Will You Marry Me

Will You Marry Me
Hari berlalu


__ADS_3

Setelah satu minggu berlibur di villa milik Danu, kini semua sudah kembali dalam kegiatan mereka masih-masing. Rencana bulan madu Kinan dan Devan di batalkan karna Kinan sudah cukup puas berlibur selama satu minggu ini.


Hari ini Kinan meninta ijin pada suaminya untuk berbelanja ke Mall bersaam dengan Alin dan Nessa. Karna keperluan harian Kinan sudah habis semua, dan dia juga harus berbelanja untuk kebutuhan dua orang. Tentunya Devan mengijinkan tapi dengan syarat dialah yang harus mengantar. Dan Kinan sama sekali tidak keberatan, toh hari ini adalah hari minggu jadi suaminya itu free kan.


Mobil Devan sudah melaju dengan kencang menembus jalan yang begitu ramai, melaju ke arah diaman tujuan mereka pagi ini. Selama dalam perjalanan Devan hanya fokus dengan jalan, sementara ketiga gadis yang dia bawa asyik bercanda ria, membuat suasanya mobil itu menjadi sangat ramia.


****


Satu jam perjalnan, mobil Devan sudah terparkir sempurna di tempat semestinya. Pemilik mobil dan juga penumpangnya sudah turun dan masuk ke dalam mall, berkeliling hingga Devan merasa sangat lelah.


"Kak, kau lelah ya?" tanya Kinan saat melihat wajah suaminya memerah.


"Sangat, aku sangat lelah. Kenapa kalian tidak merasa lelah sama sekali, apa kalian meminum jamu sebelum berangkat tadi." ucap Devan cepat


"Sembarangan, untuk apa kita minum jamu hanya untuk jalan ke mall. Kita itu udah biasa kali berkeliling kayak gini, kakak aja yang lemah." Alin berdecak sambil melipat tangannya di dada, melihat Devan yang sudah berkeringat walau di dalam mall itu sangat dingin.


"Cihhh, lemah. Suamimu ini sungguh payah." timpal Nessa.


"Kakak mau istirahat? kalau mau, kakak tunggu kami di stand makanan yang ada di sana saja, karna ada beberapa barang lagi yang harus kami beli." ucapan Kinan membuat Devan melongo sempurna. Devan melihat begitu banyak kantong yang ada di tangan tiga gadis itu, di tambah lagi yang ada di tangannya. Dan istrinya itu bilang masih ada yang harus di beli.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Cepat kembali." ucap Devan yang langsung di ancungi tiga jempol dari tiga gadis itu.


***


Devan duduk termenung sendiri menunggu istri dan adiknya menyelesaikan acara belanja mereka. Devan merogoh ponselnya yang dia letakan di saku celananya, berharap bosannya akan hilang dengan memainkan ponselnya.


"Devan" panggil seseorang dari meja sebelahnya.


Devan mendongak, mengedarkan pandangannya mencari sosok yang memanggilnya barusan. Devan melihat seorang pria yang cukup ia kenal sedang duduk bersama seorang wanita.


" Randy, kau disini. Menemani kekasihmu?" melihat sosok gadis yang berada di depan Randy. Jarak mereka tidak terlalu jauh, jadi suara Devan cukup jelas terdengar.


"Hahahha, dia hanya teman kencanku. Kau taukan aku tidak terlalu suka terikat pada wanita, itu sangat membosankan." ucap Randy dengan tawa renyah.

__ADS_1


Randy mengajak pasangan kencannya itu untuk duduk bersama Devan.


"Boleh kami bergabung." ucap Randy yang sudah berada di depan temannya itu.


"Tentu, silahkan duduk." Devan mempersilakan dua orang di depannya itu duduk.


"Kau disini sedang apa?" Rendy duduk di depan Devan dengan satu kaki bertumpu ke kaki lainnya. Menunjukkan kemesraan mereka di depan Devan tanpa rasa canggung.


"Ohh, aku sedang menemani istri dan adik-adiku berbelanja." jawab Devan tanpa sedikitpun terganggu dengan interaksi Randya dan kekasihnya.


Randy mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang Devan sebutkan.


