rasa malunya.


"Baiklah, kau fikirkan dulu kata-kataku. Sementara ini kau boleh mendiamkan Devan, anggap saja untuk memberi sedikit pelajaran untuk pria lemah sepertinya." ucap Lucia dengan kedipan mata.


Sementara Kinan yang mengerti maksud Lucia pun membalas kedipan mata Lucia dengan senyum penuh arti.


"Baiklah, aku akan membuatmu gila kak, sampai kekesalanku hilang karna kau tidak mau jujur padaku."


[Bersambung]

__ADS_1


🍃Maaf kemarin Author tidak up karna sedang sakit kepala, tapi hari yang kemarin akan Author ganti dengan up double hari ini. Untuk bab selanjutnya akan up malam nanti.


🙏


__ADS_2