17 Years Old

17 Years Old
Waiting...


__ADS_3

Sudah hampir 10 menit amanat dari kepala sekolah tapi tidak kunjung beres, salah satu susunan acara dalam kegiatan upacara bendera adalah amanat tapi ini merupakan amanat paling panjang selama Aileen menjadi siswa SMA.


"Kaki gw rasanya mau patah aja ini" Tyas berjongkok sejenak di selah-selah barisan.


Belum dua menit Tyas berjongkok anak anggota osis langsung menegur dan meminta Tyas kembali untuk berdiri, dengan menggerutu Tyas kembali berdiri. Hampir semua sudah tidak fokus lagi karena sinar matahari mulai terasa terik.


"Kemarin salah satu teman kalian mengikuti pertandingan tingkat kota , cabang gymnastik dan puji syukur dia meraih hasil yang memuaskan, Gibran Alvaro"


Kepala sekolah memanggil nama orang yang ia bicarakan dari tadi, Gibran maju ke depan berdiri di pinggir kepala sekolah. Mendapatkan ucapan dari kepala sekolah, bahkan mendapatkan hadiah dari sekolah.


Suasana yang tadinya sudah tidak kondusif karena siswa kepanasan sekarang menjadi heboh dengan suara berbisik dari hampir setiap sudut,


...🏫🏫🏫...


"Eh bocil pasangin dasi gua,"


Ya itu Jamal, siswa dengan darah blasteran itu memberikan dasinya pada Tyas. Sedaritadi, saat bendera masih di tangan pengibar sampai sudah berkibar pemuda itu masih belum memasang dasinya dengan benar. Sebenarnya dia tidak peduli, tapi dia terus di tegur oleh dua orang temannya, dua kandidat ketua osis itu.


Juna yang bilang kalau peraturan tidak boleh dilanggar. Dan Adit yang berkata kerapihan itu bisa menambah tingkat ketampanan. Jadi dia meminta bantuan pada Tyas.


"Udah tau aku minimalis, minta tolong Aruna aja,"


Aruna yang berdiri tepat di belakang Tyas menatap mereka tidak peduli.


Kenapa mereka ada di barisan kelas 11 ? itu karena mereka terlambat masuk dan di suruh untuk mengisi barisan yang masih kosong, yaitu barisan kelasnya Jamal.


"Gua minta tolongnya sama lu. Cepet,"


Tyas mendongakkan kepalanya. Tau akan tinggi badan mereka yang terlalu jauh, Jamal meregangkan kakinya agar tinggi mereka sejajar, dia seperti mau split sekarang.


Dari jarak sedekat ini, Jamal benar-benar sangat tampan ternyata. Dengan alis tebal, hidung mancung bak prosotan TK, kulit wajah yang sangat mulus, dan lagi bibirnya.


"Kak Jamal pake liptint merek apa ??" Tanya Tyas, saat melihat warna merah bibir Jamal.


"Ini hasil racikan nyokap bokap gua,"


Tak menanggapi jawaban asal dari Jamal, Tyas menarik dasi cukup kuat hingga membuat Jamal tercekak.

__ADS_1


"Udah cakep," ucap Tyas setelah melihat dasi rapih yang sekarang melingkar di leher Jamal.


"Thanks bocil," Jamal kembali berdiri tegak sekarang.


"Tyas, bukan bocil ya kak,"


Jamal hanya mengangguk dan kembali melihat ke depan, dimana kepala sekolah masih memuji prestasi Gibran.


...🏫🏫🏫...


"Harusnya gua belajar acting, biar bisa pura pura pingsan jadi kaga usah ikut upacara kek gini," gumam Aruna.


"Minimal bisa dapet bubur gratis kalo di bawa ke UKS kan ?," tanya Aruna pada diri sendiri.


Gadis itu melihat ke barisan kelasnya, dia merasa iri karena teman teman sekelasnya kebagian tempat yang teduh. Tidak seperti barisanya yang tersorot sinar matahari langsung.


