
Aileen sibuk memperhatikan Tyas dan Aruna yang sedang bercengkrama di balkon yang menghadap langsung ke lapangan. Mulut mereka berdua tak henti saling bersautan membahas soal Jamal, dan mengabaikan Aileen yang tengah sibuk dengan pikirannya bertanya soal kesalahannya pada diri sendiri tentang sikapnya yang terkesan dingin pada Juna sampai membuat kekasihnya itu memutuskan hubungan mereka.
"Itu Aileen kenapa dari tadi diem mulu ?"
"Ya mana gw tau Tyas,"
Mereka berdua lalu fokus pada temannya. Menatap Aileen yang duduk di bangku panjang depan kelas, tengah termenung entah memikirkan apa, mereka lalu duduk di bangku dengan Aileen yang berada di tengah. Gadis itu masih belum sadar dengan keberadaan dua temannya itu.
"Aileen ? kamu kenapa diem aja ?" tanya Tyas, menepuk bahu temannya itu pelan.
"Hah?! eoh, aku ga kenapa kenapa kok,"
"Lagi berantem sama kak Juna ??"
Aruna bertanya tidak yakin. Kemarin dia sempat melihat Aileen sedang berbicara dengan Juna, ia ingat wajah keduanya terlihat serius saat sedang mengobrol saat itu.
Aileen langsung tertunduk. Mulutnya yang tadi tersenyum ke arah Tyas agar temannya itu tidak khawatir memudar begitu saja.
*
*
*
"Seorang Arjuna Dirgantara ngomong kaya gitu?"
"Kamu serius Leen, kok kak Juna gitu sih?" sewot Tyas
"Sikap aku salah ya selama ini sama dia?"
"Tapi kan kamu udah jelasin alasan kamu Leen, dia aja yang salah paham," ucap Tyas mencoba menenangkan.
Aruna memasang wajah kesalnya, "Waras warasnya tu cowo kemakan omongan netijen," ucapannya membuat Tyas menaikkan satu alisnya. Dia sama kesalnya dengan Aruna. Bisa bisanya ketua osis dengan banyak prestasi itu termakan omongan orang lain tanpa menganalisis terlebih dahulu kebenarannya. Terlalu pencemburu.
"Aku udah ngecewain orang yang aku sayang karena sikap aku,"
Kalimat menyalahkan diri sendiri itu keluar dari mulut Aileen. Sikap dia yang memberi sedikit jarak dengan Juna agar menghentikan pembicaraan soal mereka justru dianggap lain oleh Arjuna, kedekatannya dengan Azka ternyata membuat Arjuna memikirkan hal lain, seharusnya Aileen tau lebih awal kalau itu membuat Juna cemburu.
Tyas dan Aruna hanya bisa menenangkan Aileen dengan mengelus pundaknya, mereka berdua mencoba menahan kekesalan agar kalimat pedas tidak keluar di situasi seperti sekarang. Mereka hanya berharap semoga saja kabar ini tidak sampai ke telinga 'Si Cepu' , Aileen bisa jadi bahan gosip lagi kalau itu terjadi.
...🏫🏫🏫...
"Kamu kenapa ?"
__ADS_1
"Kakak nanya sama aku ?" tanya Aruna menunjuk dirinya sendiri.
"Iya."
Aruna heran. Dia memiringkan kepalanya dan menatap wajah orang dihadapannya sekarang. Kakak kelas yang biasanya hanya diam yang bahkan keberadaannya jarang diketahui orang mengajaknya berbicara lebih dulu, dan lagi dia bertanya 'kenapa ?'
"Lupain pertanyaan saya tadi,"
"Eh ?!"
Axel baru sadar kenapa dia bertanya pada gadis dihadapannya ini. Dan sejak kapan dirinya peduli dengan apa yang terjadi dengan orang lain.
Ya memang mereka tidak berteman tapi karena sering bertemu di perpustakaan saat jam istirahat kedua atau jam pulang, pemuda itu sudah merasa tidak asing dengan kehadiran Aruna. Dia juga tidak merasa canggung tau risih saat gadis itu dihadapannya. Tapi hari ini gadis di hadapannya ini berbeda, dari raut wajahnya seperti sedang menahan marah. Terlihat dari tadi dia terus menggerutu tidak jelas, itu kenapa tiba tiba saja mulutnya melontarkan pertanyaan tadi.
