Will You Marry Me

Will You Marry Me
Mulai membaik


__ADS_3

Nathan dan Anel berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesa. Pasalnya sebelum mereka berangkat ke rumah sakit Danu sempat menelpon Nathan, mengabarkan jika kondisi Devan sempat memburuk. Anel dan Nathan begitu khawatir, karna Kinan berada di rumah sakit juga. Entah apa yang terjadi pada putrinya itu.


...Nathan dan Anel tiba di depan ruang ICU, semua orang yang berada di sana terlihat begitu khawatir....


"Mama, kak Devan mah." ucap Kinan yang langsung memeluk Anel saat mamanya itu tiba di depan ruang ICU.


"Tenanglah Kinan, tidak akan terjadi apapun pada Devan, mama yakin dia kuat sayang. Kau juga harus percaya pada suamimu." Anel mencoba menenangkan putrinya itu. Dia tidak ingin putrinya sampai tertekan lagi.


"Bagaimana keadaan Devan Dan, apa dokter sudah keluar?" tanya Nathan. Sahabatnya itu terlihat tidak baik-baik saja.


"Belum Nat, aku sangat takut. Kau tau sendiri jika Devan adalah putra ki satu-satunya." jawab Danu lemah. Dia sungguh sangat takut kehilangan putranya itu.


"Sabarlah Dan, aku yakin Devan kuat. Kau harus yakin."


Danu mengangguk, dia yakin jika putranya akan baik-baik saja.


Beberapa menit kemudian pintu ruang ICU terbuka, dokter yang menangani Devan keluar. Semua orang dengan segera mendekati dokter itu.


"Bagaiaman keadaan Devan dok. Dia baik-baik saja kan?"tanya Nathan cepat.


"Syukurlah Tuan Nathan, menantu anda baik-baik saja. Kondisinya pun sudah mulai membaik. Kami akan memindahkan Devan ke ruang perawatan. Kita hanya tinggal menunggunya sadar saja."


...Penjelasan dokter membuat semuanya lega, akhirnya semua baik-baik saja. Tinggal selangkah lagi, mungkin penantian mereka tidak akan sia-sia....


"Apa kami bisa melihatnya Dok?" tanya Amel.


"Tentu saja nyonya, tapi saya perlu bicara dengan tuan Danu, ada hal penting yang perlu saya bicarakan." jelas dokter yang menangani Devan.


"Apa semuanya baik dok?" tanya Nathan cepat.

__ADS_1


"Semua baik Tuan, anda bisa ikut saya ke ruangan saya sekarang." ucap sang Dokter


Para wanita mulai melihat Devan satu persatu, sementara Danu dan Nathan menemui dokter. Mereka sangat senang karna kondisi Devan yang mulai membaik.


Di dalam ruangan Devan, Kinan sempat kembali menangis, tapi bukan tangisan kesedihan. Tapi rasa bahagia karna suaminya sudah mulai pulih, tinggal menunggunya sadar saja.


"Mah." panggil Fandra, pria itu baru saja datang setelah mendengat kondisi Devan tadi sempat memburuk."Mama bawa Kinan pulang saja, dia perlu istirahat. Devan biar Fandra yang menjaga."


"Tidak usah kak, Kinan masih kuat kok. Kakak tidak perlu khawatir."ucap Kinan.


"Tidak dek, kamu harus ingat, ada kehidupan dalam diri kamu yang harus kamu jaga. Kamu tidak boleh egois. Besok kamu bisa kembali lagi kesini, kau bisa menjaganya seharian penuh. Tapi sekarang kau harus pulanh dan istirahat."


"Tapi-"


"Benar yang di katakan Fandra Sayang, lebih baik kamu pulang. Mama juga akan pulang bersama Nessa dan mama Amel, biarkan para lelaki yang menjaga Devan." imbuh Anel


"Hahhhh, baiklah. Tapi kakak harus janji, jika kak Devan sadar langsung hubungi aku. Aku akan menghajarnya habis-habisan." ucap Kinan penuh semangat.


Semua orang terkekeh mendengar ucapan Fandra, tentu saja mereka semua bahagia. Setelah sepakat, para wanita memutuskan untuk pulang, sementara Fandra dan Danu yang menjaga Devan. Nathan mengantar para wanita untuk pulang.


...********...


Hari menjelang sore, Danu meminta Fandra untuk menjaga Devan sebentar, karna dia ingin membeli makanan untuk mereka. Fandra pun dengan senang hati mengiyakan permintaan Danu.


"Ada yang ingin kau makan Fan? Sekalian Paman belikan." ucap Danu saat mereka berada di luar ruangan.


"Tidak Paman, apapun yang paman beli akan Fandra makan hingga tandas."


"Baiklah, kalau begitu Paman pergi, jika ada sesuatu cepat hubungi Paman." pesan Danu.

__ADS_1


"Tentu saja Paman, Paman tidak usah khawatir."


Danu percaya dengan Fandra, dia pun berlelu meninggalkan Fandra sendiri. Setelah Danu menghilang Fandra ingin masuk ke dalam ruangan Devan, tapi baru saja dia berbalik.


"Kau mengagetkanku, apa kau ingin aku bunuh hahh." ucap Fandra dengan nada kesal.


Orang yang membuat Fandra terkejut malah terkekeh, seakan menikmati keterkejutan Fandra.


"Benarkah, kau yakin ingin membunuhku." balasnya dengan senyum tengil.


"Tentu saja, bahkan aku tidak akan segan." Fandra mendengus lalu masuk ke dalam ruangan Devan." Kau jangan macam-macam, aku hanya memberimu waktu 1 minggu, jika lebih kau tau akibatnya." ancam Fandra.


"Tentu saja, trimakasi karna sudah memberiku waktu."


...*******...


Tiga hari berselang, kondisi Devan semakin membaik, tapi anehnya dia masih belum juga sadar. Hari ini Kinan tidak di perbolehkan untuk menjenguk Devan, karna mendadak ia merasa kram di bagian perut bawahnya. Jadi Alin lah yang akan ke rumah sakit untuk menggantikan Fandra.


Alin berjalan menyusuri koridor, langkahnya begitu santai, sesekali wanita berperawakan mungil itu berjingkrak layaknya anak kecil. Dia senang karna dia tidak harus ke kantor karna harus menggantikan Fandra menjaga Devan. Bagi Alin Kantor itu sangat membosankan, jika bisa memilih dia ingin menjadi dirinya sendiri, tapi tidak bisa. Alin adalah anak tunggal, bagaimanapun dirinya harus meneruskan perusahaan papanya.


Langkah Alin tiba di depan ruangan Devan. Perlahan Alin mendorong pintu ruangan itu, tapi saat pintu ruangan terbuka, Alin tertegun.


"Braakkk."


.


.


Bersambung

__ADS_1


Up pertama setelah lama meliburkan diri. Semoga malam nanti Author bisa up lagi. Tapi tidak janji yah, karna ada upacara di kediaman Author. 🙏


__ADS_2