Setelah sampai kelas dia akan memaki Gibran karena sudah membuat orang satu lapangan khususnya dirinya yang harus menderita lebih lama di lapangan hanya untuk mendengarkan pujian untuk si atlet atletik itu.


"Aishhh," desisan Aruna berbarengan dengan salam penutup dari kepala sekolah. Yang langsung dijawab semangat oleh orang-orang yang berada di lapangan.


Dilihat orang itu, Aruna sama sekali tidak mengenal orang yang sekarang berada di hadapannya. Ia melirik nama yang tertera di seragam pria itu, Axel Mahardika.


"Ada apa kak ?? mau nitip salam ke Aileen juga ??," tebak Aruna, karena kebanyakan siswa di sekolah ini jika memanggilnya hanya untuk menitip salam untuk Aileen. Kadang dia suka ingin mengajukan keluhan pada guru karena kenapa murid-murid di sekolahnya banyak yang tidak tau fungsi mulut untuk bicara, bukanya mereka bisa mengatakan pada orangnya langsung.


Axel yang tidak mengerti memiringkan kepalanya bingung. Teringat tujuannya, pria itu mengeluarkan sesuatu di kantung jas seragamnya.


"Ini punya mu ??" Axel menyodorkan botol parfum pada Aruna.


Sialan!!


Aruna ingat sekarang, pria ini adalah sosok di toilet waktu itu. Dan dia ternyata kakak kelasnya, kutukan bagi Aruna untuk kesialannya di hari itu.


"Makasih kak," Aruna menerimanya dengan perasaan malu luar biasa. Ingin rasanya dia menjadi air dan menguap dengan cepat karena panas matahari saking inginya menghilang dari hadapan kakak kelasnya ini.


...🏫🏫🏫...


"Aileen yang tadi itu temen sekelas kita kan?"

__ADS_1


Azka menghampiri Aileen ketika barisan upacara dibubarkan.


"Iya, dia juga ketua kelas kita. Jadi kalau kamu butuh sesuatu langsung tanya dia saja ya"


"Oke, tapi kalau saya nanya ke kamu juga ga masalah kan"


Aileen hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Mata Aileen tidak sengaja melihat Aruna yang tengah berlari menyerobot kerumunan, tumben banget Aruna rusuh kaya pkl yang takut ke tangkep salpo pp aja.


Bahkan Aruna tidak sengaja menabrak beberapa orang yang bersinggungan dengannya. Aileen mencari seseorang yang mungkin saja sedang mengejar Aruna, nyatanya tidak ada seorang pun yang mengejarnya dan membuat Aileen semakin kebingungan.


Tyas tiba-tiba muncul di tengah-tengah antara Aileen dan Azka.


"Selamat pagi"


Sapa Tyas dengan memperlihatkan senyum lebarnya, memamerkan gigi gingsul nya.


"Pagi ~ bikin kaget aja kamu"


"Maaf maaf"


"Pagi juga, siapa sih nama kamu?" tanya Azka yang belum hapal dengan nama teman kelasnya.


"Tyas nama aku"


"Oh Tyas oke oke, saya Azka"


"Iya udah tau juga"


"Saya kira kamu anak smp loh"


Azka tidak sedang mengajak Tyas bercanda, faktanya sekolah kami bersebelahan dengan sekolah smp jadi wajar saja kalau Azka menyangka seperti itu. Aileen tertawa geli mendengar hal itu, karena tanpa Tyas ketahui juga Aileen sempat beranggapan seperti itu apalagi saat masa orientasi dimana masih menggunakan seragam smp.


"Aileen~ kenapa kamu juga ikut ketawa"


Aileen hanya mengusap rambut Tyas.


Aileen bertanya soal tingkah Aruna yang terlihat berbeda di pagi ini pada Tyas, tapi Tyas juga tidak tau kenapa Aruna seperti itu. Sekarang topik pembicaraannya beralih dengan omelan Tyas yang tidak suka dengan nama panggilan yang diberikan Jamal padanya.

__ADS_1


__ADS_2