
...****************...
Aka sampai di kantornya dengan tangan kananya yang penuh dengan darah.
Supirnya yang menunggu Aka, terkejut bahwa Aka berjalan memasuki kantor bukan keluar dari kantor.
Kemudian supir tersebut menyusul Aka yang sedang memasuki gedung dan berkata “bos, dari mana?.”
Melihat bahwa di samping terdapat supirnya, Aka kemudian merangkul pundak supir dengan tangan kiri dan berkata “diamlah, bantu aku menuju ruangan ku.”
Darah dari tangan kanan Aka bercucuran di lantai-lantai gedung.
“Bos, ada apa dengan tangan kananmu?,” Tanya supirnya.
“Kenapa kamu banyak sekali bertanya?, bantu saja aku dan ambil p3k di ruangan kesehatan,” jawab Aka yang sedang merangkul supirnya tersebut.
Sesampai mereka di ruangan Aka kemudian Aka berkata “kamu bersihkan darahku yang bercucuran di lantai.”
“Baiklah” jawab supir.
Supir tersebut melihat wajah Aka penuh dengan luka dan bertanya “bos, apa kamu habis bertarung lagi?.”
“Iya kenapa, kamu ingin membantuku?.” Tanya Aka yang sedang tiduran di kursi tamu.
“Bos, gini-gini aku petarung,”jawab supir tersebut sambil memperagakan pukulan tinju.
“kenapa kemarin kamu tidak membantuku?!”kata Aka yang sedang tiduran dengan terlentang.
“Kemarin, ban mobilnya bocor bos,” jawab supir dengan menggaruk belakang kepalanya.
“Besok kamu ikut aku,”kata Aka yang sedang terlentang di kursi.
“Kemana bos?,” tanya supir dengan pelan.
“Ke tempat yang sepi,” kata Aka dengan terlentang.
“Lawannya, banyak ngga bos?” kata supir tersebut dengan sedikit ketakutan.
“Kenapa, kamu takut?” tanya Aka.
“Tidak!, bos. tidak ada kata takut dalam kamus ku bos” jawab supirnya dengan percaya diri.
“Tenang saja, lawannya cuman tiga orang. Nanti aku ambil 2 dan kamu sisanya, bagaimana?”ucap Aka.
“Sisanya satu dong bos?, cuman satu doang” kata supir tersebut dengan percaya diri.
“ya sudah, kamu keluar. Aku ingin beristirahat, jangan lupa bersihkan darahnya,”jelas Aka.
...****************...
Keesokan harinya
Menjelang pagi dengan keadaan yang masih gelap.
Ista baru saja bangun tidur mendengar ayahnya ingin berangkat untuk bekerja seketika keluar dari kamarnya menghampiri ayahnya.
Pak Zar yang melihat Ista sudah bangun berkata “lho, anak papa sudah bangun.”
Sesampai Ista di depan ayahnya dan berkata “pa, mau berangkat?.”
“Iya, ada apa?, apa kamu memerlukan sesuatu untuk lukisan mu?,” kata pak Zar yang sedang merapihkan jasnya.
Ista kemudian menjawab “tidak pa.”
__ADS_1
Melihat ayahnya sedang berpakaian sangat rapi,Ista bertanya “kenapa papa, berpakaian sangat rapi sekarang?.”
“Ohh, kamu melihat papa, berpenampilan berbeda ya,”kata pak Zar dengan senyuman.
Haha
“Hari ini ada pertemuan penting bersama mitra papa,”kata pak Zar dengan tertawa sambil merapihkan pakaiannya.
Ista kemudian berpikir mendengar perkataan ayahnya "mitra papa?, Aka!".
Lalu Ista berkata “Ista ikut sama papa, Ista mau bekerja di tempat papa”
“Lho, kenapa kamu ingin bekerja di tempat papa, tumben sekali?,”tanya pak Zar dengan terkejut.
“Ista kan anaknya papa, lagi pula Ista lulusan akuntansi.”ucap Ista.
“Iya, sudah. Kamu ingin bekerja dengan berpakaian seperti itu?,”tanya pak Zar kepada Ista yang melihat pakaian Ista masih memakai pakaian tidurnya.
Ista kemudian melihat bajunya dan berkata ”tunggu sebentar, Ista mandi terlebih dahulu.”
“Cepat, yah. Papa tidak enak dengan mitra papa,”kata pak Zar.
“papa bangunkan mama saja,” ucap Ista.
Kemudian Ista pergi membersihkan diri, kemudian memakai pakaian Pantsuit dengan atasan blazzer dan bawahan celana panjang berwarna abu-abu dan kemeja putih sebagai dalamannya.
Pak Zar dan Ista sampai di kantor terlebih dahulu, mereka menunggu kedatangan mitranya.
