17 Years Old

17 Years Old
Oh NO!


__ADS_3

Aruna menatap lekat setiap kata yang tercetak di novel yang ia pegang di tangannya. Membaca lembar demi lembar dengan khidmat setiap cerita tentang si tokoh utama dalam buku yang menarik untuk dibaca pada setiap bagiannya. Kecintaan gadis ini terhadap novel bisa membuatnya membaca 3 judul novel berbeda dalam satu hari, tak jarang dia akan tidur larut hanya untuk menyelesaikan bacaanya. Berbeda dengan buku pelajaran, dia akan langsung merasa mengantuk hanya karena membaca judulnya saja. Beruntung baginya karena tuhan memberi kecerdasan di atas kemalasanya terhadap pelajaran.


Setiap pulang sekolah dia akan ke perpus untuk mengembalikan buku dan meminjam buku yang lain untuk dibacanya. Seperti sekarang, dia tengah asik membaca novel di perpus dengan posisi menghadap jendela duduk di kursi yang tersedia disana. Dia sedang tidak membolos pelajar, hari ini berkat keberuntungan dari otak pintarnya dia di perbolehkan keluar kelas setelah lebih dulu menyelesaikan soal matematika dengan nilai sempurna. Bukan hanya dirinya Aileen juga tapi temannya itu lebih memilih tetap diam di kelas.


"Ukhhh~"


Aruna menoleh saat suara lengguhan itu terdengar, suaranya sayup tertutup oleh suara derasnya hujan di luar. Di tambah langit sore ini terbilang mencekam karena mendung, tidak lucu jika itu suara hantu penghuni sekolah.


Apa jangan-jangan mantra pemanggil arwah yang ada di novel horor yang sedang Aruna baca itu bereaksi dengan hantu yang ada di sekolahnya ini. Tanya Aruna dalam hati.


Jangan sampai karena kebodohanya malah menyebabkan terjadinya kesurupan masal. Gumamnya Aruna kembali.


"Ehhmm siapa ya?" tanya Aruna ragu. Dia berharap kalaupun ada yang menyaut panggilanya itu adalah manusia.


Hening


Tidak ada sautan, padahal Aruna mendengar dengan jelas lengguhan tadi. Suara yang lemat tapi ia yakini kalau itu dari pita suara laki-laki.


Apa mitos kalau sekolahnya bekas lahan kuburan itu benar adanya?


Menunggu beberapa saat, tidak ada suara lain selain derus nafasnya. Aruna menenangkan dirinya dengan mencoba berpikir positif mungkin saja itu suara binatang walaupun itu sedikit mustahil.


"Ya tuhan," cicit Aruna.


Gadis itu membekap mulutnya sendiri saat suara decitan terdengar dari lemari di paling pojok. Imajinasinya mulai liar, ada dua hal yang dipikirkanya. Yang pertama itu suara hantu yang sedang mengerjainya dan yang kedua ada murid lain yang sedang melakukan hal nakal dan bersembunyi disana. Otaknya memang sudah terkontaminasi, jauh dari kata suci.


Tanpa disadari Aruna, ada seseorang yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Memperhatikan gerak gerik dirinya yang tampak kebingungan, seperti mencari sesuatu. Kali ini si pemuda mendekati gadis itu, mengulurkan tangannya sekedar menepuk bahu gadis di hadapannya.


"Sedang apa ??" tanya pemuda itu cukup pelan.


"Astaga!"


Aruna yang tengah mengendap-endap mencari suara lengguhan tadi itu terlonjak kaget. Ia memutar tubuhnya cepat, "Kak Axel," ucapnya saat melihat orang yang tengah berdiri dengan tampang bingungnya.


"Gadis toilet."


Raut muka yang tadinya kaget berubah seketika menjadi datar saat mendengar panggilan kakak kelasnya itu.


"Panggilannya gitu banget," ucap Aruna datar.


