17 Years Old

17 Years Old
Ada Apa Dengan Jamal??? (AADJ)


__ADS_3

"Good morning~~"


Sapa Jamal saat melihat Tyas yang terburu-buru menuju kelasnya, sial bagi Tyas karena harus terlambat untuk yang kesekian kalinya karena terjebak macet, salahkan kakaknya yang tidak mengizinkan Tyas untuk pergi lebih awal.


"Biar sekalian, hemat ongkos"


Ucap kakak nya setiap kali Tyas meminta izin untuk pergi lebih dahulu. Bukan tak mau, hanya saja jika berangkat bersama kakaknya, perempatan yang berada dijalan utama yang Tyas lintasi sering terjadi macet, harus lebih dari satu jam untuk bisa melewati perempatan tersebut. Alhasil karena Tyas lebih sering mengiyakan ajakan kakaknya itu Tyas menjadi sering terlambat. Tak jarang ia akan dihukum untuk berolahraga pagi dengan lari atau jalan bebek yang membuat kaki nya akan terasa pegal sepanjang hari dan hal ini membuat mood nya menjadi berantakan juga.


"Weh, sapaan gua gak dijawab nih ?" Ujar Jamal lagi sembari mengikuti Tyas menaiki anak tangga menuju kelasnya.


Fyi, kelas Tyas dan Jamal berada dilantai dua.


"Good morning kak, maaf ya aku buru-buru, sekarang ada kelas bu Novi nanti aku kena marah"


Ucap Tyas dengan napas tak beraturan. Hell, siapa juga yang tidak lelah berlari dari gerbang dilanjut olahraga pagi dan ditambah harus menaiki anak tangga yang begitu banyaknya. Salahkan juga kakinya yang terlalu pendek sehingga tidak bisa melompati anak tangga seperti Aruna dan Aileen.


"Bu Novi gak ada"


Satu langkah lagi, hampir satu langkah lagi Tyas menaiki anak tangga terakhir. Langkahnya berhenti karena ucapan Jamal.


"Pardon ?" Tanya Tyas sambil menatap jamal yang kini tertawa terbahak-bahak.


Tyas yang melihat Jamal tertawa membuatnya semakin kesal. Oh bisakah paginya kali ini berjalan dengan damai ? Doa Tyas dalam hati.


Kesal karena Jamal hanya menertawainya dan Tyas memilih untuk beranjak dari tempatnya menuju kelas, meninggalkan Jamal yang masih sibuk tertawa.


Seperti yang Jamal bilang tadi, ternyata memang bu Novi tidak jadi memasuki kelas pagi ini, ada rapat untuk perpisahan kelas 12 katanya.


"Sial udah buru-buru malah gak ada gurunya" ujar Tyas yang langsung menghampiri meja kedua temannya dan menarik kursi kosong untuk dia duduki disebelah kawannya.


"Tapi, bukannya kamu harusnya bersyukur. Kalo misalnya bu Novi masuk bisa kelar udah kena marah lagi, gak inget ya kamu pas kemarin hp nya disita bu Novi gegara nyimpen foto aneh-aneh ?"


"Lagian itu cuman fanart lebay aja ibu nya"


"Bisa-bisa yang ada kamu kena omel lagi sama bu Novi terus dicap murid tidak teladan"


Tyas yang mendengar ucapan teman-temannya hanya menganggukan kepala. Bukannya apa, ia hanya malas berdebat, mood nya untuk berdebat sudah menguap entah kemana.


...🏫🏫🏫...


Akhirnya hari ini Aileen bisa pergi ke pameran buku bersama kedua temannya, walaupun dihari terakhir pameran setidaknya dia masih bisa melihat promo yang ditawarkan disana.


Setelah mendapatkan buku yang diinginkan, mereka memutuskan untuk pergi makan di salah satu resto siap saji yang sangat populer dengan menu andalannya fried chicken.


"Leen kamu masih kan sama kak Juna"


Tanya Tyas saat mereka menunggu pesanan,


"Iya kenapa?"

__ADS_1


"Kamu kok aku liat-liat ga pernah manja-manja gitu sama kak Juna"


"Hah!?"


Baik Aruna dan Aileen merasa heran dengan kata manja apa yang dimaksud Tyas "bermanja-manja"


"Ya kaya sweet gitu loh yang kaya bucin-bucinan gitu loh"


"Ih gua geli tau kalau liat gitu"


"It's not my style"


"Eh!?"


Kali ini malah Tyas yang merasa heran dengan kedua temannya itu. Bukannya memang romansa anak remaja identik dengan romantisme yang ditunjukkan satu sama lain.


