
Helaan nafas terus terdengar dari seorang istri yang harus tabah mendengar kabar suaminya kini tengah terbaring Koma di ruang ICU. Kinan Sanjaya, seorang istri yang baru saja merasa bahagia karna kehamilannya, tapi harus berduka karna kecelakaan tragis yang menimpa Devan.
Sejak tadi Kinan sudah berusaha untuk tenang, demi anak yang sedang dia kandung saat ini. Tapi seakan kekuatan itu sirnah seketika, saat Kinan berdiri di depan ruang ICU. Tangan Kinan yang mulai menyentuh gagang pintu pun mulai bergetar, dadanya sesak hanya membayangkan bagaimana kondisi suaminya. Airmata yang Kinan tahan pun mulai tumpah, Kinan terisak, dia tidak kuat menahan cobaan ini.
Tepukan di pundak Kinan membuatnya mengalihkan pandangannya. Alin, berdiri di belakang Kinan dengan raut wajah yang sulit di artikan. Gadis itu tersenyum, tapi matanya menyiratkan kesedihan. Entahlah, mungkin itu hanya bentuk kekuatan untuk Kinan.
"Temui kak Devan, katakan padanya untuk cepat bangun, supaya dia tidak terlalu lama melewatkan masa ngidammu." ucap Alin mengusap airmata Kinan.
"Hikssss....Aku takut Al."
"Percayalah dengan cintamu, aku yakin kak Devan tidak akan meninggalkanmu secepat itu. Kau tau bukan, jika dia sangatlah mencintaimu." Kinan mengangguk, membenarkan ucapan Alin." Jika kau percaya itu, maka yakinlah Jika kak Devan akan berjuang demi dirimu."
Kinan mengerti, kali ini dia harus kuat." Hmmmm, trimakasih."
Kinan membuka pintu ruangan keramat yang sama sekali tidak ingin dia masuki. Ruangan yang tidak pernah dia bayangkan bahkan dalam mimpi sekalipun, Kinan tidak pernah ingin masuk ke dalam sana. Tapi kini, demi suaminya dia harus masuk ke ruangan itu. Karna suaminya memaksanya melangkah masuk.
Pintu ruangan itu terbuka perlahan, dan mata Kinan mulai melihat wajah suaminya yang terbaring lemah. Dadanya kembali sesak, Kinan tidak ingin menangis, tapi seakan air matanya tidak mau berkompromi dengan dirinya. Tetes demi tetes airmata itu mulai jatuh, mengiringi langkah Kinan mendekati tubuh suaminya.
Kinan meraba wajah Devan, hatinya semakin sesak. Melihat bagaimana kejadian tragis itu menimpa suaminya, bahkan luka di wajah Devan masih terlihat jelas. Banyaknya alat medis yang melekat di tubuh Devan membuat Kinan semakin terisak.
"Hiksss."
Hanya suara tangis yang terdengar. Tangan Kinan dengan erat menggenggam tangan Devan. Menyalurkan kekuatan dan keterpurukkan nya.
"Sa_yang." pertama kalinya Kinan mengucapkan kata itu, kata yang ingin sekali Devan dengar. Tapi Kinan terlalu malu mengucapkan itu.
"Sayang, bangunlah. Kenapa kau begitu tega membiarkan aku sendiri. Bukankah kau sangat ingin aku memanggilmu Sayang kan. Aku akan selalu memanggilku dengan panggilan Sayang. Bangunlah sebentar kak, katakan jika kau baik-baik saja."
"Kau tau." mengelus perutnya yang masih rata." Disini tengah tumbuh calon buah hati kita Sayang." Kinan Diam, dia mengusap air matanya, mencoba kuat menyampaikan berita itu." Apa kau tidak ingin mendengar berita ini? apa kau tidak ingin merasakan menjadi suami yang susah saat menghadapi aku mengidam."
Kinan tersenyum, membayangkan bagaimana susahnya Devan nanti. Tapi senyum itu hanya bertahan beberapa detik saja, saat melihat wajah Devan, senyum itu langsung menghilang di gantikan dengan kesedihan.
"Aku akan memberi waktu kakak 1 minggu saja, tidak lebih dari itu. Jika kau masih seperti ini, aku akan pergi bersama buah hati kita. Meninggalkan kakak yang lebih memilih tidur daripada menemaniku.....Hikss."
