
Pagi ini di sekolah sudah ada kehebohan lagi. Sepetinya bisa dihitung jari hari tenang di sekolah ini sisanya pasti ada saja yang bikin gempar warga sekolah.
"Jangan lupa pilih kak Adit ya demi masa depan sekolah kita yang lebih baik"
Kali ini bukan Adit yang berorasi di kelas IPA-1, melainkan Tyas dengan membawa pamflet karena dia menjadi tim sukses kampanye Adit. Sejak dia datang sampai sekarang dia terus saja seperti itu,
"Nanti istirahat langsung ke aula ya buat coblos jangan jajan dulu ke kantin"
Pinta Tyas pada Aileen dan Aruna,
"Males ah, lagian kaga ngaruh juga siapa yang menang sekolah kita bakal gitu-gitu aja kali" ucap Aruna.
"Eh~ kata siapa? Makanya kamu harus pilih kak Adit ya"
Tyas masih saja sempat-sempatnya melaksanakan tugas timses nya, bahkan dia memberikan salah satu pamflet nya pada Aruna.
"Aileen kamu juga ya jangan lupa nyoblos"
"Iyalah, aku ga mau nyia-nyiain satu suara buat kak Juna"
"Eh~ ga usah deh Aileen ga usah nyoblos kalau gitu. Lupa aku kalau kamu rival aku" Tyas langsung membuang muka.
...🏫🏫🏫...
Aileen memutuskan untuk makan bekalnya dulu baru pergi ke aula dia yakin pasti antrian disana masih panjang, ditambah dia tidak bisa menunda lebih lama rasa laparnya.
"Aileen, engga ke aula dulu" tanya Azka yang hendak keluar kelas bersama beberapa anak laki-laki.
"Engga, nanti aja udah makan. Aku udah ga kuat laper" Aileen langsung membuka kotak makannya.
"Azka ayo~ " ajak temannya yang sudah di depan pintu kelas.
"Duluan aja, saya ntar aja"
Tiba-tiba Azka berubah pikiran, karena melihat Aileen hanya sendiri di kelas.
__ADS_1
"Eh?! Kenapa ga jadi? "
Tanya Aileen dengan mulut yang penuh dengan nasi, Azka berlari ke bangkunya mengambil kotak bekal dan botol minumnya. Kali ini Azka duduk disamping Aileen, meminjam tempat Aruna.
"Nanti aja, saya bareng kamu aja"
Azka langsung menyantap bekalnya, keduanya sangat fokus dengan makanan masing-masing tidak ada suara selain ketukan sendok yang terkadang terdengar bertanda bekal mereka sudah sampai dasar dari kotak bekal.
"Aileen, kamu mau pilih siapa?"
Tanya Azka saat mereka sudah menyelesaikan makannya,
"Itu rahasia kamu ga boleh tau"
"Tapi kan saya ga tau pas mereka orasinya"
"Iya juga ya, tapi kamu liat aja kali dari visi misi nya yang mana paling meyakinkan"
"Aku kenalnya sama kak Juna, karena pernah satu angkot sama dia pas pulang"
"Emang rumah kamu dimana?"
Pertanyaan yang mungkin tidak akan terlalu keliatan jika dia penasaran akan info kecil tentang Juna. Azka menjawabnya tanpa ada rasa curiga pada Aileen dan diakhir Aileen menyarankan jika Azka memilih Juna sebagai pilihannya karena kandidat lain belum Azka kenal. Saran Aileen diterima oleh Azka dia sepakat dengan pemikiran Aileen, lagi pula dengan pertemuan beberapakali dengan Juna sudah dapat memberikan penilaian pada sosok nya.
...🏫🏫🏫...
Sementara itu disisi lain,
"Woy bocil"
Jamal menghampiri Tyas yang tengah duduk bersama beberapa teman nya, mereka tengah makan bersama di kantin.
