
Semenjak kembali Miko ditugaskan di kotanya sendiri. Membuat ibunda dan keluarganya senang termasuk Sherly. Tiap akhir pekan mereka sering bertemu. entah mengobrol atau sekedar berburu kuliner.
Miko kian waktu mencoba menghilangkan keinginanya memiliki Hana. Kini ia sadar bahwa Hana sudah benar-benar bahagia dan tulus mencintai suaminya. Agar tidak menyebabkan cela diantara keduanya, Miko mencoba membuka hatinya kembali dan berusaha melihat semua kebaikan-kebaikan serta tulus cinta Sherly padanya.
Memanglah tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Karena kebahagian itu berada di tangan kita, jadi tergantung bagaimana kita mengendalikanya.
Pagi ini mereka memutuskan bertemu di alun-alun kota untuk joging bersama. Suasana akhir pekan memang selalu ramai, karena yang datang untuk CFD tidak hanya dari kalangan anak muda melainkan semua tingkatan umur.
Dengan stellan kaos abu-abu dipadu dengan celana olaraga hitam wanita itu terlihat cukup manis begitu juga dengan Miko memakai stellan kaos biru donker dan celana olaraga hitam terlihat sangat tampan.
"Ya ampun pagi-pagi udah diajak pangeran joging bareng mimpi apa aku?" Pikir batin Sherly.
"Kenapa menatapku seperti itu?! aku terlihat tampan bukan?" Ujar Miko sedikit sombong.
"Sudah dari sananya kaka tampan tanpa perlu aku memujinya semua orang juga tau." Kata Sherly tanpa malu-malu.
"Benarkah? padahal aku hanya bercanda." Tutur Miko.
Sherly tidak menjawab hanya tersenyum, lalu menarik tangan Miko untuk berlari kecil-kecil. Tanpa berbicara Miko pun mengikuti langkah Sherly.
Setelah cukup lama mereka berkeliling. Sherly memutuskan untuk berhenti karena haus dan lelah. Miko yang mengetahui itu segera mengajak ia berhenti dan duduk sebentar.
__ADS_1
"Sher, tunggulah sebentar!" Pinta Miko.
Miko berlari ke kedai yang tak jauh dari situ untuk membeli minum. Sherly melihat apa yang dilakukan Miko merasa bahagia sekali. Sherly pun mencoba berdiri dan mendatangi penjual pentol keliling yang tidak jauh dari tempat duduknya.
"Mang, masih ada pentolnya?" Tanya Sherly pada penjual pentol.
"Ada neng! memang nengnya mau beli berapa?" Tanya penjual pentol.
"Bungkus dua ya mang, ga pakai lama!" Sahutnya cepat ketika melihat Miko menyeberangi jalan menuju tempat duduk.
"Siap neng!" Jawab pak penjual pentol.
Sherly kembali menghampiri Miko dengan membawa dua bungkus pentol.
"Makasih ya.., ini minum untukmu!"
"Sama-sama."
"Sher .., aku tanya boleh? jawablah jujur!"
"Tanya apa kak? soal Hana lagi?" Ujar sherly
__ADS_1
"Lain kali saja Sher!" Kata Miko sedikit kesal
Sebenarnya bukan tentang Hana lagi melainkan tentang kelanjutan hubungannya dengan Sherly. Apa cukup sebatas teman atau memang mereka benar-benar ingin menjadi lebih dari itu. Lagi pula Miko sudah mengihklaskan Hana dalam hatinya.
"Kog ga jadi, padahal aku sudah keppo." Sahut Sherly kesal.
"Kamu sih belum juga aku ngomong udah sudah sok tau!" Jawab Miko santai.
"Kan memang biasanya yang ada di pikiran kaka Hana dan Hana." Ucap Sherly kesal.
"Bilang saja kamu cemburu!" Goda Miko membuat seketika pipi Sherly merah merona.
"Ya,.kan? sudah kuduga kamu cemburu!" Menatap Sherly dengan tajam lalu tersenyum.
"Nggak! siapa juga yang cemburu, aku kan kebal dari dulu."
"Ohya aku lupa kamu kan menahan cemburu beribu abad lamanya." Katanya diiringi gelak tawa.
"Menyebalkan! sudah aku tidak mau dengar!" Kata Sherly kesal.
Hari sudah cukup siang matahari hampir diatas kepala. Keduanya memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
Sherly merasa bahagia sekali, karena Miko tampak bahagia tidak suntuk seperti biasanya. Sherly merasa memiliki kesempatan mengambil hati pria idamannya selama ini.