
...****************...
Matahari mulai naik di sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari pengadilan terdapat Ista berada di depan pintu kamar Aka, sambil melihat ke dalam melewati kaca pintu.
“Apa yang harus aku aku katakan padanya? Jika aku masih belum bisa menerima pengakuannya!” Pikir Ista sambil melihat Aka yang tidak sadarkan diri di ruangannya.
Tuk.
Tuk.
Ista yang sedang melihat Aka lewat kaca pintu, mendengar suara langkah seseorang.
Ista lalu mengalihkan pandangannya dan melihat bahwa terdapat seorang wanita setengah baya memakai baju yang mewah dengan perhiasan yang di pakainya sedang berjalan bersama dengan supir Aka.
Wanita tersebut melirik Ista yang berada di luar pintu kamar Aka kemudian mengabaikannya dan memasuki kamar Aka.
Saat supir Aka ingin memasuki ruangan tiba-tiba di berhentikan oleh Ista dengan tangannya dan berkata “tunggu! Kamu jangan masuk terlebih dahulu.”
Supir tersebut langsung berhenti memasuki kamar Aka dan melihat ke arah Ista lalu berkata “ada apa ?”
“Siapa yang berjalan melewati ku barusan?” tanya Ista kepada supir Aka.
Supir yang di berhentikan oleh Ista mendengar pertanyaannya lalu melihat ke arah Ista dan menjawab “dia itu nyonya.”
Ista tidak mengerti apa yang di maksud oleh supir tersebut lalu bertanya kembali “mamanya Aka?”
Ista sangat penasaran seperti apa mamanya Aka karena di kehidupan sebelumnya Aka tidak pernah menunjukan kondisi keluarganya kemudian bertanya kepada supir Aka yang berada di hadapannya “siapa namanya?”
Supir kemudian mengamati Ista dari bawah samai atas lalu menjawab “kenapa kamu ingin tahu namanya.”
Ista kemudian merasa tidak ingin mengganggu mereka lalu melihat k arah jam tangannya, Ista menyadari bahwa sebentar lagi ia akan menemui Jesica. Kemudian berkata kepada supir yang sedang mengamatinya dengan kesal “terserah.”
Ista langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan rumah sakit, menuju studio seni miliknya tanpa pengetahuan siapapun.
“Pantas saja bos seperti ini, dia orangnya emosional” kata supirnya yang melihat ke arah Ista berjalan.
...****************...
Di waktu yang sama saat Ista berada di rumah sakit.
Sebuah gedung milik Raka tempat ia memonitor segala aktivitas kelompoknya di dalam ruangan tersebut terdapat Raka, Nash dan Hika sedang berdiskusi mengenai masalah yang terjadi.
Raka dan Hika duduk berhadap-hadapan sedangkan Nash bersandar di dinding ruangan sambil melipat kedua tangannya.
“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Nash yang sedang bersandar kepada mereka di hadapannya.
“Aku faham sifat dari Ista, sepertinya dia akan membalas perbuatanku. Aku harus mempersiapkan segala hal,” pikir Hika sambil duduk.
__ADS_1
Raka mendengar pertanyaan Nash merasa bahwa dia tidak melakukan apapun lalu berkata dengan marah “memangnya apa yang bisa kamu lakukan, ahh!”
Nash kesal dengan arogansi dari Raka lalu berkata dengan marah “ahh, kamu hanyalah seorang pesuruh saja. Maka diamlah!”
Hika sedang mengamati Nash yang sedang bersandar kemudian, Hika berpikir “apa aku bisa memanfaatkanya? Tidak, Aku membutuhkan orang seperti dia.”
Brak.
Raka memukul meja di depannya kemudian berdiri dan berteriak “ah! Apa katamu.”
Hika yang sedang duduk melihat tingkah mereka kembali bertengkar berkata nada kata rendah “hey, kalian. Tidak bisakah kalian untuk diam sementara waktu, aku sedang berpikir.”
Raka kemudian mengalihkan pandangannya ke Hika lalu menunjuknya dan berkata dengan marah “jika bukan karena mu, memberitahukan posisi kita. Ini semua tidak akan terjadi!.”
Kemudian Hika mengamati Raka yang memarahinya terus berpikir “yaps, dia bisa aku manfaatkan.”
Hika mengabaikan amarah dari Raka kemudian berkata “lebih baik kita mengumpulkan kartu identitas kita.”
Raka yang sedang memarahi Hika terkejut mendengar perkataannya kemudian berkata “ahh, untuk apa?”
