15 Tahun Mengubah Segalanya

15 Tahun Mengubah Segalanya
Perebutan Ista


__ADS_3

...****************...


Aka yang berada di depan rumah Ista, turun dari mobilnya dan mendatangi rumahnya.


Tok.


Tok.


Tok.


Aka sedang mengetok pintu rumah Ista.


Brreeek.


Pak Zar kemudian membukakan pintu dan melihat bahwa terdapat Aka dengan pakaian jas blezzer abu-abunya lalu berkata “oh Aka, silahkan masuk.”


Aka yang melihat bahwa yang membukaan pintu tersebut adalah pak Zar yang mempersilahkannya untuk memasuki rumah kemudian berkata sambil melambaikan tangan kananya “tidak usah pak, aku ke sini cuman ingin melihat Ista. Apakah dia ada?”


“Ista? Dia baru saja keluar pindah, tetapi katanya dia ingin mengunjungimu jika sudah selesai membereskan barang-barangnya,” jawab pak Zar.


“Pindah??,oh iya. Aku lupa, tidak memberitahukannya jika aku sudah keluar dari rumah sakit dan aku juga tidak mempunyai no handphonenya,” pikir Aka yang mendengar jawaban dari pak Zar.


Bu Ris melihat bahwa suaminya sedang berbicara dengan seseorang lalu menghampirinya sambil berkata “mas, siapa yang datang?”


Aka melihat bu Ris lalu menundukkan sedikit kepalanya sambil berkata “halo, tante.”


“ini Aka, yang sering aku bicarakan padamu” jawab pak Zar kepada istrinya yang berada di belakang sambil menepuk pundak dari Aka.


Bu Ris yang tahu soal Aka dari suaminya langsung mempersilahkan masuk dengan berkata “ayo, masuk dulu.”


“Tidak usah, tante,” jawab Aka dengan melihat bu Ris yang berada di samping pak Zar.


Aka lalu mengalihkan pandangannya ke pak Zar dengan berkata “apa bapak tahu, di mana Ista pindah?”


“Dia sudah pindah ke studio seni miliknya,” jawab pak Zar kepada Aka.


Pak Zar lalu menengok ke istrinya dengan berkata “ma, coba kasihkan alamat Ista.”


Kemudian bu Ris memberitahukan sebuah alamat studio milik Ista yang di beritahu oleh Ista kepada kedua orang tuanya saat malam hari.


...****************...


Di saat yang sama


Di depan sebuah rumah milik Aka terdapat Ista yang sedang menunggu di depan pagar dan Ran sedang menaiki motornya.


“Ista, sepertinya tidak ada orang di dalam sana” ucap Ran yang berada di motornya.


Ista kemudian melompat untuk melihat ke dalam rumah tetapi tidak ada aktivitas yang terjadi lalu berkata “sepertinya begitu.”


Ran mendengarnya langsung tersenyum dan berkata sambil menggenggam tangan kanannya “Ista, naiklah. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”


Ista yang sedang melihat ke arah rumah Aka teralihkan dengan perkataan Ran lalu berkata “kita mau kemana?”


“Naik saja” ucap Ran lalu melempar helmnya di tangannya ke Ista.


Ista seketika melihat helm yang di lempar oleh Ran langsung menangkapnya sambil berteriak “apa yang kamu lakukan!”

__ADS_1


Breeemmm.


“Pakai saja,” ucap Ran yang sudah menyalakan mesin motornya.


Ista kemudian menuruti perkataan Ran dan memasang helm di tangannya lalu menaiki motor Ran.


Breeeeemmmm.


Ran langsung berangkat ke tempat tujuannya.


Kemudian mereka berhenti di sebuah caffe di pojok perempatan lampu merah.


“Kenapa kita berhenti di sini?” tanya Ista yang berada di belakang.


“Aku ada penampilan di sini,” jawab Ran sambil menunjuk ke arah caffe.


“Kenapa kamu mengajakku?” tanya Ista kembali.


“Kebetulan aku sedang bersamamu,” jawab Ran


".....," kata Ista.


Ista mendengar apa yang di katakan Ran melihat nya dengan sinis.


Kemudian Ran dan Ista turun dari motornya dan membuka helm lalu Ran berkata “ayo masuk.”


Lalu mereka berdua memasuki caffe.


Aka yang sedang menuju studio yang beritahukan oleh orang tua Ista dengan mobil sport abu-abunya.


“Kenapa mereka berdua bisa bersama?,” ucap Aka di dalam mobilnya sambil memegang setir.


Aka melihat ke Ran seketika mengingat niatannya saat malam itu dan berkata “aku harus ke sana.”


Aka kemudian mencari tempat parkir lalu keluar dari mobil dan berjalan ke caffe yang di masuki mereka, seketika Aka berhenti berjalan lalu berpikir “nanti aku di sangka ikut campur dalam urusannya.”


