
Menyeka air yang hampir terjatuh kebumi, ia berjalan menyusuri jalan kecil dengan bau khas bunga disepanjang makam. Berhenti disebuah makam yang terlihat bunga sudah layu, ia pun mengganti dengan yang baru.
Muncul senyuman kecil, berharap ia mampu tetap menjadi sosok yang bisa dibanggakan ibunya disurga.
"Ibu kau tau, kupikir ketika nanti aku telah memiliki karir yang baik dan bahagia kau pun bisa merasakanya". Ucapnya bahagia dengan sedikit bendungan air dimatanya.
"Darimana saja kau?? kau tau semua panik mencarimu". merah padam mimik wanita itu.
"Aku baru saja mampir kerumah teman mengembalikan buku yang kupinjam". ucap hana meyakinkan agar wanita itu tidak marah.
"Pergilah mandi jangan menyusahkanku !" bentak wanita itu.
Wanita itu tidak lain kaka Hana bernama "Tesya", ia suka marah walau kadang marahnya pun tak beralasan sejak sebelum kepergian ibu mereka pun, ia memiliki watak seperti itu.
Tidak sedikit pun Hana merespon Tesya, karena memang ia malas berdebat. Segera menuju kamar dan ambruk di kasur empuknya.
"Lelah sekali rasanya". Gumam lirihnya sebelum terlelap.
Drrtt, Drrrt... Dering Handphone membuat ia harus kembali ke alam sadarnya.
"Aku melihat mu dimakam tadi, kamu sedang mengunjungi makam siapa?" isi pesan dari sosok pengirim.
__ADS_1
"Hidih !..SKSD ( Sok Kenal Sok Dekat ) nope siapa lagi ini, tidak penting sekali". Hana dengan sebal mengerutu.
Drrrtt, Drrrt...
"Apa !!"nomer tadi menelfon ia pun tersentak tanpa disadari menggeser tombol hijau.
"Hallo. Maaf mengganggumu Hana, aku Miko pasti kamu kenalkan?" ucap miko pemilik nope (Nomer Hp)
"Maaf. Aku benar-benar tidak tau, Miko siapa ya?" jawab Hana dengan jelas.
"Benar-benar gadis polos dan payah dia, padahal jelas-jelas aku senior sekaligus ketua OSIS". Pikir miko dalam hati.
" Tidak penting kamu tau aku atau tidak, aku berharap bisa lebih dekat denganmu itu saja".
"Sudah gila mungkin orang ini, sudahla tidak penting juga". geram Hana
Tanpa pikir panjang Hana mulai menata buku dan mengerjakan tugas sekolah yang sudah menantinya, walau sebenarnya ia hari ini agak murung. Entah apa memori kepergian ibunya yang membuatnya sedikit murung hari ini.
Di tempat lain, laki-laki ini mulai senyum-senyum tanpa sebab yang memikirkan begitu menggemaskanya wanita itu ketika aku tutup telfon tanpa menunggunya bicara lagi.
"Jangan-jangan aku sudah gila, kenapa aku memikirnya terus?". ia pun mengacak ringan rambutnya sambil tertawa bahagia.
__ADS_1
Tugas pun selesai dikerjakan. Hana menata bukunya dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan mengganti pakainya dengan pakaian tidurnya, ia pun merebahkan tubuhnya sambil berfikir keras apakah dia mengenal laki-laki yang menelfonya tadi. Lalu kalau benar mengenalny apa untungnya, akhirnya ia pun memutuskan untuk bertanya besok dengan teman-temannya apa mengenal nomer yang menelfonya tadi.
Hana pun tidak lupa mematikan lampunya dan menganti dengan lampu tidur dan menghidupkan kipas angin. ia pun kembali berbaring dan menarik selimutnya..
.
.
.
.
.
_#_#_#_#_#_ Hallo guys _#_#_#_#_#
Semoga kalian tidak bosan ya membaca ceritaku
jangan lupa kritik dan saran yang membangun teman - teman
apalagi kalau para pembaca yang lagi libur dan tidak beraktifitas diluar rumah, untuk membunuh bosan tentunya sekaligus untuk mencegah penyebaran covid 19
__ADS_1
Semangat dan jangan lupa jaga kesehatan
banyak-banyak makan-makanan yang bergizi 😊😍