
Hari ini Tyas dan Azka akhirnya memutuskan untuk berbicara langsung dengan Aruna. Mereka membawa Aruna kesalah satu lorong yang jarang di lalui banyak siswa. Sempat Aruna menolak tapi dengan cepat Tyas dan Azka mengapit kedua tangannya dan memaksa gadis itu mengikuti maunya mereka. Seperti adegan penculikan yang tidak profesioanal.
Saat dirasa sudah aman mereka berdua melepaskan Aruna. Memojokan gadis itu di depan pintu ruang kesenian. Aruna langsung mengumpat kesal pada Tyas dan Azka. Dia paling benci dengan skinship. Baik dengan pria ataupun wanita dia akan merasa risih.
"Mau kalian apa sih ??"
Dua temannya ini berkata kalau hal ini masih tentang perubahan sikap Aileen. Tingkat Aileen seperti orang yang baru saja kemasukan setan yang membuatnya kehilangan sukmanya saat ada Aruna, dan sebagai teman mereka berdua tidak bisa hanya duduk diam dan melihat Aileen seperti itu.
"Sebenernya inti dari yang mau kalian omongin tu apa?"
Azka dan Tyas menjawab dengan bersamaan, "Kak Axel!" kedua temannya itu berkata dengan nada tinggi.
"Hah?!"
Sebagai teman Azka dan Tyas tidak bermaksud lebih peduli pada Aileen dan malah memojokkan Aruna, tidak sama sekali. Mereka hanya ingin pertemanan mereka seperti dulu. Kali ini lebih terasa canggung karena sikap Aileen yang sekarang dan sikap Aruna yang pada dasarnya tidak peka dan cuek.
"Aruna kalau emang lu pacaran sama kak Axel, seharusnya lu bilang dari awal sama kita apalagi Aileen, lu tau kan kalau dia juga suka sama kak Axel,"
"Saya kasian sama Aileen, dia jadi pendiam sekarang,"
Sebenarnya Aileen tidak sepenuhnya berubah, dia masih banyak bicara. Tapi pada adik kelasnya, saat dengan mereka bertiga dia akan irit bicara dan seperlunya saja.
"Jadi karena itu Aileen berubah?"
"Ya menurut lu ? mending lu jujur deh sama dia. Seengganya dengan lu bilang sama dia secara langsung Aileen bisa nerima itu pelan pelan tanpa ngerasa kaya ditikung," jelas Tyas.
Aruna menghela nafasnya, masih tidak habis pikir dengan ketidakpekaannya selama ini.
"Eh eh mau kemana?" Tyas menahan tangan Aruna yang hendak pergi.
"Ke kantinlah gua laper," Aruna melepaskan tangan Tyas dan berlalu pergi.
"Kita ni belum selesai bicara Aruna!" teriak Azka.
"Nanti pulang sekolah!" teriak Aruna yang menghilang dari balik lorong.
...🏫🏫🏫...
Sudah lebih dari seminggu semenjak Aileen tau hubungan Aruna dan Axel. Dia masih berusaha untuk menghapus perasaannya itu. Tadi saat dia melewati perpustakaan dia tidak sengaja melihat Aruna juga Axel sedang berbincang dengan akbar. Memperhatikan bagaimana keduanya yang sedang menikmati waktu berduaan, mencoba untuk mengabaikannya tapi otaknya terus mengulang apa yang dia lihat tadi. Seperti kaset rusak yang terus memutarkan scene yang sama.
...*****...
"Alin!"
Aruna menemukan Aileen setelah mencarinya di sekre osis, dia yang kini sedang duduk sendiri di bangku dekat lapangan basket sambil mencubit-cubit rok sekolahnya dan Aruna mendekatinya.
"Kenapa belum pulang ?? masih nunggu bokap jemput ??"
Aileen menjawabnya dengan anggukan.
Aileen yang masih merasa canggung, berusaha menghindari Aruna. Dia pamit untuk menunggu ayahnya di luar sekolah saja, tapi Aruna mencegahnya.
"Temenin gua sebentar ya, gua juga lagi nunggu pacar gua,"
Aileen masih saja terkejut setiap kali Aruna mengatakan kata 'pacar'.
"Emm Aruna,"
"Ya ?"
"Memangnya kalian udah pacaran berapa lama?"
"Sebulan lebih,"
Aileen hanya ber-oh ria dengan beberapa anggukan kecil. Ia juga bertanya soal kedekatan hubungan Aruna dengan Axel dan Aruna menjawabnya dengan santai
__ADS_1
Aruna juga menjelaskan hubungannya dengan pacarnya itu mereka saling nyaman walau memiliki sifat yang sama dinginnya. Tapi justru itu hal yang menarik bagi Aruna, karena ini pertama kalinya dia berpacaran.
Mendengar itu membuat Aileen kembali merasa cemburu.
