15 Tahun Mengubah Segalanya

15 Tahun Mengubah Segalanya
Pasar Tradisional.


__ADS_3

Keesokan harinya,


Ista baru selesai membersihkan dirinya dan mengganti baju, lalu membuka jendela kamar yang langsung melihat matahari terbit di pesisir pantai.


“Aku tidak membawa alat lukis ku,” keluh Ista


Ista menyesal tidak membawa alat lukisnya sembari mengamati matahari terbit.


Seketika suara pintu kamar nya.


Tok.


Tok.


Tok.


“Ista, apa kamu di dalam?” tanya Aka sembari mengetok pintu kamar Ista.


Ista merasa bahwa ini masih pagi, kenapa Aka kemari mendatangi nya.


“Iya, ada apa?"


“Ayo kita ke tempat selanjutnya, apa kamu masih ingin berada di sini,” ujar Aka.


Ista terkejut dengan apa yang di katakan oleh Aka, kemudian Ista tergesa-gesa membuka pintu kamarnya dan bertanya sembari menatap Aka, “Tempat lain?”


melihat ekspresi wajah Ista yang terkejut, Aka berkata, “Iya, memangnya tempat yang mau kita survei di sini saja” .


Ista kesal karena Aka baru memberitahukannya, jika mengetahuinya Ista bakal membawa baju salin lagi.


“Tapi, aku tidak membawa baju lagi.”


Huft.


“Kenapa kamu tidak membawa salin yang banyak," tegur Aka karena Ista tidak membawa salinan lagi padahal sudah di beritahukan saat berdiskusi kemarin.


“Kamu tidak mengatakannya, bahwa kita akan berpergian selama ini” debat Ista.


Aka mengingat bahwa terdapat tempat yang bagus untuk di datangi,


“Yasudah, kita nanti mampir ke pasar," ungkap Aka.


Ista senang akhirnya bisa melepaskan kepenatannya melalui berbelanja karena Ista sudah lama tidak pergi untuk berbelanja.


“Ok, tunggu sebentar.” Ujar Ista dengan menunjuk ekspresi yang senang.


Brak.


Aka menatap pintu yang tertutup dengan aneh dan berkata, “Wanita ini mudah sekali berubah moodnya, yah.”


Aka menunggu Ista dengan bersandar di pintu sembari berbisik, “Apa dia sedang pms?”


Seketika.


Gedubak.


Ista membuka pintu kamarnya yang membuat Aka terjatuh ke dalam kamar.


Ista terkejut karena Aka terjatuh di saat ia membuka pintu, kemudian bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan?”


Aka langsung berdiri dan merapikan bajunya.


“Tidak ada.”


“Ayo,” ucap Ista sembari berjalan keluar penginapan.


Aka mengikuti Ista di belakang nya yang berjalan keluar penginapan.


sesampainya di luar penginapan mereka menunggu mobil Aka yang di bawa oleh tukang parkir.


Ran sedang membereskan barang bawaannya bersama teman-temannya karena sudah waktunya ia untuk berganti tempat berkonser.


Menyadari terdapat Ista yang tidak jauh darinya, Ran mendatangai nya dengan berlari.

__ADS_1


“Ista” panggil Ran.


“Dia lagi” bisik Aka yang teralihkan pandangannya ke sumber suara.


Ran sampai di samping Ista, lalu bertanya kepada Ista sembari menunjuk ke Aka, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Bersama dengannya.”


Ista merasa pandangannya tertuptupi oleh tangan Ran, lalu menurunkannya.


“Ak..,” Ucap Ista sebelum di sela oleh perkataan Aka


“Apa kamu tidak melihat, bahwa kami berada di luar. Belarti kami ingin pergi” sela Aka kepada Ran dengan menjauhkan pandangannya.


“Hey, aku tidak sedang bertanya kepadamu,” tegur Ran.


Huft.


“Apa kalian tidak bisa berhenti terus ber adu mulut di depanku” keluh Ista yang mendengar pertengkaran mereka kembali.


Brrreeeemm.


Sebuah mobil sport abu-abu berhenti di depan mereka dan seseorang keluar dari sana, lalu memberikan kunci mobil tersebut kepada Aka.


“Ini kuncinya”


“Terima kasih” balas Aka.


Aka langsung menarik lengan Ista untuk memasuki mobilnya.


“Tunggu,” ucap Ista sedang di tarik oleh Aka.


“Ayo, nanti kesiangan” pungkas Aka.


“Baiklah” balas Ista.


“Mau kemana?” tanya Ran.


“Bukan urusanmu” jawab Aka sembari menarikIsta.


Ista merasa tangannya kesakitan, kemudian menegur Aka, “Bisakah, kamu melepaskan tangaku.”


“Maaf, sepertinya aku terlalu kuat menarikmu.”


Ista memegangi tangannya sembari merenggangkannya.


Mereka memasuki mobil milik Aka, sedangkan Ran melihatnya dengan tatapan tajam.


“Pria ini tidak mudah di hadapi.”


Ran berbalik dan kembali membantu teman-temannya merapikan barang-barang mereka.


Breeemmm.


Aka menyalakan mobilnya, lalu berangkat ke tempat yang mau di datangi.


