
Seperti biasa, hari ini pun Aileen di antar oleh ayahnya. Bedanya kali ini bukan sampai depan gerbang saja tapi ayahnya juga ikut masuk kedalam gedung sekolah. Meminta ijin kepada guru piket agar anaknya di perbolehkan masuk kelas atas keterlambatannya. Sebenarnya ayahnya melarang anak gadisnya itu untuk tidak masuk ke sekolah harin. Karena tubuh Aileen yang sedang tidak fit karena demam, tapi putrinya itu memaksa agar tetap sekolah.
Aileen yang sudah mendapatkan izin dari guru piket diminta untuk segera masuk ke dalam kelasnya dan diperbolehkan menggunakan jaket. Aileen masuk ke dalam kelas, dia juga tidak lupa memberikan surat izin yang dia dapat dari guru piket untuk diberikan kepada guru yang mengejar di jam pertama.
Aileen duduk di bangkunya, dia melihat buku sejarah di mejanya. Senyumnya terukir, tanpa bertanya siapa orang yang menaruh buku ini dia tau dengan benar jika itu pasti dari Arjuna.
~ Bukunya buat kamu engga usah dikembaliin ya, semangat belajarnya ~
Sebuah catatan kecil yang Arjuna tulis di sticky note itu membuat senyum Aileen semakin merekah. Hal sederhana seperti ini terlihat menggemaskan bagi Aileen.
Aileen bisa langsung menggunakan buku pemberian Juna karena memang mata pelajaran pertama adalah sejarah.
...🏫🏫🏫...
Saat jam istirahat seperti biasa Aileen makan bersama Azka di kelas dan teman yang lain pergi ke kantin.
"Tadi pagi kak Juna bulak balik ke kelas tau nyariin kamu"
"Kenapa sakit maksain pake masuk segala sih"
Sambung Azka yang sekarang terlihat khawatir dengan Aileen,
"Bentar lagi ujian tengah semester aku ga mau ketinggalan pelajaran cuman karena sakit aku masih bisa bangun itu belum sakit namanya"
"Ishhh nanti makin parah gimana harusnya istirahat kamu tuh"
Aileen menyenggol tangan Azka pelan, yang tadinya baru saja Azka akan memasukkan sendoknya ke mulut. Alhasil tidak jadi karena perbuatan Aileen nasi dan lauk yang ada di sendok kembali masuk ke dalam kotak bekalnya.
"Apaan sih Leen" Azka memanyunkan bibir nya merasa sedikit dongkol.
"Kamu khawatirin aku ya"
Kini Aileen menatap Azka dan memasang muka manjanya, mencoba menggoda pemuda itu yang bisa dibilang akrab sama halnya Aruna dan Tyas.
"Engga sama sekali, saya nyesel ngomong gitu ke kamu"
Aileen tersenyum lebar, menurut nya Azka seperti anak sd jika yang sedang merajuk.
"Uh~ Arazka Devano. Ternyata care banget ya sama aku. Ntar pacar kamu di Aceh marah loh kalau kamu ternyata di Bandung malah deket sama cewe lain"
__ADS_1
Aileen dan Azka sangat akrab, tidak jarang Azka juga menceritakan soal dia saat di Aceh, kisah cintanya dengan kekasihnya yang harus LDR an dan hal tidak penting lainnya kadang juga Azka mengirimkan jokes tidak penting namun selalu berhasil membuat Aileen tertawa. Tidak ada perasaan lebih diantara keduanya ditambah mereka berdua masing-masing memiliki pasangan.
"Udah cepet habisin nanti malah dihinggapi lalat sakit perut kamu".
Baru saja bekalnya habis Arjuna ditemani Andra datang ke kelas Aileen. Sekedar bertanya tentang kondisinya karena saat dikantin Arjuna bertemu dengan Aruna dan Tyas dan memberi tahu jika Aileen sedang sakit.
"Nanti kumpulan osis kamu ga usah dateng ya langsung pulang aja, aku kasih izin"
"Tapi kak —"
"Iya Aileen kamu pulang aja nanti biar Juna yang izinin kamu ke guru pembina. Biar kamu istirahat"
Andra ikut berpendapat, dia juga merupakan anggota osis. Padahal ini rapat pertamanya setelah resmi jadi anggota osis tapi dia harus langsung izin, ya sudah mau bagaimana lagi.