"Jangan gitu dong kak aku mau jawab nih,"
Axel melihat gadis itu setelahnya mengangguk memberi isyarat kalau dia akan mendengarkannya.
"Aku tuh lagi kesel, rasanya pengen ngebom pala tu orang,"
Aruna mendengus kesal. Yang tadinya dia menyenderkan punggung ke kursi sejarang mencondongkan badannya, menatap Axel lekat.
"Kakak cowo kan,"
Sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak usah dilontarkan. Apa Axel terlihat cantik dimatanya sampai dia bertanya seperti itu.
"Baru di putusin ??"
"Bukan aku, tapi temen aku yang diputusin,"
Aruna menceritakaan semua yang terjadi pada temannya tanpa menyebutkan nama.
"Menurut kakak gimana ??"
Aruna kembali menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia menggaruk kepala bagian belakanya, kenapa malah dia yang lebih emosi dari Aileen.
"Saya ga tertarik sama percintaan,"
"Eh ?? masa??"
"Mencintai, dicintai, itu cuman buang buang waktu sama tenaga,"
"Ini kakak serius nih? emang kakak ga pernah jatuh cinta ?" tanya Aruna penasaran. Pemuda tampan di hadapannya ini tidak tertarik dengan cinta, percuma saja dia punya paras tampan yang hanya terasa sia sia saja jika dia tidak menggunakannya untuk menarik para gadis.
__ADS_1
"Cinta sejati itu cuman ada di novel fiksi, dan saya rasa pacar temen kamu itu beranggapan kalau dia mencintai orang yang mencintai orang lain,"
"Malapetaka di percintaan," jelas Axel.
"Serem banget bahasanya, kakak bisa nyebut itu cinta bertepuk sebelah tangan aja,"
Aruna menatap Axel dengan senyum di wajahnya, ini pertama kalinya mereka mengobrol lama. Sampai orang yang membuat gadis itu kesal masuk ke perpustakaan dan membuat emosinya memuncak lagi.
Sifatnya yang memang seperti air yang akan terbawa arus saat emosi. Dengan sengaja dia menyandung kaki Arjuna yang sedang membawa tumpukan buku paket dengan kakinya.
BUG!!
Akibatnya Arjuna jatuh tersungkur, membuat teman yang berjalan di belakangnya pun ikut terjatuh menimpa Arjuna.
Si pelaku malah terkekeh terlebih dulu sebelum, "Ya ampun kak Juna ," Aruna membantu memunguti buku yang jatuh.
"Ga kenapa kenapa kak ?" tanya gadis itu sok peduli.
Arjuna menjawabnya dengan angukan memberi tahu kalau dia baik baik saja. Tanpa tau kalau adik kelasnya ini tengah tertawa puas.
"Lu kesandung apaan Juna,"
"Engga tau Ndra"
Teman Arjuna yang tadi ikut terjatuh melihat sekitar, tidak ada lantai berlubang atau apapun itu yang bisa menyebabkan temannya sampai terjatuh. Lalu pemuda beranama Andra itu melirik Aruna dengan muka merah padam menahan ketawa.
"Kamu yang sengaja nyandung kaki Juna kan ?!" tuduh Andra dibarengi dengan tangan yang menunjuk wajah Aruna.
"Dih apaan? kok jadi aku ?"
"Tadi saya liat kamu cengengesan ya,"
"Ndar udah tadi gua ga hati hati aja," lerai Arjuna.
"Aku nahan ketawa ya karena tadi kejadiannya depan mata aku, Siapa yang ga ketawa liat orang jatoh tumpuk tumpukan kaya tadi. Lawak tau,"
"Ga sopan bukannya minta maaf,"
"Andra udah lu ga malu diliatin orang,"
"Tuh denger, muka kaya es sih jadi beku ga tau malu nuduh orang sembarangan," ujar Aruna mengambil novel bacaannya.
"Aku cabut duluan ya kak," pamitnya pada Axel.
__ADS_1
"Dasar muka es," ucap Aruna sebelum benar benar keluar dari perpustakaan. Membuat Andra melongo mendengarnya.
"Tuh anak siapa sih? tengil banget,"