Will You Marry Me

Will You Marry Me
Bertemu pria aneh


__ADS_3

Kinan terpana melihat sebuah danau yang begitu indah terpampang jelas di depan matanya. Sementara Nessa merasakan kesejukan di seluruh tubuhnya. Kali ini Alin benar-benar membuat ketenangan bagi dirinya dan juga bagi saudarinya.


"Al, lo bisa tau tempat seindah ini darimana?" tanya Kinan dengan senyum merekah, suasana hatinya benar-benar tenang.


"Aku pernah kesini sekali, waktu kita kuliah dulu.." jawab Alin.


"Al, apa disini gak ada tempat duduk?" tanya Nessa, dia ingin menikmati tempat itu dengan nyaman.


"Gak ada Sya, disini tempatnya sepi. Tapi kita duduk disana aja, di bawah pohon besar itu." tunjuk Alin yang hanya bisa di lihat oleh Kinan.


"Boleh juga, ayo Sya." Kinan menuntun Nessa kw tempat yang di tunjuk oleh Alin tadi.


Mereka bertiga duduk di bawah sebuah pohon besar yang ada di tepi danau itu.


"Al, lo gak bawa makanan ya? gue laper." ucap Kinan.


Entah kenapa perutnya merasa sangat lapar. Biasanya Kinan sangat susah memasukan makanan.


"Lo mau apa, biar gue beliin, deket sini ada mini market kok."


"Gue pengen makan cake, sama jus alpukat, plus cemilan juga. Apa aja boleh." ucap Kinan dengan wajah berbinar. Dia sudah membayangkan akan memakan Cake dan jus alpukat Kesukaannya.


"Kalau lo Sya?"


"Samain aja Al."


"Yaudah, kalian tunggu disini, inget jangan kemana-mana." pesan Alin posesif.


"Iya, lo tenang aja, buruan pergi." usir Kinan. Dia benar-benar sudah sangat lapar.


Beberapa menit Alin pergi, Kinan mendengar suara orang menguap, entah indra pendengaran Kinan yang bermasalah, atau memang ada orang di dekat mereka.

__ADS_1


"Sya, lo dengar orang nggak sih?" tanya Kinan. Dia takut jika ada orang jahat disana.


"Gak Ki, aku gak dengar." jawab Nessa.


"Coba dech lo dengerin lagi, suaranya jelas koka." ucap Kinan lagi.


Nessa menajamkan pendengaran nya, dan benar saja suara itu semakin jelas terdengar. Bahkan sangat jelas.


"Huahemm."


Seorang pria baru saja beranjak dari tempatnya, merenggangkan otot-ototnya. Tanpa sadar Kinan berteriak hingga membuat pria itu terjengkit kaget.


"Astaga Nona, apa yang kau lakukan. Kau bisa membuat aku jantungan." ucap pria itu.


Dia mendekati Kinan dan Nessa perlahan.


"Tidak ,jangan mendekat, jangan sakiti kami." ucap Kinan yang sudah gemetar takut.


Sementara Alin mengancungkan tongkatnya, waspada akan apapun yang akan terjadi.


Wajah pria itu sangat tampan, perawakannya tinggi sekitar 180. Penampilannya pun seperti orang yang cukup kaya, tapi anehnya kenapa pria itu tidur di bawah pohon besar dekat Danu.


"Kalian sedang apa disini? Berdua saja. Kalian tidak takut?"


"Ka-mi takut, tapi-


"Saya Dion, tidak usah takut, saya selalu berada disini setiap saya lelah dan penat setelah bekerja, karna tempat ini sangat menenangkan. Benar bukan."


Pria yang bernama Dion itu duduk di sebelah Kinan dan Nessa. Seolah mereka sudah saling kenal.


"Hey, siapa yang mengijinkan kau duduk disana.." Kinan menarik tubuh Nessa agar mendekat dengannya.

__ADS_1


"Kenapa, ini tempat umum kan. Emmm, ngomong-ngomong kau sedang hamil?"


"Jika iya memang kenapa?"


"Tidak, aku juga punya kakak yang sedang hamil sepertimu. Aku hanya senang melihat wanita hamil."


Kinan mendelik, entah apa maksud pria di depannya itu. Tapi Kinan merasa tidak nyaman. Perlahan Kinan membatu Nessa untuk berdiri. Meraka ingin pergi, tapi beberapa detik kemudian.


"Buk."


Alin datang dan langsung memukul pria yang bernama Dion itu hingga terjatuh.


"Astaga, kenapa kau memukulku." triak Dion, pria itu tertunduk dengan tangan memegang pohon.


"Jangan bergerak, atau aku pukul kau lagi. Beraninya kau menggangu saudariku hahhh." triak Alin, tangannya masih memegang kayu dan mengacung tepat di wajah Dion.


Dion bangkit, dia menatap Alin dengan tatapan terpana.


"Aduhh, Nona cantik, kau itu salah faham. Aku tidak mengganggu mereka, aku hanya mencoba berteman." ucap Dion.


"Aku tidak percaya, sebaiknya sekarang kau pergi, atau aku buat aku babak belur." ancam Alin.


Dion sebenarnya tidak takut sama sekali dengan ancaman Alin. Tapi dia lebih memilih mengalah daripada membuat para gadis mengalah.


"Baiklah, aku akan pergi." Dion berbalik, tapi langkahnya trrhenti dan kembali menatap ke tiga gadis di depannya." Hmmm, boleh aku meminta Nomer ponselmu Nona."


Dion mengedipkan matanya tanda menggoda. Alin yang sudah mulai jengah langsung memukuli Dion tanpa ampun.


Dion yang merasa sudah tidak aman langsung berlari, tapi dia lari dengan tawa bahagia. Mengganggu Gadis seperti Alin sangat menyenangkan baginya


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2