17 Years Old

17 Years Old
Class Room


__ADS_3

Satu minggu sudah masa orientasi dilalui, masih ada kurang dari satu minggu lagi bagi siswa baru akan menyelesaikan masa perkenalan sekolah.


Kericuhan pagi ini berbeda dari hari-hari sebelumnya, dimana sebelumnya mereka dihebohkan dengan atribut atau barang yang harus dibawa , tapi kali ini karena pembagian kelas.


Siswa baru berkumpul di mading melihat nama masing-masing, dimana mereka mendapatkan kelas. Begitu juga Aileen dan kedua teman dekatnya itu. Berdesakan agar bisa melihat dari dekat pengumuman nya.


Aileen sudah sampai di area yang cukup dekat sehingga dia bisa dengan jelas mencari namanya, Aileen tersenyum puas saat dirinya masuk ke daftar kelas IPA-1 .


Seperti kalian tau kelas dengan jurusan IPA yang paling tersohor karena anak-anak nya pasti pintar, ditambah lagi Aileen masuk ke kelas IPA-1 itu artinya kompetensi di kelas pertama lah yang paling unggul bagi siswa kelasnya.


"Aileen kamu masuk kelas apa? " tanya Aruna yang juga baru selesai mengecek namanya di mading.


"IPA satu, kalau kamu? "


"Kalau begitu kita barengan lagi" Aruna merangkul bahu Aileen tiba-tiba dan Aileen langsung berteriak senang karena dia tidak perlu repot-repot mencari teman baru untuk teman sebangkunya.


"Guys kalian masuk kelas mana? "


Tyas bertanya sambil merapihkan rambutnya yang berantakan karena dia harus berdesakan dan ikut bergabung dengan kerusuhan yang sedang berlangsung, postur tubuhnya yang kecil otomatis dia mendapatkan kesulitan yang lebih dibandingkan Aileen yang tinggi semampai.


"Aku kelas IPA satu, kok bisa ya aku masuk kelas itu?" sambung Tyas.


Setelah Tyas tau jika kedua temannya itu juga masuk kelas yang sama, mereka bersorak gembira dan langsung berlari mencari kelas baru nya itu. Tidak perlu duduk di bangku aula yang pengap itu, mereka sekarang sudah punya kelas yang nyaman.


Begitu sampai di kelas, Aileen mengajak Aruna untuk duduk di bangku paling depan, dibagian tengah agar saat belajar nanti akan terlihat jelas tulisan di papan tulis yang berada di depan. Aruna hanya mengikuti kemauan Aileen tanpa berkomentar ataupun menanggapinya.


"Ih~ Aileen jangan di depan sih duduknya. Gabisa tidur, ga bisa rumpi ga bisa ngemil nanti" Tyas mengomel padahal dia bukan teman sebangku Aileen.


"Aku sudah terbiasa duduk di depan sejak smp" jelas Aileen.


"Terserah deh aku mau dibelakang aja" jawab Tyas dan berlalu mencari bangku kosong.


Tyas duduk di bangku tak jauh dari meja Aileen dan Aruna, tepatnya tiga bangku darinya masih di jajaran yang sama. Tyas belum punya teman dia duduk sendiri, jadi dia kembali ke bangku kedua temannya setelah menaruh tasnya.


Kelas ini akan menjadi kelas paling terberat pesaingnya. Tempat semua siswa yang bertarung dalam memperebutkan prestasi sebanyak-banyaknya, terlihat dari siswa didalamnya rata-rata semua pasti punya prestasinya masing-masing baik akademik maupun non akademik.


Argi Dwitama yang duduk disebrang kiri Aileen, merupakan atlet taekwondo yang sudah banyak memenangkan turnamen dikelasnya.


Gibran Alvando juga seorang atlet gymnastic yang sudah banyak membawa pulang mendali kemenangan. Ia duduk disebelah kanan Aileen


"Eh ternyata kita sekelas" ujuar Argi sambil menunjuk ke arah Aileen.


"Kamu kenal? " tanya Aruna.


Aileen pernah cerita jika dia adalah satu-satunya murid dari sekolahnya dulu yang masuk ke SMA ini. Maka dari itu Aruna sedikit heran jika tiba-tiba ada seseorang yang ternyata mengenal Aileen seperti sudah akrab lama.


Aileen menggeleng pelan, bahkan Aileen saja tidak tau siapa nama pemuda itu. Aileen hanya tahu sebatas dia yang dekat dengan kakak kelas berwajah bule itu alias Jamal.

__ADS_1


Kali ini Argi sampai menghampiri bangku Aileen, sedikit merunduk.


"Astaga aku engga nyangka bisa satu kelas sama kamu loh"


Argi kembali berbicara kali ini mata nya terlihat berbinar-binar sambil tersenyum lebar, sedangkan Aileen menunduk malu karena tidak mengerti apa yang dimaksud Argi.


"Jodoh engga kemana emang Gi" kali ini teman nya ikut menyuarakan pendapatnya.


"Emang iya sih, jodoh ga kemana bener ga Aileen"


Kali ini Argi makin bertingkah tidak jelas memainkan rambutnya berlaga sok keren, tapi percuma Aileen tidak melihatnya melainkan kedua temannya Aruna dan Tyas yang melihat pemandangan itu.


"Eh~ ulet . Aileen aja ga kenal sama lu tau" sambar Aruna.


