17 Years Old

17 Years Old
True


__ADS_3

"Kak Axel"


Aruna berteriak sekuat tenaga dari balkon lantai atas, pemuda yang ia panggil kini sedang bermain basket di lapang. Iya view kelas kali ini menghadap lapangan.


Axel hanya fokus bermain basket bagi nya tanpa melihat siapa yang meneriakinya pun dia sudah tahu benar pemilik suara melengking itu adalah Aruna.


Aileen juga ada disana, bersama Tyas dan beberapa teman kelasnya.


Siapa yang bisa menolak pesona Axel, semua gadis yang sedang menontonnya saat ini selalu dibuat berteriak setiap saat pemuda itu mengibarkan rambutnya. Tanpa terkecuali Aileen, walaupun dia tidak mengeluarkan suara jeritannya tapi nyatanya batinnya menjerit lebih melengking dari suara Aruna. Dia hanya bisa menggigit bibirnya atau meremas rok seragamnya setiap kali merasa gemas dengan Axel.


Saat olahraga seperti ini pesonan Axel berlipat-lipat kali bertambah. Apalagi kalau sedang minum dia menadahkan kepalanya, meneguk air mineral sudah bagaikan model profesil yang membuat orang yang melihatnya akan merasa haus.


Pemuda itu tengah duduk di bangku lapangan, dan posisinya tepat menghadap kelas Aileen.


Tidak sengaja mata Aileen dan Axel bertemu, untuk beberapa detik saja. Setelah itu Aileen tertunduk malu dan berlari masuk ke dalam kelas, pipinya terasa panas.


Aileen duduk di bangkunya menangkup kedua pipinya dengan telapak tangannya.


"Engga mungkin kan tadi kak Axel liat ke aku, tapi~"


"Udah ah jangan geer, dia bukan liatin kamu Leen"


Sekarang Aileen tengah ber monolog dengan dirinya, dia berusaha menyadarkan dirinya tidak mungkin Axel tadi benar-benar menatap dirinya.


Aileen tidak mau kembali keluar untuk melihat Axel rasanya baru saja bertukar tatapan sudah membuatnya sesak napas untuk sesaat. Gadis itu mengambil ponselnya yang berada di kolong mejanya, membuka media sosial berniat untuk stalking seseorang.


Sudah hampir setengah jam Aileen mencari-cari media sosial milik Axel tapi belum tampak akun pemuda itu.


"Apa kak Axel engga main twitter ya"


"Udah ini udah deh kalau engga nemu di akun nya kak Adit, aku nyerah deh"


Aileen membuka followers dari akun Aditya Mahendra,


"Yes akhirnya nemu juga akunnya"


Aileen terlihat sangat bahagia saat dia berhasil menemukan akun milik Axel, kenapa bukan dari tadi saja carinya di akun Adit? Tadinya Aileen berniat mencari saja di akun teman Axel yang lain karena mereka punya followers yang lebih sedikit dibandingkan Adit jadi Aileen berpikir jika dia mencari di akun kecil mungkin dia akan lebih cepat menemukan, dibandingkan mencari di akun milik Adit dengan ribuan followers.


Aileen membaca setiap tweet di akun Axel, ternyata dia juga populer ya. Hampir setiap retweet yang ada itu mayoritas perempuan, membuat Aileen merasa iri kapan dia bisa berinteraksi sama seperti itu.


Aileen tiba-tiba merasa heran dia baru menyadari bahwa postingan yang sedari tadi dia baca itu postingan di tahun 2018.


Heol itu sudah sangat lama sekali, mungkin pada saat masih duduk dibangku sekolah menengah pertama.


Ini sih akunnya udah lumutan, melihat terakhir kali Axel aktif di tahun 2021 awal bulan.

__ADS_1


Aileen menaruh kembali ponselnya dikolong meja, pupus sudah dia bisa kepoin Axel. Nomor whatsapp engga punya medsos dia udah lumutan, Aileen benar-benar patah semangat dia kalah telak dari Aruna.


Mungkin kalian berpikir kenapa Aileen tidak minta saja nomor Axel pada Aruna?


Hal itu juga sempat terpikir oleh Aileen tapi dia pungkas karena itu pasti akan membuat Axel kurang nyaman. Dia ingin mendapatkan nomor Axel atas izin pemuda itu bukan bertindak seenaknya, karena Aileen tau dengan benar bagaimana rasanya jika tiba-tiba ada seseorang yang menghubungi tanpa permisi dan entah dapat nomornya dari mana, itu rasanya tidak nyaman.


...🏫🏫🏫...


Bel kembali terdengar menandakan waktu istrirahat kedua, walapun hanya 15 menit tapi itu sangat membantu memberikan jeda di saat waktu pelajaran yang padat.


"Leen mau sembahyang engga?"


"Aku lagi datang bulan kamu aja sama Tyas"


"Oh oke deh, Yas ayo ke mushola"


"Ngapain?"


