
Kinan dan Alin berjalan tergesa menuju ruangan Nessa di rawat, setelah mendengar jika Nessa tak sadarkan diri dari Kenzo, Kinan segera menuju rumah sakit. Sebelumnya di kediaman Sanjaya gempar karna hilangnya Nessa, dan suasana rumah semakin panik saat mereka tau jika Nessa masuk rumah sakit.
Anel dan Nathan pun baru mengetahui itu setelah Kinan memberitahu mereka. Dan saat ini keduanya sudah dalam perjalanan.
Plakk.....!
Suara tamparan terdengar keras di depan ruangan Nessa. Wajah merah dan tatapan bak elang yang siap memangsa buruannya di layangkan Kinan untuk Kenzo, pria yang Kinan tau berbahaya untuk Nessa. Jika orang tuanya tidak menceritakan semuanya tadi, maka Kinan tidak akan tau tentang keluarga Kenzo.
"Apa yang kau lakukan !." ucap Anne yang tidak terima dengan tamparan yang di layangkan Kinan.
"Diam kak."
"Tapi Ke_
"Aku bilang diam." ucap Kenzo menatap Anne dengan tatapan memohon. Sementara Anne hanya mendengus melihat tatapan adiknya.
"Kau." Menunjuk wajah Ken dengan tatapan muak." Kau yang sudah membuat saudariku masuk rumah sakit." bentak Kinan.
"Ki, aku bisa jelaskan."
"Diam. Diam kau Kenzo, aku sudah tau semuanya. Orang tuaku sudah menyelidiki tentang keluarga kalian. Dan kau tau, aku menyesal karna sudah mengijinkan kau mendekati saudariku."
"Ki, Aku moh_
Buk....!
Kenzo tersungkur di lantai karna sebuah pukulan telak mendarat di wajahnya. Kinan dan yang lainnya mengalihkan tatapannya mereka.
"Kak Devan." ucap Kinan terkejut.
"Kau tidak usah memaksa istriku untuk mengerti, karna kami tidak akan membiarkan laki-laki sepertimu mendekati Nessa lagi. Sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum aku melakukan yang lebih dari ini." ucap Devan dingin.
Anne membantu Ken bangkit, terlihat jelas sudut bibir Ken mengeluarkan darah segar. " Ken, lebih baik kita pergi dari sini."
"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum memastikan Nessa baik-baik saja." menatap Devan seolah tidak takut dengan ancaman pria di depannya itu.
"Aku mencintai Nessa kak, dan aku akan menunggunya apapun yang terjadi."
"Bahkan jika aku membunuhmu." suara bariton Nathan membaut semua mengalihkan pandangan mereka kepada pria paruh baya itu. Tatapan tidak suka yang di layangkan Nathan sudah cukup mewakili suasana hatinya saat ini.
"Iya." jawab Kenzo tanpa menunjukan rasa takut.
__ADS_1
"Ken." ucap Anne sedikit takut, dia tau siapa Nathan. Pria paling berpengaruh di dunia pembinis. Walaupun mereka tidak salah, tapi tetap saja ibu mereka yang sudah menyebabkan kekacauan ini.
"Aku tidak akan menghukummu karna kesalahan orang lain. Tapi ibumu sudah mencari lawan yang salah, aku tidak akan melepaskannya karna sudah berani menyakiti putriku." ucap Nathan
"Anda bisa melaukan apapun pada ibu saya, karna saya tau dia salah. Tapi saya mohon, jangan jauhkan saya dari Nessa. Saya benar-benar mencintainya Tuan."
"Jika kau mencintai putriku, kau tidak akan membuatnya terluka seperti ini. Sekarang lebih baik kau pergi, jauhi putriku dan jangan pernah menampakan wajahmu di depannya lagi. Atau aku akan membuatmu menyesal seumur hidupnya." ucap Nathan dengan tatapan tajam
"Tapi_
"Ken." menahan lengan Kenzo." Lebih baik kita pergi dulu, waktunya tidak tepat. Mereka sedang begitu khawatir, jadi biarkan mereka menenangkan diri dulu." Anne mencoba memberi pengertian pada adiknya yang keras kepala itu. Dan akhirnya Kenzo mauendengarkan ucapan Anne. Dia meninggalkan rumah sakit dengan perasaan khawatir.
