17 Years Old

17 Years Old
Fact


__ADS_3

Sore ini setelah pulang sekolah tiga sekawan itu, Aileen , Tyas dan Aruna tidak langsung pulang. Mereka ingin menikmati langit sore sebelum pulang ke rumah, bukan lagi di tempat baso mang Kribo tapi dipinggir lapangan sekolah. Sembari melihat beberapa siswa yang sedang main bola.


Sampai di lapangan ternyata masih banyak yang kumpul. Mereka duduk di sana sambil menikmati kegiatan siswa laki-laki maupun perempuan yang masih ada di sekolah.


"Arunaa,"


"Hah ?!" Aruna mendongakkan kepala melihat siapa yang memanggilnya barusan.


"Temenin gua ke perpus yuk~" pinta teman Aruna, dia anak kelas IPS.


"Ayo~ gw takut di umpetin hantu kalo sendiri,"


"Tapi jangan lama, kalo lama gw tinggal lu,"


"Pinjem dulu ya sis Arunanya,"


Setelah Aileen dan Tyas mengiyakan, temannya tadi langsung menyeret Aruna dan berjalan dengan cepat. Meninggalkan Aileen dan Tyas.


"Tyas tadi itu siapa ??"


"Engga tau," jawab Tyas yang fokus pada ponsel pintarnya.


"Lagi ngapain sih asik banget,"


Bukan jawaban yang Aileen dapatkan tapi keheningan.


"Tyas jangan asik sendiri dong,"


Keluh Aileen dan Tyas yang masih saja asik dengan games di ponselnya.


"Aileen~"


Seorang pemuda menghampirinya dan berdiri tepat di depan Aileen.


"Kak Andra, ada apa?"


"Belum pulang?"


"Belum, ada apa kak? "


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi berdua aja bisa?"


"Sekarang?"


Andra mengangguk mengiyakan, Aileen melirik ke sebelahnya Tyas masih saja asik dengan ponselnya.

__ADS_1


"Ayo kak, dimana?"


Aileen bangkit dari duduknya dan mengikuti Andra yang sudah jalan terlebih dahulu. Mereka mencari menemukan tempat yang tidak jauh dari tempat duduk sebelumnya, bahkan Aileen masih bisa melihat Tyas yang duduk di bagian bawah kursi penonton di lapangan sekolah nya tersebut.


"Aileen, sebelumnya aku minta maaf ya. Karena rasanya engga pantes aja aku ngomong kaya gini disaat kamu udah punya pasangan"


Aileen hanya terdiam menyimak setiap kata yang diucao Andra.


"Aku suka sama kamu dari awal ospek, makanya aku minta nomer kamu waktu itu. Tapi ternyata bukan aku satu-satunya yang tertarik sama kamu, tapi aku salah satunya"


Andra menggaruk punggung lehernya yang tidak gatal


"Soal itu, aku udah ga pacaran lagi sama Argi"


"Benarkah?"


"Iya, makasih ya kak udah jujur sama aku. Aku menghargai perasaan kakak"


"Iya, aku cuman mau bilang itu aja biar kamu tau aja. Kamu ga perlu bales perasaan aku kok"


Aileen tersenyum baru kali ini ada pemuda yang menyatakan perasaannya tanpa memaksa untuk membuat ikatan.


"Maaf ya kak, aku jadi ga enak tapi makasih banyak ya kakak udah suka sama aku"


"Iya, kamu punya daya tarik yang kuat kaya Aileen"


Aileen merasa malu apakah sekuat itu daya tariknya, Aileen merasa gadis cantik di sekolah ini ada banyak yang pintar juga ada banyak tapi ucapan Andra mungkin terlalu berlebihan.


"Aku salah satu, mungkin banyak yang juga tertarik sama kamu tapi engga punya keberanian buat ungkapin kaya Arjuna"


'Apa tadi dia nyebut nama siapa Arjuna? Arjuna yang mana? Arjuna Dirgantara itu? Tapi kalau bukan dia siapa lagi di sekolah ini yang namanya Arjuna kan cuman dia seorang'


"Eoh? Siapa tadi? Kak Arjuna" tanya Aileen penasaran dia takut jika pendengarannya sudah tidak beres.


