
Alin yang kesal karna pria Aneh yang ia temui membuatnya hampir lupa akan tugasnya untuk membawa Kinan. Tapi untung saja karna kekesalannya membuat Kinan dan Nessa melupakan tentang rumah sakit dan sibuk menghiburnya.
"Al kita pulang yuk, udah mau sore ini, Mama pasti khawatir sama kita." ucap Kinan
Senja di danau itu memang terlihat sangat indah, tapi Kinan juga ingin melihat suaminya.
"Iya kita bakalan pulang, tapi tunggu Rania sama kak Fandra dulu. Mereka akan jemput kita."
"Kenapa Kak Fandra yang jemput, emang lo mau kemana?" tanya Nessa
" Gue ada urusan penting, tadi di telpon Papa." Alin berbohong, karna jika tidak memberi alasan seperti itu maka Nessa dan Kinan akan terus bertanya.
"Lo beneran Al, gak lagi bohong kan?" tanya Kinan penuh selidik.
"Beneran Dek, tadi Om Fino ada di kantor kakak, dia nanyain Alin. Terua kakak putusin untuk jemput kalian." jawab Fandra
Pria itu sudah berdiri di belakang ketiganya bersama Rania dan juga si kembar Daffa dan Darren.
"Kakak, Rania. Sejak kapan kalian disini?" tanya Kinan
"Baru saja Ki." jawab Rania
"Kita pulang sekarang, ini sudah sore." ucap Fandra
"Kak, kemari kan Darren, biar Kinan gedong." ucap Kinan yang begitu senang melihat kepokan tersayangnya.
"Tidak usah dek, kamu itu sedang hamil. Darren juga sudah semakin berat, nanti kau kelelahan lalu merengek minta di gendong, bukankah kakak yang akan repot." ledek Fandra.
"Ihhh, kakak, nyebelin tau."Kinan kesal, dia menghentakan kakinya lalu melewati Fandra begitu saja, berjalan menuju mobil kakaknya dengan terus menggerutu.
"Mas, kau ini keterlaluan." ucap Rania, dia juga melewati suaminya begitu saja.
"Cihhh, aku kan hanya bercanda, kenapa mereka begitu serius." ucap Fandra
"Kau memang keterlaluan kak. Hmmm, tapi tidak masalah, itu malah lebih baik bukan." ucap Alin yang di sertai kedipan mata untuk Fandra.
Fandra yang mengerti maksud dari Alin pun ikut tersenyum. Dia tanpa sadar membuat rencana mereka semakin sempurna.
Fandra membawa Darren menyusul Rania dan Kinan, sementara Nessa tidak ikut bersama Fandra, melainkan bersama dengan Alin. Alin membawa Nessa untuk pulang. Bersiap untuk pesta kejutan untuk Kinan.
...******...
__ADS_1
Pukul 7 malam.
Mobil Fandra tiba di kediamannya, dia tidak membawa Kianan pulang ataupu ke rumah sakit, karna jika Fandra membawa Kinan pulang maka banyak pertanyaan yang akan dia dapat.
Sebelumnya Fandra sudah menghubungi Mama dan papanya. Begitupun dengan yang lainnya, dia menyuruh semua orang datang ke sebuah hotel yang sudah dia pesan sebelumnya. Dengan alasan pesta kejutan untuk Kinan, semua berjalan sempurna.
Tapi memang awalnya mereka menolak karna alasan Devan tidak ada yang menjaga, tapi setelah Alin mengatakan sanggup, semua pun merasa tenang dan mau mengikuti usulan Fandra.
"Kak, sebenarnya kita mau kemana? Kenapa aku harus memakai gaun seperti ini?" tanya Kinan.
Gadis itu merasa sesak dengan gaun yang dia pakai. Mungkin karna kehamilannya yang sudah semakin membesar, membuat Kinan tidak nyaman memakai pakaian berat seperti itu.
"Malam ini ada acara makan malam Ki."
"Acara makan malam ! . Tapi kak Devan kan belum sadar, bagaimana bisa aku meninggalkannya dan menikmati makan malam." ucap Kinan. Wajahnya berubah merah, mungkin dia kesal karna tidak ada yang perduli dengan keadaanya saat ini.
"Dek, Mama dan Papa melakukan acara makan malam ini untuk Nessa. Dia sudah setuju untuk melakukan pengobatan di Singapura. Setidaknya kita melakukan pesta kecil untuk nya." Fandra berjongkok di depan adiknya yang kini tengah duduk dengan wajah murung. Menggenggam erat tangan Kinan yang sejak kecil tidak pernah ia lepas.
"Kakak tau perasaanmu Dek, tapi mengertilah, Nessa akan meninggalkan kita. Dan acara ini tidak akan lama, hanya satu jam saja. Setelah itu kakak janji, kakak akan membawamu menemui Devan."
Kinan menatap kakaknya, dia mulai mengerti jika hidup juga terus berjalan. Setidaknya Nessa sama menderitanya dengan dirinya.
Untuk sementara Kinan akan membuang rasa sakitnya, dan ikut bahagia demi saudarinya. Mungkin itu yang terbaik.
Mobil Fandra melaju kencang manuju tempat dimana akan akan kejutan besar untuk Kinan, dan untuk yang lainnya juga. Dan mungkin hari ini adalah hari yang akan tidak pernah terlupakan, di mana duka datang secara bersamaan dan disanalah Kebahagiaan juga akan datang bersamaan.