Tyas berjalan menghampiri Aruna dan Aileen dibangunnya.


"Cari cogan, ya sholat lah. Ayo cepet ntar lu dilaknat"


"Engga ah lu aja, bosen gua sholat"


Aruna dan Aileen tersontak kaget, bisa-bisa nya Tyas berkata seperti itu.


"Maksud gua, gua lagi libur sholat lagi haid gitu ih"


"Oh yang bener dong kalau ngomong"


Aruna keluar kelas meninggalkan kedua temannya, Tyas yang sekarang mengambil alih tempat duduk Aruna.


Tyas kembali memulai topik pembicaraan dengan pesona Axel yang baru tadi dia pamerkan saat olahraga. Aileen hanya menyimak dengan sesekali ikut berpendapat ditemani snack yang dia bawa dari rumah.


"Leen kalau kamu engga cepet-cepet deketin kak Axel ntar ada yang embat loh"


"Apaan sih Yas, aku engga se-agresif itu. Ya kalau kak Axel engga suka sama aku ga apa lah aku juga ga bisa maksa kan"


"Keburu lulus loh kak Axel ntar nyesel, setidaknya lu harus tau aja dia tertarik sama lu apa engga"


"Kayanya sih engga"


"Mana mungkin kak Axel engga mau sama kamu, tau dari mana kalau dia engga suka kamu, emang kamu pernah tanya"


"Ya buktinya dia diem aja tuh, padahal udah dikodein"

__ADS_1


"Kodein apaan kalian kalau tiap papasan sama sama ciut gitu"


"Ya udah lah Yas, aku jadi pengagum dia juga udah cukup"


"Ih gimana sih lu? Gini aja ya simpelnya. Lu suka kan sama kak Axel, kalau jadian sama dia lu mau engga"


Aileen tersipu malu, mana mungkin dia tidak mau kalau sampai Axel mengajaknya berpacaran.


Aileen hanya mengangguk pelan dan menatap teman nya itu, sedangkan Tyas matanya sudah seperti bara api, berkobar-kobar.


"Kalau gitu nanti gua usahain sama Aruna oke"


"Jangan ngadi-ngadi ya lu pada"


"Tenang aja Aileen percaya deh sama gua sama Aruna ya"


Bagaiman bisa Aileen percaya begitu saja, ada rasa was-was karena dia tahu benar Aruna dan Tyas itu nekad orangnya. Dia takut malah akan jadi dipermalukan dihadapan Axel, tapi Aileen juga sudah tidak tahu bagaimana caranya. Jadi urusan Axel suka tidaknya Aileen benar-benar pasrah.


...🏫🏫🏫...


Sementara itu


Aruna yang baru saja keluar mushola dan hendak memakai sepatunya, tiba-tiba dipanggil Arjuna yang sedang duduk di bangku depan mushola bersama beberapa teman kelasnya.


Sebenarnya Aruna sangat malas menghampiri Arjuna tapi ya siapa tau memang ada hal penting yang ingin dia bicarakan. Dengan menenteng sepatunya Aruna menghampiri Arjuna yang kini sedang sibuk mengikat tali sepatunya.


"Kamu tadi teriak keceng banget sampai sakit kuping saya"


"Sorry kak tapi aku bukan lagi teriakin nama kakak juga"


"Iya aku tau si Axel kan, kenapa suka ya sama Axel"


"Walaupun kak Axel itu menarik tapi sorry lagi nih kak, Aruna udah punya pacar jadi mana ada aku suka sama kak Axel"


Ternyata Aruna tidak menyadari diantara kerumunan siswa laki-laki disana ada Axel yang tertunduk sedang sibuk dengan sepatunya.


"Udah punya pacar tapi masih genit kamu, kalau pun suka sama Axel bilang aja kali engga usah ngeles pake punya pacar segala"


"Kakak ngotot banget ya dibilang aku engga suka sama kak Axel"


"Terus kenapa kamu sebegitu semangatnya sama Axel"


"Ih kakak kepo ya, aku kaya gitu biar kak Axel peka aja karena mantan kakak tuh suka sama kak Axel. Udah ah cape ngomong sama kakak"


Aruna berlalu begitu saja, bahkan dia tidak memakai sepatunya dengan benar. Gadis itu menginjak sepatunya dan memakai dengan asal, berjalan kembali ke kelas.

__ADS_1


Arjuna yang mengetahui fakta itu merasa cemburu, bahwa Aileen mungkin saja sudah melupakan perasaan pada dirinya. Nyatanya Arjuna sampai saat ini juga belum bisa move on dari Aileen, tapi kenapa gadis yang iya putuskan lebih dulu mendapatkan penggantinya dengan cepat.


Axel melihat ke arah Arjuna, dan pemuda itu bisa melihat jika masih ada rasa yang terpendam didalam hati Arjuna pada Aileen.


__ADS_2