“Pa, apakah masih lama dia untuk datang?” tanya Ista kepada ayahnya.
“Aturan, janjian pada jam segini” jawab pak Zar dengan melihat jam tangannya.
“Kita sudah menunggu berjam-jam pa, lihat lah matahari sudah di atas” ucap Ista.
Beberapa saat kemudian Aka datang bersama supirnya yang membantu Aka membawakan tasnya dengan tangannya di perban tetapi tertutupi oleh jasnya.
Melihat terdapat Ista yang memakai baju blazzer lalu berpikir "apa yang di lakukan nya di sini?"
Melihat Aka datang, Ista langsung mendatanginya dan berkata “apa maksudmu, membuat kita menunggu!.”
“Sedang apa kamu di sini?” tanya Aka kepada Ista yang sedang memarahinya.
“Kenapa?, apa aku tidak di ijinkan di sini” jawab Ista dengan marah.
“Ista, tenanglah. Dia tamu kita,” kata pak Zar yang sedang duduk.
“Mari duduk tuan Aka” kata pak Zar dengan sopan.
“Ah, papa manggil orang ini tuan?,”kata Ista dengan menunjuk ke arah Aka.
“Kamu juga seharusnya memanggilku seperti ayahmu” kata Aka dengan tersenyum.
“Sudahlah kalian berdua, duduk dulu masih ada yang belum kita bahas” kata pak Zar.
Mereka bertiga pun duduk dan membicarakan rencana bisnis mereka tetapi Ista tetap diam sambil menatap Aka dengan marah.
Kemudian pak Zar berkata “Ista, kamu akan menjadi perwakilan papa. Jadi lebih sering lah berinteraksi dengannya.”
“Dengannya?, tapi pa. Ista di sini bekerja untuk papa, bukan untuk dia!” kata Ista dengan kesal.
“Ista, ini juga merupakan pekerjaan untuk perusahaan papa,” jawab pak Zar.
“Sudahlah, terima saja. Lagi pula, aku tidak mau,”kata Aka dengan tersenyum.
__ADS_1
“Apa maksudmu, tidak mau?,”ucap Ista.
“Kalo gitu kamu mau” kata Aka dengan tersenyum.
Mendengar apa yang di katakan Aka, Ista terus menginjak kakinya dan berkata “terserah!,”
“Aduh” kata Aka dengan memegang kakinya.
Lalu Ista berjalan keluar.
Melihat Ista berjalan keluar, Aka berkata dengan pelan sambil tersenyum “kenapa wanita itu kasar sekali, ada apa dengannya?.”
Pak Zar kemudian mendatangi Aka dan berkata dengan berangkul pundak Aka “aku akan menitipkan putriku, padamu.”
...****************...
beberapa saat kemudian.
di sebuah gedung milik Raka.
Terlihat terdapat 3 orang sedang duduk di ruangan tertutup.
“Apa kamu sudah mengawasinya?” tanya Hika kepada Raka yang berada di sampingnya.
“Belum, ada yang menjaga rumahnya,”kata Raka.
“Dasar bodoh!,”kata Nash yang berada di sampingnya.
“apa katamu!” teriak Raka kepada Nash.
“B.O.D.O.H, bodoh!,” kata Nash dengan keras.
Brak.
“kamu ngajak ribut!” kata Raka dengan memukul meja.
Brak.
“Diamlah!!” teriak hika dengan memukul meja.
“Nash sekali lagi kamu berbicara seperti itu, aku sumpel mulutmu!” kata Hika dengan marah.
Kemudian keadaan kembali tenang.
“kamu, tambahi orang untuk mengawasi rumahnya!,” kata Hika kepada Raka.
“Baiklah, apa sih yang tikus ini lakukan. Dari kemarin dia tidak melakukan apapun!” kata Raka dengan menunjuk ke arah Nash.
“Kata siapa, aku tidak melakukan apapun!,” kata Nash dengan kesal.
“Dia sedang menyelidiki seseorang yang sedang dekat dengan Ista,” kata Hika kepada Raka.
“Aku pinjam anak buah mu,” kata Nash kepada Raka.
Mendengar Nash yang ingin memakai anak buahnya, Raka bertanya“buat apa kamu pinjam anak buah ku!?.”
“Sudah pinjamkan saja,” kata Hika kepada Raka.
“Berapa banyak?,” tanya Raka kepada Hika.
“Woy woy woy. Apa maksudmu, berkata sopan kepadanya tetapi tidak kepadaku!” kata Nash dengan marah.
“Kenapa. Tidak terima!?,” kata Raka.
__ADS_1
Brak.
“DIAMLAH WAHAI KALIAN!,” Teriak Hika dengan keras.