Aka kemudian kembali berjalan ke mobilnya, sesampai di depan mobil Aka kembali berpikir “jika aku tidak menemuinya, nanti dia menganggapku main-main. Soal pengakuanku terhadapnya.”


Aka kemudian memutuskan untuk masuk ke caffe tersebut.


Criingg.


Ran dan Ista memasuki sebuah cafe, Ista melihat bahwa caffe tersebut tertata dengan rapi dan sangat modern yang mana terdapat ukiran-ukiran di atas temboknya.


Ran lalu berkata kepada pelayan yang berada di kasir sambil mengangkat tangannya “seperti biasa.”


Pelayan tersebut melihat ke arah Ran lalu mengangkat tangannya kembali.


Kemudian Ran menarik Ista ke tengah ruangan cafe dengan kaca di sampingnya yang bisa melihat jalan dan orang berlalu lalang.


Ran kemudian menarik bangku untuk di duduki oleh Ista sambil berkata “duduklah.”


Ista melihat bahwa Ran sedang mempersilahkannya duduk, lalu Ista duduk sambil berkata “terima kasih.”


Ran kemudian duduk di depan Ista yang membuat mereka saling berhadapan.


Crrrinng.

__ADS_1


Aka memasuki cafe yang Ran dan Ista masuki sebelumnya karena Aka sudah melihat mereka memasuki cafe tersebut.


Aka yang berada di dalam cafe melihat-lihat sekeliling untuk mencari dimana Ista dan Ran duduk.


Ista yang melihat bahwa terdapat Aka berada di depan pintu masuk berpikir “kenapa dia, ada di sini?.”


Ista kemudian berdiri dan berkata kepada Ran “tunggu sebentar.”


Ista lalu mendatangi Aka yang berada di depan pintu masuk.


Aka yang melihat Ista menghampirinya kemudian berjalan ke arahnya dan menarik tangan kanan Ista lalu berjalan keluar dari caffe.


“Hey ada apa?,” ucap Ista yang di tarik lengannya kepada Aka.


Ran yang menengok ke belakang melihat Aka menarik lengan Ista kemudian berdiri dan menyusulnya.


“Apa dia ingin berbicara soal pengakuannya?” pikir Ista yang sedang di tarik lengannya.


Saat berada di laur caffe, Ran yang menyusul Ista kemudian menarik lengan kirinya dengan berkata kepada Aka “hey, apakah kamu tidak ada sopan santun.”


Aka yang sedang membawa Ista ketarik oleh Ran dan melihat ke arahnya “ini bukan urusanmu?.”


Aka kemudian menarik Ista ke sisinya, Ista yang ketarik langsung berkata “hey.”


Ran lalu menarik kembali Ista ke sisinya dan berkata “apa maksudmu.”


Ista yang ketarik pun lagi berkata kepada Ran “hey.”


Aka menarik kembali Ista ke sisinya dengan menarik lengan kanan Ista yang di pegang olehnya dengan berkata “aku perlu bicara dengannya.”


Ran kembali menarik Ista ke sisinya dengan menarik lengan kiri Ista yang di pegang olehnya dengan berkata “aku duluan yang sedang bersama dengannya.”


Ista yang merasa ketarik ke dua sisi berkata “hey, kalian berdua.”


Aka menghiraukan perkataan Ista kemudian menarik kembali Ista ke sisinya lalu berkata dengan marah ke arah Ran “Ista, bukankah sudah kubilang jangan dekat dengannya!”


“Maksudmu apa, aku tidak boleh dengannya!” ucap Ran dengan marah sambil menarik kembali Ista ke sisinya.


Ista yang berada di tengah kedua orang tersebut merasa bahwa orang lain sedang melihatnya ia tidak di hiraukan lalu berteriak “hey!!!”


“Apa!” teriak Aka dan Ran sambil melihat ke arah Ista.


Ista kemudian sangat jengkel dengan perbuatan Aka dan Ran lalu menarik kedua lengannya dan menginjak kaki mereka.


“duh” ucap Aka dan Ran secara serentak.


“Kenapa kamu tidak bilang, bahwa sudah keluar dari rumah sakit,” bentak Ista kepada Aka.


Lalu mengalihkan pandangannya ke Ran dengan berkata “dan untukmu, kenapa kamu membawaku ke sini!”


Ista kemudian mengingat sesuatu dengan berpikir “oh, iya. Bekalku.”


Ista berjalan kembali ke dalam cafe saat berada di dalam cafe Ista menyadari bahwa ia sedang di lihat oleh seluruh pelanggan.


Ista kemudian kembali berjalan sambil menundukkan kepala dan menutupi wajah dengan kedua tangannya ke arah bekal miliknya.


“aduh...,”kata Ista sambil berjalan ke arah bekal miliknya dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


__ADS_2