
...****************...
Keesokan harinya.
Sinar mentari menyinari ke sela-sela jendela sebuah kamar dengan di temani kicauan burung di angkasa terdapat seorang wanita sedang duduk di depan komputer.
Tek.
Tek.
Ista dengan kondisi terdapat bekas luka di wajahnya yang di tutupi oleh Ista dengan hansaplast sedang berada di kamarnya.
Ista duduk di depan komputer miliknya sambil mengetik sebuah laporan untuk di berikan kepada Jesica, yang berisi segala pengetahuannya di kehidupan sebelumnya. Seperti berupa ilmu-ilmu keuangan, tempat yang ideal untuk di jadikan lahan bisnis dan dimana kita harus berinvestasi dsb.
Cring.
Cring.
Bu Ris sedang berada di dapur sedang memasak untuk mempersiapkan makanan kepada suaminya, ketika pulang nanti dari pengadilan lalu berteriak kepada Ista yang berada di kamarnya “Ista!, ayo turun, mau sampai kapan kamu berada di dalam kamar.”
Ista yang sedang mengetik. Mendengar teriakkan dari ibunya lalu menjawab dengan berteriak “bentar ma, Ista tidak bisa berhenti untuk sekarang ini.”
Cring.
“Kamu sedang melakukan apa, kenapa tidak berhenti” ucap bu Ris yang sedang memasak.
Tek.
“Ista sedang melakukan sesuatu yang penting, jika sudah selesai Ista nanti keluar kok,” ucap Ista yang berada di dalam kamar sambil mengetik.
“Baiklah, cepat. Jangan sampai kamu melewatkan persidangan papamu,” kata bu Ris yang berjalan ke meja makan dengan membawa makanan yang ia masak.
Tek.
“Iyah, maa. Ista pasti akan datang ke persidangan papa,” jawab Ista sambil mengetik.
Tek.
Tek.
Ista terus mengetik di komputernya.
Selesai Ista membuat dokumen-dokumen tentang pengetahuannya di kehidupan sebelumnya Ista kemudian bersandar di kursi yang Ista duduki sambil melihat ke luar jendela dengan melihat ke langit lalu berpikir dengan merenungkan sesuatu “apa yang harus aku lakukan terhadap Aka?.”
“Aku selalu membayanginya walaupun dia tidak ada di sini, tapi aku masih belum yakin dengan apa yang aku rasakan,” pikir Ista sambil duduk bersandar.
Ista merasa masalah ini belumlah berakhir kemudian kembali duduk dengan tegap sambil berkata dengan tatapan penuh ambisi “sudahlah, aku lebih baik mengurusi masalahku terlebih dahulu, Hika!. Lihat saja aku akan membalasmu.”
Beberapa saat kemudian.
Ista berdiri lalu berjalan keluar jendela kamarnya kemudian kembali memandangi langit dan berkata “apa hanya situasiku saja yang berubah, apa aku juga ikut berubah?. Sepertinya, aku tidak sama seperti di kehidupanku sebelumnya.”
Huffffttt.
Nafas dari Ista yang sedang berdiri di luar jendela.
Bu Ris sudah selesai mempersiapkan makanannya lalu pergi ke kamar untuk berganti pakaian dengan memakai pakaian yang sangat rapi kemudian berjalan menuju kamar Ista dan mengetok pintu kamar Ista.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Tok.
“Ista!, kamu mau ikut tidak ke persidangan papa?.” Kata bu Ris yang berada di luar kamar Ista.
Ista yang sedang berdiri di luar jendela mendengar teriak ibunya langsung berkata “iya maa, Ista ikut.”
Ista kemudian mempersiapkan dirinya dengan pergi ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian.
Kemudia Ista keluar dari kamarnya dengan berpakaian blazer lalu mendatangi ibunya.
“ma, Ista sudah siap,” kata Ista sambil merapikan bajunya dengan menarik bagian bawa baju ke bawah.
Bu Ris yang sedang menunggu Ista di kursi berkata “bentar, mama ambil tas makanan dulu.”
Saat bu Ris sudah membawa tas lalu berjalan bersama Ista keluar rumah, sesaat berada di luar rumah bu Ris menyadari bahwa terdapat hansaplast di wajah Ista.
Kemudian bu Ris berhenti berjalan lalu memegang dagu dari Ista yang berada di sampingnya dengan mengamati hansaplast tersebut dengan berkata “kenapa ada hansaplast, apa kamu terluka?.”
Ista merasa dagunya di amati ibunya, tidak ingin ia menjadi cemas akibat kejadian yang terjadi kemarin dengan berkata dengan sungguh-sungguh “tidak ada apa-apa ma, Ista cuman ingin bergaya menggunakan hansaplast.”
Bu Ris yang mempercayai Ista lalu kembali berjalan dengan berkata “tidak bagus menggunakan itu.”
Breemm.
Kemudian Ista dan bu Ris berangkat ke tempat pengadilan yang terletak di pusat kota untuk menangani kasus pak Zar menaiki motor.
...****************...
Sesampai di halaman depan pengadilan terdapat banyak sekali wartawan yang menunggu di pintu masuk pengadilan, agar mereka dapat meliput berita tentang perusahaan pak Zar mengenai kasus korupsi yang menimpanya.
Wartawan yang sedang menunggu pihak keluarga dari pak Zar untuk datang melihat bahwa mereka sudah tiba di pengadilan lalu berteriak “itu dia.”
Prrreeetttt.
Suara peluit.
