"Kuperoleh Matahari Selepas Senja"

"Kuperoleh Matahari Selepas Senja"
Kerelaan dan Kebimbangan


__ADS_3

Hari-hari mulai merambat kelam. Miko berjalan dengan perasaan kosong. Namun dia memiliki keinginan besar kali ini. Dia akan menghapus nama Hana dari dalam hatinya.


"Jadi kamu akan mengihklaskan Hana?"Mata ibunya menelusuri wajah Miko. Wajahnya segera menunduk menghalangi ibunya untuk membaca hati Miko.


"Tidak ada yang abadi untuk dimiliki didunia ini kan bu?" jawabnya sedikit bersilosofi.


"Apa kamu sudah punya kekasih? apa dia yang membuatmu sadar akan hal ini?" tanya ibunya.


Miko tidak menjawab. Dia hanya menggeser tubuhnya mendekati ibunya. Laki-laki itu memeluk erat ibunya.


Penuh kesakitan.


Penuh kerelaan.


Laki-laki itu melambung tinggi menyentuh hamparan bintang dilangit. Dia merasa keputusan yang ia sudah pikirkan matang-matang telah mencapai klimaksnya. Miko sudah memilih untuk membuang harapan kosongnya bersama Hana.


Semburat jingga mulai semburat terlihat sempurna di ufuk barat pertanda gelap akan melahap senja. Kisah cinta yang dimulai di kota ini akan berakhir pula dikota ini. Setiap sudut-sudutnya meninggalkan berbagai keindahan kisah cintanya dengan Hana. Miko sendiri tidak pernah mengerti bisa sedalam ini cintanya, padahal dengan apa yang dia miliki, dia boleh dan mampu memilih gadis mana pun untuk menjadi pendampinya.


Namun hanya Hana yang mampu selalu menjadi penggoda hatinya. Wanita itu periang, tidak manja, baik dan pernah sangat tulus mencintainya.


Angin bertiup membawa percikan air, Miko yang berada diteras lantai dua bersama ibunya pun mulai beranjak berdiri dan menggandeng ibunya untuk masuk. Jika terus berada disitu mungkin keduanya bisa menjadi manusia es yang kedinginan.

__ADS_1


Keduanya pun berpisah ke kamar masing-masing. Miko menuju kedekat jendela meresapi setiap tetes air yang menerpa kaca jendelanya.


"Maaf kan aku Han, aku terlalu egois dalam hal mencintai." Gumamnya lirih


Andaikan saja Miko berani mengambil keputusan yang bijak. Berpaling dari seseorang yang ia cintai dan mencoba menapakan kaki membuka ruang baru untuk yang mau datang, mungkin ia tidak akan sesakit ini. Seorang wanita yang namanya terlanjur mengalir bersama denyut nadi. Bersembunyi kuat dibalik dinding hatinya dan terikat kuat lewat oksigen. Dialah Hana Amalia!


"Sudahlah! aku harus bahagia, karena melihat Hana juga bahagia walau bukan denganku itu rasanya cukup!" Ujarnya


Wajah Hana pun memudar dalam imajinasinya. Bergerak menguap menuju langit dan meninggalkan silhuet baru, yang dalam hitungan detik berubah menjadi wajah-wajah semu yang tak mungkin ia miliki lagi.


Kosong dan hampa!


Atau aku saja yang sedang patah.


Kini tersudut sendiri!


####


Sherly terus-terusan memikirkan betapa kebodohannya menbuat jarak dia dengan Miko semakin jauh seperti jarak akar dan bunganya.


Bertahan atau menyerah...?

__ADS_1


Sherly menatap langit-langit ruangan itu.


"Jangan cepat menyerah Sher! jika ia tidak mau memberi ruang untukmu maka tetap menjadi sahabatnya itu lebih baik." Pikir batinya


"Apa kak Miko marah padaku? sampai sekarang pun ia tak mebalas pesanku." Kalimat Sherly terdengar memelas.


"Doorr... Hayo melamun!


Sherly terkesiap. segera menoleh kearah rekan keejanya.


"Dasar bocah! mengkagetkanku saja."


"Lagian mbak Sherly dari tadi bengong." Ujar rekan kerjanya.


"Hmm.." Sahutnya


"Ini sudah jam istirahat, mbak ga mau ikut ke cari makan?" Menawarkan ajakan pada Sherly.


"Ikut...! lagian ngapain juga disini, ntar kamu kamu katain bengong lagi." Kata Sherly sedikit kesal dan memelas.


keduanya pun berjalan menuju rumah makan yang lumayan penuh, karena kantor di daerah situ banyak dan berdempetan. Maklum juga ramai ditempat makan yang dipilih keduanya karena disitu terkenal murah juga enak.

__ADS_1


__ADS_2