"Apa yang sedang kau cari Rand, istriku sedang mencari barang bersama yang lainnya, jadi kau tidak akan menemukan mereka." ucapan Devan membuat Randy merasa lega, dia tidak ingin bertemu dengan gadis jadi-jadian yang selalu membuatnya sial.


"Ohhhh, syukurlah."


Devan menyerit, mendengar Randy mengucapkan kata itu seperti ada yang dirinya lewatkan." Apa kau ada masalah dengan istriku?, kenapa kau seolah begitu lega saat mengatakan jika istriku sedang mencari barang."


Tidak lama setelah Randy pergi, tiga gadis yang membuat Devan menunggu cukup lama akhirnya kembali. Devan yang sudah sangat lelah mengajak ketiganya untuk pulang, karna Devan juga ingin menghabiskan akhir minggunya bersama istri tercinta.


*****


Senin pagi, semua orang kembali ke aktifitasnya masing-masing. Selama Devan berada di Indonesia dia membantu di perusahaan ayahnya. Devan belum kembali ke Berlin karna Kinan masih belum bisa meninggalkan Tanah Air, dan Devan sangat mengerti itu. Akhirnya Devan memutuskan untuk tinggal beberapa bulan lagi di Indonesia.


"Kak, aku akan pergi ke kantor papa. Kak Fandra masih memerlukan bantuanku sampai dia mendapat sekertaris baru." ucap Kinan sambil memasang dasi suaminya.


" Baiklah, aku tidak akan melarangmu. Tapi siang nanti aku jemput makan siang yah." Devan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Kinan, mengeratkan pelukannya tanpa menyisakan jarak. Jantung Kinan kembali berdebar, padahal dia sudah sangat sering mendapatkan perlakuan itu dari suaminya.


"Kak, le_pas. Aku kesulitan jika kau seperti ini." ucap Kinan yang mulai gugup karna jarak mereka yang terlalu dekat.


Devan tersenyum miring, dia mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya." Aku menyukai posisi ini." bisik Devan hingga wajah Kinan bersemu merah.


"Kak, lepas. Nanti kita terlambat." Kinan mencoba menghindar, deru nafas Devan membuat bulu halusnya berdiri.

__ADS_1


"Sebentar saja sayang, biarkan mereka menunggu." Devan mencium leher Kinan hingga membuat Kinan seketika merasa seperti di sengat listrik. Degup jantungnya semakin cepat, hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Kak." panggil Kinan yang mulai beringsut karna ulah suaminya.


"Apa sayang." ucap Devan dengan suara serak berdetar. Has*at dalam diri laki-lakinya kembali bergejolak. Devan sungguh tidak bisa menahan has*atnya jika sudah bersama istrinya itu.


"Pintunya masih terbuka." ucap Kinan yang seketika membuat Devan melepas pelukannya.


Kinan yang merasa bebas langsung berlari keluar kamar dengan diiringni tawa karna sudah berhasil menipu suaminya.


"Cepat turun untuk sarapan kak." triak Kinan sambil sedikit meledek Devan.


Sementara Devan hanya bisa mendengus kesal karna ulah istrinya yang jahil. Bagaimana bisa dirinya tertipu lagi, jika dihitung sejak dua hari yang lalu, Devan sudah hampir lima kali tertipu oleh istri pintarnya itu. Tapi Devan tidak pernah merahan sungguhan, dia mengerti jika istrinya itu masih malu terhadapnya. Walaupun sebenarnya Devan sudah melihat semua aset berharga milik Kinan, dan juga sudah memiliki cintanya seutuhnya.


[Bersambung]


.


.


🍃


Maaf jika upnya sedikit, karna Author lagi tidak enak badan. Jadi mohon permaklumannya.


.


.


Dan untuk yang penasaran dengan cerita Darren dan Daffa. Dan yang sudah menunggu cerita mereka, silahkan mencari di profil author. Karna cerita mereka sudah rilis, judulnya CINTA TAK BERTEPI. Kalian juga bisa langsung cari di beranda, dan cari nama Author Laksmi93.


🙏


.

__ADS_1


__ADS_2