Ista merasa bahwa Aka melajukan mobilnya tanpa memberitahukan tujuannya.


“Hey, kemana kita pergi? Bukankah katamu kita ke pasar terlebih dahulu,” tegur Ista.


Aka melirik ke arah Ista karena ia sedang menyetir sembari menjawab, “Memang, aku sedang menuju pasar tradisional di daerah sini.”


Ah


“Kenapa, kamu bisa mengetahuinya” imbuh Ista yang terkejut karena Aka mengetahui tempat itu.


“Aku sering kemari untuk menenangkan pikiranku,” jelas Aka.


Hmmm.


“Ternyata ada yang tidak aku ketahui soal dirinya,....tunggu. Kenapa aku memikirkannya.”


Bbbrrrreeeemmmm.


Aka melewati sebuah pasar tradisional.

__ADS_1


Pasar tradisional tempat penduduk setempat menjual hasil karya, seperti: karajinan khas pesisir pantai, makanan, dan yang mendatangi tempat tersebut tidak hanya penduduk asli, tetapi kebanyakan dari luar wilayah.


“Kita sampai,” ucap Aka


Ista melihat sebuah pasar yang ramai akan orang-orang melakukan transaksi jual beli.


“Bisakah, kita turun sekarang”


“Tunggu, jangan di sini. Ada tempat khusus untuk memarkirkan kendaraan,” jelas Aka.


Ista merasa kecewa karena tidak bisa langsung memasuki pasar,lalu Ista melihat ke arah jendela.


“Lihat, lihat. Lukisan itu bagus” ucap Ista sembari menunjuk dari dalam mobil.


Aka sudah mengerti bahwa Ista akan menyukai tempat yang ia datangi, karena tempat tersebut terkenal dengan hasil karya penduduk setempat.


Aka melirik ke arah Ista yang sedang menatapi pasar lewat jendela mobilnya.


“Seharusnya kamu seperti ini, jangan kamu selalu memperlihatkan kegilisahanmu kepadaku.”


Mereka sampai di tempat parkir yang di sediakan khusus.


Ista langsung bergegas keluar mobil sembari berucap, “Ayo, cepat.”


“Iya, iya,” jawab Aka.


Ista berjalan ke pintu masuk pasar dengan terburu-buru dengan di temani Aka di belakangnya.


Melihat begitu banyak orang yang datang ke pasar tersebut, Ista bertanya kepada Aka yang berada di belakangnya, “Apa tempat ini selalu ramai seperti ini.”


“Iya, pasar ini menjadi pusat perekonomian daerah sini,” jawab Aka.


Hmmmm.


Ista menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Aka sembari melihat-lihat dagangan penduduk setempat.


Ista merasa senang bisa datang kesini, apa lagi terdapat banyak sekali karya penduduk setempat yang begitu indah.


Seketika Ista terkejut dengan apa yang di lihat olehnya.


“Itu, lukisan yang terkenal di kehidupanku sebelumnya.”


Ista langsung bergegas berlari ke penjual lukisan tersebut.


“Ista, tunggu,” ucap Aka yang melihat Ista berlari, lalu segera menyusulnya.


Sesampainya Ista di penjual lukisan, kemudian Ista menyapa, “Permisi.”


Penjual mengalihkan pandangannya ke Ista sembari berucap, “Iya, apa kamu ingin membeli lukisanku.”


Ista mengamati lukisan yang ia incar, lalu bertanya, “Lukisan apa ini?.”


Penjual melirik Ista dengan dingin karena dikira ia ingin membeli lukisannya, tetapi malah bertanya sesuatu.


Aka menyusul Ista, melihat nya sedang mengamati lukisan, kemudian bertanya, “Kamu sedang apa?”


“Oh, aku sedang ingin membeli lukisan ini.” Jawab Ista sembari melihat ke lukisan tersebut.


Ista mengingat kembali lukisan di kehidupan sebelumnya sangat mirip dengan yang berada di depannya.


“Apa benar, ini lukisan tersebut.”


kemudian Ista Mengingat kejadian di kehidupan sebelumnya, Ista yang merubah pekerjaannya menjadi seorang kolektor seni. Sebab itulah Ista sedikit memahami harga dari suatu karya, Tetapi jika bandingkan dengan Aka. Ista tidaklah sebanding dengannya, bahkan di kehidupan sebelumnya Ista sering tertipu olehnya.


Di kehidupan sebelumnya, Ista selalu bersaing dengan Aka untuk mendapatkan sebuah lukisan. Dalam hal pelelangan ataupun mendatangi langsung pelukisnya untuk membeli lukisan.


“Lukisan ini, bahkan mengingatkanku akan dia sebelumnya,” pikir Ista sembari melirik Aka dengan tajam


Aka merasa bahwa hawa nya tidak enak, kemudian melirik ke Ista yang sedang menatapnya dengan tajam.


“Apa yang kamu lihat,” ucap Aka sembari melihat ke dirinya.


Ista langsung tersadar, kemudian bertanya kepada Aka, “Bagaimana menurutmu lukisan ini?”

__ADS_1


Aka mengamati lukisan yang ingin Ista beli, tidak lama kemudian berbisik kepada Ista, “Kamu harus membelinya.” Sembari menutupi mulutnya dari penjual.


__ADS_2