"Lu kemarin ngasihin pamflet ke anak SMP sebelah ya"
Tyas langsung tersedak, bagaimana Jamal tahu tentang hal ini. Padahal kemarin dia sudah memberikan peringatan pada seluruh anak SMP. Tyas tidak berani menjawab pertanyaan Jamal dia takut jika Jamal bereaksi berlebihan dia lebih memilih diam,
__ADS_1
"Dasar bocil, kalau sampai Adit engga menang jadi ketos atau waketos. Lu tau akibatbya ya"
Jamal mengancam Tyas. Jamal sampai segitunya ingin temannya menang, bahkan pamflet itu juga desain buatan Jamal. Mungkin jika ada nominasi timses terbaik Jamal pasti menang, dia sangat berdedikasi sekali pada Adit.
...🏫🏫🏫...
Pengumunan pemenang pemilu ketua osis akan diumumkan setelah pulang sekolah yang akan dihitung suaranya secara terbuka oleh panitia osis di aula sekolah. Siapa saja boleh datang untuk menyaksikan kandidat yang terpilih, mungkin hal ini dirasa membosankan tapi karena kandidat tahun ini sangat menggemparkan jadi membuat warga sekolah ingin mengetahui langsung dengan menyaksikan penghitungan suara, tidak apa menunda pulang ke rumah untuk beberapa jam dari pada kehilangan euphoria yang tidak akan terulang kembali.
Di sebuah ruangan luas, dengan dinding tembok yang banyak terdapat pamflet para kandidat calon ketua osis terpampang. Wajah Adit lebih mendominasi berkat kerja keras tim suksesnya yang royal, heboh dengan semangat yang membara. Sedangkan kandidat rival yang tidak kalah kuat Arjuna pun sama hebohnya, tapi tim suksesnya jauh lebih tenang tidak seheboh kandidat sebelah yang terbilang sangat barbar.
Salah satu mengetahui dengan cepat sifat kandidat yang diusung itu, lihat saja tim suksesnya sangat menggambarkan sifat dari si calon tapi tidak menjamin 100% benar tapi itu bisa jadi penilaian awal yang cukup akurat.
Sorakan siswa siswi terus terdengar setiap kali guru menyebut satu nama dalam kertas pemilu yang menjadi pilihan siswa, dan suara ejekan berseru saat nama tim lawan yang keluar. Ini lebih heboh daripada pertandingan piala dunia.
Untung ruangan yang digunakan kedap suara, jadi tidak akan mengganggu kegiatan belajar siswa SMP yang menjadi tetangga sekolah ini. Meski ada puluhan mungkin ratusan kursi, tapi hampir semuanya terisi oleh siswa siswi. Mereka ingin tahu langsung siapa yang menggantikan kedudukan Bima sebagai ketua osis.
"Kalian berdua bisa ga duduk aja?" komentar Aruna yang tengah melihat tingkah kedua temannya.
"Engga," jawaban kompak dari Aileen dan Tyas. Aruna memilih diam sekarang.
Dipapan tulis, jumlah suara Juna dan Adit saling mengejar. Adit terus menebar senyumnya walupun tanganya sudah seperti es, dia sudah mengorbankan semuanya dia harus menang. Ambisinya.
Juna, yang memang pembawaanya yang berwibawa, di cukup tenang. Ia yakin siapapun yang terpilih itu adalah yang terbaik menurut warga sekolah.
Hasil suara Juna dan Aditya imbang. Kertas terakhir yang di acungkan menjadi penentu siapa yang menang. Sama menegangkannya seperti menanti kelahiran seorang bayi bagi para tim sukses.
"Kak Juna Kak Juna please nama Kak juna,"
"Ihh kak Adit yang harus menang,"
"Gua-"
"Sstttt," Aileen dan Tyas menaruh telunjuk mereka dihadapan muka Aruna, melarang temannya itu untuk ikut berkomentar. Mata mereka fokus pada kertas terakhir. Dari mulai kertas itu dibuka setiap lipatannya, saat kertas itu di balikkan bagi pada siswa itu sudah seperti gerakan slowmotion.
"YEAAAYYY KAK JUNA YANG MENANG," Aileen berteriak senang, memeluk temannya. Dengan Aruna yang duduk di kursi, Tyas yang berada di tengah, Aileen yang menumpuk mereka berdua dengan badannya.Mereka seperti sandwich yang bertumpuk sekarang.
__ADS_1