17 Years Old

17 Years Old
You???


__ADS_3

"Aileen, kenapa? Sakit?"


"Eoh!? Engga kok"


Sejak Aileen tau jika Aruna juga menyukai Axel, ada sedikit kecanggungan dari keduanya. Aileen yang biasa nya cerewet, menceritakan segalanya pada kedua temannya itu sudah beberapa hari ini dia todak banyak cerita dan Aruna dia kan tipe orang yang kalau ditanya baru jawab sekalipun itu dengan teman dekatnya.


"Leen ke kantin yuk kita beli bubble tea" ajak Tyas


"Engga ah"


"Atau mau nitip"


"Engga Yas, kamu pergi aja sama Aruna"


...*****...


"Aileen kita nongkrong di luar yuk" ajak Aruna


"Sekalian kita liat kak Axel tuh lagi main basket di lapang" ucap Tyas yang mencoba merayu Aileen.


"Engga ah kalian aja, aku mau di kelas aja"


Aileen memasang earphone nya dan memilih memejamkan matanya untuk tidur saja lebih baik tanpa menghiraukan Aruna dan Tyas yang sedang memandang heran dengan sikap nya.


Kebetulan minggu ini adalah minggu terakhir nya sekolah besok sudah pembagian rapor dan membiarkan siswanya untuk bebas melakukan aktivitas apa saja di dalam sekolah.


"Aileen kenapa sih? "


"Engga tau, aneh. Hari ini malah jauh lebih aneh"


Aruna, Tyas dan Azka yang memilih untuk nongkrong di depan kelas, sedang berpikir keras karena perubahan sikap Aileen.


"Apa Aileen kesambet ya"


Celetuk Tyas membuat dirinya mendapatkan tatapan tajam dari Aruna dan Azka.


"Jangan ngaco lu" ucap Azka


"Tapi bisa jadi juga sih"

__ADS_1


Kali ini Aruna setuju dengan ucapan asal Tyas, ada benarnya juga soalnya hari ini Aileen sangat berbeda.


Mereka bertiga melihat kedalam kelas lewat balik jendela kelas, memperhatikan Aileen yang masih sangat tenang di dalam kelas sendirian. Sikap ini saja aneh, karena setau mereka Aileen itu penakut mana berani dia diam di kelas sendirian tapi hari ini dia masih tenang di dalam kelas.


Diam nya Aileen bukan semata-mata karena persoalan Aruna tapi juga karena atas permintaan ketiga sahabatnya itu, mereka bertiga pernah meminta Aileen untuk menjadi gadis yang anggun dengan tidak banyak bicara, tertawa sewajarnya itu pasti akan membuat dirinya jauh lebih terlihat cantik.


Tapi apa daya Aileen itu gadis yang akan terlihat anggun jika dia ada dilingkungan baru saja, jika dia bersama teman dekatnya dia akan berubah 180° , banyak bicara, tertawa terbahak-bahak, humornya yang bobrok dan pasti akan membuat orang yang tidak mengenalnya dekat akan terkejut jika sifat itu dimiliki seorang Aileen.


Maka dari itu Aileen mencoba merubah sikap buruk itu karena dia tidak mau membuat teman-teman nya risih setiap kali dia banyak bicara, menjadi korban siksaan saat dia tidak bisa menahan tawanya atau bahkan jokes nya yang garing.


Mungkin karena maksud tersebut lah teman-teman Aileen merasa kaget dengan perubahaan sikap Aileen yang drastis selama seharian ini. Ditambah lagi Aileen juga merasa khawatir atas hasil ujian akhir kemarin.


Saat ketiga temannya itu sedang memperhatikan Aileen yang masih ada di dalam kelas, tiba-tiba Argi menghampiri Aileen


"Leen ini buat kamu"


Argi memberikan sekotak susu yang dia taruh tepat di atas meja Aileen dan gadis itu menatap tajam mata Argi dan menjawabnya dengan dingin tanpa ada senyum yang biasanya dia tebar,


"Hemmm makasih"


Argi berlalu keluar kelas,


Tanya Argi saat keluar kelas pada Aruna, Tyas dan juga Azka.