Mobil yang di kendarai Fandra tiba di sebuah hotel berbintang yang cukup terkenal di kawasan itu. Fandra membawa Darren dan Rania membawa Daffa di ikuti Kinan masuk ke dalam Hotel.
Mereka masuk ke dalam liff menuju lantai teratas, karna acara itu diadakan di atas gedung. Entah ide siapa itu, yang jelas semua mata akan terpana melihat dekorasi yang begitu indah dan mewah. Dengan pemandangan Kota yang begitu indah dan langit bertaburan bintang.
Kinan menaiki tangga secara perlahan, detik demi detik perlahan memperlihatkan suasana pesta sederhana tapi terkesan mewah. Semua orang yang berada disana menatap Kinan dengan senyuman terpancar di wajah mereka semua.
Sementara Kinan yang baru saja menginjakan kakinya tepat di lantai atas berdiri mematung.
"KEJUTAN." triak semua bersamaan.
🎤"Happybirthday to you."
🎤"Happybirthday to you."
🎤"Happybirthday , Happybirthday, Happybirthday Kinan."
__ADS_1
Semua orang menyanyikan lagu ulang tahun untuk Kinan, membuat suasana di malam itu semakin haru. Kinan yang tidak menyangka jika pesta itu untuk dirinya menangis sesenggukan. Dia bahkan tertunduk karna lemas. Entah apa yang dirinya rasakan saat ini, tapi Kinan bahagia, bercampur sedih dan juga haru. Melihat berapa dia sangat beruntung memiliki keluarga yang begitu menyayangi nya.
"Ki." Panggil Alin, gadis itu muncul di belakang Kinan dan membangunkan Kinan yang masih tertunduk di lantai.
"Happybirthday saudariku." ucap Alin. Dia memluk Kinan erat.
"Hikksss, trim-aksi Al."
Semua orang mendekati Kinan dan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.
"Sayang, sehat selalu dan panjang umur. Mama berharap kau bisa semakin dewasa dan tabah menjalani cobaan yang datang untukmu." ucap Anel. Dia memeluk putrinya dengan linang airmata.
Anel melepas pelukannya dan kini Nathan yang ada di hadapan Kinan." Putri kecil papa yang cantik, Papa selalu mengharapkan tuhan memberimu yang terbaik, walau cobaan selalu menerpamu, Papa harap kau selalu menjadi putri kecil papa yang kuat." ucap Nathan yang di sertai pelukan hangat dan penuh kasih sayang.
"Hikss, Ki-nan Saya-ng Papa."
"Papa juga selalu menyayangimu sayang, selalu."
Setelah ucapan dari Nathan, semua orang secara bergantian mengucapkan selamat untuk Kinan. Amel, Danu, Fino, Ani, Dika, Nessa, dan Rania, mereka semua menangis bersama, tangisan bahagia untuk bertambahnya umur Kinan. Dan saat ini tinggal Fandra saja, pria itu sudah berdiri di depan Kinan. Kinan yang berada di hadapan kakanya bahkan semakin mengeraskan tangisan nya. Kinan yang sudah tidak kuat karna hanya di tatap oleh Fandra langsung memeluk kakaknya erat.
"Menangislah Dek, keluarkan semua beban yang ada di hatimu. Hari ini kakak tidak akan melarangmu untuk menangis. Tapi ingatlah, hari ini adalah hari terakhir untukmu menangis, karna kakak tidak akan membiarkan mu meneteskan air mata lagi." Fandra mengelus kepala Kinan dengan penuh kasih sayang.
Kinan melepas pelukannya, menatap mata kakak yang begitu menyayangi nya." Hikss, Kak, Ki-nan say-ang Kakak. Trimakasi Kak." ucap Kinan dengan suara lemah dan terbata, suaranya bahkan hampir tidak terdengar.
Fandra mengusap airmata Kinan." Berhenti menangis, matamu sudah sangat bengkak, kau terlihat sangat jelek." ejek Fandra dengan cubitan kecil di hidung Kinan. Membuat semua tertawa gemas melihat kelakuan adik dan kakak itu.
"Ki." panggil Fandra." Kakak punya satu kejutan lagi untukmu."
Semua orang diam, termasuk juga Kinan. Dalam kepala mereka, kejutan apa lagi yang di siapkan Fandra untuk Kinan. Karna pesta ini saja sudah sangat meriah untuknya.
Fandra tersenyum, dia membalik tubuh Kinan, menghadapkannya ke arah tangga. Kinan yang bingung hanya menatap tangga itu.
Suara musik di matikan, lampu yang semula terang satu persatu di matikan, hanya beberapa lampu penerang yang tersisa. Sesaat kemudian terdengar suara derap langkah kaki. Semua mata tertuju pada suara langkah kaki itu, perlahan-lahan terlihat sosok tegap berdiri di ujung tangga. Semua bertanya-tanya, siapakah gerangan.
Sosok yanh ada di depan semuanya kini melangkah maju, pelan tapi pasti sosok itu mulai terlihat. Kinan yang mulai sadar akan sosok itu terlihat begitu syok, kakinya bahkan mulai lemas. Matanya yang semula mengering kini kembali basah, air mata nya mengalir deras saat tau siapa sosok yang ada di hadapannya saat ini.
"Ka-k, Devan." suara Kinan melemah.
.
.
__ADS_1