
Ketika Aka memandangi Ista, seketika seorang pria berlari menghampiri mereka sembari berteriak, “Ista!”
Aka yang mendengar teriakan tersebut mengalihkan pandangannya dan melihat Ran sedang berlari mendatangi mereka, lalu bergumam, “Br_ngs_ek itu lagi”
Ista mendengar namanya di panggil, kemudian mengalihkan pandangannya ke sumber suara dan melihat Ran sedang berlari menghampirinya.
Huft.
Huft.
Ran sampai di depan sembari mengatur nafasnya, kemudian bertanya kepada Ista, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”
"Ak.." Ucap Ista
sebelum Ista menyelesaikan perkataannya Aka langsung membalas, “Kami sedang melakukan bisnis di sini.”
Ran mendengar bahwa Aka lah yang menjawabnya dan menegur nya, “Hey, aku tidak sedang berbicara denganmu.”
“Aku juga tidak sedang berbicara denganmu” ejek Aka kepada Ran.
“Apa maksudmu, ah!” bentak Ran.
Hufft.
Ista melihat mereka berdua, lalu berseru sembari menghembuskan nafasnya, “Mereka mulai lagi.”
Ista berbalik dan berjalan meninggalkan mereka, karena risih mendengar pertengkaran mereka berdua.
Ran menyadari bahwa Ista telah pergi, kemudian berbalik dan menyusulnya sembari mengejek kepada Aka, “Sekarang sudah malam, lebih baik kamu pulang saja.”
“Ah! Siapa juga yang ingin pulang” tegas Aka sembari menyusul Ista.
“Hey, Ista. Biar aku carikan kamar untukmu” saran Ran.
Ran melirik ke belakang terdapat Aka yang berlari menghampiri Ista, lalu membentangkan tangannya dengan menunjukan telapak tangannya ibarat menstop kan Aka untuk mendekati Ista.
“Apakah, tidak merepotkan mu” jawab Ista.
Aka yang sedang menyusul Ista seketika berhenti melihat tangan Ran sembari berucap, “Hey, apa maksudmu.”
Ran menaruh jari telunjuknya ke bibir sembari memandangi Aka yang menandakan Aka untuk diam.
“Oh, tidak kok. Kebetulan aku sedang konser di sini, jadi aku bisa memesankan mu kamar.” Jelas Ran.
Hmm.
“Baiklah,” imbuh Ista.
Ran mengepalkan tangannya, sedangkan Aka yang melihatnya merasa sangat kesal.
Beberapa saat kemudian.
Di malam yang indah dengan bintang di langit, terdapat sebuah penginapan di pesisir pantai.
Ran mengajak Ista ke tempat penginapan yang di beritahukan oleh Ran.
Aka hanya bisa mengikuti mereka dari belakang sambil berbisik dengan menahan amarahnya, “Br_ngs_ek itu tidak memberiku celah.”
Ran lalu menengok ke belakang sambil berkata kepada Aka dengan menunjuk tempat administrasi dengan berucap, “Kamu ke sana untuk memesan kamarmu dan jangan lupa untuk membayar.”
Aka berhenti berjalan lalu mengepal tangannya sambil berbisik, “Oke, Baik. aku akan melayani mu.”
Kemudian Aka berjalan ke tempat yang di tunjukan oleh Ran dan memesan kamar yang dekat dengan Ista.
Beberapa saat kemudian hari mulai semakin gelap.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Tok.
“Ista, apa kamu di dalam” usap Ran sambil mengetok kamar Ista.
Aka yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar suara Ran kemudian langsung berjalan ke arah pintu lalu mengintipnya
Ista yang sedang memakai baju habis dari membersihkan dirinya mendengar ketokan dengan berkata, “Tunggu sebentar.”
Ran mendengar jawaban dari Ista kemudian melihat jam di tangannya dan merasa bahwa sebentar lagi konsernya akan di mulai lalu berteriak ke arah pintu “Ista, aku tunggu kamu di luar!”
“Tunggu, untuk apa” kata Ista.
Ista merasa bahwa tidak ada jawaban lalu berbisik “ah, apa yang akan di lakukan.”
Aka yang mendengar ajakan Ran kepada Ista langsung menutup pintunya dan berbisik, “Aku harus ikut dengannya.”
Aka langsung bergegas memakai pakaiannya.
...----------------...
10 menit kemudian.
Ista keluar dari kamar dengan pakaian casual kombonasi jeans abu-abu, kaos polos berbentuk slim berwarna abu-abu dan sweater berwarna cream.
“Lewat mana ya?” bisik Ista yang berada di luar kamarnya sambil melihat-lihat.
“Dah lah, jalan keluar saja,” ucap Ista.
Seketika Aka keluar dengan kombinasi sweater dan jeans berwarna abu-abu.