Setelah Kenzo pergi
"Pah, harusnya kau tidak sekeras itu pada pemuda itu." ucap Anel saat melihat Kenzo pergi.
"Aku hanya sekedar mengancamnya Ma, jika dia memang bersungguh-sungguh dengan Nessa, dia akan melakukan apapun demi cintanya. Tapi tidak akan aku biarkan dengan mudahnya dia mendapatkan cinta putri kita itu." jelas Nathan.
"Jadi Papa hanya menggertak?" tanya Kinan yang berada di depan Nathan.
"Hmmmm, itu harus sayang." mengacak rambut Kinan gemas.
" Kau fikir papamu ini akan membiarkannya,hmmmm."
"Tidak."
"Percayalah pada papamu sayang, Nessa akan baik-baik saja." ucap Anel.
"Mama benar, dan aku juga akan membantu kalian menjaga Nessa." imbuh Devan.
"Aku juga." ucap Alin girang.
Semuanya tersenyum di atas kekhawatirannya terhadap Nessa, tapi mereka tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Karna mereka yakin jika gadis cantik yang mereka jaga adalah gadis yang kuat.
*******
beberapa menit menunggu, akhirnya dokter yang menangani Nessa keluar. Semua orang langsung mengerumuni dokter tersebut karna terlalu khawatir.
"Bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya Nathan cepat.
"Putri saya baik-baik saja kan dok?" imbuh Anel
__ADS_1
"Tenang, pasien baik-baik saja. Dia hanya mengalami trauma ringan. Saya sarankan jangan membuatnya tertekan dan merasa takut. Apalagi dengan kondisinya yang saat ini, itu akan memicu rasa takut yang berlebih pada pasien."
"Apa kami bisa melihatnya dok?" tanya Anel lagi
"Tentu saja, tapi hanya boleh dua orang saja. Karna pasien juga belum sadarkan diri, saya sarankan untuk tidak menanyakan hal yang bisa memicu ingatannya kepada kejadian yang baru saja dia alami."
"Baik dok, trimakasih."
"Tentu, kalau begitu saya permisi."
Setelah dokter itu meninggalkan tempat, Anel dan Nathan lah yang pertama masuk ke dalam, Sementara yang lainnya menunggu di depan ruangan.
Anel melihat putrinya yang masih setia menutup mata dengan wajah pucat. Hatinya benar-benar teriris melihat kondisi Nessa yang begitu tidak berdaya. Meskipun dia tidak melahirkan Nessa, tapi dialah yang sudah memberikan ASI untuknya. Berbagi dengan Kinan saat masih bayi. Tanpa terasa airmata Anel tumpah, tangannya menggenggam tangan Nessa erat.
"Hiksss, mama tidak akan membiarkanmu terluka lagi. Mama minta maaf karna sudah lalai menjagamu nak."
"Setelah ini, mama janji, mama tidak akan memiarkanmu di dekati oleh keluarga itu lagi. Mama janji......Hiksss."
"Sayang, cepatlah bangun. Papa dan Mama disini. Kau tidak perlu takut lagi. Kami tidak akan membiarkan mereka menyentuh mu lagi." kini Nathan yang berbicara, tangannya tidak henti-hentinya mengelus kepala Nessa.
Selang beberapa menit, mata Nessa terbuka perlahan. Dia melihat orang tuanya tengah menangisi dirinya.
"Mah, pah." panggil Nessa dengan suara lemah.
"Kau sudah sadar sayang. Syukurlah." ucap Nathan yang membuat Anel mengangkat kepalanya.
"Nessa, sayang. Kau sudah bangun. Mama sangat khawatir." imbuh Anel
Nessa tersenyum, dia tau jika orang tuanya itu sangat menyayangi nya." Aku tidak apa-apa mah, pah. Tapi dimana Kinan, apa dia baik-baik saja?"
"Dia ada di luar sayang, dia baik-baik saja." mengelus kepala Nessa." Kau masih saja mengkhawatirkan Kinan, sedangkan dirimu sendiri." ucap Anel
"Tentu saja aku mengkhawatirkan Kinan Mah, aku takut penjahat itu juga melukai Kinan dan terjadi sesuatu pada janin nya."
Deg...!
Anel dan Nathan saling menatap, lalu kembali menatap Nessa.
"Janin?" ucap keduanya kompak.
[Bersambung]
__ADS_1