
Matahari mulai bersinar dengan terik nya.
Bam.
Rosa menendang pintu ruangan yang merupakan milik Raka sebelumnya.
Anak buah Raka yang sedang berdiskusi terkait kepergiannya ketua mereka melihat seorang wanita menendang pintunya.
“si-siapa kamu!”
Rosa ingin mengambil alih tempat yang dulunya merupakan tempat dari komplotan Raka, kemudian melambaikan tangannya menandakan anak buahnya untuk mengajar mereka.
“Yeeeahhhh,” teriak serentak anak buah Rosa sambil berlari.
Bak
Buk.
Rosa berjalan dengan santai di antara perkelahian menuju kursi tempat Raka sebelumnya.
Bak.
Buk.
Rosa melihat sebuah tag nama di atas meja, kemudian tersenyum.
“Ini tidak di perlukan lagi.”
Pring.
Suara pecahan tag nama yang di banting oleh Rosa.
“Apa yang kamu lakukan!” teriak salah satu anak buah Raka yang sedang terkapar di lantai dengan darah di wajahnya.
Rosa terusik dengan teriakan, lalu berjalan menghampirinya dan menarik kerah baju orang tersebut sehingga wajah mereka seling berhadapan.
“Sekarang semua yang ada di sini, miliku!” tegas Rosa sembari menunjukan sebuah dokumen pernyataan yang sudah mendapat stempel dari sidik jari Raka.
Rosa melepaskan kerahnya dan menyuruh kepada anak buahnya.
“Bawa mereka keluar dari ruangan ini.”
“Baik” sorak anak buah Rosa dengan serentak.
“Tu-tunggu...,” ucap salah satu anak buah Raka sambil terseret ke luar ruangan.
Rosa kembali berjalan ke arah kursi dan mendudukinya dengan mengangkat kedua kakinya ke atas meja.
“Sekarang ruangan ini menjadi tempat persembunyian ku,” tegas Rosa.
“Baik” ujar asisten Rosa yang berada di depannya.
...****************...
Keesokan harinya, di pagi yang cerah dengan suara bising mobil berlalu lalang dengan gedung menjulang tinggi di tambah ramainya pejalan kaki membuat kota tersebut menjadi sangat hidup.
Di sebuah studio seni.
Ista berjalan keluar Studio milik nya dengan pakaian dress merah mudah bercorak kupu-kupu di bagian bawahnya.
Ista mengecek ke dalam tasnya, melihat segala keperluan yang akan ia pakai untuk berpergian dengan Aka terkait proyek yang akan mereka lakukan.
Ista berniat untuk mendatangi Aka di perusahaan.
“Semoga Aka tidak menanyakannya, aku masih belum bisa membuka hatiku untuk siapapun” gumam Ista.
Brrreeem.
Mobil sport abu-abu seketika berhenti di depan Ista.
“Astaga!” kata Ista dengan kaget karena melihat mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya sambil mengecek isi tasnya.
Aka kemudian menurunkan kaca mobilnya dan berkata sambil melihat ke arah Ista yang berada di luar “ayo, masuk.”
__ADS_1
Ista terkejut dengan siapa yang berada di dalam mobil tersebut, karena Ista tidak pernah memberitahukan kepada siapapun tempat nya.
“Aka!, bagaimana kamu bisa mengetahui tempatku.”
“Masuk saja terlebih dahulu, nanti aku jelaskan.” Suruh Aka sambil membukakan pintu mobilnya untuk Ista.
Kemudian Ista menurutinya dengan memasuki mobilnya.
Brreeemmmm.
Aka melajukan mobilnya ke tempat tujuan proyek yang akan di lakukan.
“Bagaimana kamu mengetahui tempatku” tanya Ista yang tidak mengerti bagaimana Aka mengetahui tempatnya.
“Kemarin, sebelum aku menemui mu. Aku datang ke rumahmu dan orang tuamu yang memberitahu tentang studio seni milikmu” jawab Aka sembari menyetir mobilnya.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku terlebih dahulu” pungkas Ista.
“Aku saja tidak memiliki no handphonemu” jelas Aka.
Huuffftt.
Suara hembusan nafas Ista.
"Tidak heran jika Aka mengetahui tempatku, ternyata kemarin ia pergi ke rumah."
Kemudian Ista menyodorkan tangannya layakya meminta ke samping Aka yang sedang menyetir.
Prok.
Aka yang sedang menyetir melihat tangan Ista lalu menepuknya.
“Duh” jerit Ista sambil memegang tangannya.
“Apa yang kamu lakukan!” tegur ista dengan apa yang Aka lakukan sambil melihatnya sembari memegang telapak tangannya.
“Bukankah kamu meminta tos san denganku,” balas Aka sambil menyetir dengan melihat kejalan.
“Apa kamu gila!, siapa yang memintamu untuk tos san,” bentak Ista sambil melihat Aka.
Hahaha.
“Kenapa tidak bilang,” pungkas Aka sambil melihat Ista dengan menyetir.
Kemudian Aka mengambil handphonenya lalu menaruh di tangan Ista.
Ista kemudian melihat handphone Aka sambil meliriknya.