Beberapa polisi kemudian menghalangi para wartawan yang ingin meliput berita.
Ista dan bu Ris lalu memasuki pengadilan saat berjalan menuju ruang sidang melihat bahwa di pintu masuk ruang sidang terdapat supir Aka yang sedang berbicara dengan pengacara pak Zar untuk memberikan sesuatu kepadanya.
Ista kemudian mendatanginya mereka lalu berkata dengan cemas kepada supir Aka. “apa yang sedang kamu lakukan di sini, di mana Aka?. Apakah dia belum sadarkan diri.”
Supir Aka yang mendengar perkataan Ista kemudian berhenti berbicara dengan pengacara pak Zar dan menoleh ke arah Ista untuk menjawab pertanyaan Ista “oh, bos. Dia masih tahap pemulihan di rumah sakit.”
Ista merasa bahwa Aka sedang beristirahat tetapi Ista tetap ingin berterima kasih kepadanya lalu bertanya kepada supir Aka “aku habis ini akan ke sana, apakah tidak apa-apa?.”
Supir Aka mendengar pertanyaan Ista sudah memperkirakan ini akan terjadi lalu menjawabnya “iya tidak apa-apa, bos bilang jika kamu ingin ke sana. Silahkan saja.”
“Baiklah,” jawab Ista.
Kemudian mereka memasuki ruang sidang.
Selesai persidangan pak Zar di nyatakan tidak bersalah di karenakan pengacaranya membawa bukti real soal keuangan perusahaan mengenai tudingan kasus korupsi yang di lakukan perusahaan pak Zar kepada salah satu pegawai kantor pajak untuk mengurangi pajak perusahaan.
Di luar ruang siang.
__ADS_1
Ista dan bu Ris sedang menunggu pak Zar untuk di bebaskan dari penahanan sementara di sebuah ruangan tunggu.
Breek.
Petugas sedang membukakan pintu untuk pak Zar keluar dari ruangan penahanan sementara.
Ista yang melihat ayahnya keluar langsung berlari dan memeluknya lalu berkata “pa!.”
Bu Ris yang melihat Ista memeluk ayahnya berkata “nak, sudah.”
Ista mendengar perkataan ibunya kemudian melepas pelukannya.
Bu Ris kemudian mendatangi suaminya dan memberikan tas yang di bawa olehnya lalu berkata “mas ini.”
“Apa ini?,” tanya pak Zar kepada istrinya dengan memegang sebuah tas yang di berikan olehnya.
“Makanan untuk di makan,” jawab bu Ris.
“Baiklah, ayo kita duduk terlebih dahulu sebelum pulang,” kata pak Zar dengan membawa sebuah tas.
Kemudian mereka duduk di tempat semula.
pak Zar bertanya kepada Ista yang berada di samping kanannya “apa yang terjadi padanya, aku mendengar dari pengacaraku, jika dia sedang di rawat di rumah sakit.”
Ista yang tidak ingin ayahnya dan ibunya khawatir soal kasus kemarin akhirnya harus berbohong dengan berkata “tidak terjadi apa-apa, dia salah makan kemarin, saat sedang makan bersamaku pa.”
Ista baru menyadari apa hubungan ayahnya dengan Aka kemudian bertanya “kenapa, papa sangat peduli dengannya, lalu apa maksud perkataan papa bahwa dia sangat mencemaskan ku?.”
Pak Zar mendengar perkataan Ista lalu tersenyum kepadanya sambil melihat ke Ista.
“Tunggu, apa ini,” kata pak Zar sambil mengamati hansaplast di wajah Ista.
“Ini merupakan sebuah gaya pa,”jawab Ista dengan percaya diri kepada ayahnya.
“Papa belum menjawab pertanyaan Ista!,” kata Ista dengan kesal kepada ayahnya kerena berusaha mengalihkan pembicaraan.
Kemudian menyadari bahwa Ista sudah harus mengetahui perbuatan Aka karena Aka lah yang membuat dirinya bisa di bebaskan lalu menjawab pertanyaan Ista yang sebelumnya “karena Aka telah banyak membantu papamu ini.”
Ahh.
Ista kaget mendengar perkataan ayahnya lalu berkata dengan nada yang keras “maksud papa, apa!. Jelaskan!.”
“Karena Aka yang menyelamatkan papamu dari bencana kemarin karena perbuatan paman...,” kata pak Zar kepada Ista.
Pak Zar menyadari bahwa ia telah salah berbicara lalu menutup mulutnya rapat-rapat.
“Aka, yang menyelamatkan papa. Tunggu maksud papa dengan paman, apa?,” ucap Ista yang duduk di samping ayahnya.
Ayahnya kemudian mengabaikan pertanyaan Ista dan berkata “ayoo, pulang.”
Lalu pak Zar berdiri dengan berjalan bersama bu Ris.
Ista melihat kedua orang tua nya lalu berpikir “paman?, pak Andy!. Yah semua ini mulai masuk akal, jika aku membayangi kehidupanku sebelumnya. Kenapa aku tidak kepikiran!, sepertinya papa mengatakan yang tidak harus di katakan karena posisi paman kedua lebih tinggi dari kita.”
Ista melihat orang tuanya berjalan semakin menjauh lalu berpikir “tenang saja, aku akan membalasnya. Pa,maa.”
Isa kemudian berdiri dan berteriak ke arah orang tuanya “Ista pergi ke rumah sakit dulu!!.”
Jangan lupa VLR (Vote,Like and Rate) nya yah.
__ADS_1