
Seperi biasanya rutinitas saat pulang sekolah, Axel sudah menunggu dibawah pohon jambu bel sudah berbunyi 5 menit yang lalu tapi kelas nya baru bubar.
Axel merasa harap-harap cemas apakah Aileen sudah pulang atau belum. Axel berikrar dalan hatinya,
"Kalau sampai Aileen nungguin aku berarti dia juga beneran suka sama aku"
Sebuah pernyataan yang terdengar aneh, sudah jelas Aileen memang menyukainya tapi anehnya Axel selalu merasa jika itu tidak mungkin sosok gadis seperti Aileen menyukainya. Ya Axel masih ragu dengan perasaan gadis itu padanya, jika ditanya bagaimana perasaannya sekarang pada Aileen?
Axel merasakan jika ada perasaan aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, semakin hari rasanya dia ingin selalu bertemu dengan Aileen bahkan perasaan sekarang mulai merasa jika dia ingin Aileen menjadi miliknya, menjaganya dan memberikan perhatian lebih padanya.
Namun disisi lain dia juga masih merasa ragu apakah dia pantas untuk sosok Aileen.
Sudah hampir 5 menit Axel berdiam diri di bawah pohon jambu dan sesekali dia menadahkan pandangnya ke atas tapat di atas kelas Aileen.
Sampai akhirnya,
"Ngeliatin apa sih kak diatas"
Ucap Aruna yang keluar dari ruang guru, membuat Axel tersenyum kikuk.
"Liatin siapa hayo?"
Sekarang Aruna sudah berdiri tepat disamping Axel dan ikut melihat kearah yang sama dengan Axel.
"Eh kelas kamu udah bubar ya"
"Iya ada kali 10 menit yang lalu"
"Oh gitu ya"
Pohon jambu yang berada tepat di samping ruang guru ini menjadi tempat tongkrongan Axel akhir-akhir ini.
"Kakak sering banget deh diem disini tiap pulang sekolah, mau jadi penghuni pohon jambu ya"
"Ngaco kamu, udah ah aku mau pulang aja"
"Eh engga mau liat dulu Aileen"
Axel terdiam, bagaimana bisa Aruna tau kebiasaan ini. Padahal selama dia bertukar tatapan dengan Aileen, mereka hanya berdua saja. Tidak ada orang yang ikut serta dalam rutinitas ini.
"Aruna~"
Aileen keluar dari ruang guru dengan secarik kertas ditangannya. Gadis itu dibuat kaget saat melihat temannya sudah bersama dengan Axel.
__ADS_1
"Tuh orangnya dateng"
"Panjang umur lu Leen, sini"
Aruna langsung menarik tangan Aileen menyeret nya untuk lebih dekat.
Suhu tubuh Aileen tiba-tiba memanas, apa karena di dalam ruang guru ada AC terus keluar jadi berasa pengap ya? Laju jantungnya tidak karuan seperti biasanya ini terjadi setiap kali dia di dekat Axel.
Reaksi tubuh selalu lebih peka dari segalanya, gejala jatuh cinta ini bukan hanya dirasakan Aileen seorang tapi begitu juga Axel.
"Aileen kamu juga tadi bilang kan kalau belum ketemu kak Axel engga akan pulang dulu"
Aileen menatap tajam ke arah Aruna, lagi dan lagi kenapa dia harus seperti ini terlalu jujur.
"Kalian ini ya, ribet banget sih"
"Kalau sama sama —
Belum juga Aruna menyelesaikan kalimatnya Axel sudah memotongnya.
"Aku pulang dulu ya, udah gelap soalnya"
Detik berikutnya Axel langsung berlari kecil meninggalkan kedua gadis itu.
Bahkan sebagian pemuda ada saja yang bersih kukuh mengejar perempuan yang dia sukai padahal sudah secara gamblang ia ditolak, seperti Argi contohnya.
Tapi Axel benar-benar pemuda langka,
"Leen kamu yakin masih mau suka sama kak Axel"
Tanya Aruna yang sebelumnya dia melihat Axel pergi keluar area sekolah sampai pemuda itu menghilang dari balik pos satpam.