"Namaku Arunika, panggil aku Aruna aja kalo kepanjangan. Jangan gadis toilet, kaya nama hantu tau" jelas Aruna menunjukan pin nama yang terdapat di jas seragamnya dan nada bicaranya pun terdengar kesal.


"Maaf," Ucap Axel tapi matanya melihat ke belakang tubuh Aruna.


Aruna mengikuti arah pandang Axel tanpa di perintah. "Cari siapa kak?" tanyanya.


"Jamal, kamu lihat dia?" jawab Axel melihat gadis yang lebih pendek dari dia.


"Kak Jamal ?? dari tadi aku disini , ga lihat ada orang masuk tuh,"


"Kemana lagi dia," guman Axel tapi masih dapat di dengar oleh Aruna.


Pemuda itu ke perpustakaan karena di mintai tolong gurunya untuk memanggil Jamal, teman berparas bule itu sedang di hukum untuk membereskan buku yang baru datang karena dia kedapatan asik memainkan ponselnya dan berselancar di aplikasi burung berkicau saat jam pelajaran. Tapi dari pelajaran ke 4 sampai hampir jam pulang Jamal belum juga kembali ke kelasnya.


"Uhhh sayang~" lengguhan itu lagi tiba-tiba terdengar namun kali ini sedikit erotis.


"Kakak denger itu kan?" tanya Aruna memastikan. Bukan jawaban tapi Axel justru berjalan ke sumber suara.


"Ihh bolot ya dia," dumel Aruna.


Tapi akhirnya gadis itu mengikuti langkah Axel, dia juga penasaran akan suara apa itu. Mereka berjalan ke arah paling pojok dan gelap, rak bagian arsip sekolah yang jarang di datangi siswa.


Axel menyapukan pandanganya pada satu objek yang tengah tertidur dengan posisi yang sangat tidak nyaman, tangan orang itu tengah memeluk beberapa buku tebal dengan posisi menghadap ke kanan, dengan kaki kiri yang di sangkutkan pada rak, kalau saja orang itu punya kebiasaan tidur yang tidak mau diam mungkin dia sudah di pastikan akan mati tertimpa rak yang akan jatuh karena tendangan kakinya.


"Euhhh~"


"Kak Ja-," dengan gerakan cepat Axel menutup mata Aruna, membalikan badan gadis itu ke arahnya.


"Ihh tanganya bau karet," Aruna menepis tangan Axel. Tapi detik berikutnya dia terpaku, dengan wajah tampan dan kulit putih yang dimiliki Axel semakin bertambah saat kacamata juga bertengger di hidung mancungnya.

__ADS_1


"Jangan lihat kebelakang," ucap Axel seperti perintah di telinga Aruna.


Pemuda itu menghampiri Jamal, mencoba membangunkan teman yang ia cari. Bukan dengan menepuk pipi pria itu, Axel malah menarik kedua tangan Jamal membuat badan pria itu terangkat setelah itu menjatuhkannya cukup keras.


"Weh gempa," Jamal terlonjat.


Ia yang merasa nyawanya belum terkumpul negedarkan pandanganya ke setiap sudut, tidak ada buku yang berjatuhan atau decitan rak ataupun lampu gantung yang bergoyang. Tapi kenapa ia merasa tubuhnya terasa terhempas.


"Tadi gempa kan ?" tanya Jamal pada Axel.


"Bukan, ke kelas pak tatang udah nungguin," ujar Axel berlalu lebih dulu.


"Ehh tapi tadi gempakan?," kali ini Jamal bertanya pada Aruna dan membuat adik kelasnya itu melihat ke arahnya.


"Gempa ?? eng- ihhh kak Jamal ngompol yaa??" tanpa diperintah telunjuk Aruna menunjuk celana Jamal yang memang basah.


Jamal melihat arah tunjuk Aruna, merasa bingung dia hanya menutup bagian basah dengan tangannya.


"Engga gua kaga ngompol jangan sembarangan ya lu," kilah Jamal.


