
Dua hari berlalu, Devan terlihat begitu gelisah. Bahkan sesekali ia terlihat mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya mengkhawatirkan gadis yang dua hari lalu ia lihat di bandara, Devan tidak mungkin salah, itu benar-benar Kinan.
"Minum." Fani menyodorkan segelas jus dingin pada Devan. Fani sedikit bingung melihat tingkah laku atasannya itu, ia terlihat begitu kacau saat ini.
"Trimakasih." Devan mengambil jus itu lalu meneguknya sampai habis. Tenggorokannya serasa kering memikirkan pertanyaan yang sama sekali belum ada jawabnya.
"Lo lagi ada masalah? Sepertinya serius, sampai-sampai wajah lo begitu berantakan?" tanya Fani cepat, sesekali tangannya mengganti saluran tv di depannya.
"Hahhhh." Devan menghela nafasnya yang terasa begitu berat."Dua hari yang lalu gue liat Kinan di bandara, gue gak tau dia kemana." ucap Devan akhirnya
Fani melihat ke arah Devan yang sekali lagi mengusap wajahnya dengan kasar. Sepersekian detik kemudian Fani tertawa mendengar ucapan Devan. Sedangkan Devan menatap tajam ke arah Fani yang berani mentertawakannya.
"Jadi lo dari tadi gelisah kayak suami nunggu istri lahiran itu karan lo liat Kinan di bandara." ucap Fani saat tawanya terhanti."Apa lo udah mulai takut kehilangan dia lagi? Makanya jadi cowok itu yang gantle napa. Udah di tinggal baru tau rasa lo." cibir Fani.
Yang di katakan Fani memang benar, ia masih sangat mencintai Kinan. Tapi entah kenapa ke'egoisannya begitu sangat dalam hingga ia tidak ingin mengatakan pada gadis itu jika ia masih mencintainya.
Fani menepuk bahu Devan dan menyadarkannya dari lamunannya."Kinan saat ini sedang berada di Bali, gue tau dari Alin saat kemarin gak sengaja ketemu dia di Mall." jelas Fani yang membuat Devan mengerutkan dahinya hingga alis tebalnya hampir menyatu.
"Gak usah berfikir terlalu keras, Kinan disana hanya satu minggu, dia sedang menggantikan Kak Fandra untuk menghadiri pertemuan penting disana. Tapi juga sekaligus liburan. Kalau lo penasaran lo bisa nyusul dia kesana." ucap Fani yang mengerti fikiran sahabatnya itu.
Tanpa berfikir panjang Devan langsung meninggalkan hotel Fani. Ia ingin menyusul Kinan ke Bali, ia tidak mungkin membiarkan gadis itu sendiri disana.
*****
Sementara itu Kinan yang baru saja selesai mengirim hasil pekerjaannya pada kakaknya Fandra langsung merebahkan tubuhnya yang sedikit lelah, sampai saat pintu kamarnya terdengar ada yang mengetuk. Dengan malas Kinan membuka pintu kamarnya.
"Hay, mau jalan." ucap Ken saat pintu kamar di buka Kinan
Kinan menampakan senyumnya."Jalan kemana?" tanya Kinan mempersilakan Ken masuk ke dalam
"Bagaimana kalau kita ke pantai, bukankah itu akan seru." ucap Ken cepat
"Oke, kalau gitu aku ganti baju dulu." ucap Kinan lalu masuk ke dalam kamarnya.
Kinan keluar dengan menggunakan long dress tanpa lengan dengan tali kecil, yang meng'ekspos lengan mulusnya,dengan rambut yang di biarkan tergerai menutupi bagian punggungnya agar tidak terlalu terbuka. Kinan begitu terlihat sangat mempesona di depan mata Kenzo.
"Sangat cantik." puji Ken tulus.
"Berhenti memandang ku seperti itu, bola matamu bisa kering karna terlalu banyak udara yang masuk ke sana." ucap Kinan sambil berjalan mengambil topi bundar besar yang ia beli kemarin.
__ADS_1
Kenzo terkekeh mendengar ucapan Kinan."Baiklah tuan putri, ayo kita berangkat sekarang." ajak Ken menyuruh Kinan berjalan keluar terlebih dulu.
Mereka berdua berjalan menuju pantai, karna hotel yang Kinan inapai tidak terlalu jauh dari pantai. Dan kebetulan tempat tinggal orang tua Kenzo juga dekat,jadi mereka lebih mudah untuk bertemu.
Kinan dan Kenzo berjalan menyusuri pantai tanpa berniat bermain air seperti yang di lakukan orang-orang yang ada disana. Mereka lebih suka menikmati hembusan angin yang menyapu kulit hingga membuat kesejukan yang terasa.
"Kinan." panggil Kenzo yang seketika membuat Kinan menghentikan langkahnya.
Kinan berbalik saat tidak mendapati Kenzo di sebelahnya."Kenapa kau berhenti, apa kau lelah?" tanya Kinan cepat
Kenzo terkekeh mendengar pertanyaan konyol Kinan. Mana mungkin dirinya lelah hanya karna berjalan lamban seperti siput dengan jarak tempus seratus meter. Itu bahkan belum ada apa-apanya di banding olah raga yang selama ini ia lakukan demi tubuh sehat dan bagus seperti sekarang.
"Apa kau percaya jika aku mengatakan aku lelah?" tanya Kenzo yang seketika mendapat gelengan dari Kinan.
"Tidak." jawab Kinan
"Lalu kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku hanya menebak saja, karna kau sudah duduk disana." jawab Kinan
"Aku hanya bosan kita berjalan tanpa tujuan." Kenzo menatap Kinan lalu menepuk ruang di sebelahnya."Duduklah." ucapnya lagi
Kinan mengikuti ucapan Kenzo lalu segera duduk di sebelahnya. Orang yang melihat mereka pasti mengira mereka adalah pasangan pengantin baru yang berbulan madu di Bali. Tapi kenyataannya adalah mereka hanya teman yang tidak sengaja bertemu di dalam pesawat penerbangan ke Bali.
