
"Aileen"
Sapa Gibran saat mereka berpapasan di depan gerbang sekolah.
"Gimana udah ada bayangan untuk dekorasi acara poraknya?"
Aileen ditunjuk untuk menjadi ketua dekorasi acara porak sekolahnya uang akan dilaksanakan akhir tahun ajaran nanti.
"Belum, tapi aku udah ada beberapa ide"
"Nanti aku bantuin sebelum kita diskusi sama anggota osis lain"
Aileen menganggukkan kepalanya dia merasa bersyukur karena setidaknya ada Gibran yang masuk tim dekorasi.
Aileen dan Gibran asik mengobrol sambil berjalan menuju kelas, dari kejauhan Arjuna yang juga baru datang memperhatikan mereka tampak akrab dan seolah tidak ada kesan canggung dari Aileen, bahkan sesekali Aileen memukul manja lengan Gibran membuat Arjuna penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.
Arjuna memilik hak untuk menghentikan pembicaraan antara Aileen dan Gibran tapi hal itu akan membuat Aileen semakin tidak nyaman dan Arjuna pun mengurungkan niat tersebut. Arjuna tidak bisa terus memperhatikan interaksi kekasihnya itu karena harus berjalan terpisah di lorong pemisah antara kelas mereka.
...🏫🏫🏫...
"Beli bahan untuk dekorasi yang murah dimana ya?"
"Dekorasi untuk porak ya? Aku tau di toko art deket outlet barang bekas" Jawab Tyas bersemangat sampai menjelaskan selengkap apa toko tersebut dan yang terpenting harganya juga sangat ramah di kantong pelajar.
"Ah~ oke oke anterin yuk?"
"Sorry Leen kita mau ke pameran buku" jelas Aruna
"Nde!?"
Aileen merasa kesal kepada kedua temannya itu bagaiman bisa mereka tidak mengajaknya untuk pergi ke pameren buku, padahal dia sangat ingin pergi kesana.
"Kamu kan ada rapat osis, janji deh kita bakal pergi lagi sama kamu lain kali"
"Ya udah deh"
"Jangan bete gitu dong"
...🏫🏫🏫...
"Gibran"
Aileen menghampiri Gibran saat dia sudah jalan lebih dulu ke ruang osis,
"Kenapa Leen"
"Engga, cuman manggil doang"
"Engga jelas banget kamu, oh iya kita rapat tim dulu aja ya sekarang"
*
*
__ADS_1
*
Tim dekorasi sudah sepakat dengan ide yang sudah dikembangkan oleh Aileen dan Gibran dengan sedikit perubahan dan tambahan dari anggota tim dekorasi lainnya. Untuk menghemat waktu mereka sepakat membagi tugas,
"Leen kunci motor aku ketinggalan di tas. Kamu duluan ke parkiran aja ya"
Gibran langsung kembali ke ruang osis dengan berlari, sementara Aileen berjalan menuju tempat parkir sekolahnya.
"Aileen sayang"
Argi yang kebetulan juga ada di tempat parkir melihat Aileen langsung tanpa pikir panjang menghampiri gadis itu yang tengah terdiam sendiri dianta motor yang terparkir.
"Lagi ngapain kamu disini? "
Argi merangkul bahu gadis itu dengan lembut, Aileen yang risih langsung menghindar dan memilih berdiri dihadapan pemuda itu dengan memasang wajah kesal.
"Kenapa?"
Argi itu bodoh atau bagaimana sudah jelas-jelas Aileen tidak suka dengan sikapnya yang genit itu tapi dia masih saja tidak sadar diri.
"Kamu kesini ngapain?? Mau pulang dianter bang Juna ya?"
"Bukan, aku cuman mau beli perlengkapan buat porak nanti"
"Oh~ ya udah sama aku aja dianter kamu mau kemana? Aku tau banyak tempat"
Argi mengambil helm sembarang dan memberikannya pada Aileen.
"Dia bakal pergi sama gua sorry ya Gi"
"Apa hak lu? Aileen bakal pergi sama gua"
Sebelum tangan Aileen ditarik Argi, Gibran sudah lebih sigap memasang badannya untuk mencegah hal itu dia berdiri tepat di depan Aileen.
"Gua sama Aileen mau pergi buat kepentingan osis, lu kan bukan anggota osis jadi lu ga ada hak"
Argi meresa tertampar dengan perkataan itu, atas nama osis dia bisa dekat seenaknya dengan Aileen.
