17 Years Old

17 Years Old
Second Time


__ADS_3

Menunggu hampir 15 menit guru matematika tidak kunjung datang, Gibran sebagai ketua kelas bertugas untuk mencari info ke ruang guru.


"Aileen temenin aku ke ruang guru yuk"


Ajak Gibran yang langsung menghampiri bangku Aileen. Aileen adalah wakil kelas fungsinya hampir sama seperti Gibran, menggantikan Gibran jika tidak hadir dan membantu tugas Gibran. Keduanya langsung berjalan beriringan keluar kelas sementara murid lainnya langsung disibukkan dengan mengobrol.


Murid perempuan sibuk bergosip dengan ponsel ditangan mereka, sedangkan murid laki-laki ada yang menjahili sebagian murid perempuan, ada yang mengobrol dan ada juga yang tidur.


Gibran dan Aileen mendapatkan info kalau guru matematika sedang ada keperluan dan memberikan tugas yang harus diselesaikan hari ini juga.


Pontang-panting kata yang tepat untuk menggambarkan murid kelas IPA-1 saat salah satu muridnya melihat dari balik jendela jika Gibran dan Aileen sudah kembali ke kelas. Mereka langsung duduk di bangkunya dan menyangka jika mereka datang bersama guru.


"Guys ibu nya ga masuk, "


Belum saja Gibran menyelesaikan perkataannya tapi sudah dipotong oleh teriakan kegembiraan dari seluruh penghuni sekolah.


"Hey! Hey! Hey! Jangan seneng dulu, tapi ada tugas ya dari ibu harus diberesin hari ini juga"


Itu bukan masalah yang terpenting mereka bisa sambil mengobrol atau melakukan aktivitas lain saat mengerjakan tugas, yang penting tugasnya beres.


Gibran kembali ke bangkunya sedangkan Aileen menulis di papan tulis sebagai keterangan jika mereka harus mengerjakan soal latihan dari buku paket halaman 15-18.


Murid perempuan di jajaran bangku Aileen berkumpul di salah satu meja untuk mengerjakan tugas bersama sebari bergosip. Meja kotak itu sebutannya, selalu mengadakan pertemuan di jam seperti ini saat guru tidak bisa hadir. Aileen langsung bergabung, hanya dengan membalikkan arah kursinya kebelakang.


Multitasking sekali semua murid perempuan disini mengerjakan tugas matematika sambil bergosip,


"Eh iya Aileen kamu masih pacaran sama Argi kan? "


Tanya salah satu orang temannya dan dijawab oleh anggukan oleh Aileen


"Eh tapi kemarin aku liat postingan si Argi di twt" sambar Tyas dan langsung mengambil ponselnya yang tadi dia taruh di meja.


"Aduh mana ya semoga masih ada postingannya" Tyas tampak gelisah.


"Kamvret si Argi udah dihapus kayanya" Tyas langsung menaruh kasar ponselnya.


"Aku kira kamu udah putus sama Argi, kemarin malem itu si Argi posting foto cewe terus captionnya gitu lah. Bio nya juga siapa sih nama cewe nya. Mutti"


Jelas Tyas pada pertemuan meja kotak kali ini, disambut oleh beberapa teman nya yang membenarkan hal itu.


"Aduh gw nyesel banget engga sempet screen shoot" keluh Tyas.


Tyas bahkan bertanya pada teman yang lain ada yang sempat meng-capture nya, tapi tidak ada satupun.


Aileen benar-benar kesal, dimana dia berusaha membuka hati dan menerima Argi tapi pemuda itu malah mempermainkannya. Walaupun Aileen sampai saat ini belum memiliki perasaan pada Argi tapi tetap saja jika dihianati seperti ini perasaannya tetap terasa menyakitkan.

__ADS_1


"Argi"


Seuruan Aileen membuat seisi kelas tersontak kaget


"Kenapa sayang?"


Argi yang juga tengah berkumpul disudut kelas bersama teman-temannya menyaut dari tempat,


"Kita putus"


Penghuni kelas dibuat kaget kembali saat mendengar hal itu, Aileen dengan tenang dia malah melanjutkan mengerjakan tugas tapi tidak pada Argi dia masih mematung ditempat.


"Iya Bagus Aileen, buaya kaya dia ga pantes dapetin kamu" Tyas menepuk bahu Aileen merasa bangga atas keputusan teman dekatnya itu.


Bagi Aileen sudah cukup ini semua, tidak ada kesempatan lainnya dia tidak akan merasa bersalah atau menyesal atas keputusannya kali ini.


