
Senyum merekah Aileen mengembang di pagi yang cerah ini, hari ini seperti kehidupan yang baru baginya ada banyak alasan kenapa dia terlihat sangat bahagia hari ini.
Pertama karena ini hari terakhir masa orientasi, dia juga akan resmi menjadi kakak kelas, hari ini juga debut pertamanya di sekolahnya karena dia ikut bagian saat demo ekskul dan yang sangat berpengaruh jika dia tidak harus melupakan perasaannya dengan Axel sang pujaan hati nya.
"Anak osis yang ikut demo ekskul nanti pas udah jam istirahat engga usah masuk aula ya langsung siap-siap aja" ucap Arjuna sebagai pengumuman sebelum mereka semua bertugas mendampingi orientasi di hari terakhir ini.
Anggota osis langsung membubarkan diri dari sekre dan langsung mengemban tugas nya masing-masing.
"Nanti kamu bakal akrobat" tanya Aileen pada Gibran.
Pemuda itu hanya mengangguk sambil tersenyum, seperti yang kalian tahu Gibran merupakan atlet cabang olahraga atletik juga anggota club ekskul atletik di sekolah.
Aileen jarang melihat Gibran berlatih, jadi gadis itu juga penasaran atraksi memukau apa yang akan ditampilkan Gibran untuk demo ekskul ini.
"Good luck ya" Aileen menyodorkan telapak tangannya mengajak pemuda itu hi5,
Bruk!!!
"Sorry sorry"
Argi dengan sengaja menubrukan badannya dengan Gibran, membuat Gibran terjatuh. Argi yang berniat membantu Gibran untuk bangun ditolak mentah-mentah dengan tepisan tangan dari Gibran,
"Lu jalan pake mata engga sih" ucap Gibran yang kini dibuat kesal oleh tingkah Argi lagi dan lagi.
"Sorry gua engga sengaja beneran gua lagi buru-buru"
"Terus kalau buru-buru kenapa masih disini"
"Iya terus, aku kan buru-buru mau liat Aileen"
"Maksud lu"
Argi langsung berlari, karena dia sudah ketauan jika dengan sengaja menubrukan diri pada Gibran karena dia tidak mau jika pemuda itu sampai lebih dekat dengan Aileen.
"Gibran Aileen ayo cepet masuk Aula" ucap Adit yang melihat keduanya masih saja diam dan tertinggal dengan rombongan osis lainnya.
Dengan segera Aileen berlari masuk ke dalam Aula dan Gibran menyusul di belakangnya.
*****
Jika hari ini terakhir masa orientasi itu artinya juga kegiatan pembelajaran hanya sampai jam istirahat pertama saja.
"Gi~ Argi"
Jamal masuk ke kelas IPA-1 mencari pemuda yang memang nyatanya tidak ada di kelas yang ia datangi.
"Salah kelas kak" ucap Tyas yang sedang duduk bersama Aruna.
"Eh si Argi bukan anak IPA-1 lagi?" Jamal menghampiri kedua gadis itu.
"Iya emang, kakak kan deket sama Argi kenapa engga tau"
"Sialan dia bohongin gua, bocil lu boleh juga bertahan di IPA-1"
"iya dong, Safelly Ayuningtyas gitu loh" ucap Tyas memuji dan membanggakan dirinya.
"Walaupun dia peringkat terakhir" celetuk Aruna dengan mudah nya.
Tyas langsung memukul paha Aruna, seharusnya hal itu jangan dia beritahu pada Jamal ntar ngeledek lagi dia.
"Ya engga apa, yang penting bisa bertahan. Gua sekarang jadi anak IPA-2 karena semester lalu gua banyak bolosnya karena sering liburan"
__ADS_1
Jelas Jamal padahal tidak ada yang menanyakan, dia tiba-tiba curhat begitu saja.