"Hawa dia dingin banget, kalian apain Aileen nya aku"


"Kita engga apa-apain kok, mungkin lagi badmood aja"


"Tapi engga kaya biasanya dia bukan tipe orang yang nampakin moodnya"


"Ya kenapa engga kamu tanya"


"Aku engga mau bikin dia makin badmood kalau aku yang nanya"


"Sadar diri juga lu"


Karena sudah bosan dengan aktivitas nongkrong Aruna memutuskan untuk pergi ke perpustakaan dan Tyas bersama Azka pergi ke kantin untuk jajan cemilan,


...🏫🏫🏫...

__ADS_1


Setelah kegiatan bermain basket dengan teman sekalasnya tadi, sekarang Axel sedang membaca komik series kesukaannya untuk sekedar menghabiskan waktu menunggu bel pulang juga mendinginkan tubuhnya. Dia berada di tempat persembunyiannya selain kelas, yaitu perpustakaan. Tidak sendiri, dia masih tetap di temani Aruna yang sedang duduk bersebrangan dengannya. Gadis itu tidak sedang membaca novel yang biasanya ia lakukan. Dia hanya tertunduk lemas hingga dahinya menyentuh permukaan meja.


"Kamu bisa baca buku pelajaran kalau bosan, atau mau pinjam komik saya," tawar Axel yang merasa sedikit kasihan.


Aruna hanya menggelengkan kepalanya. Dia tadi sudah sangat senang saat memasuki perpustakaan, karena tau bahwa setiap hari kamis akan datang buku baru untuk menambah wawasan pelajar disekolahannya termasuk novel yang sekadar untuk menarik minat baca para siswa. Tapi karena sebentar lagi pembagian raport dan setelah itu liburan sekolah, jadi tidak ada buku baru yang datang minggu ini sampai nanti selesai liburan kenaikan kelas. Itu yang membuat Aruna kehilangan semangatnya, di tambah handphone pintarnya mati karena kehabisan daya. Jadi dia tidak bisa membaca novel di aplikasi membaca online seperti Noveltoon.


Aruna menopang dagu dengan satu tangan. Menatap Axel yang berada di hadapanya. Ketampanan pemuda itu terbilang tidak manusiawi, apalagi sekarang ada kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Kak,"


"Eumm?"


Kalian bisa bayangkan bagaimana rasanya saat pria tampan yang kalian sukai berdehem lembut sekaligus menatap mata kalian dengan tatapan hangatnya ? Amat sangat menggetarkan hati bukan ? Itulah yang sedang Aruna rasakan sekarang.


Aruna mengulum senyumnya sebelum bertanya, "Kak Adit itu sodaranya kakak?"


Axel yang heran malah bertanya balik bukannya menjawab, "Tau dari mana?"


"Kak Adit. Waktu itu pas di kantin dia bilang gini,"


"ini yang teriak teriakin sodara gua. Gitu katanya, emang bener ya,"


"Ya, kami saudara sepupu. Orang tua kami adik kakak,"


"What ?? kok bisa beda banget ??"


"Karena saya ga populer seperti Adit ?"


"Bukan itu, tapi sikap kalian tu kek ying sama yang, beda banget. Dan kalau soal populer, kan kakak udah ga kalah terkenalnya sama kak Adit sekarang di sekolah, apalagi waktu kakak main basket tadi tuh. Banyak benget yang teriakin nama kakak,"


"Saya ga nyaman, mereka itu terlalu berisik,"


Axel kembali terfokus pada Komiknya, mengabaikan Aruna yang melongo dengan perkataannya barusan. Terasa aneh bagi Aruna kalo ada orang yang terlihat tidak suka saat memiliki banyak penggemar. Gadis itu memilih untuk kembali menidurkan kepalanya lagi di meja. Sebaiknya dia menyimpan pertanyaan lain yang mau ia tanyakan pada Axel.


Seseorang datang dan menempelkan kaleng minuman dingin ke leher Aruna hingga membuat gadis itu terlonjat kaget.


"Aishh," Aruna mendesis saat tau siapa pelakunya.


"Ikut saya sebentar," orang itu menarik tangan Aruna, membawa gadis itu keluar perpustakaan menuju kursi panjang yang tak jauh dari kolam ikan.

__ADS_1


__ADS_2