“Apa kamu tidak menuruti perkataanku? Bukankah pak Andy sudah mengatakan bahwa kalian harus menurutiku” jawab Hika dengan santai.
Raka mendengar bahwa Hika mengancamnya dengan pak Andy lalu segara menuruti perkataan Hika.
Kemudian mereka mengumpulkan kartu identitasnya dan Hika yang membawanya.
...****************...
Brrreeemmm.
Tidak lama kemudian terdapat sekelompok mobil berhenti di depan studio lalu terdapat beberapa orang yang keluar dari sana kemudian memasuki studio seni.
Mereka melihat terdapat banyak sekali seni-seni yang di pajang di dalam studio.
Ddrrriinngg.
Ddrriinngg.
Ddrriinngg.
Jesica yang merasa handphonenya berbunyi segara menjawabnya.
“Halo” kata Jesica.
“Jesica, ini aku Ista. Kamu sudah berada di dalam studio?” tanya Ista di dalam panggilan.
“Tidak, aku masih di dalam mobil,” jawab Jesica di teleponnya.
__ADS_1
“Bagus, kamu lewat pintu belakang. Aku akan mendatangimu, ingat datang sendiri” jawab Ista.
Bbeeepp.
Jesica kemudian memakai jaket bertudung sehingga menutupi seluruh wajah nya, lalu turun dari mobil dan melihat ke arah studio milik Ista dengan berkata “anak itu punya bakat.”
Jesica berjalan dengan memegangi tudung jaketnya dengan menundukkan kepalanya lalu berjalan memutari studio.
Sssssttttt.
Jesica mendengar suara dan melihat-lihat sambil memegangi tudungnya.
“Jesica, sini.” kata Ista yang berada di pintu belakang studio sambil memegang gagang pintu yang membuat pintu tersebut membuat sedikit celah.
Jesica melihat terdapat Ista yang sedang memanggil seperti mengintip kepadanya, lalu mendatanginya.
Melihat Jesica menghampirinya Ista masuk dan duduk di sebuah sofa tidak jauh dari pintu masuk.
Jesica kemudian memasuki pintu lalu melihat bahwa ini merupakan ruangan kecil layaknya sebuah rumah dan berkata “di mana kita? Bukankah ini studio.”
“Ini tempat khusus untuk kita, duduklah,” jawab Ista dan menyuruh Jesica untuk duduk di dekatnya.
Jesica menuruti perkataannya lalu berjalan menghampiri Ista sambil berkata “aku seperti mata-mata perusahaan dengan pakaian seperti ini dan ruangan ini.”
Haha.
Ista tertawa mendengar perkataan Jesica.
Jesica kemudian duduk di samping Ista dan berkata “kamu sangat rapi merencanakan ini semua, Ista.”
Ista berhenti tertawa dan melihat Jesica sudah duduk di sampingnya kemudian berkata dengan serius “apa kamu membawa orang-orang yang aku suruh?.”
Jesica yang baru saja duduk berkata kemudian bersandar di sofa “yah, mereka sudah berada di dalam studio. Apa kamu selalu seperti ini, tidak bisakah kita bersantai terlebih dahulu. Kita sudah lama tidak bertemu.”
“Kita lanjutkan nanti saja, ada perintah yang harus mereka laksanakan.” ucap Ista sedang duduk di samping Jesica.
Jesica merasa bahwa Ista memang sedang terburu-buru kemudian berkata “baiklah, aku akan menghubunginya.”
Jesica kemudian mengambil handphone di dalam saku jaketnya.
Melihat Jesica sedang mengambil handphone di sakunya, Ista kemudian mengambil pulpen dan menulis sesuatu untuk di katakan oleh Jesica.
Jesica yang sedang memegang handphone, melihat ke Ista sedang menulis sesuatu lalu berkata “Ista, kamu tidak ingin berbicara dengannya?”
Ista yang sedang menulis teralihkan dengan perkataan Jesica kemudian berkata “nanti aku akan berbicara dengannya melalui ruangan yang telah aku siapkan, sekarang kamu saja yang berbicara dengannya dengan mengikuti tulisanku.”
Jesica terkejut dengan pernyataan Ista mengenai ruangan yang di maksud dan berkata “ruangan? Apa lagi yang telah kamu siapkan.”
__ADS_1
“Kamu akan mengetahuinya sebentar lagi, jadi teleponlah dia,” ucap Ista sambil melanjutkan tulisannya untuk di katakan Jesica kepada sekretaris.
Jangan lupa VLR (Vote,Like and Rate) nya yah .