"Aileen tapi kenapa? "


Argi kali ini menghampiri meja Aileen dengan muka pucatnya,


"Pake nanya kenapa lu? Ga sadar lu semalem ngobrol di twt sama cewe lain. Itu mantan kamu kan"


Argi panik jika tenyata teman nya sudah mengetahui hal yang dia lakukan semalam dengan mantan kekasihnya.


"Aku sama Tiara itu sebatas mantan aja ga lebih kok Aileen" jelas Argi


"Aku hapus takut ada yang salah paham"


"Kalau ga mau ada salah paham harus nya lu ga mulai apapun Argi" kali ini Aruna yang berpendapat.


Aileen hanya terdiam dia benar-benar tidak menyangka jika Argi akan berbuat seperti ini,


Seorang guru datang membuat Argi tidak bisa membela dirinya, kembali ke tempatnya dengan rasa penyesalan.


...🏫🏫🏫...


"Leen aku sama sekali ga ada maksud buat nyelingkuhin kamu, apalagi nyakitin kamu, aku juga -"


Argi mengejar Aileen yang keluar kelas bersama Gibran untuk mengembalikan buku ke perpus. Namun Aileen tidak menggubrisnya dia terus berjalan,


"Udah cukup Gi, kamu urus aja perempuan itu"


"Gua bilang gua gak mau putus sama lu!!"


Bentakan Argi yang keras membuat Aileen tersentak.

__ADS_1


"Ikut aku,"


Argi yang dari tadi menunggu Aileen di depan Perpustakaan,


"Lepasin Gi! Argi!!!"


"Berhenti bicara keras sama gua!!"


Suara Argi lebih keras dari sebelumnya ia membentak Aileen, cengkraman Argi cukup kuat ditangan Aileen, hendak menyeret nya. Tapi di tahan oleh tangan seseorang.


"Lepasin dia,"


"Lu jangan ikut campur, ini urusan gw sama Aileen,"


Pria itu menarik Aileen kedekatnya, menyembunyikan gadis itu dibalik punggunya.


Air mata Aileen keluar begitu saja, Seumur hidupnya dia belum pernah di bentak orang lain, dan Argi orang pertama yang melakukan itu.


"Gua biarin lu deket sama Aileen bukan buat nyakitin dia kaya gini Gi,"


"Bukan urusan lu Gibran,"


"Sekarang jadi urusan Gua karena dia bukan lagi pacar lu,"


Gibran merangkul Aileen dan membawanya menjauh dari Argi. Argi yang kesal menendang tong sampah yang ada di dekatnya, membuat isi di dalamnya bertumpah ruah. Sedetik kemudian Argi mendapat teguran dari pihak sekolah dan dia disuruh untuk membersihkan sampah-sampah tersebut.


...🏫🏫🏫...


"Kamu duluan aja ke kelas" pinta Aileen.


Tapi pria itu mana tega meninggalkan Aileen dan membiarkan gadis itu sendirian. Aileen masuk kedalam kamar mandi di lantai bawah, untuk sedikit menenangkan dirinya. Sedangkan Gibran menunggunya di depan pintu kamar mandi. Walaupun dia tidak bisa ikut masuk dan menenangkan Aileen.


Di depan wastafel kamar mandi dengan cermin yang cukup besar Aileen melihat pantulan dirinya. Dia masih tetap menangis, terlihat matanya sudah mulai sembab. Mengepalkan tangannya kuat, meremas rok seragamnya untuk meluapkan rasa kesalnya.


"Udah dong Aileen kenapa cengeng banget sihh," dia mulai kesal dengan air yang terus keluar dari matanya.


Helaan nafas beratnya terdengar lirih. Aileen membasuh wajahnya dengan air, berharap bisa sedikit mengurangi sembab di wajahnya.


Dia mencoba tersenyum sebelum keluar kamar mandi, pasti Gibran mengkhawatirkan dirinya. Karena selama dia di kamar mandi pria itu beberapa kali mengetuk pintu dan teriak memanggil namanya.


"Gibran kamu mau ngapain ?" tanya Aileen dengan menahan tawanya.


Dengan tampang bodohnya bukannya menjawab, Gibran malah mematung dengan posisi yang masih sama saat Aileen melihatnya, Posisi dengan ancang-ancang akan mendobrak pintu.


"Aku kira kamu pingsan di dalem," masih dengan nada khawatir tapi kini Gibran mendekati Aileen.

__ADS_1


"Aku baik-baik aja kok, maaf ya lama"


Ada rasa lega di dalam hati Gibran. Dia tersenyum dan mengelus pelan puncak kepala Aileen dengan lembut.


__ADS_2