
Pekan pertama ujian, sekolah ini punya kebijakan saat ujian akhir semester dimana dalam satu ruangan terdapat semua tingkatan.
Kelas 10 akan duduk bersama dengan kelas 11 dan siswa kelas 12 akan duduk sendiri dengan pola selang seling.
Aileen tidak menyangka jika biasanya suasana sepagi ini belum ramai tapi karena ini hari pertama ujian banyak sebagian siswa memilih datang lebih awal untuk mengetahui siapa kah yang menjadi pasangan mereka saat ujian. Siapa tau dia siswa pintar yang pasti bisa dimanfaatkan, siswa tampan atau cantik ya bisa caper gitu.
Aileen masuk dengan segan ke dalam ruang kelas karena disana sudah lebih banyak di dominasi oleh kakak kelasnya.
Saat Aileen mencoba mencari nomor pesertanya di setiap meja yang ada di dalam ruang kelas.
"Aileen kamu duduk sama aku"
Seorang pemuda berdiri tepat didepan gadis itu, Aileen mengarahkan pandangannya pada pemuda itu.
Aileen pun percaya dengan ucapan pemuda itu dan mengikuti arah jalannya menuju bangku mereka.
Barisan pertama paling pojok dekat tembok pinggir jendela kelas.
Aileen dipersilakan masuk karena dia yang kebagian di pojok,
"Aku dengar kakak kemarin sakit ya"
"Eh kok tau?"
"Dari Aruna, dia yang bantu kakak kan bawa ke uks"
Andra mengangguk pelan, sementara Argi secara kebetulan dia duduk tepat dibelakang bangkunya dengan teman sebangkunya Aditya.
Aileen sudah bisa membayangkan jika pasti waktu istirahat ujiannya bisa heboh karena Argi dan Adit ditempatkan ditempat yang sama untuk satu minggu kedepan.
...🏫🏫🏫...
Baru saja setengah hari Adit dan Argi ya mereka berdua sudah heboh, ada saja yang mereka bicarakan sementara itu saat Aileen sedang menertawakan tingkah konyol dua pemuda itu ditengah jam istirahatnya,
"Dosa apa gua Leen"
Aruna tiba-tiba menghampiri Aileen dibangkunya, dia duduk di kursi milik Andra.
"Kenapa sih?"
"Kenapa diantara siswa yang awalan namanya huruf A harus Arjuna yang duduk sama aku"
"Kamu duduk sama kak Juna?"
"Iya, kalau disuruh milih aku mending sama kak Adit deh"
Pemuda yang merasa namanya disebut itu langsung menyahut,
"Apaan sebut-sebut nama gua"
"Eh!? Itu aku rasanya mau deh duduk sama kakak"
"Gua duduk sama lu? Engga ah"
__ADS_1
"Aruna kamu engga boleh rebut kak Adit dari aku"
Argi sudah mulai bermain drama lagi dan bagai gayung bersambut Adit malah menanggapi drama itu
"Iya jangan pisahkan kami"
Aileen cekikikan melihat tingkah konyol mereka sedangkan Aruna menatapnya heran dengan tingkah mereka yang begitu mirip.
Aileen mendengar setiap keluhan Aruna, bagaimana sulitnya dia menahan amarahnya setiap kali dekat dengan Arjuna. Dia masih kesal dengan sikap Arjuna pada Aileen, dia masih saja tidak habis pikir dengannya.
"Belum aja sehari loh Leen"
"Aruna itu kan udah kejadian hampir sebulan yang lalu, aku juga udah engga mikirin dia lagi"
"Tapi engga tau bawaanya aku tuh pengen ngeremes mukanya gitu, kenapa sih harus dia orangnya"
"Karena nama kamu kaya anak kembar sama dia tau, Arjuna dan Aruna. Ya kan?"
"Engga ya, walaupun dia punya tampang dan aku dulu kagum sama dia sekarang engga ya aku tarik omongan aku"
Aileen hanya tersenyum melihat Aruna yang sampai segitunya pada Arjuna, Aileen tidak begitu memperlihatkan rasa kecewanya pada Arjuna lagian itu sudah pilihan Arjuna.
Tyas masuk ke kelas dengan wajah kebingungan mencari keberadaan dua teman dekatnya.