"Aku mencintaimu kak, sangat, aku ingin kita selalu bersama, membesarkan anak-anak kita bersama. Bukankah itu yang kakak ucapkan dulu, bukankah cita-cita yang paling besar untukmu. Lalu kenapa saat ini kau memilih untuk tidur tenang, sementara aku disini kesusahan."
"Bangunlah kak, buka matamu Hiksss."
Kinan kembali terisak, bayangan masa indahnya kembali hadir. Janji yang ia dan Devan ucapkan kembali terngiang. Kinan berharap suaminya akan segera kembali berkumpul bersamanya.
*******
Alin tengah duduk di taman rumah sakit seorang diri, dia menatap langit yang terlihat gelap, padahal ini baru pukul 3 sore. Helaan nafas sangat terdengar jelas dari mulut Alin, gadis cantik tapi tomboy itu terlihat murung. Wajahnya yang selalu ceria kini tidak tampak lagi.
"Tisyu."
Alin memalingkan wajahnya, melihat siapa orang yang berbaik hati memberinya tisyu. Tapi seketika saat pandangan mereka bertemu, senyum Alin langsung hilang, melihat siapa orang yang sedang berdiri di depannya.
Plakk...
__ADS_1
Alin menepis tangan pria yang dia kenal sebagai playboy cap unta itu. Pria yang selalu membuatnya kesal saat melihat wajahnya saja.
"Lo ini kenapa, gue udah baik juga ngasi lo tisyu. Dasar gak tau trimakasih." ucap Rendy. Ya, pria yang berbaik hati memberi tisyu pada Alin ialah Rendy.
"Siapa juga yang mau di kasi tisyu sama lo, gak usah sok baik ya." ucap Alin ketus.
Alin hendak meninggalkan Rendy di sana, tapi tangan besar Rendy langsung menahan lengan Alin, dan tanpa sengaja menariknya, hingga tubuh Alin tertarik ke arahnya. Jantung keduanya berdetak cepat saat pandangan keduanya bertemu, wajah mereka begitu dekat. Alin tanpa sadar terpana melihat wajah Rendy yang baru ia sadari begitu tampan.
"Ahhhh, sory. Gue gak sengaja." ucap Rendy cepat.
"Ehhhh, Gu_e juga minta maaf, gue sedikit kaget." ucap Alin sedikit gugup.
"Ehhhh.... Lo tau ruangan Devan kan. Gue kesini mau jenguk dia." ucap Rendy mengalihkan perasaan gugupnya.
"Ohhh... Lo ikut gue." Alin membalik tubuhnya, menarik nafasnya dalam agar menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan.
"Cihhhh, muka gue merah gak ya. Malu banget gue." batin Alin
Alin terus berjalan tanpa menghiraukan Rendy yang tengah mengikutinya di belakang. Dia sungguh malu karna datang jantungnya yang tidak bisa di ajak kompromi, dan mungkin saja Rendy mendengarnya.
"Stop." menahan lengan Alin." Sebenarnya ruangan ya dimana? kenapa lo cuma muter-muter mulu dari tadi. Lo tau gak gue udah capek." ucap Rendy
Alin melihat sekelilingnya, dia baru sadar jika dia mengarahkan jalan yang salah. Wajahnya kembali memerah karna menahan malu.
"Emmmm, ehhhhh maaf. Gue gak fokus." ucap Alin pelan.
"Kenapa?" mencondongkan wajahnya ke wajah Alin." Apa lo masih kebayang kejadian tadi. Mau lagi?" Rendy memggerakan alisnya naik turun, mencoba menggoda Alin yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus itu.
"Hahahaha, lo fikir gue cowok bodoh. Liat nihh." memegang dagu Alin dan mengangkat wajah Alin yang terua saha menghadap lantai." Wajahmu memerah Baby."
Blus.....!
Wajah Alin semakin merah karna ucapan Rendy, entah kenapa jantungnya semakin berdetak cepat.
"Cihhhh, dasar raja gombal." memutar bola matanya malas." Lo mau gue antar gak."
Rendy terkekeh melihat tingkah Alin yang menurutnya menggemaskan. Entah kenapa Rendy sangat tertarik dengan gadis yang selalu bertengkar dengannya itu.
Alin berjalan mendahului Rendy menuju ruangan Devan. Kali ini Alin menunjukan tempat yang benar, karna dari kejahuan sudah terlihat beberapa orang berada di depan ruangan Devan.