"Yang rajin ya sekolahnya jangan bolos"
Jamal keluar kelas dan kembali mencari keberadaan Argi. Sebelumnya Jamal mengelus sudut bibir Tyas karena ada noda kecap disana gadis itu sedang makan cilok soalnya.
Hal kecil itu membuat Tyas terdiam kaku, baru kali ini Jamal memperlakukan dia selembut itu biasanya dia selalu bercanda dan cenderung kasar.
...🏫🏫🏫...
Aileen sedang sibuk sendiri dia tengah berdandan untuk perform demo ekskul, sesekali dia melihat layar ponselnya karena seseorang yang sedang dia hubungi tidak kunjung mengangkat telponnya.
"Kemana lagi tuh bocah berdua. Mana pasti belun siap-siap mereka, aduh mana 10 menit lagi nih giliran kita"
Aileen menggerutu kesal karena baik Tyas ataupun Aruna tidak ada yang mengangkat telponnya. Mereka seharusnya bersiap juga karena ketiganya akan tampil bersama sebagai perwakilan demo ekskul modern dance.
"Aileen sorry"
Tyas datang bersama Aruna yang di bopong, memasuki ruang tari.
"Kenapa maksain masuk sekolah?"
Tanya Aileen yang segera membantu Tyas untuk membopong Aruna. Kaki Aruna terkilir saat kemarin gladiresik, membuat dia tidak bisa ikut perform bersama kedua temannya itu bagiamana bisa tampil untuk berjalan saja dia harus dibantu.
"Ga apa kok Leen"
"Kita tampil habis Gibran kan"
Aileen menganggukkan kepalanya sembari menyisiri rambutnya.
"Eh itu si Gibran lagi tampil loh"
Aileen begitu kaget saat mendengar penuturan Tyas, seharusnya mereka sudah menunggu di lapangan.
"Kalian duluan aja"
"Terus kamu gimana?"
"Aku liat dari jauh aja, Hwaiting"
Aruna memberikan semangat pada kedua temannya itu. Aileen dan Tyas segera berlari menuju lapangan dengan tergesa-gesa
*
*
*
Aileen menikmati penampilan Gibran, dia benar-benar pemuda yang berbakat tidak heran jika dia selalu menjadi juara jika ada turnamen atletik gerakannya sangat Bagus membuat gadis itu terpukau bukan hanya Aileen, mungkin semua para gadis juga menyukai penampilan Gibran.
"Tadinya gua ragu sama bakat si Gibran tapi kalau liat pake mata kepala sendiri kaya gini baru gua percaya"
Ucap Tyas yang sama kagumnya dengan Aileen bahkan kedua gadis itu terlihat kompak bersuara jika Gibran menunjukkan gerakan memukaunya.
Begitu Gibran selesai tampil mc osis yang bertugas kembali mengambil alih, Arjuna dan Adit menjadi mc pada kegiatan ini.
"Huwaaa Gibran, tadi Bagus banget"
Ucap Aileen dan Tyas bersamaan saat Gibran keluar area lapangan,
"Thanks, habis ini kamu tampil ya?"
__ADS_1
"Iya bereng Tyas juga"
"Oke, semangat aku liat di depan ya"
Gibran berlari mencari tempat duduk agar bisa bergabung melihat penampilan demo ekskul lainnya, sebenarnya Gibran hanya penasaran dengan penampilan Aileen saja tidak dengan ekskul lainnya.
"Modern Dance"
Aileen dan Tyas mereka berdua sudah siap diposisi masing-masing, begitu suara musik terdengar. Kedua gadis itu menari mengikuti irama lagu dengan judul be natural.
Mayoritas semua para kaum laki-laki yang duduj di barisan pertama, bersorak sesaat musik terdengar mereka sudah heboh. Semakin heboh saat kedua gadis itu menari,
Padangan semua orang lebih tertuju pada Aileen bukan hanya dia yang lebih dikenal oleh penghuni sekolah tapi gerakan tariannya lebih lincah dibandingkan Tyas, ya karena bukan Aruna saja yang cedera Tyas juga.
