15 Tahun Mengubah Segalanya

15 Tahun Mengubah Segalanya
Sebuah alasan untuk penolakan.


__ADS_3

Selepas Ista melirik Rosa, kemudian Ista melanjutkan jalannya ke ruangan Aka.


Brek.


Aka sedang keluar dari ruangan untuk menemui pak Zar terkait kerja sama dengannya, seketika ia melihat Ista di depannya, lalu berkata dengan terkejut “astaga!”


Ista melihat Aka terkejut karena kedatangannya lalu berkata, “Kenapa kamu terkejut, apa aku hantu?”


Haha


“Tidak, tumben sekali kamu ke ruanganku. Terakhir kali, kamu ke sini untuk menamparku” jelas Aka kepada Ista di depannya.


“....,” Ista tersipu malu mengingat apa yang ia lakukan dulu.


Aka melihat Ista terdiam, kemudian membungkukan badannya yang membuat merepa saling bertatapan dan berkata, “Ada apa kamu ke sini? Aku baru saja mau ke perusahaan ayahmu.”


Ista yang mengetahui hubungan Aka dan ayanya berjalan baik, Ista merasa bahwa apa yang di lakukan papa pasti berkaitan Aka, lalu berkata dengan nada tinggi, “Mau apa kamu ke sana!”


Aka lalu memegang telingganya karena Ista berkata dengan keras, “Bisakah, kamu pelankan suaramu. Banyak orang yang mendengarnya.”


Ista melihat ke sekeliling, kemudian ia melihat banyak sekali karyawan yang menatapnya.


Kemudian Ista berbalik dan berjalan dengan tersipu malu sembari berkata, “Ikuti aku.”


Aka melihat Ista berjalan di depannya lalu berkata dengan pelan, “Kenapa dia selalu saja marah terhadapku, lalu kenapa juga aku menyukainya”


Huufftt.


Aka menghembus kan nafasnya dan mengikuti Ista sambil berkata dengan tersenyum, “Dia wanita yang menarik.”


Ista mengajak Aka keluar dari gedung.


Sesampainya mereka di luar gedung, Ista berbalik, “Kamu mau ngapain ke perusahaan papaku?” tegas Ista sembari menatap Aka dengan tajam.


Aka yang berjalan di belakangnya melihat Ista berbalik dan memarahinya, lalu Aka berucap, “Kenapa kamu marah.”


“jawab pertanyaanku” balas Ista yang sedang curiga akan apa yang ayahnya rencanakan.


Aka mengambil sebuah dokumen dan menunjukannya di wajah Ista dengan membungkuk badannya sembari berkata, “Bacalah.”


Ista membaca dokumen yang di tunjukan oleh Aka, ia menyadari bahwa Aka mau berkunjung ke perusahaan ayahnya untuk berbicara terkait kerja sama. Yang mana itu juga berlaku kepada ayahnya, Kemudian Ista berbalik dan berjalan sembari berucap, “Ayo.”


Aka yang melihat Ista berjalan semaunya saja, kemudian berkata sambil menyusulnya, “Itu saja?”


Kemudian Aka berada di samping Ista dengan berkata sambil berjalan, “Apa kamu tidak ingin meminta maaf terlebih dahulu kepadaku?”


Ista tetap menghiraukan Aka, saat Ista sampai di pinggir jalan, lalu ia melambaikan tangannya ke jalan.


“Kita mau kemana?” tanya Aka.


Ista lalu menengok ke arah Aka dan berkata, “Katamu, ingin ke perusahaan ayahku.”


“Iya, terus untuk apa kamu melambaikan tanganmu ke jalan?” tegas Aka.


Ista kembali melihat ke jalan sambil berkata kepada Aka, “Naik taksi.”


“Tunggu di sini, aku akan mengambil mobil pribadiku,” saran Aka.


Kemudian Aka berlari ke parkiran perusahaan.


Ista menengok ke arah Aka sambil berkata “tidak us..,”

__ADS_1


Belum selesai perkataannya, Ista melihat bahwa Aka sudah tidak ada di sampingnya.


10 menit kemudian.


Breemmm.


Aka memberhentikan mobilnya di depan Ista, lalu membuka jendela mobilnya sambil berkata dengan menengok keluar, “Ayo masuk.”


Ista berjalan ke pintu belakang mobil dan membukanya tetapi tidak bisa.


Aka tersenyum melihat Ista yang mencoba membuka pintu belakang sembari berucap, “Naiklah, di depan.” Karena pintu belakang sengaja di kunci oleh Aka.


Hhuuftt.


Ista menghembusan nafasnya, lalu berjalan ke pintu depan mobil dan memasukinya.


Seketika, Aka mendekati Ista.


Ista mengangkat kedua tangannya ke dada sambil berkata, “Apa yang kamu lakukan.”


Aka tersenyum melihat nya dan mengambil sabuk pengaman yang berada di samping Ista lalu memasangkannya dengan berkata, “Aku sedang memakaikanmu sabuk keamanan, apa kamu memikirkan sesuatu.”


Ista menutup mukanya dengan kedua tangannya sambil berkata “cepat jalan!”


Aka tersenyum melihat Ista yang tersipu malu.


Brrreeemmm..


Kemudian Aka melajukan mobilnya.