“Astaga!” teriak Ista dengan kaget melihat Aka berada di sampingnya tiba-tiba.
“Mau kemana?” tanya Aka.
Hmmm.
Ista merasa ada yang aneh lalu menunjuk pakaian Aka dari atas hingga bawah kemudian bertanya, “Kenapa warna pakaian mu sama denganku, apa kamu mengikutiku?”
Haha.
“Tidak, ini warna favoritku” jawab Aka dengan tertawa sembari melihat tubuhnya.
Ista menganggukan kepalanya mengingat Aka memang menyukai warna tersebut dan kembali berjalan sedangkan Aka mengikutinya di belakang.
Kemudian Ista merasa bahwa Aka mengikutinya dan berbalik sambil bertanya, “Apa kamu mengikutiku?”
Hmmm.
“Tidak, aku sedang tidak mengikutimu,” dalih Aka sambil memegang belakang kepalanya.
“Kalo begitu, untuk apa kamu keluar?” tanya Ista.
“Mencari udara segar, di sini aku merasa sesak” jawab Aka dengan berdalih.
Ista melirik Aka dan kembali berjalan keluar penginapan.
Aka diam-diam mengikuti Ista di belakanganya.
Di luar penginap terdapat Ran yang sedang memegang gitanya lalu melihat ke arah Ista sambil berteriak dengan melambaikan tangannya, “Ista, kemari.”
Ista mendatangi Ran dan bertanya, “Ada apa kamu mengetok pintu kamarku.”
Ran yang sedang berbicara dengan temannya mendengar perkataan Ista, lalu mengalihkan pandangannya sembari memohon, “Kami kekurangan personil, maukah kamu menjadi penyanyi kami.”
Ah.
__ADS_1
“Tapi, aku tidak biasa tampil di depan umum” jawab Ista yang terkejut dengan permohonan Ran.
“Kamu pasti bisa, bukankah kemarin kamu pernah bernyanyi dengan kita” tegas Ran.
“Itukan memakai lagumu,” jelas Ista.
“Kamu nyanyikan lagu saja lagu yang menurutmu sesuai dengan perasaanmu, biar kami yang menyesuaikan musiknya” tegas Ran.
“Aku mohon,” mohon Ran sembari menempelkan kedua tangannya.
Hhuuuff.
“Baiklah” desah Ista melihat Ran yang sedang memohon.
Ran lalu mengepalkan tangannya sambil berbisik, “Yes.”
“Kita bisa tampil sekarang,” teriak Ran kepada teman-temannya.
Kemudian Ran melihat sekeliling dan bergumam, “Semoga pria itu tidak menggangguku.”
Ran mengajak Ista ke sebuah panggung di depan penginapan yang telah di sediakan.
Ista menaiki panggung tersebut melihat di terdapat penonton di kursinya masing-masing sedang menatapnya.
Aka berjalan sembari melihat Ista yang berada di atas panggung dari kejauhan.
Kemudian Aka berhenti di pagar penginapan dan menyender ke pagar tersebut sembari melihat ke arah Ista yang berada di panggung, lalu berbisik, “Dia cantik dengan pakaian itu.”
Prok.
Prok.
Prok.
Sambutan penonton kepada Ista yang berada di atas panggung dengan mic di tangannya.
Ake melihat bahwa penontonnya begitu antusias, kemudian Aka berbalik dan melihat ke arah pesisir pantai.
“Apa yang harus aku nyanyikan,” ungkap Ista.
Seketika Ista terpana melihat Aka dari kejauhan sedang melihat ke arah pesisir pantai dengan angin yang berhembusan kepadanya.
“Aku tahu, apa yang harus aku nyanyikan” ujar Ista.
Huft.
Ista mencoba menenangkan diri.
“Terima kasih telah mencintaiku, walaupun aku masih belum bisa menerimamu,” pikir Ista sebelum memulai nyanyiannya.
"Aku tidak mengerti dengan perasaanku saat ini," ucap Ista dalam benaknya sembari menatap Aka.
Kemudian Ista bernyanyi.
“It’s hard for me to say the things ( kadang sulit bagiku tuk ungkapkan sesuatu )”
Ista merasa bahwa iringan musiknya belum di mainkan, lalu melihat ke belakang.
“Lagu apa yang dia nyanyikan” bisik temannya Ran kepadanya sambil memegang gitar bas.
Hmmm.
Ran berpikir, kemudian mengingat liriknya dan berbisik kepada temannya, “Bon Jovi.”
Temannya menganggukan kepalanya dan memberikan tanda oke kepada Ran.
“Ista, bisa di mulai dari awal,” bisik Ran kepada Ista di depan.
__ADS_1
Ista kemudian kembali melihat ke depan tetapi yang ia tangkap adalah Aka yang sedang memandangi pesisir pantai.
“Kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku terhadapnya.”