Pinggang Tyas terasa sakit karena dia dengan sembrono menggunakan ulahup untuk membuat pinggang nya terlihat ramping. Bukan hasil pinggang ramping yang dia dapat malah cedera yang ada. Berimbas pada penampilan kali ini.
Aileen tidak sengaja kedapatan Axel, pemuda itu ternyata ada di tengah-tengah penonton lainnya. Senyum yang semakin merekah di wajah Aileen,
"Ini saat nya aku untuk menebar pesona ku, kau tidak bisa menolaknya Axel"
Gumam Aileen dalam hatinya, gadis itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia merasa yakin Axel setidaknya akan tertarik dengannya.
Gerakan tubuh Aileen semakin lincah, membuat semua orangng disana bersorak heboh tanpa terkecuali para guru juga ikut bersorak.
Arjuna dia memperhatikan Aileen juga, wajahnya semakin merah padam. Arjuna seperti tersihir lagi dengan pesona Aileen, pemuda itu tidak habis pikir kenapa mantan kekasihnya ini mempunyai banyak sekali pesona penyesalan tiba-tiba tersirat di hatinya. Terlebih lagi saat,
"Gila si Aileen, oh my good. Habis ini fixs dia makin banyak aja yang naksir"
"Jun ga ada niatan balikan sama Aileen, kalau jadi lu sih gua nyesel deh mutusin dia. Cantik, pinter berbakat lagi, baik pula apa kurangnya sih Jun heran gua"
"Diem lu Dit, rese lu"
"Dih si Juna ngambekan sekarang"
Arjuna meninggalkan Adit, dia merasa dongkol dengan ucapan Adit. Sudah jelas dia menyesal tapi mau bagaimana lagi, rasanya jika dia meminta Aileen untuk balikan mau ditaruh dimana mukanya.
Ini bukan kali pertama Arjuna merasa menyesal dengan keputusan nya, setiap dia melihat Aileen dia akan merasa bersalah dia juga ingin kembali pada Aileen. Terlebih Arjuna kemarin memutuskan Aileen bukan karena kemauan tapi karena termakan ucapan orang-orang dia terlalu gegabah.
*
*
*
Setelah selesai tampil Aileen berjalan ke tempat duduk dan Tyas mengikutinya. Mereka duduk bersama Aruna yang menyambut mereka dengan tepuk tangan. Terlihat dia sangat bangga dengan kedua temannya, tapi tak lama Aruna langsung menundukan kepalanya. Sesekali dia menghembuskan nafas kasar.
"Lu kalau mau ngehina sekarang aja dah," ucapan Tyas barusan langsung membuat tawa Aruna pecah. Terdengar pasrah saat melihat tawa bahagia temannya itu. Dia sudah sangat siap mendengar setiap kata yg keluar dari mulut temannya ini.
"Ya tuhan Tyas, muka lu tegang amat tadi sumpag deh kek orang mau di kermus anj*r,"
"Gua tu malu tau, mana takut kena sepak kuda lagi kek latihan kemaren,"
"Kalau otak gw sungsang gimana?"
"Aduh sampe berair mata gua Tyas,"
Bukan hanya Aruna sekarang yang menertawai Tyas, Aileen juga. Dia bahkan lebih heboh karena kebiasaannya yang suka memukul orang saat sedang tertawa.
"Puas lu pada ya," Tyas melipat kedua tangannya kesal.
"Maaf Yas, abis lawak banget. Lagian waktu itu kan latihan pertama waktu kepentok kaki aku, jaraknya juga udah disesuaikan jadi tadi aman kan ga kena kaki lagi,"
__ADS_1
"Kalo kena sepak lagi paling pingsan gua,"
Tyas langsung berdecak kesal saat kedua temannya malah lebih keras tertawa. mereka bahkan sampai memegangi pipi mereka yang pegal saking puasnya menertawai Tyas.