Argi langsung menghentikan aktivitas berlaganya dan sedikit kaget bagaimana bisa sosoknya masih tidak dikenal. Bukannya nyalinya menciut setelah perkataan Aruna itu, yang ada Argi makin menjadi.


"Kalau gitu, kenalan dulu dong biar kita makin akrab dan aku bisa makin kenal kamu" ucap Argi dengan narsisnya.


Rasanya Tyas dan Aruna ingin muntah saat itu juga karena melihat kelakuan Argi yang pede nya sudah kelewat batas.


Argi mengulurkan tangannya ke hadapan Aileen, namun Aileen merasa ragu untuk mengenal sosok Argi.


"Ayo dong Aileen, pegel nih" keluh Argi so lemah padahal dia saja atlet taekwondo masa belum lima menit dia mengulukan tangan udah mengeluh.


"Aileen"


"Argi, eh ntar dulu nama panjangnya siapa Aileen siapa? "


"Oh~ iya Aileen Diandra. Aku Argi Dwitama"


Mereka saling berkenalan dengan berjabat tangan, bahkan Argi telihat mengulur waktu dengan bertanya nama lengkap Aileen yang sebenarnya dia sudah tau saat perkenalaan siswa baru di aula, itu dilakukan agar dia bisa berlama-lama memegang tangan Aileen.


"Eh udah dong Gi, kelamaan lu bro"


Temannya yang menyadari akal bulus Argi langsung melepaskan jabatan tangan mereka. Argi tersenyum puas walaupun dia agak dongkol pada temannya itu yang menghancurkan moment berharga tersebut.


Aileen hanya terdiam dan sedikit terheran dengan pemuda satu itu yang menurutnya sangat agresif dan tidak jelas.


Bahkan sekarang saja Argi sedang mencium tangannya yang baru saja ia gunakan untuk berjabat tangan dengan Aileen, dan teman-teman nya ribut karena ingin juga mencium tangan Argi.


'Ga jelas banget' itu yang dapat menggambarkan suasana kelas IPA saat ini, kelasnya sungguh tidak sesuai ekspektasinya hanya karena satu manusia bernama Argi rasanya kelas ini akan ricuh dibuatnya.


...🏫🏫🏫...


Latar belakang spanduk bakso dengan suasana tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Aileen duduk dikursi panjang di salah satu meja yang tersedia disana, di temani Tyas dan Aruna yang sedang menatap malas layar ponselnya yang menampilkan room chat bahwa sisa kuotanya sudah habis. Alhasil dia tidak bisa menghubungi ayahnya untuk menjemputnya di sekolah.


"Mang baksonya seporsi lagi, gak pake bawang," seru Aruna yang di tatap dua temannya.

__ADS_1


"Engga jadi pulang?" tanya Aileen, karena tadinya Aruna hanya akan menumpang duduk sambil menunggu ayahnya menjemput.


"Engga jadi, Tyas balik bareng ya,"


"Di ongkosin kan?" tanya Tyas dengan alis di naik turunkan.


"Boleh."


*


*


*


Sekarang mulut mereka bertiga tengah sibuk mengunyah bakso mang kribo, penjual bakso langganan penghuni sekolah mereka. Tidak ada perbincangan selama makan, mereka bertiga ingat akan petuah orang tua, takutnya tertelan bulat-bulat dan mati dengan keadaan tidak aesthetic.


"AILEEN!!~"


Sapa Argi dengan gebrakan di meja saking antusiasnya melihat Aileen.


"Lu mau bikin kita mati hah?" ujar Aruna kesal.


Argi hanya tersenyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi tapi sedikit kuning.


Melihat Aileen bukannya membuat iri karena di dekati pria di sekolah, Aruna malah merasa kasian pada temannya yang harus di sukai oleh ulat sayur seperti Argi, banyak tingkah dan membuat geli.


Argi mendudukan dirinya di bangku, berhadapan dengan Aileen. Memang dia hanya diam memperhatikan, tapi hal itu justru membuat Aruna dan Tyas mual melihatnya. Sedangkan yang menjadi pusat perhatian Argi tengah tertunduk malu, melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda.


"Aileen pulang bareng Argi yuk?"


Argi mengibaskan tangannya dihadapan Aileen. Menuntun telunjuknya ke arah motor yang terparkir di dekat gerobak baso.


"Pake motor Argi, nanti di anterin sampai depan rumah,"


"Maaf ya Argi, aku pulangnya di jemput sama ayah," tolak Aileen halus pada Argi.


Namanya juga anak rumahan, mana berani Aileen pulang dengan lelaki selain ayahnya, walupun Argi teman sekelas tetap saja dia merasa takut, di tambah Argi pasti belum mempunyai SIM. Dan tidak seharusnya dia membawa kendaraan pribadi ke sekolah.


"Penolakan memang selalu menyakitkan Gi," Ucap Tyas.


Aruna mengacungkan garpu dengan bakso yang tertusuk, memberikan isyarat agar Argi cepat pergi dari hadapan mereka bertiga.


"Cinta tu butuh perjuangan," ucap Argi bangkit dari duduknya.


"Iya ga Leen ?" tanya Argi dengan kekehan.


Aileen hanya menatap tanpa menjawab apapun, dipikirannya apa anak SMA semudah itu mengatakan rasa cinta.

__ADS_1


"Logis, tapi lu jangan sok dramatis," sambar Aruna.


Merasa tertohok, Argi seharusnya tidak menemui Aileen saat ada kedua temannya itu.


__ADS_2