Will You Marry Me

Will You Marry Me
Morning Kiss


__ADS_3

Resepsi yang di adakan Kinan dan Devan berakhir pukul 11 malam. Tapi Kinan yang sudah lelah tidak mengikuti acara itu sampai selesai, dia di izinkan kembali ke kamarnya untuk istirahat terlebih dulu. Tempat yang tadinya sesak dengan para tamu undangan kini sudah terlihat lengang, hanya ada beberapa orang yang masih terlihat di sana, satalh satunya penjaga yang mengecek keadaan disana.


Sementara seluruh keluarga sudah kembali ke kamar yang mereka sewa sebelumnya. Semuanya tampak lelah, begitupun dengan Devan. Dia kembali ke kamar menyusul Kinan yang sudah terlebih dulu kembali ke kamar itu.


Devan duduk di tepi ranjang king size, menampakan istrinya yang ternyata sudah terlelap lebih dulu. Devan tidak kesal maupun marah, karna dia tau jika wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya itu sangat lelah, dan tidak mungkin untuk Devan meminta haknya malam ini, karna dia juga begitu lelah. Devan memutuskan untuk membersihkan badannya yang terasa begitu gerah, sedikit berendam dengan air hangat mungkin akan mengembalikan kesegaran badannya.


Hampir 20 menit Devan berada di kamar mandi. Devan keluar dengan wajah segar dan badan yang sedikit lebih rileks dari sebelumnya. Setelah mengenakan kimononya, Devan pun segera merebahkan tubuhnya di sebelah Kinan, melingkarkan tangan besarnya di perut rata Kinan dan mengeratkan pelukannya. Devan terlelap menyusul istrinya ke alam mimpi.


**


**


Burung- burung melantunkan suara merdunya, menyambut pagi yang begitu indah. Suasana pagi hari ini terlihat berbeda. Mentari terbit dengan sinarnya yang begitu cerah, tetesan hujan sisa semalam masih terlihat di dahan pohon dan dedaunan. Tidak ada yang tau jika hujan deras mengguyur kota semalam, mengiringi rasa lelah setiap insan yang baru saja terlelap. Mereka semua bangun dengan tubuh segar dan wajah ceria.


Semua orang sedang berkumpul di resto yang terdapat disana. Anel, Nathan, Danu, Amel, Dika, Nessa, Alin, Fino dan juga Ani, mereka semua orang menikmati sarapan mereka dengan canda tawa.Kecuali kakek Adam, dia sudah kembali ke kediaman Ghenio karna badannya yang sudah tua membuatnya lebih cepat lelah. Maka dari itu Danu menyuruh supir untuk mengantar papanya pulang terlebih dulu, karna setelah ini mereka akan berlibur kw puncak bersama rombongan keluarga.


"Mel, apa setelah ini Devan akan kembali ke Berlin?" tanya Anel


"Sementara Devan akan tinggal di Indonesia, karna Papa juga memutuskan untuk berlibur disini." jawab Amel


"Syukurlah kalau begitu." ucap Anel.


"Tapi mah, apa kak Kinan tidak pergi berbulan madu. Masa baru menikah sudah kembali bekerja, kan tidak seru." ucap Dika.


" Bener ma yang di ucapkan Dika, apa gak ada yang ngasi kado bulan madu gitu ke Kinan." imbuh Nessa


"Kenapa papa sampai lupa dengan itu ya, tapi bagusnya kita kirim mereka kemana?" tanya Danu.


"Giman kalau kita kirim mereka ke jepang saja, mereka pasti suka." usul Nathan


"Sepertinya kita kirim mereka ke belanda aja dech, disana pasti lebih seru." imbuh Fino.


"Usul kalian gak ada bagus. Gimana kalau kita kirim mereka ke Paris aja, disana kayaknya lebih bagus, kita kirim mereka kesana aja lah." ucap Danu.


"Kirim, kirim, emang anak kami itu barang, main kirim aja. Usul kalian gak ada yang bagus." ucap Amel dengan wajah galak.


"Iya, anak kok disamain sama barang. Salah- salah, kalian yang kami kirim ke sana." timpal Anel.