"Kalian pinter banget ya bisa nyembunyiin hubungan tanpa bikin heboh satu sekolah, padahal kak Axel lagi jadi sorotan di sekolah,"
Tak bisa dipungkiri jika Aileen juga meresa iri pada hubungan Aruna yang terkesan tenang tanpa cibiran siswa lain.
Aruna menanggapinya dengan senyuman saja, karena memang sedari awal pacaran dia memutuskan untuk menyembunyikan hubungannya dengan sang pacar.
Membuat Aileen sadar, Axel memang suka pada temannya sendiri, yaitu Aruna. Walaupun dia tidak begitu tahu banyak tentang Axel, tapi terlihat sikap Axel yang susah untuk tersenyum bisa dengan mudah melakukan itu saat dengan Aruna. Sikap dingin antara reaksi Axel pada orang lain berbeda saat bersamaan Aruna, Aileen juga sadar kalau Axel lebih hangat pada Aruna.
Seseorang datang menghampiri Aileen dan Aruna, dan ternyata itu adalah Andra yang baru selesai dari kegiatannya bermain basket. Pemuda itu langsung duduk di samping Aruna. Menyapa Aileen setelahnya dia meminum air mineral yang di sodorkan Aruna.
Aileen masih tetap melihat interaksi antara kedua orang di dekatnya ini. Aileen manatap Aruna, seperti mengisyaratkan untuk Aruna menjelaskan sesuatu.
"Tadi pas isrirahat pertama Tyas sama Azka labrak gua, dan suruh gua jujur soal hubungan gua sama lu, dan ya,"
"Si muka es ini pacar gua," Aruna menjawab terlewat santai dengan tangan menujuk langsung wajah Andra.
Aileen masih belum bisa mencerna semuannya. Kenapa tiba-tiba Andra yang menjadi pacar Aruna. Ini bukan prank kan?
"Tapi yang waktu kamu bilang mau ketemu cowo pas jam pertama masuk itu, pas di tangga aku liat dengan jelas kalau itu kak Axel bukan kak Andra," Aileen mengingat kejadian belum lama itu.
Tidak mungkin mata Aileen salah lihat dengan jarak yang hanya beberapa langkah saja, matanya tidak serabun itu.
"Itu setelah gua nemuin kak Andra di perpus, Kak Axel nemuin gua cuman mau kasih buku yang udah lama gua cari,"
"Tapi-"
"Pacarnya Aruna saya Leen bukan Axel," Andra ikut berbicara sekarang.
Sebenarnya Andra juga tidak suka melihat kedekatan Aruna dan Axel dan membuat teman kekasihnya ini malah mengira kalau Aruna pacaran dengan Axel.
Aileen ingin tahu semuanya, bagaimana mungkin Andra dan Aruna berpacaran. Dua kutub yang saling berlawanan ini mustahil bisa memiliki hubungan.
"Okey okey gua ceritain semuanya,"
🏫Flashback
Seseorang datang dan menempelkan kaleng minuman dingin ke leher Aruna hingga membuat gadis itu terlonjat kaget.
"Aishh," Aruna mendesis saat tau siapa pelakunya.
"Ikut saya sebentar," orang itu menarik tangan Aruna, membawa gadis itu keluar perpustakaan menuju kursi panjang yang tak jauh dari kolam ikan.
Aruna menuruti pemuda itu dan duduk dengan tampang kesal, wajahnya bahkan memerah akibat menahan marah. Pemuda itu memberikan minuman kaleng dingin itu pada Aruna, dia sempat akan membukakan penutup kaleng itu tapi tanganya di tepis oleh Aruna.
"Pasang galon di rumah aja aku bisa kak," Aruna membuka penutup soda itu dan langsung menenggaknya.
"Saya suka sama kamu,"
BUSH!!!
Aruna menyemburkan air soda yang berada di mulutnya ke wajah Andra. Seperti dukun yang mengobati pasiennya dan sudah di pastikan wajah Andra basah dan lengket.
Detik berikutnya setelah sadar kesalahnhya, Aruna langsung mengeluarkan saputangan dan membersihkan wajah Andra dengan mulut yang tidak berhenti meminta maaf.
Andra menurunkan tangan Aruna yang berada di wajahnya mengambil alih saputangan Aruna dan membersihkan wajahnya sendiri. Sebenarnya bukan wajahnya saja yang basah tapi seram yang dipakainya juga ikut jadi korban semburan Aruna. Andra sadar tidak seharusnya dia mengatakan perasaannya saat Aruna sedang minum.
"Maaf ya kak, abis aku kaget,"
"Ga apa , tapi muka saya berasa lengket banget," mendengar itu Aruna langsung tertawa melihat Andra sekarang.
"Abis kak Andra bercanda ga tau waktu, ya kena sembur lah," Aruna masih tertawa melihat betapa lucunya wajah Andra sekarang.