Aruna sekarang memilih menengok ke arah sampinya, melihat Aileen yang sedang tersipu tersenyum malu bahkan dia sudah meremas secarik kertas yang dia dapat dari ruang guru tadi.
"Aruna kenapa dia gemes banget"
"Gemes dari mananya, kesel yang ada aku sama kak Axel"
Rasanya Aileen ingin teriak tadi dia menatap Axel dengan jarak yang cukup dekat, dia bisa melihat wajah tampannya yang memerah. Bahkan saat angin berhembus membuat rambut depan Axel sedikit terkibas, membuat Aileen bisa mengintip sedikit jidat paripurna nya.
"Ganteng banget ya allah"
"Kak Axel emang ganteng Leen. Tapi Aruna engga suka karena dia nyebelin"
__ADS_1
"Tapi aku suka banget sama dia, pinter, ganteng, jago olahraga aduh kurang apa lagi dia. Dia cuman kurang satu aja"
"Apaan, mental yupi"
"Bukan, dia cuman kurang pendamping aja. Aku harusnya ya kan"
"Ih, ngimpi aja dulu Leen. Minta bantuan tapi dikasih kesempatan nalah kabur" gumam kesal Aruna
"Hah!?"
"Engga, itu kertas apa Leen. Udah kaga berupa kan sekarang karena kamu remes-remesin"
"Eh!? Ini kertas aduh gimana dong ini"
"Iya kertas apaan itu"
"Tadi itu aku disuruh isi biodata buat ikut olimpiade"
"Lah terus"
"Aduh gimana ini formulir nya udah engga berbentuk lagi"
"Minta lagi aja, ini sih udah engga bisa kepake. Lebih parah dari bungkus gorengan" ucap Aruna yang menatap malang nasih kertas formulir ini yang menjadi korban kegemasan Aileen.
...🏫🏫🏫...
Axel duduk di sebuah halte yang tidak jauh dari sekolah, mencoba mengatur napasnya agar kembali normal.
Napas Axel kembali dalam ritme nya, padahal dia lari tidak terlalu jauh tapi rasanya seperti sudah menyelesaikan lari maraton. Tapi anehnya ritme jantungnya belum kembali normal itu karena pikirannya masih saja terbayang wajah Aileen tadi.
Axel bisa jelas melihat wajah Aileen yang manis, hidung mancungnya dan senyum yang tergugat dibibir nya bahkan Axel bisa melihat jelas dimple milik Aileen yang tidak terlalu dalam itu. Kini Axel benar-benar dibuat kagum dengan wajah cantik Aileen dan dia tersadar bahwa gadis ini punya banyak pesona pantas saja pemuda di sekolahnya banyak yang mengagumi.
Paras cantik Aileen menjadi daya tarik nya semakin kuat, awalnya Axel tertarik dengan Aileen karena dia sering kali masuk kedalam jajaran siswa berprestasi di sekolah, baru satu tahun bersekolah saja dia sudah banyak membuat prestasi, Aileen populer karena hampir setiap guru di sekolah selalu memujinya karena prestasinya ditambah parasnya yang cantik. Dan satu lagi yang membuat Axel semakin jatuh hati karena Aileen sangat rajin beribadah tidak jarang mereka berpapasan di mushola bahkan Aileen sering sekali menunaikan ibadah dhuha nya, membuat Axel semakin digetarkan hatinya.
Ya walaupun mereka belum pernah sholat berjamaah bersama tapi Axel pernah sampai membayangkan jika suatu saat dia pasti akan menjadi Imam sholatnya bagi Aileen.
"Aamiin"
Tidak sadar Axel malah memanjatkan doa saat sedang berhayal disiang hari, bahkan rasanya tempat saat ini Axel duduk kurang cocok untuk berkhayal.
"A naik angkot?"
"Engga pak"
__ADS_1
Axel tersadar dia masih ada di halte sampai-sampai ada supir angkot yang menawarkan tumpangannya. Axel menggelengkan kepala bisa-bisa nya dia dibuat seperti ini hanya karena seorang gadis, maklum Axel baru pertama kali merasakan getaran hebat ini.