"Sebenarnya agak segan sih kalau aku kaya gitu ke kak Juna, dia kakak kelas aku ditambah juga atasan aku di osis. Terus aku kan baru pertama kali pacaran"


"Tapi kamu tuh kaya ngehindar loh Leen dari kak Juna"


"Kalau diluar sekolah aku biasa aja sama kak Juna cuman di sekolah aja, kalian tau sendiri kan mulut nya penghuni sekolah kaya ngomong ga pake filter"


"Pantesan aja ya gosip tentang kamu ga bisa terhindar" ucap Aruna


"Karena sikap cuek kamu sama kak Juna mereka beneran berpikir kalau kamu cuman manfaatin untuk kepopuleran kamu"


"Padahal mereka aja ga tau apa yang sebenarnya terjadi"


"Kita percaya sama kamu kok Leen, kalau aku jadi pacar kak Juna juga agak risih ya kaya harus jaga sikap macam istri pejabat aku nih"


Tyas berlagak seperti istri-istri pejabat yang disambut gelak tawa dari kedua temannya yang melihat tingkah konyol. Tidak mau kalah bahkan Aileen juga mengikuti tingkah Tyas.


"Mana mau juga kak Juna sama lu Tyas"


Sindri Aruna yang seketika menghentikan tingkah konyol Tyas, ucapan Aruna selalu tidak bisa disaring walaupun itu fakta.


Setelah menghadiskan kudapan sore hari di resto siap saji itu, mereka berniat untuk berkeliling sebentar di salah satu pudrat perbelanjaan yang masih ada di kawasan dekat sini.


Mereka berkeliling sekedar cuci mata, sebari menandakan barang mana yang akan mereka beli saat uang sisa bekal mereka mencapai nominal harga barang tersebut.


Saat mereka asik melihat barang disalah satu toko aksesoris, tidak sengaja Aileen melihat sesosok pemuda jangkung yang tidak asing baginya.


Aileen menyentuh bahu Aruna berulang kali dari sentuhan pelan sampai akhirnya Aileen menarik tas Aruna karena tidak kunjung mendapatkan respon, hal ini dilakukan agar Aruna membalikkan badannya untuk bisa melihat ke arah yang sama dengan pandangan Aileen sekarang.


"Apaan sih Leen aku lagi pilih anting tau"


"Itu itu kak Jamal bukan sih"


"Eh iya, dia ngapain disini?"

__ADS_1


Aruna bermaksud untuk memanggil Tyas yang tengah asik sendiri, namun baik Aileen dan Aruna langsung membalikkan badannya saat pemuda yang sedari tadi mereka perhatikan melihat kearahnya.


"Kak Jamal ga liat kan?"


"Semoga aja jangan"


Tidak mau membuat kehebohan disana, Aruna dan Aileen langsung mengajak Tyas keluar dari toko tersebut. Karena sudah bisa dipastikan jika ketemu dengan Jamal itu akan membuat kehebohan yang tidak bisa terbayangkan.


Dirasa sudah cukup aman kali ini Aruna yang memulai gosip, tumben banget kan


"Yas kamu kan akhir-akhir ini deket sama kak Jamal. Dia sebenarnya udah punya pacar belum sih?"


"Tumben banget nanya gituan, kamu suka ya Aruna"


"Apaan sih lu, jangan ngadi-ngadi"


"Tumbenan banget soalnya lu nanya gituan"


"Ya penasaran aja kali, apa sebenarnya kamu pacaran sama kak Jamal ya Tyas"


Ucap Aileen yang berusaha membelah suasana yang jika dibiarkan mereka berdua bisa-bisa ribut beneran.


"Eh sembarang mana ada itu"


"Lagian setau aku kak Jamal engga punya pacar tuh"


"Kalau adik perempuan?"


"Setau gua juga dia anak tunggal"


"Apa mungkin aja orang kaya Jamal punya pacar tapi backstreet gitu" ucap Aruna dengan kecurigaannya


"Dih mana ada yang ada dia pamerin cewenya kali" sangkal Tyas


"Nanti kamu coba tanya aja Yas, soalnya tadi kita liat dia sama cewe di toko tadi"


Begitu mendengar penyataan Aileen, Tyas langsung memutar balik langkahnya menuju toko yang tadi mereka kunjungi.


Aruna dan Aileen dengan sigap menahan langkah Tyas dengan menarik tas nya dengan kompak


"Mau keman lu?"


"Gua mau mastiin"


"Kita tunggu aja disini pasti dia pulang lewat sini kan engga ada jalan lain ke lantai bawah"


Saran Aruna, dan kali ini tiga serangkai sedang berdiri dibalik tiang besar menunggu Jamal keluar dari toko, hal ini semata-mata untuk bahan gosip di sekolah.


Aileen tidak habis pikir kenapa dia harus juga ikut terlibat pada hal seperti ini tapi dia juga tidak memungkiri jika hal ini juga menyenangkan.

__ADS_1


Dimana Jamal seorang biang gosip sekarang akan menjadi bahan gosip, ya hitung-hitung ini juga bisa meningkatkan popularitas Jamal kan. Selama ini dia kab ingin hal itu


__ADS_2