...🏫🏫🏫...
Saat pelajaran olahraga Aileen tidak bisa ikut dia diminta untuk diam saja di uks sampai jam pelajarannya habis, sebagai gantinya dia harus menggambar macam-macam jenis lapangan.
Aileen duduk di meja ruang tunggu uks, kebetulan tidak ada anggota pmr yang berjaga karena sedang jam pelajaran jadi cuman dia seorang disana. Terasa sepi dan senyap membuat Aileen merinding, dia memutuskan mendengarkan lagu dengan earphone nya.
Asik dengan tugas nya dan sesekali bersenandung mengikuti alunan musik yang di dengarnya.
Tinggal satu gambar lagi lapangan yang cukup sulit di gambar, lapangan baseball.
"Manja baru juga jatoh segitu"
"Suruh siapa kamu dorong saya"
Azka di bopong Gibran dan teman sebangkunya masuk ke dalam ruang uks. Aileen yang ada di dalam langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri mereka,
"Kenapa? "
"Biasa lah anak baru bisa jalan bawaannya jatoh mulu"
"Tuh si Yogi dorong saya lagi main bola atau lagi rebutan sembako lu" omel Azka pada teman sebangkunya itu.
Azka meringis kesakitan saat duduk di ranjang uks, darah segar mengalir dari lututnya. Lukanya cukup besar karena dia jatuh tepat menimpa batu kerikil,
"Aku panggilin anak pmr dulu"
__ADS_1
Gibran dan Yogi keluar dari uks, sedangkan Aileen hanya melihat luka Azka dengan darah yang masih mengalir.
"Sakit ya"
Pernyataan yang seharusnya tidak dipertanyakan pada seseoarang yang sudah jelas-jelas sedang terluka.
"Engga kok Aileen biasa aja"
Memang Azka tidak tampak kesakitan tapi setidaknya dia pasti merasakan perih di lututnya. Tidak lama salah satu siswa yang merupakan anggota pmr masuk ke dalam uks langsung memberikan penanganan pada luka Azka.
Azka merasa kakinya kram mungkin karena efek lukanya.
Setelah luka Azka di obati, Aileen memutuskan untuk ke bilik sebelah. Bilik uks dipisahkan antar perempuan dan laki-laki, walaupun pemisahnya menggunakan triplek saja.
Bersandar di atas ranjang, masih berusaha menggambar lapangan baseball yang sempat tertunda karena insiden Azka.
"Aileen temenin saya dong disini, saya takut"
"Dih apaan sih Azka kamu tuh cowo ya masih penakut"
Jika digambarkan, mungkin kalau tidak ada triplek pembatas punggung mereka pasti sedang saling bersandar.
"Aku lagi bikin tugas jangan ganggu, ini juga aku temenin loh. Atau aku balik lagi ke ruang tamu aja ya biar kamu sendirian disini"
Ucap Aileen yang masih fokus dengan gambarannya yang tidak kunjung usai, bahkan kertasnya sudah lusuh karena Aileen terus menghapus nya.
"Azka~"
"Hey Azka kamu tidur ya"
Tidak ada jawabana dari Azka membuat Aileen menghentikan aktivitas menggambarnya.
"Arazka ga lucu ah~"
Aileen mulai ketakutan karena lawan bicaranya tidak kunjung merespon suasana uks yang dingin dan sepi membuat Aileen merinding dia hanya mendengar suara detikaan dari jam dinding.
Sampai akhirnya ada suara ketukan dari triplek pembatas yang membuat Aileen kaget karena tepat di telinga nya.
Aileen bangkit dari ranjang dan berlari ke arah pintu uks. Saat dia akan keluar suara tawa menggelegar memenuhi ruangan yang tidak begitu luas,
__ADS_1
Azka tertawa puas melihat Aileen yang ketakutan dengan raut wajah yang lucu bagi Azka, kapan lagi dia bisa liat wajah Aileen yang ketakutan seperti itu.
Aileen dibuat kesal, seharusnya dia tau jika itu perbuatan Azka.