
"Janin."
Nathan dan Anel terus mengulang kata itu, karna tidak percaya jika putrinya saat ini tengah hamil.
"Sejak kapan kamu mengetahui hal itu sayang?" tanya Anel cepat.
"Pagi tadi mah, kami sebenarnya tidak langsung pergi ke mall. Tapi kami pergi ke dokter kandungan, karna Kinan merasa ada yang aneh pada dirinya. Jadi aku menyarankan dia untuk memeriksanya." jelas Nessa.
"Astaga sayang, kenapa kalian harus berbohong." ucap Anel menjadi lebih khawatir lagi.
"Maaf mah." sesal Nessa
"Sudah mah, Nessa kan sedang syok. Jangan menyalahkan nya." tegur Nathan
Anel menatap putrinya." Maafin mama yah sayang, mama terlalu khawatir dengan kalian."
"Tidak apa-apa mah, tapi mama sama papa harus janji untuk pura-pura tidak tau. Karna Kinan ingin memberi kejutan pada kalian."
"Tentu sayang." mengelus kepala Nessa sayang." Mama dan papa tidak akan merusak rencana kalian. Tapi setelah itu, mama juga akan memarahinya."
"Terserah mamah." pasrah Nessa
Cukup lama ketiganya berbincang, Nessa pun sudah merasa cukup tenang.
"Sayang, mama sama papa keluar dulu, mungkin Kinan dan Alin ingin menemui kamu juga."
"Mereka ada disini mah?"
"Tentu saja sayang,mereka juga sama paniknya dengan kami." jawab Anel
Nessa mengangguk, Nathan dan Anel pun keluar dari ruangan Nessa.
"Bagaiman Nessa mah, dia tidak apa-apa kan?" pertanyaan seketika Kinan layangkan saat Anel baru saja keluar dari ruangan Nessa.
"Dia tidak apa-apa, masuklah. Kalian bisa melihatnya, mama dan papa akan membeli makanan untuk kalian."
Ketiganya langsung masuk ke dalam tanpa menunggu Anel dan Nathan pergi. Yang paling antusias di antara ketiganya adalah Alin, dia sudah gemas sejak tadi ingin bertanya bagaimana galak nya ibu Kenzo itu.
"Sya, lo gak apa-apa kan. Aku sangat khawatir." ucap Kinan memeluk Nessa erat. Dia bahkan sudah menangis saat baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Aku tidak apa-apa Ki, aku sangat baik. Lagipula aku tidak di mutilasi, cuma syok saja." balas Nessa
"Hikss.... Tapi kau begini karna aku."
" Cup, cup. Kau ini sensitif sekali sekarang." goda Nessa
Kinan baru sadar jika dirinya masih merahasiakan tentang kehamilannya sekarang. Dan benar yang di ucapkan Nessa, dia begitu sensitif belakangan ini.
"Sya, lo ceritain donk, gimana galaknya ibunya Ken. Apa dia seperti calon mertua yang kebanyakan di novel-novel itu, atau lebih mirip dengan film Jeritan hati istri itu?" tanya Alin mulai kepo.
Nessa dan Kinan seketika melongo mendengar pertanyaan Alin. Bagaimana bisa gadis tomboy dan cuek sepertinya suka menonton film mengiris hati dan juga novel romans seperti itu.
"Al, lo gak lagi mulai gila kan?" menempelkan tangannya di kening Alin." Kok gue ngeri ya sama pertanyaan lo itu." ucap Kinan bergidik ngeri.
"Apaan aih lo."Alin menepis tangan Kinan." Gue masih waras tau. Lagian nich ya, gue suka nonton film onoh karna mamah, tiap sore gak pernah absen nonton itu. Gue sampe gak bisa nonton film gue." keluh Alin
"Bahahaha, lo serius. Bibi suka nonton yang begituan?" tnya Kinan cepat
Alin mengangguk dengan keyakinan penuh. Dia sama sekalii tidak berbohong. Mamanya Ani memang tidak pernah absen menonton film itu, bahkan saking terbawa suasana, Mamanya itu bisa menangis dan mengamuk secara bersamaan.
Kinan yang mendengar cerita Alin terus saja terbahak, dia bahkan sampai melupakan jika dirinya masih di rumah sakit.
"Sayang, hentikan. Ini rumah sakit." tegur Devan. Dia takut tawa istrinya menganggu pasien lainnya.
"Hahhh, ok, ok." Kinan menetralkan deru nafasnya karna terlalu lama tertawa, bahkan perutnya merasa sedikit kram.
"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Devan khawatir saat melihat Kinan memegang perutnya.