__ADS_1
"Yang bilang saya bercanda siapa? saya serius,"
Kini wajah Andra berubah serius seperti ucapannya barusan. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan mata yang masih tetap menatap Aruna.
"Saya suka sama kamu Aruna, saya cemburu setiap kali liat kedekatan kamu sama Axel, saya ga suka ngeliatnya. Saya juga ga nyaman waktu teman teman saya terus nanya soal perasaan kamu pada Axel,"
Aruna mengernyitkan dahinya, dia menatap balik manik mata Andra. Dia tidak tahu apa Andra sedang berbohong atau tidak, tapi matanya mengisyaratkan keseriusan. Dia tidak sedang bercanda.
"Maksud dari omongan kakak itu, kakak mau aku jadi pacar kakak gitu ?" tanya Aruna to the point.
"Eh ?? emm iya," Andra sempat terkejut tapi memang itu tujuannya mengutarakan perasaanya ini.
"Ya udah kalau gitu kita pacaran mulai hari ini," ucap Aruna enteng.
Kenapa malah jadi Aruna yang terkesan menembak Andra.
"Kamu mau jadi pacar saya?"
Aruna mengangguk, "Soalnya ini pertama kalinya ada yang nembak aku secara langsung, bukan lewat chat doang. Sayangkan kalau di tolak,"
Ini benar benar diluar ekspektasi Andra. Tapi dia senang karena dia berhasil menjadikan gadis yang ia suka sebagai kekasihnya sekarang.
🏫flashback off
Aileen yang mendengarkan cerita itu melongo tidak percaya.
"Kenapa pake acara backstreet segala? kita kan temen deket kamu Aruna, kamu ga percaya sama kita?" tanya Aileen
"Bukan itu, tapi,"
Andra mengeluarkan sesuatu yang ia gunakan dari balik seragamnya kalung dengan liontin salib yang melingkar di leher putihnya itu. Aileen menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Ada tembok pemisah di hubungan kami, jadi Aruna minta saya untuk engga bilang sama siapapun soal hubungan kami ke orang lain," jelas Andra
"Selain aku siapa lagi yang tau hubungan kalian?"
"Engga ada, bahkan Juna yang temen deket saya aja dia ga tau,"
Aileen merasa bersalah karena sudah menuduh Aruna selama ini. Dia memeluk temannya itu dari samping, walaupun risih Aruna membiarkan itu dan hanya menepuk-nepuk pelan tangan Aileen.
"Gua ga segabut itu mau bersaing sama temen sendiri cuman karena satu cowo,"
"Gua ga bilang sama lu, juga sama Tyas, bukan karena ennga percaya. Tapi dengan perbedaan gua sama kak Andra itu cukup buat kami sulit jalanin hubungan sekarang ini. Apalagi kalau di tambah cibiran orang yang ga tau menau soal kami. Temennya dia pasti nyuruh dia buat putusin gua kalau tau, kalian juga pasti akan minta gua untuk ngehindarin hubungan beda agama kan?"
Aileen melepaskan pelukannya. Dia mengangguk, karena memang beberapa kali mereka sempat membahas ini di grup chat mereka, tanpa curiga dengan pembahasaan yang Aruna tanyakan saat itu.
Aileen sekarang mengerti tentang Aruna yang menyembunyikan pacarnya dan hubungannya pada mereka. Dia meminta maaf karena pikiran buruknya selama ini pada Aruna.
"Sekarang lu udah tau. Jadi jangan salah sangka lagi, kak Axel dia masih jomblo kok,"
Aileen memukul lengan Aruna cukup keras, kenapa temannya ini membahas Axel depan Andra.
"Udah selesaikan klarifikasinya ?"
"Iya usah kak makasih,"
"Kita balik sekarang, Aku masih ada les hari ini," Andra melihat jam yang melingkar di lengan kirinya. Aruna langsung bangkit dari duduknya ia pamit pada Aileen kalau dirinya akan pulang duluan bersama dengan Andra.
"Bye bye,"
Aileen melambaikan tangan pada sepasang kekasih itu. Memperhatikan keduanya yang sedang berjalan beriringan, tidak ada rangkulan ataupun tangan yang saling bertautan. Tapi sepanjang jalan menuju ke parkiran mereka berdua tak berhenti bercanda. Bisa di lihat keduanya saling tertawa.
Aileen kembali melihat arah lapangan. Dari tempatnya duduk sekarang, dia bisa melihat kelas Axel. Dia bangkit dari duduknya, menghentak hentakan kakinya, lalu duduk kembali. Dia bahkan menggigit bibir bawahnya agar tidak bersorak senang.
Mengetahui fakta bahwa Axel masih sendiri, dan soal kecemburuannya terhadap Aruna itu semua hanya ketakutannya. Merasa malu dengan apa yang dipikirkan Aileen selama ini soal Axel dan Aruna juga sangat senang bahwa hal yang ia pikirkan selama ini adalah tidak benar adanya.
__ADS_1