"Kalau mimpi basah di rumah jangan si perpus kak,"


Axel yang belum jauh terkekeh mendengar hal itu, bukan kah itu terlalu frontal untuk di ucapkan apalagi oleh seorang gadis.


Aileen menghampiri Aruna di perpustakaan bermaksud untuk memberi info jika kelas akan selesai jadi dia harus kembali kedalam kelas.


Aileen tidak sengaja berpapasan dengan Jamal di koridor dengan gelagat yang sedikit aneh tapi entah apa itu.


"Aruna"


Panggil Aileen saat melihat Aruna yang sedang berjalan keluar dari salah satu lorong rak perpustakaan.


"Ayo balik ke kelas udah mau beres jam nya, kita pulang"


Dengan menentang dua buah novel baru yang ia pinjam, Aruna berjalan disamping Aileen.


Berbincang kecil membahas rekomendasi novel apa yang bisa Aileen baca,


Hujan tak kunjung reda membuat sebagian siswa memilih untuk berdiam di kelas, karena tidak membawa jas hujan ataupun payung.


Aruna sudah lebih dulu pulang karena orang tua nya sudah menjemputnya, satu persatu siswa mulai meninggalkan sekolah karena hujan sudah mulai reda begitu juga Tyas dia nekad akan berlari saja karena hari sudah mulai gelap ditambah langit yang mendung.


Hanya ada lima orang siswa di dalam kelas dan semua laki-laki hanya Aileen sendiri perempuan. Azka bisa saja pulang tapi dia tidak tega meninggalkan Aileen bersama teman laki-laki lainnya. Mengingat tak jarang Azka juga melihat jika Aileen suka diperlakukan kurang menyenangkan, seperti catcalling yang pastinya itu sangat mengganggu.


Jangan kalian pikir menjadi idola dikalangan laki-laki itu enak, mungkin untuk sebagian orang itu akan terlihat menyenangkan nyatanya tidak sama sekali.


"Mumpung reda kamu mau pulang kan, udah sana"


Aileen meminta Azka untuk pulang lebih dulu, tapi Azka bersikeras dia akan pulang jika Aileen sudah dijemput oleh ayahnya.


Terjadi perdebatan kecil diantara mereka dan berakhir dengan kata keramat bagi setiap kaum lelaki yang akan terdengar mengerikan jika itu keluar dari mulut seorang perempuan tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah kata "terserah".


Aileen mengulurkan tangannya, telapaknya dibasahi air hujan yang turun dari atap sekolah. Hujan kembali turun lebih deras dari sebelumnya, membuat telapak Aileen sudah digenangi air.


Mereka tengah ada di balkon depan kelasnya, mengobrol hanya berdua sedangkan teman yang lain sedang tertidur di dalam kelas.


"Kamu ada twitter kan, kok sata liat bio kamu masih polos aja"


Aileen hanya terdiam dia belum menangkap sepenuhnya tentang topik yang kali ini berubah dari yang sebelumnya membahas tentang makanan.


"Bio kamu loh Aileen, saya liat bio nya kak Juna tuh ada nama kamu mana pake emoji love lagi"


Azka yang berdiri tepat di samping Aileen kali ini ikut mengulurkan tangannya sama persis yang sedang Aileen lakukan.


"Emang harus ya?"


Aileen masih belum mengerti betul tren anak seumur mereka jika bermain aplikasi tersebut, bahkan Aileen terlihat sangat kuno tidak sebanding dengan parasnya yang memancarkan aura anak trendi.


"Ya engga juga sih tapi nih ya biasanya kalau yang pacaran tuh sama sama punya twt, bio nya pasti nama pasangannya gitu loh"

__ADS_1


"Oh~ tapi kak Juna ga pernah minta aku suruh pasang nama dia di bio nya kok"


"Ya ampun Aileen"


Terlihat sangat jelas jika Aileen ini baru pertama kali pacaran, dia benar-benar sangat polos.


"Alay tau" celetuk Aileen.