Kinan menatap langit sore yang begitu indah, warna jingga sinar mentari yang sebentar lagi akan tenggelam seperti hati Kinan yang mulai melupakan cintanya. Kesalahan yang ia buat tiga tahun lalu menjauhkannya dari cinta Devan.
"Tdak, aku tidak memiliki kekasih." jawab Kinan sambil terus menatap lurus ke depan.
Kenzo menatap wajah Kinan yang sedikit berubah, ia tau ada yang di sembunyikan oleh Kinan. Kenzo menggenggam tangan Kinan."Cinta itu memang rumit dan sulit di mengerti,maka dari itu aku tidak pernah suka dengan kata-kata itu." menatap lurus ke depan, dengan pemandangan yang begitu indah membuat hati semakin sejuk." Jika kau punya masalah dengan yang namanya cinta, kau bisa menceritakannya padaku."
Kinan menatap genggaman tangan Kenzo, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah tampan pria yang kini menjadi temannya. Sepersekian menit tatapan mereka bertemu, sampai mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang berjalan tergesa dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun ke arah mereka.
Bukkk...!
"Menjauh dari gadisku." ucap Devan dengan tatapan tajam,ia bahkan menarik paksa Kinan ke belakang tubuhnya.
"Kak." ucap Kinan lirih, ia begitu syok melihat Devan ada di depannya saat ini.
Kenzo mengusap ujung bibirnya yang berdarah, ia menatap Devan dengan tajam."Siapa kau berani mengatakan jika Kinan itu gadismu?"
__ADS_1
"Aku tidak perlu mengatakan siapa aku, tapi jika sekali lagi aku melihat kau mendekati miliku maka akan kubuat kau menyesalinya seumur hidupmu." ucap Devan dengan wajah memerah menahan amarah.
Kenzo terkekeh mendengar ancaman laki-laki yang tidak ia kenal itu. Tapi Kenzo yakin jika Kinan mengenalnya, sangat terlihat dari raut wajah Kinan yang tertunduk lemah di belakang Devan.
"Kita pulang." ucap Devan menarik tangan Kinan. Tapi Kinan sama sekali tidak bergeming dari tempatnya, yang membuat Devan semakin kesal.
"Apa kau tidak dengar, kita pulang sekarang." ucap Devan semakin mengeraskan volume suaranya.
"Tidak kak, aku tidak mau." ucap Kinan menatap wajah Devan yang terlihat begitu kesal.
"Jangan membuatku marah Kinan, kau harus ikut denganku sekarng juga." ucap Devan yang tidak ingin di bantah.
"Hee, tuan, bisakah kau bersikap lembut pada wanita, kau tidak mendengar jika Kinan tidak mau ikut denganmu, jadi jangan memaksanya." sergah Kenzo yang tidak tega melihat wajah Kinan.
"Jangan ikut campur, dia ini tunanganku, jadi jangan pernah ikut campur urusan kami." ucap Devan dengan tatapan bagai elang, yang kapan saja siap mencabik-cabik mangsanya.
"Cihhhh, jika kau memang benar tunangannya, lalu kenapa Kinan tidak mengakuimu, bahkan Kinan mengatakan jika ia tidak memiliki kekasih. Atau kau hanya pria gila yang mencoba mengaku-ngaku saja." ejek Kenzo yang seketika menyulut api amarah di dada Devan.
Devan hampir saja melayangkan pukulannya lagi pada wajah Kenzo jika Kinan tidak mencegahnya.
"Berhenti kak." triak Kinan cepat.
"Ken, pergilah." ucap Kinan menatap Kenzo dengan wajah memohon
"Tapi Ki_
"Aku mohon Ken, aku akan menemuimu setelah urusanku selesai dengannya. Aku janji." ucap Kinan lagi. Tapi Ken sama sekali tidak bergeming, ia terlihat khawatir meninggalkan Kinan bersama pria yang tidak ia kenal.
Kinan menghela nafasnya saat Ken sama sekali tidak bergeming dari tempatnya."Aku tidak apa-apa Ken, dia kakakku. Jadi kai tidak perlu khawatir."
Kenzo pun akhirnya mengalah, ia meninggalkan Kinan dan Devan dengan berat hati. Sementara Devan masih belum mengatakan apapun saat Kenzo sudah meninggalkan tempat itu.
Sinar matahari kini sudah tenggelam di ufuk barat di gantikan oleh sinar rembulan yang cukup terang. Deru ombak semakin keras terdengar di indra pendengaran setia orang yang masih berada disana. Angin malam semakin kencang berhembus di sertai hawa dingin membuat tubuh Kinan menggigil.
Devan membuka jas yang ia kenakan lalu membalutkannya di tubuh Kinan. Tanpa mengatakan apapun Devan pergi meninggalkan Kinan yang masih mematung melihat kepergiannya.
Kinan yang kembali tersakiti hanya bisa terisak dalam diam. Ia sungguh tidak mengerti dengan sikap Devan saat ini. Kinan menjatuhkan tubuhnya di pasir, ia berteriak sekeras mungkin untuk menghilangkan sesak di dadanya.Tidak perduli ada yang mendengarnya atau bahkan menganggapnya gila, Kinan sungguh tidak perduli.
"Hiksss......aku membencimu kak, aku membencimu." ucap Kinan lirih
__ADS_1
[Bersambung]
🍃Hari ini author up 3 bab, jadi kalian juga jangan pelit-pelit untuk selalu meninggalkan jejak👍