
Kini gelap menyusut dari barat. Bintang-bintang menyalah berbaur dengan lampu-lampu-lampu yang melahap jutaan watt. "Aku ingin marah tapi aku juga tak mampu membuatnya menangis,"kata Renaldi layu.
Mobilnya pun terparkir rapi di garasi. Laki-laki itu kemudian berjalan menyusuri lampu-lampu beranda yang menyala hangat terang.
"Mas sudah pulang? tunggu sebentar akan kusiapkan air hangat dan aroma terapi dikamar mandi!" Pinta Hana sambil membiarkan suaminya tetap duduk disofa kamarnya.
"Bagaimana mungkin?, aku akan membiarkanmu memilih orang lain selainku." Kata Renaldi dalam hatinya.
"Mas mandilah!
"Sudah kusiapkan semuanya."
"Iya!" Jawab Renaldi singkat dan datar.
Sikap Renaldi membuat Hana heran?! ada apa gerangan yang membuat suaminya terlihat marah namun terlihat ia mencoba menahan amarahnya.
Mungkin karena cinta mampu mengunci amarah dan kebencian pada seseorang termasuk ego, wajar saja banyak pepatah anak milineal kalau benci bisa jadi cinta.
"Lirik Lebih dari Egoku" Mawar Eva de jongh
Sulit bagiku
Menghadapi kamu
Tapi ku takkan menyerah
Kau layak kuperjuangkan
Perih bagiku
Menahan marahku
Tapi ku akan lakukan
__ADS_1
Bahkan lebih dari itu
Aku kan menahan walau kau ingin pisah
Karna kamu penting
Lebih penting
Dari semua yang ku punya
Jika kamu salah aku akan lupakan
Walau belum tentu kau lakukan yang sama
Karna untukku kamu lebih penting dari egoku.
Perih bagiku
Menahan marahku
Tapi ku akan lakukan
Bahkan lebih dari itu
Aku kan menahan walau kau ingin pisah
Karna kamu penting
Lebih penting
Dari semua yang ku punya_#
Seusai mandi dan berganti pakaian Renaldi berbaring disebelah Hana dan menekan dahinya dengan beberapa jarinya.
__ADS_1
"Mas capek ya? biar aku pijitin!" Segera meraih kepala suaminya dan menekanya pelan-pelan.
"Sudah hentikan!nanti kamu lelah". Ujar Renaldi menyentuh kedua tangan istrinya dan menggenggamnya didepan dadanya lalu mecium punggung tangan istrinya.
Hana tersenyum bahagia sekaligus terharu begitu baik tuhan mengolah kehidupan dengan bumbu ujian yang berbeda tiap manusia. Ada kalanya siang itu hangat, sedangkan malam dingin. Begitu pula dengan keindahan, layakny senja bisa menghilang dan hadir tak menentu. Beda dengan matahari ia selalu menepati janji untuk terbit walau kadang mendung kadang juga terik.
"Ayo tidur jangan melamun! Pintanya membuat istrinya berhenti berjalan-jalan dengan pikiranya.
"Tapi mas..," ia menghentikan ucapnya. "Aku lapar sekarang!" Rengek Hana.
"Mau makan apa kamu sayang?" Sambil meraih handphone didekat lampu tidurnya.
"Makan sate ayam, tapi yang masih hangat!" Pintanya
"Ya sudah aku suruh mas Kamim (penjaga 2) buat cari sate ayam hangat buat kamu, jadi tunggu disini saja!" Perintah Renaldi
"Cepet aku udah lapar!" Ucap Hana terus merengek seperti anak kecil.
"iya-iya!" Sahut Renaldi cepat meninggalkan istrinya untuk menemui mas Kamim.
20 menit kemudian Renaldi masuk membawa sepiring sate ayam dan sedikit nasi untuk istrinya.
"Ini sayang, sate ayam yang kamu minta." Renaldi membawa mendekat ke Hana.
"Suapin!"Manja Hana pada suaminya
"Iya udah tapi harus habis!" Pinta Renaldi menggoda istrinya.
"Kalau ga habis ya mas yang habisin!" Ujar Hana polos
"Gampang! asal kamu makan dulu yang lahap." sambil memperagakan pesawat terbang yang akan meluncur sampai diujung mulut Hana.
"Mas pikir aku bocah apa?! Ketus Hana
__ADS_1
"Kan yang ada di dalam perutmu masih bocah." Jelas Renaldi pada istrinya.
"Alesan deh!" Ujar Hana sambil tersenyum.