Saat Ista ingin membuka handphone milik Aka dengan pengetahuan tentangnya, tetapi Ista tidak membukanya.
“Apa password mu?” tanya Ista sembari mengotak atik handphone Aka.
“Tanggal lahir mu” jawab Aka.
“Dia masih melakukan hal bodoh” pikir Ista dengan melirik kepada Aka yang sedang menyetir.
Ista memasukan kata sandi tersebut, kemudian memasukan no handphonenya yang baru kepada Aka.
Aka yang sedang menyetir melirik handphone yang baru saja Ista keluarkan.
“Apa itu handphone barumu?”
Ista yang sedang memasukan no nya, terkejut mendengar apa yang di tanyakan Aka.
“Handphone baruku?”
Kemudian Ista mengalihkan pandangannya ke Aka sambil bertanya, “Handphone baruku? Bagaimana kamu tahu, jika aku mengganti handphoneku.”
“Aku melihat handphone yang di jadikan bukti oleh kepolisian di kasus penculikan mu, dan aku melihat wallpaper nya terdapat fotomu” pungkas Aka.
“Ah, handphoneku di jadikan barang bukti? Apa saat aku di ikat, handphone milikku di ambil oleh mereka. Semoga saja tidak yang tahu soal Jesica,” pikir Ista.
“Apa aku harus menanyakan hubungannya dengan Jesica? .....Tidak usah dah, aku takut dia merasa terusik,”pikir Aka.
__ADS_1
“Aku harus mengambil handphoneku, setidaknya menghapus riwayat panggilannya,” gumam Ista.
Aka yang sedang menyetir mendengar Ista mengatakan sesuatu lalu bertanya dengan meliriknya “apa yang kamu mengatakan sesuatu?”
“Ah, tidak ada” ucap Ista yang kaget dengan Aka yang tiba-tiba bertanya.
“Tadi kamu berkata sesuatu” ujar Aka sambil menyetir.
“Tidak,” bentak Ista.
Aka merasa bahwa Ista tidak ingin memberitahukan nya.
"Baiklah."
Ista kemudian selesai memasukan no nya ke handphone milik Aka lalu mengembalikannya.
Beberapa saat kemudian, matahari bersinar dengan senja yang menandakan bahwa matahari mulai gelap.
Bbbrrreeemmm.
Mereka sampai di sebuah jalan yang tembus langsung ke sebuah pesisir pantai, lalu turun dari mobilnya.
♬♬♬♬♬
♬♬♬♬♬
Suara musik terdengar dari kejauhan.
“aku merasa tidak asing dengan suara ini,” pikir Ista sambil mencari sumber suara.
Ista melihat sebuah penginapan yang tidak jauh darinya, yang berada di pesisir pantai tersebut. Menurut Ista di sini masih belum ada yang membuka usaha.
“Ternyata ada yang sudah mendirikan sebuah penginapan di sini.”
Aka melihat Ista sedang mencari sesuatu lalu bertanya, “Apa yang sedang kamu cari?”
Ista terkejut dengan pertanyaan Aka,lalu berucap, “Ah, tidak ada.”
Di waktu yang sama di tempat yang tidak jauh dari Aka dan Ista, terdapat sebuah perayaan pembukaan sebuah penginapan dengan mengundang Ran untuk tampil berkonser di sana.
♬♬♬♬♬
Ran yang sedang bermain musik sambil bernyanyi, seketika melihat Ista dan Aka dan berpikir, “Apa yang dia lakukan di sini.”
♬♬♬♬♬
Ran tersenyum melihat Ista lalu berpikir kembali, “Setiap aku ada pertujukan, dia selalu ada. Tetapi kenapa harus bersama pria itu.”
“Hey, apa yang kamu lakukan. Ini waktumu untuk masuk” tegur teman Ran yang berada di sebelahnya dengan menyenggolnya.
Ran tersadar dan kembali memainkan musiknya dan bernyanyi.
♬♬♬♬♬
♬♬♬♬♬
Aka lalu menunjuk ke suatu tempat sambil berkata kepada Ista, “Bagaimana menurutmu, apakah di sana bagus di jadikan tempat wisata.”
Huft.
“Ini kan tempat yang aku beritahu kepada Rosa,” desah Ista dalam benaknya.
“Aku ingin kamu meminimalisir keuangan semaksimal mungkin untuk membangunnya, karena investor sudah sangat banyak membantuku” tegas Aka kepada Ista.
“Baik” kata Ista.
“Aku tahu, aku tahu. Aku yang memberimu modalnya,” imbuh Ista dalam benaknya dengan melihat ke arah yang di tunjukan Aka.
Sesaat kemudian Aka menunjuk ke arah matahari terbenam dan berkata, "Lihatlah.”
Ista kemudian melihat ke arah yang di tunjukan oleh Aka dan terkesima dengan matahari terbenam yang begitu indah.
Aka melihat Ista menatap matahari terbenam dengan angin yang berhembus kepadanya, yang membuat rambutnya sedikit berantakan, kemudian Ista merapikannya rambutnya
__ADS_1
“Seperti ini saja, sudah cukup untukku," bisik Aka sembari menatap Ista.