Will You Marry Me

Will You Marry Me
Cerah tapi berawan( Extra part 1)


__ADS_3

"Krekkk."


Kinan sedang membuka kere jendela kamar mereka, kegiatan setiap pagi yang tidak pernah Kinan lewatkan setelah Devan kembali. Walau terkadang Devan marah karna merasa khawatir akan kehamilan Kinan yang semakin membesar. Tapi itu tidak menyurutkan rasa ingin Kinan yang begitu besar.


"Selamat pagi suamiku." ucap Kinan. Dia sudah duduk di tepi ranjang dengan kaki bersila menghadap Devan.


Devan mengerjapkan matanya, tersenyum kearah sang istri yang begitu cantik dan seksi. Menurutnya.


"Pagi sayang." Devan bangkit dari tidurnya lalu mengelus perut Kinan."Pagi jagoan Daddy, bagaimana kabarmu pagi ini sayang?"


"Aku baik Dad, tapi aku lapal." ucap Kinan menirukan suara anak kecil, seakan anak merekalah yanh sedang merengek.


Devan duduk sempurna, dia tau jika Kinan sudah merengek seperti itu maka putaran dunianya akan melambat.


"Baiklah, anak Daddy mau makan apa?"


"Salad Dad, tapi buatan Daddy."


"Hmm, baiklah, akan segera terhidang tuan putriku." ucap Devan dengan tangan memberi hormat bak upacara bendera di hari senin. Sementara Kinan tertawa melihat tingkah suaminya yang begitu lucu.


Kinan memang manja dalam hal apapun, terlebih lagi sejak dia hamil. Tapi Kinan tidak pernah meminta Devan untuk kaluar rumah demi memenuhi keinginannya. Rasa trauma yang Kinan rasakan masih sangat membekas, dia tidak ingin kehilangan suaminya lagi, dia tidak ingin terjadi hal yang sama, yang membuat dirinya menderita seperti dulu. Maka dari itu sebisa mungkin Kinan menahan keinginannya.


Kinan beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamarnya menyusul Devan yang berada di dapur. Kamar keduanya di pindahkan ke bawah supaya Kinan tidak terlalu lelah jika harus bulak- balik ke dapur. Karna kini keduanya harus tinggal berdua saja, karna Amel dan Danu sekarang tinggal di Berlind, kaduanya sedang mengurus kakek Devan yang semakin hari kondisinya semakin buruk.


Jika dulu Danu berkeras hati tidak ingin tinggal disana, tapi sekarang di masa tua ayahnya dia harus mendampingi ayahnya. Mungkin karna Danu juga ingin berbakti kepada ayahnya, karna hanya Danu putra satu-satunya.


Kinan melihat suaminya sedang berkutat dengan alat dapur, entah apa yang suaminya lakukan, padahal Kinan hanya menyuruhnya membuatkan salad. Kinan ingin menyusul Devan tapi suara ketukan pintu membuat Kinan mengalihkan langkahnya.


"Cklak."


Kinan membuka pintu utama, dia melihat Alin berdiri di depan pintu dengan raut wajah kesal.


"Kenapa dengan wajahmu ? Manyun begitu?" tanya Kinan. Tapi Alin tidak menjawab, dia langsung masuk melewati Kinan begitu saja.


"Ada apa dengan gadis tengil itu, sikapnya semakin tengil saja." gumam Kinan, dia menyusul Alin yang sudah duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Heee, kenapa denganmu. Wajahmu semakin jelek saja." ledek Kinan yang sudah duduk di depan Alin.


"Diamlah, aku sedang kesal."


"Iya aku tau sedang kesal, tapi kenapa?"


"Kau masih ingat pria yang aku pukuli di danau waktu itu. Kinan dia saat ini ada di kantor ayahku." ucap Alin dengan nada kesel.


"Benarkah, bagaimana bisa?"


"Tentu saja bisa, dia itu salah satu investor di perusahaan ayah. Astaga Kinan dia itu sangat menyebalkan."


"Benarkah, wow itu keren, semuda itu dia sudah menjadi investor."


"Diamlah Kinan, kau tidak tau bagaimana sifatnya yang menyebalkan itu. Bahkan aku ingin sekli mematahkan lidahnya."


"Lidah siapa yang ingin kau patahkan Alin?" tanya Devan. Pria itu membawa dua mangkuk di tangannya, berjalan mendekati Kinan dan Alin.


"Lidah kakak yang ingin aku patahkan." jawab Alin ketus.


"Woww, memang kau berani." Devan mendekatkan wajahnya dan menampakan senyum meremehkan.


"Hahahaha, itu kau tau."


"Kau sudah sarapan Al?" tanya Kinan


"Hmm, sudah."


"Ehh, coba ceritain ke gue, gimana pertemuan lo sama si Dion itu?" tanya Kinan dengan mata berkedip tanda menggoda


"Males gue, gak usah bicarain cowok nyebelin itu dech." Alin berdecak kesal. Bisa-bisanya Kinan menggodanya.


"Jangan terlalu membenci pria Al, karna benci dan cinta itu beda tipis." inbuh Devan.


"Ihh, gak bakalan ya kak. Mana mungkin aku suka sama cowok nyebelin." ucap Alin ketus

__ADS_1


"Kalau Randy?" goda Devan


"Cihhh, pria playboy itu. Tidak akan pernah." jawab Alin dengan nada galak.


"Hahaha, baiklah. Kita liat saja nanti." ucap Devan


"Hmm, bagaiaman kalau kita taruhan kak. Jika Alin sampai jadian dengan Dion, maka kakak harus rela aku jambak saat aku melahirkan."


"Jika Alin jadian dengan Randy?"


"Maka kakak boleh meminta apapun." putus Kinan.


"Ok, Deal."


"Deal."


"Ihhh, kalian ini apa-apaan sih. Kalian berdua gak akan ada yang menang." ucap Alin lalu bangkit dan berjalan ke arah pintu utama.


"Ehhh, mau kemana lo?" triak Kinan


Alin berhenti, dia berbalik ke belakang."Mau ke kantor, mending gue ketemu cowok nyebelin itu dari pada gue gila disini karna kalian."


"Cie Alin." goda Kinan yang semakin membuat Alin kesal.


Alin mendengus lalu pergi dari rumah Kinan. Bukannya mendapat ketenangan disana, dia malah semakin kesal.


Alin melajukan mobilnya menuju prusahaan Sanjaya, karna hari ini Alin harus melakukan persentase untuk mendapatkan kerjasama dari prusahaan sahabat ayahnya itu.


Meskipun Ayah mereka bersahabat, bukan berarti Alin akan mendapat kerjasama dengan mudah. Dia juga harus membuktikan jika dirinya mampu dan bisa di percaya.


Mobil Alin berhenti di persimpangan, tanpa sengaja ia melihat Rendy sedang berdiri di depan sebuah butik, tak lama seorang wanita terlihat keluar dan langsung memeluk lengan Randy. Alin yang melihat hal itu merasa muak, entah kenapa hatinya berdesir. Saat lampu berganti warna, Alin langsung melajukan kembali mobilnya.


"Cihhh, kenapa kak Devan berharap aku akan menerima pria baj*ngan itu, bahkan di tidak pantas hanya untuk di kagumi." ucap Alin dengan nada kesal.


Suasana hati Alin sangat buruk, seperti cuaca hari ini, Cerah tapi berawan. Bahkan rintik hujan turun bersamaan dengan sinar mentari di pagi ini. Dan Alin berharap dia tidak akan mendapat kesialan di hari ini.

__ADS_1


.


.


__ADS_2