"Iya Arujuna, teman sekelas ku. Dia nyalonin ketua osis aja nyalinya besar tapi kalau suruh ngungkapin perasaan aja dia cemen banget" Jelas Andra.


Rasanya Aileen iningin teriak saja, Andra tidak bohongkan. Mana bisa orang yang Aileen kagumi juga ternyata menyukai dirinya.


"Ini bakal jadi kabar baik buat Juna kalau Aileen udah putus dari Argi. Semoga dia punya nyali yang besar ya, jangan sampai diserobot orang lagi"


Andra tertawa kecil dan diikuti senyum sumringah Aileen karena betapa bahagianya dia tau kalau Arjuna juga menyukainya.


"Aku pulang dulu ya, makasih udah luangin waktunya"


Andra berpamitan dan mereka saling melambaikan tangan.

__ADS_1


"Yang harus nya makasih tuh aku loh kak Andra, kakak udah kasih info Bagus kaya gini"


Ucap Aileen ketika Andra sudah berjalan cukup jauh dia tidak mau sampai terdengar olehnya. Saking gemesnya Aileen mengetuk-ngetuk sepatunya ke lantai dengan cepat.


Aileen tidak langsung kembali ke tempat sebelumnya duduk bersama Tyas, karena tenyata ada Jamal sampingnya.


Alhasil Aileen memperhatikanmya dari jauh sambil terus terbayang-bayang sosok Arjuna yang masih dia tidak sangka jika pemuda itu juga mempunyai rasa yang sama kepadanya.


...🏫🏫🏫...


"Kalah mulu lu bocil" celetuk Jamal


"Kak Jamal, sejak kapan disini mana Aileen" Tyas tersontak kaget karena seseorang yang dari tadi disampingnya sudah berubah wujud.


"Sini gua mau coba" Jamal berusaha meraih ponsel yang digenggam Tyas.


"Kalau gua udah pasti jago"


Tyas yang dirampas ponselnya oleh pemuda itu hanya terdiam saja, membiarkan kakak kelasnya mencoba menunjukkan kelihaiannya memainkan games itu. Tyas juga merasa penasaran sejago apa dia, karena setiap kali dia kalah permainan pemuda itu selalu mengejeknya.


"Nah kan, ga bisa kakak juga mainnya" Tyas mengambil alih ponselnya kembali.


"Masih jago aku, sana-sana pergi" usir Tyas.


"Dasar bocil ngeselin" ejek Jamal.


"Siapa yang bocil, hah!?"


"Iyalah kakinya kaya kaki anak sd bocil itu namanya, apalagi postingan lu di twt sama Aileen"


Jamal tertawa terbahak-bahak karena mengingat betapa kecilnya gadis itu, Tyas yang tidak terima langsung bangkit dari tempat duduknya.


Bukannya tawa Jamal mereda yang ada Jamal semakin tertawa lepas karena Tyas berdiri dia hanya tinggi pinggang nya.


Fyi saja Jamal ini juga anggota club basket jadi pantas saja jika Tyas terlihat semakin kecil jika berdiri di sampingnya.


"Udah duduk aja, dadah bocil" Jamal mengelus kepala Tyas sebelum berlari meninggalkannya.


Aruna yang baru kembali dari perpustakaan merasa bingung melihat Jamal berlari dengan tawa terbahak. Di lihatnya Tyas yang memasang wajah kesal akan ejekan Jamal barusan, tapi anehnya ada semburat merah di pipinya.


Sedangkan Aileen tengah kegirangan di tempat duduknya, menangkup pipinya sendiri dengan kaki yang masih ia hentak hetakan ke lantai saking bahagianya. Ternyata datanganya pelangi setelah hujan bukan hanya kiasan semata untuknya.


"Ini perasaan gak lagi pandemi kenapa kalian duduknya jadi sosial distancing gini?"


Merasa di sadarkan dari khayalannya Aileen langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri kedua temannya. Dan Tyas mendongakan kepalanya melihat kedua temannya yang lebih tinggi darinya.

__ADS_1


"Kita balik sekarang,"


Tyas kesal, dia jalan lebih dulu dan meninggalkan Aileen dan Aruna yang kebingungan. Tyas memang mudah tersinggung soal tinggi badan apalagi, dia tipe cewe moodyan yang terkadang membuat bingung orang di dekatnya.


__ADS_2