" Mendingan kalian itu diam aja dech, masalah bulan madu itu urusan kami, kalian urusin aja perusahaan, kayaknya itu lebih cocok untuk kalian." imbuh Ani.


Ketiga pria itu hanya bisa menggaruk kepala mereka yang tidak gatal. Jika sudah para istri mengambil keputusan, maka para pria hanya bisa menurut saja. Daripada mereka tidak dapat jatah harian, lebih baik mereka diam.


" Apa yang sedang kalian perbincangkan? sepertinya sangat seru." ucap Rania yang baru saja tiba bersama Fandra dan si kembar.


"Kami sedang menyiapkan bulan madu untuk Kinan dan Devan, tapi beluam ada keputusan untuk mereka. Kami masih bingung akan bulan madu mereka akan kemana." jawab Alin.

__ADS_1


" Ohhh, masalah itu tidak usah di fikirkan, karna kami sudah menyiapkan itu untuk mereka." ucap Fandra cepat


" Benarkah, wahhh kalian memang selalu mengerti kebutuhan pengantin baru." ucap Danu.


"Tentu saja Uncle, itu kan wajib hukumnya." balas Rania.


" Huaaaa, keponakan aunty yang tampan. Kenapa kalian pulang tanpa memberi tau aunty." ucap Alin yang langsung mengambil Daffa dari gendongan Rania.


"Iya sayang, kenapa kalian pulang tidak memberi tau kami?" tanya Anel pada Fandra.


"Maaf mah, semalam Darren rewel, jadi kami memutuskan untuk pulang saja." jawab Fandra.


" Darren sayang, sama om Dika yah." Dika mengambil Darren lalu memangkunya.


" Om Dika, Dallen lapal." rengek Darren dengan cadelnya.


" Ohhh, Darren lapar. Darren mau yang mana?" tanya Dika cepat


" Dallen au yang itu om." tunjuk Darren pada sop daging yang ada di depannya.


" Hmmm, baiklah. Yang ini ya." Dika mengambilkan sop daging itu untuk Darren." Itu saja, tidak mau yang lain?" tanya Dika yang di jawab gelengan kepala oleh Darren.


"Aunty, Daffa uga au itu, Daffa uga lapel." ucap Daffa cepat.


" Gak aunty, kata Mommy, Daffa salapan di tempat Oma saja." jawab Daffa polos


Mata Rania membola mendengar jawaban dari putranya itu. Rania tidak menyangka jika putranya itu lebih pintar dari perkiraannya.


"Tapi Mommy sudah memberi roti dan selai kacang untuk Daffa kan. Dan juga mama tidak pernah bilang begitu ke Daffa." ucap Rania tak terima.


"Tapi Daffa kulang Mommy, Daffa masih lapel. Dallen aja boleh salapan, jadi Daffa juga boleh dong." ucap Daffa gemas.


Rania menghela nafasnya berat, putranya itu memang sangat pintar. Sementara yang lainnya hanya terkekeh mendengar jawaban dari Daffa.


"Cucu Oma boleh sarapan sampai puas kok, jadi cepat habiskan sarapannya karna kita akan pergi ke puncak setelah ini." ucap Anel ke Daffa.


"Dallen gak di ajak Oma, kok cuma Daffa aja yang di suluh abisin salapannya." cetus Darren yang tak terima jika hanya Daffa yang di perhatikan.


Anel terkekeh mendengar ucapan Darren, cucunya itu memang tidak pernah mau kalah." Tentu saja Darren juga, jadi kalian cepat habiskan sarapan kalian, ok." ucap Anel yang langsung di angguki oleh Darren dan Daffa penuh antusias.


****


Sementara semua keluarga menikmati kelucuan si kembar, kita beralih ke kamar pengantin baru.


Kinan menggeliat saat sinar matahari masuk dari celah-celah pentilasi udara yang ada di kamar itu. Perlahan Kinan membuka matanya karna merasa terganggu akan sinar yang membuat matanya silau. Saat matanya mulai terbuka dengan kesadaran sepenuhnya, Kinan merasa ada yang menindihnya. Kinan. melihat tangan besar melilit di perut ratanya, dengan gerakan perlahan Kinan melihat ke sebelahnya. Nafas kinan tertahan saat wajahnya dan wajah Devan begitu dekat, detak jantungnya bahkan berpacu lebih cepat dari sebelumnya.