"Slamat sore Om, Tante." sapa Rendy pada Amel dan Danu.
"Rendy, kamu kapan datang? bukannya kamu sedang berada di Ausi?" tanya Amel mendekati sahabat putranya itu.
" Rendy tiba pagi tadi Tan, dan saat Rendy mendengar kabar dari Rangga, Rendy langsung kesini." jawab Rendy cepat.
"Bagaimana keadaan Devan Tante?" tanya Rendy
"Dia Koma Ren." jawab Amel lemah.
__ADS_1
"Tante dan Om yang sabar, aku yakin jika Devan akan segera sembuh." ucap Rendy
"Om tau nak, dan om yakin seperti ucapan kamu." balas Danu.
"Ohhh ya, kenapa kalian bisa datang barengan?" tanya Anel pada Alin dan Rendy.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Amel.
"Ehmmm, sepertinya kita akan punya mantu lagi nich." goda Nathan
"Siapa yang akan punya mantu lagi?" pertanyaan itu bukan dari orang-orang yang tengah berkumpul di sana. Melainkan suara Fino yang berjalan dari arah belakang.
Pria itu berjalan beriringan dengan istrinya, Ani. Fino baru datang karna dia baru mendapat kabar siang tadi, mungkin sialnya hanya dia yang baru tau jika suami keponakannya kecelakaan. Dan sialnya, Devan kecelakaan saat pulang dari restorannya.
"Kak, bagaiman Devan?" tanya Ani pada Anel dan Amel.
Amel menggeleng lemah, sedangkan Anel menatap adiknya sendu.
"Kita doakan semoga Devan cepat sadar ya Dek." Ani membekap mulutnya, dia tau apa maksud makannya.
"Lalu Kinan, dimana dia kak?" tanya Ani saat tidak melihat keponakannya itu.
"Dia di dalam, di temani Rania." jawab Anel.
"Kak, kak Amel yang sabar ya. Kakak harus kuat, Aku yakin Devan bisa melalui ini."
Amel mengangguk, dia mendaratkan pelukannya pada wanita yang sudah di anggapnya adik sendiri."Hikss..... Kakak tau An, kakak juga yakin itu."
"Ehhhmmmm, tadi kalian bilang ada yang akan punya mantu lagi, siapa?" tanya Fino saat tangisan para wanita sudah mereda.
Semua orang yanga ada di sana menatap ke arah Alin dan Rendy yang tengah berdiri berdampingan. Dan saat mereka sadar pandangan semua menuju ke arahnya Alin langsung menggeser tubuhnya menjauh dari Randy.
"Kenapa kalian menatapku, aku tidak mungkin menikah dengan pria seperti dia." tunjuk Alin tepat di wajah Rendy.
"Cihhhh, siapa juga yang mau sama cewek jadi-jadian kayak lo." ucap Rendy galak.
"Heyyyy, kamu bilang apa? Jangan sembarangan kamu mengatai putriku jadi-jadian." marah Fino. Dia tidak trima putrinya di hina seperti itu.
"Ehhhh, ma_af om, sa_ ya hanya bercanda." Rendy menelan ludahnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat wajah galak Fino. Ternyata Rendy tidak tau jika Fino ialah ayah Alin.
Fino mendekati Rendy, lalu tangan yang sudah mulai terlihat menua itu menepuk pundak Rendy dengan keras."Jangan harap kau bisa mendekati putriku dengan mudah, Boy. Tapi jika kau serius dan bisa membuktikannya, aku bisa memberikan restu dengan mudah."
Ucapan Fino membuat Alin membuka mulutnya dengan lebar, matanya hampir saja terlepas dari tempatnya karna terkejut mendengar ucapan Papanya itu. Sedangkan Rendy tersenyum kikuk mendengat ucapan Fino yang begitu terang-terangan.
"Ihhhh, Papa apaan sih. bukannya belain anak, malah ngasik restu lagi." ucap Alin kesal.
Semua orang tertawa melihat tingkah Alin yang sudah seperti anak kecil. Hiburan sementara bagi mereka semua. Sebelum mereka melanjutkan hari-hari menghadapi kenyataan jika salah satu anggota keluarga mereka tengah berjuang antara hidup dan mati.
.
__ADS_1
.
[Bersambung]