Tidak lama kemudian, mereka sampai di perusahan pak Zar.


Breek.


Aka melihat bahwa tidak ada siapapun di ruangan berkata kepada Ista, “Dimana papamu?”


Ista berjalan, lalu menduduki kursi ayahnya sambari berkata kepada Aka, “Sekarang aku yang akan menggantikannya.”


Ahhh.


“Kamu bercanda!" balas Aka yang terkejut dengan pernyataan Ista yang menggantikan ayahnya.


“Apa kamu lihat aku sedang bercanda sekarang” tegas Isya.


Aka berjalan ke arah Ista sembari berkata, “Kalo begitu kenapa tidak bicara di kantorku?”


“Kamu pria, kenapa berani di kandangmu” ucap Ista.


“Apa hubungannya!” tegur Aka yang terkejut dengan perkataan Ista.


“Sudahlah, kamu ingin membahas apa?” tanya Ista.


“Bukankah kamu sudah mengetahuinya, aku kan sudah menunjukannya kepadamu” tegas Aka.


“Oh,iya,” imbuh Ista dalam benaknya.


Ista berdiri, lalu berjalan ke kursi tamu dan mendudukinya sembari berkata kepada Aka, “Duduklah.”


Aka mengikuti Ista dan duduk di depannya sembari berkata, “Jadi, kita akan menjadi mitra?”


Di saat mereka saling bertatapan satu sama lain, suasana pun menjadi sangat canggung dan mereka melupakan bisnis yang mau di bicarakan.

__ADS_1


Aka lalu menundukan kepadanya sambil berpikir, “Apa aku harus menanyakannya, terkait pengakuanku,”


Ista mengalihkan pandangannya ke sekitar ruangan sambil berpikir, “Aduh, kenapa aku mengingat pengakuannya. Apa yang harus aku katakan kepadanya.”


“Itu...” ucap keduanya dengan serentak.


Ista menyadari bahwa mereka berbicara bersamaan lalu berkata kepada Aka, “Kamu dulu.”


“Tidak, kamu dulu saja.” jawab Aka.


“Baiklah” desah Ista.


“Sepertinya, aku masih belum bisa membuka hatiku untuk siapapun” jelas Ista.


Aka terkejut dengan apa yang di jelaskan Ista, kemudian berpikir sembari menatap Ista, “Ia tidak menolakku secara langsung, tetapi memberiku sebuah alasan.”


“Bisakah, aku mengetahuinya. Kenapa kamu belum bisa menerima siapapun?” tanya Aka yang penasaran.


“Aduh, kenapa denganku. Kenapa aku mengatakannya seperti itu,” pikir Ista sembari menundukan kepalanya yang berusaha menghindar dari tatapan Aka.


Huft


Ista menenangkan dirinya dan berkata kepada Aka sembari menatapnya, “Untuk saat ini, aku masih tidak ingin berkencan dengan siapapun.”


Huufftt.


Aka yang melihat Ista berdiri lalu menghembuskan nafasnya untuk menenangkan dirinya, kemudian berpikir, “Aku akan membuatmu membuka hatimu untukku.”


“Sekarang ada masalah yang lebih serius yang harus aku hadapi, karena sebentar lagi dia akan datang,” pikir Aka sembari mengambil sebuah dokumennya.


“Sudahlah, kita kembali yang bisnis saja” ujar Aka sembari memberikan Ista dokumen tersebut.


Ista merasa bahwa semakin tidak enak dengan Aka karena semua perjuangannya kepadaku, kemudian berkata, “Apa kamu baik-baik saja?”


Aka tersenyum dan berkata kepada Ista, “Tenanglah, aku baik-baik saja.”


“Baiklah,” Imbuh Ista.


Mereka pun membahas bisnis yang akan mereka lakukan.


Di waktu yang sama, di sebuah pelabuhan.


Hika berjalan memakai jaket butung hitam sedang berjalan menuju sebuah perahu sedang.


“Permisi, bisa tunjukan kartu identitasmu,” ucap penjaga perahu tersebut.


Hia lalu menyerahkan kartu identitasnya yang ia tukar dengan yang palsu lalu berkata, “Kemana tujuan perahu ini?”


Orang tersebut kemudian mengecek kartu identitas Hika dan berkata, “Kamu ingin kemana, kami akan berlayar ke seluruh samudra”


“Untung saja aku mengetahu tempat pengelapan pengangkut imigran,” pikir Hika sambil menyembunyikan wajahnya.


“Silahkan masuk,” ucap pengaja tersebut yang sudah melihat kartu identitas Hika untuk di catat dalam bukunya.


Hika lalu berjalan menaiki perahu tersebut dan melihat sekelilingnya dan berkata dengan pelan, “Banyak sekali orang di sini.”


Penjaga tersebut mengangkat tangannya sambil berteriak “kita berangkat!!”


Hika yang mendengar suara penjaga tersebut lalu berjalan ke ujung perahu.


Bruuuss.

__ADS_1


Perahu tersebut pun akhirnya berlayar, Hika sudah menunggu lumayan lama di pelabuhan hanya untuk menaiki perahu tersebut.


Hika melihat ke arah kota dan berkata, “ Aku akan kembali, tunggu saja.”


__ADS_2