__ADS_1


Perlahan Kinan mengangkat tangan Devan agar menjauh dari perutnya, tapi baru saja bergeser sedikit, Devan malah semakin mengeratkan pelukannya. Kinan sampai harus membuang nafasnya perlahan agar Devan tidak terbangun dari tidurnya. Kina kembali mencoba memindahkan tangan Devan, perlahan tapi pasti tangan Devan mulai terangkat.


"Sayang, kau sudah bangun?" pertanyaan Devan membuat Kinan membeku seketika. Tangannya yang masih memegang tangan Devan menggantung di udaran.


" Sayang, tanganmu." ucap Devan lagi hingga menyadarkan Kinan jika tangannya masih menggantung di udara.


" Ahhh, ma_af kak, aku sebenarnya tidak ingin membangunkanmu." ucap Kinan gugup


Devan tersenyum melihat istrinya begitu gugup. Tanpa menghiraukan wajah Kinan yang sudah memerah, Devan malah kembali memeluk Kinan dan mengeratkan pelukannya, Devan bahkan sengaja mendekatkan kepalanya di tengkuk Kinan untuk menggoda istrinya itu.


Deru nafas Devan begitu terasa menyapu leher mulus Kinan, membuat Kinan seketika membeku merasakan sekujur tubuhnya memanas. Rasa yang tidak pernah Kinan rasakan seumur hidupnya. Inikah yang selalu di rasakan pengantin baru, tapi Kinan merasa belum siap.


"Ka_k, lepaskan, a_ku mau mandi, yang lainnya pasti sudah menunggu kita di bawah." ucap Kinan mencoba melepaskan diri dari dekapan Suaminya


"Hmmm, sebentar saja sayang. Aku masih ingin seperti ini." ucap Devan semakin mengeratkan pelukannya.


" Tapi kak, pagi ini kita akan pergi ke puncak. Mama mengajak kita liburan kesana." Kinan tidak menyerah, dia memberi alasan yang membuat Devan terpaksa melepas pelukannya.


"Hahhhh, baiklah. Aku akan melepaskanmu, tapi dengan syarat." tawar Devan


"Syarat !, apa syaratnya?" tanya Kinan dengan dahi berkerut.


Devan melepas pelukannya, dan dengan gerakan cepat Devan kini sudah berada di atas tubuh Kinan. Wajah Kinan semakin memanas karna saat ini dia berada di bawah kungkungan suaminya.


"Ka_k, apa ya_ng sedang kau la_ku_kan." ucap Kinan yang semakin gugup.


"Ini syaratnya sayang." ucap Devan dengan senyum licik.


"Ta_


Devan memotong ucapan Kinan dengan ******* lembut di bibirnya. Mata Kinan melebar mendapat serangan mendadak dari suaminya itu.


" Morning Kiss sayang." ucap Devan dengan santai lalu melepas Kinan yang masih membeku di tempat.


Devan sangat puas saat melihat wajah istrinya yang seperti kepiting rebus. Wajah malu Kinan membuat Devan semakin ingin menggodanya.


"Sayang, kau bilang ingin mandi dan segera turun ke bawah. Atau kau ingin aku mandikan juga." ucap Devan yang seketika membuat Kinan tersadar.


Kinan beranjak dari tempat tidurnya dan dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Mendengar ucapan fulgar dari Devan membuatnya begitu malu. Jantung Kinan bahkan sudah hampir meledak karna suaminya terus saja menggodanya.


[Bersambung]


๐Ÿƒ PSBB di perpanjang, dan Bali pun ikut dalam perpanjangan itu. Semoga pandemi ini cepat berakhir dan semua bisa kembali normal. Jangan lupa selalu jaga kesehatan kalian ya, dan terus terapkan 3 M, agar kita terhindar dari Covid19.


๐Ÿ™Salam Rahayu

__ADS_1


__ADS_2