"Hey hey kita disini"
Tyas langsung berlari kecil menghampiri,
"Apaan sih tiba-tiba kak Jamal"
"Kenapa lagi dia?"
"Masa dia baru tau nama gua"
"Hah!?"
"Iya nama lengkap gua Safellyn dia baru tau"
"Ya terus kenapa kan dia dari awal kenal kamu juga Tyas"
"Dia ngejek aku, dia satu bangku sama aku tau"
Tyas kini sedang melakukan reka adengan, karena Tyas ada di ruangan ujian yang berbeda
"Eh ngapain lu disini"
"Masa gua dikatain gitu pas tadi pagi, gua duduk dibangku gua padahal pake ngusir pula"
"Hush sana jauh jauh"
"Apaan sih kak, orang ini tempat duduk aku"
"Lu engga bisa baca apa nih nama orang yang duduk sama gua itu Safellyn bukan Tyas"
__ADS_1
"Iya ini Safelly tuh gua"
"Mana ada jangan ngaco lu, Safellyn pasti cantik perfect pokoknya bukan produk bantet kaya lu"
"Apa lu kata pagi-pagi udah ngajak ribut ya"
"Dih emosian banget udah sana keburu Safellyn yang sesungguhnya dateng malu lu ntar"
"Gua harus nyodorin kartu nama gua dulu depan muka dia baru percaya, nyeselin kan"
Aileen dan Aruna tertawa, mereka kagum dengan Tyas yang bahkan mengingat setiap kata yang terucap oleh Jamal.
...🏫🏫🏫...
"Akhirnya selesai juga"
Ujar Tyas sambil meregangkan badannya, Tyas sesekali menatap Jamal disampingnya yang diam-diam sedang memainkan game di nintendo nya.
Dasar berand***n, itulah kira-kira isi pikiran Tyas tiap kali melihat Jamal dengan kelakuan nya yang sering mengabaikan peraturan sekolah. Seperti sekarang ini, semua orang sibuk mengerjakan soal ujian dan jamal dengan santai malah bermain game.
"Gua tau kok gua ganteng, gak usah ngeliatin kek gitu juga kali"
Perkataan Jamal sontak membuat lamunan Tyas buyar, Tyas pun menggelengkan kepalanya dan dengan spontan berkata,
"Bukan, itu kak aku liat ada kutu dirambut kakak tadi"
"Eh, serius ?!" Tanya Jamal
Tyas hanya mengangguk sebagai jawaban. Jamal yang melihatnya langsung mengambil tas, meletakkanya dipaha Tyas dan menidurkan kepalanya dengan tujuan agar Tyas segera mencari benalu yang ada dirambutnya.
"Cari yang bener ya cil, sampe ketemu" perintah Jamal dengan santainya.
"Kakak nyuruh, minta tolong, apa ngejajah sih" gerutu Tyas
Tanpa pikir panjang, Tyas langsung mencari "kutu" yang ia bilang tadi, sebenernya alasan kutu itu hanya akal-akalan Tyas agar jamal berhenti mengatakan dirinya tampan. Meskipun nyatanya memang, Jamal tampan.
"Kak"
"Hm?"
"Kapan terakhir kakak keramas? Banyak kali sampah dirambut kakak nih" ujar Tyas dengan polosnya dan tanpa sadar menaikan nada suara nya, alhasil seluruh kelas langsung melihat kearah meja Tyas dan Jamal dengan pandangan berbagi macam.
Hingga tiba-tiba,
"BU ! LIAT JAMAL LAGI NGAPAIN TUH DIPOJOKAN"
Teriakan salah satu siswa berhasil membuat seluruh kelas dan pengawas menoleh kepada mereka
Jamal spontan mendudukkan dirinya sementara Tyas sudah duduk dengan tegak saat melihat seisi kelas termasuk pengawas sedang menatap kearah keduanya dengan pandangan mengintimidasi.
Duh pake lupa kalo lagi ujian pikir Tyas, sementara Jamal dengan santainya hanya mengusak rambutnya mencari bukti adanya 'sampah' yang di katakan Tyas di rambutnya.
"Kalian berdua, ikut ibu keruangan setelah ujian selesai" ujar sang pengawas.
__ADS_1