__ADS_1
"Tidak, hanya sedikit karam." balas Kinan
"Kita ke dokter yah." tawar Devan
"Tidak usah kak, aku tidak apa-apa." ucap Kinan cepat
" Baiklah." Devan mengalah. Dia tidak ingin terlalu memaksa.
"Mending kamu pulang aja Ki, kamu harus banyak istirahat." ucap Nessa
"Aku tidak apa-apa sya."
"Kalo kamu tidak menurut, akan aku bocorkan rahasuamu." ancam Nessa yang membuat Kinan seketika mendelik.
"Rahasia apa?" menatap Kinan dan Nessa bergantian. Devan merasa curiga." Kau merahasiakan sesuatu padaku sayang?" tanya Devan lagi.
"Ti_dak Kak, Nessa hanya asal bicara. Lebih baik kita pulang, aku sangat lelah." Kinan bergelayut manja di lengan Devan, lalu tatapan nya beralih ke Alin." Lo tetap disini. Tunggu sampe mama dan papa datang, mengerti."
"Iya-iya, gue ngerti. Sono, cepet pulang." ucap Alin
Kinan yang sebenarnya masih ingin disana menekuk wajahnya. Dia sungguh kesal pada Nessa karna mengusirnya dengan ancaman.
Di dalam perjalanan pulang, Kinan selalu menatap ke luar jendela, tidak bicara sedikitpun dan tidak melihat ke Devan sama sekali. Membuat Devan bingung.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" pertanyaan Devan sontak membuat Kinan memalingkan wajah.
"Tidak, aku tidak apa-apa." jawab Kinan ketus. Membuat Devan semakin mengerutkan dahinya.
"Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" tanya Devan lagi.
"Tidak ada, tapi lebih baik kakak diam, dan fokus saja menyetir." Kinan menatap tajam Devan lalu kembali menatap jalanan yang cukup ramai.
Sementara Devan hanya menghela nafasnya dengan jawaban sang istri. Entah kenapa belakangan ini Kinan selalu marah kepadanya. Membuat Devan selalu salah.
*****
Setengah jam perjalanan, kini mereka sudah sampai di rumah mereka. Bukan rumah Amel dan Danu, tapi rumah yang di beli Devan untuk mereka berdua. Bukan karna mereka tidak suka tinggal bersama orang tua mereka, tapi mereka hanya ingin mandiri. Devan sudah meminta izin untuk tinggal di Indonesia, dan perusahaan sang kakek sudah di bagi dua. Setengah untuk paman nya, dan setengah lagi di jual untuk memperbesar prushaan Danu di Indonesia.
Saat Kinan mulai terlelap, Kinan merasa ada sesuatu yang berat berada di atas perutnya. Kinan langsung membuka matanya dan melihat Devan sudah berada di sampingnya dengan mata terpejam. Saat itu juga Kinan merasa mual dan menghempas tangan Devan hingga suaminya itu langsung membuka matanya.
Kinan yang sudah tidak tahan langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Devan yang mendengar istrinya muntah- muntah langsung mendekati kamar mandi.
"Sayang, kau tidak apa-apa?, Buka pintunya, kau kenapa?" tanya Devan berkali-kali, tapu Kinan masih belum menjawab.
Sampai beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Kinan dengan wajah pucat. Membuat Devan semakin panik.
"Sayang, kita ke dokter yah. Wajahmu sangat pucat." ucap Devan dengan wajah yang begitu khawatir.
"Tidak, aku tidak mau ke dokter." menggeleng kuat." Aku hanya masuk angin kak, istirahat saja sudah cukup." bohong Kinan.
"Baiklah, biar aku buatkan bubur yah."
"Tidak, aku tidak ingin makan bubur." berfikir sejenak." Tapi aku ingin makan asinan bogor." ucap Kinan tanpa dosa.
"Tapi harus dari bogor." imbuh Kinan yang membuat Devan seketika melebarkan matanya.
"Astaga sayang, apa kau tidak salah. Aku harus ke bogor, tapi ini sudah mau malam."
Wajah Kinan berubah sendu, matanya mulai berkaca-kaca. Kinan mulai menangis, dan itu membuat Devan menjadi semakin bingung. Karna selama ini Kinan tidak pernah seperti ini.
"Hiksss, kakak sudah tidak menyayangiku lagi." ucap Kinan dengan linangan airmata.
Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal." Baiklah, aku akan mencarikan asinan bogor untukmu Sayang." mengelus kepala Kinan dengan sayang." Sudah yah, jangan menangis lagi." mencium mata Kinan secara bergantian." Kakak bersiap dulu."
Kinan tersenyum senang, tangisnya seketika menghilang di gantikan wajah antusias dan berbinar.