"Engga juga sih soalnya rata-rata semua orang kaya gitu tau, asal masih wajar sih ya normal aja kalau udah lebay baru. Takutnya kak Juna malah merasa engga dianggap sama kamu tau"


Aileen merasa heran dengan yang baru saja dia dengar, mana bisa seseorang merasa tidak dianggap hanya karena bio akun media sosial.


Bagi Aileen rasa sayang nya tidak perlu dia publis, ketulusan dan kepercayaan itu yang terpenting dalam sebuah hubungan.


Tapi Aileen juga tidak menyangkal bisa saja hal seperti itu bisa terjadi,


"Iya ntar aku pasang deh nama kak Juna di bio, Arjuna Dirgantara pake lope - lope sekalian"


Bukan sebuah kata yang menjadi respon dari Azka,


Plak


Azka menepuk punggung tangan Aileen membuat air yang mengenang di telapak tangannya menciprati wajahnya.


Gelak tawa dari Azka membuat Aileen ingin membalas dendam pada pemuda yang sering kali menjahili nya.


Aileen menadahkan kedua tangannya menampung air untuk dia siram pada wajah Azka.


Perang air hujan aktivitas yang kini Aileen dan Azka lakukan. Ukuran tangan yang berbeda dari keduanya membuat Azka lebih unggul dia sudah membuat seluruh wajah Aileen basah kuyup bahkan poni panjangnya sudah dibuat lepek, jaket yang Aileen gunakan juga sudah agak basah.


Aileen yang tidak terima karena Azka membuatnya basah kuyup kini mengambil botol minumnya yang sudah kosong. Menampung air hujan untuk dia siramkan


"Ih curang kamu" lirih Azka


"Awas ya kamu liat aja"


Azka seketika lari masuk ke dalam kelas, bersembunyi di pojok kelas dengan tas sebagai tamengnya.


Dengan botol yang sudah terisi penuh Aileen masuk kedalam kelas, niat hati menghampiri Azka dipojok kelas tapi urung karena melihat hoodie hitam milih Azka yang tergeletak di atas meja nya.


Aileen dengan sigap mengambil hoodie tersebut dan rasanya dia ingin menumpahkan semua air di botol itu.


"Jangan Aileen jangan dong saya ntar pulang gimana, ini seragam aja udah basah loh sama kamu"


"Kamu pikir seragam aku ga basah apa"


"Tapi kan kamu itu pake jaket, ntar saya pulang gimana kedinginan pake seragam basah"


Aileen tidak menghiraukan, hanya perlu satu gerakan lagi untuk bisa menumpahkan isi air di dalam botol ke hoodie milik Azka.


Dengan menggosok tangannya Azka mengaku kalah dalam permainan ini dan meminta Aileen tidak sungguh-sungguh ingin membasahi hoodie miliknya.


"Oke satu kosong"


Aileen melempar hoodie tersebut pada pemiliknya,


Dering ponsel berbunyi dari dalam tas Aileen tertanda ayahnya sudah sampai di depan sekolah dan menunggunya di pos satpam yang ada di gerbang sekolah.


Aileen memberitahu pada Azka jika dia sudah dijemput dan itu artinya dia juga bisa pulang, tidak lupa berterima kasih pada Azka mau bagaimana pun dia sudah mau menemani nya sampai harus pulang telat.


"Pake ini nanti kamu masuk angin"


Azka memberikan hoodie nya pada Aileen. Azka merasa bersalah karena dia telah membuat Aileen jadi basah kuyup.


"Udah kamu aja yang pake"


Aileen menolaknya dia tahu jika Azka jauh lebih membutuhkan hoodie nya, dia tidak mau membuat temannya itu masuk angin karena pulang dengan seragam yang basah. Ada perasaan bersalah juga pada Aileen


"Udah pake cepet, badan kamu keliatan tau"

__ADS_1


Bisa dilihat cukup jelas tubuh Azka karena bahan seragam yang tipis ditambah dalam kondisi basah, membuat tubuh bidangnya terekspos.


Azka yang baru menyadari terburu-buru memakai hoodienya.


__ADS_2