"Liat aja lu Gibran, gua ga akan tinggal diam"
Baik Gibran dan Aileen tidak menggubris perkataan Argi dan berlalu begitu saja.
Dengan menggunakan sepedah motor Gibran dan Aileen pergi, Argi yang masih berdiri mematung hanya memperhatikannya bahkan Gibran memberikan senyuman smirk nya pada rivalnya itu saat berlalu tepat di depannya, membuat Argi semakin kesal.
Ternyata bukan aja Argi yang menyaksikan hal ini tetapi Arjuna yang baru sampai di tempat parkir juga melihatnya, Arjuna yang bermaksud mengambil motornya untuk pulang karena baru pertama kali Arjuna membawa motor ke sekolah karena dia diminta oleh orang tuanya untuk membawa motor ke bengkel.
"Bang Juna"
Argi menghampiri Arjuna
"Bang Juna liat tadi siapa yang pergi engga?"
Reaksi Argi jauh lebih heboh dibandingkan Arjuna yang notabene nya kekasih Aileen. Namun Arjuna memilih untuk pura-pura tidak melihat hal itu,
__ADS_1
"Engga, emang kenapa?"
"itu Aileen bang, Aileen pacar abang pergi sama si rese Gibran"
"Oh~"
Dengan enteng hanya itu saja tanggapan Arjuna, membuat Argi kaget karena bagaimana bisa seorang pria bisa menanggapinya dengan sangat enteng.
"Mereka pergi bareng loh bang, ga marah alesannya mau beli barang buat keperluan porak. Bohong pasti bang itu mereka pasti pergi jalan bareng"
Argi lagi-lagi sangat heboh menjelaskan hal ini, berharap jika Arjuna bertindak dan tidak membiarkan hal itu.
"Aku percaya sama Aileen dia ga akan kaya gitu, udah ya Gi aku pulang dulu"
Arjuna menekan klakson motornya meminta Argi untuk tidak menghalangi jalannya,
"Udah gila lu Juna"
Argi berteriak kesal saat Arjuna berlalu begitu saja.
*
*
*
Gibran menghentikan motornya di perempatan saat lampu lalulintas sedang merah. Dia mengarahkan kaca spionnya mengarah pada Aileen.
"Kayanya mau hujan deh," ucap Aileen yang menatap langit yang memang mendung. Gibran juga menengadahkan wajahnya ke langit, mengagguk mengiyakan.
"Kalau gitu kita harus cepet, keburu hujan."
"Hmm."
"Pegangan yang bener."
"Ne ?!"
Saat lampu berubah jadi hijau tanpa memberi aba-aba Gibran melajukan motornya dengan kecepatan tinggi hingga hampir membuat Aileen terjungkal. Dengan gerakan reflek Aileen melingkarkan tangannya di pinggang Gibran.
"Gibran!!"
Senyum Gibran mengembang, kepalanya tertunduk melihat tangan Aileen yang memeluk pinggangnya dengan erat. Perasaannya membucah senang. Berbeda dengan Aileen, gadis itu terus memejamkan matanya. mulutnya tak berhenti berdo'a agar tuhan melindunginya.
"Gibran jangan ngebut dong aku gak mau mati muda," Gibran terkekeh mendengar permintaan Aileen.
Bukannya mengindahkan permintaan Aileen, pemuda itu justru lebih mengerikan menjalankan motornya, bahkan dia dengan berani menyalip beberapa kendaraan lain dengan lihai. Dia tidak mau rugi memanfaatkan moment seperti ini.
Akhirnya ketakutan aileen berakhir setelah melewati 15 menit perjalanan. Dia menuruni motor Gibran, melepaskan helm yang di pakainya dan memberikan pada Gibran dengan kesal. Wajahnya di tekuk, Aileen bersumpah ini kali terakhir dia di bonceng oleh teman sekelasnya . Lebih baik dia menggunakam angukatan umum saja nanti.
"Untung tadi aku ngebut, jadi kita ga kehujanan," ucap Gibran tidak merasa bersalah. Sementara Aileen mendengus kesal seraya merapihkan rambutnya yang kusut.
"Maaf," tangan Gibran terulur membantu merapihkan rambut Aileen.
__ADS_1
Aileen mendongak saat merasakan ada tangan yang menyentuh kepalanya, tatapan keduanya bertemu. Merasa canggung Aileen berdehem, memberi jarak di antara mereka. Dia berjalan lebih dulu dan meninggalkan Gibran yang tengah merasakan degup jantungnya.