Devan beranjak mengambil jaketnya lalu mengambil kunci mobil yang tersimpan di laci. Sebelum pergi, Devan mencium kening sang istri lalu turun ke bawah. Meminta asisten rumah tangganya untuk menjaga Kinan selama dia pergi. Dan tidak lupa Devan memberi penjagaan di rumahnya demi keselamatan sang istri.
__ADS_1
****
Dalam perjalanan Devan memutar otaknya agar dia tidak harus pergi ke bogor hanya untuk mencari asinan saja. Beberapa menit kemudian, Devan tau dengan siapa dia harus bertanya. Devan memutar arah mobilnya menuju kediaman Fino. Ya, Fino memiliki restoran yang cukup terkenal, dan sahabat ayahnya itu juga seorang Chef terkenal. Jadi dia pasti tau dimana ada kuliner asinan bogor tanpa harus pergi ke bogor. Walaupun istrinya meminta harus ke bogor, tapi itu tidak mungkin.
Beberapa menit kemudian mobil Devan sudah terparkir sempurna di sebuah restoran milik sahabat ayahnya itu. Devan tidak jadi kerumah Fino karna dirinya yakin Fino tidak ada di rumahnya.
"Selamat sore Tuan, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang pelayan wanita.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Fino, apa beliau ada?"
"Beliau ada di ruangannya, anda silahkan tunggu sebentar, saya akan memanggil tuan Fino." Devan mengangguk lalu memilih tempat duduk yang nyaman.
Beberapa menit kemudian Fino terlihat keluar dari ruangannya, senyumnya mengembang saat melihat Devan lah yang sedang menunggunya.
"Wah, wah ,wah. Coba lihat, siapa yang sedang menunggu pria tua ini." ucap Fino dengan sedikit bercanda.
Devan menatap pria paruh baya yang masih begitu sangat tampan. Bahkan wajahnya masih sangat terlihat muda. Mungkin karna dia hanya memiliki satu anak, yaitu Alin.
"Maaf Paman, jika aku mengganggu mu." ucap Devan cepat.
"Heyyy, ayolah. Santai saja, kau ini keponakanku, jadi kau sama sekali tidak merepotkan. Tapi yah, Paman sedikit terkejut saat melihatmu disini. Kau kan tidak pernah kesini selama ini."
Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karna memang benar yang Fino katakan, dia sama sekali belum pernah berkunjung kesini.
"Begini Paman, Devan ingin bertanya, apa restoran paman ini menyediakan menu asinan Bogor. Atau paman tau dimana Devan bisa menemukan asinan Bogor yang sangat mirip dengan aslinya ."
Fino mengerutkan dahinya, pertama kali Devan kesini, dia malah menanyakan makanan itu." Siapa yang memintanya?"
"Kinan Paman, dia bahkan menyuruh Devan pergi ke bogor agar dapat asinan itu."
Fino terbahak mendengat ucapan Devan, membuat Devan mengerutkan dahinya hingga membuat kedua alisnya saling bertautan.
"Apa itu terdengar lucu?"
"Hahhh, maaf. Apa belakangan ini sikapnya aneh?" Devan mengangguk cepat.
"Apa Kinan sering mula?" Devan kembali mengguk, tapi dia masih belum paham.
"Apa dia sering meminta makanan yang aneh dan sulit di cari?" pertanyaan yang membuat Devan semakin bingung.
"Tidak, ini yang pertama kalinya." jawab Devan jujur. Karna memang ini yang pertama.
"Baiklah." Fino mengambil ponselnya yang berada di saku celananya. Dia menghubungi seseorang dengan cepat lalu segera menutup ponselnya.
"Sebaiknya kau bawa istrimu itu ke dokter kandungan, Paman yakin jika istrimu sedanga mengalami fase ngidam. Karna yang dulu Bibi Ani alami hampir sama."
Penjelasan Fino membuat Devan berbinar, wajahnya sangat senang. Harapan Devan sangat besar, dan saat ini dia harus segera membawa permintaan istrinya itu.
Beberapa saat kemudian seorang datang dengan membawa beberapa bungkusan.
"Ini." memberi bungkusan pada Devan." Ini asinan Bogor yang sama persis dengan tempatnya. Kau bisa memberikan ini pada Kinan.
"Trimakasih Paman." ucap Devan cepat.
"Hmmm, pergilah."
Devan dengan perasaan senang langsung pergi dari restoran milik Fino. Dia ingin segera menemui Kinan dan segera memberi tahu apa yang di katakan Fino kepadanya. Dalam keadaan tidak sadar, sebuah mobil truk berukuran besar dengan kecepatan tinggi tiba-tiba membentur mobil bagian belakang Devan.
Brakkk......!
.
.
[Bersambung]
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan comment nya ya. Dan author minta kesabarannya, karna belakangan ini Author sangat sibuk di dunia nyata. Tapi up akan kembali normal lagi.🙏