
Di bulan september akhir ini, sudah satu semester tahun ajaran berlangsung.
Tak terasa hubungan Aileen dan Arjuna sudah tepat 100 hari tepat pada hari ini. Suasana pagi sudah heboh karena kejadian Arjuna yang memberikan buket bunga dan coklat pada Aileen saat di gerbang sekolah disaksikan banyak pasang mata, bahkan pedagang yang berjualan di depan sekolah mereka pun ikut menyaksikan drama remaja yang sedang berlangsung.
Aileen begitu senang dia tidak menyangka jika Arjuna akan memberikannya hadiah pada hari jadi mereka ini, bahkan Aileen juga lupa akan hal itu karena dia terlalu hetic dengan ujian semester yang baru selesai beberapa hari yang lalu.
"Ya ampun Aileen aku iri banget sama kamu, kak Juna memang so sweet banget"
Tyas memeluk Aileen gemas karena dia juga ada di lokasi saat itu
"Itu coklat mahal pasti, nanti buka ya pas istirahat aku mau nyobain"
Ucap Tyas yang kali ini memegang coklat pemberian Arjuna, dan Aileen hanya mengangguk setuju. Aileen pikir kebahagiannya juga harus dirasakan juga oleh teman dekat nya.
...🏫🏫🏫...
Topik ini membuat kisah Aileen dan Arjuna kembali hangat dibicarakan,
Hal ini juga membuat Arjuna risau, Arjuna berpikir bahwa dia harus lebih sering dekat dengan Aileen agar orang-orang yang membicarakan tentang mereka semakin dibuat iri tapi berbeda dengan Aileen dia menanggapi dengan bagaimana cara agar dia tidak terlalu dekat dengan Arjuna saat di sekolah.
Tanggapan yang berbeda dari keduanya membuat hubungan mereka kurang baik akhir-akhir ini. Hari jadi mereka ini akan menjadi penentu bagi Arjuna atas sikap dan respon Aileen.
Tidak sengaja Aileen bertemu dengan Arjuna saat di kantin karena kebetulan hari ini Aileen tidak bekal.
"Sayang kita makan bareng yuk"
Sontak kalimat tersebut mengundang perhatian disekeliling mereka karena untuk pertama mendengar sebuah panggilan sayang yang terucap dari mulut Arjuna pada Aileen.
Aileen yang sadar akan hal itu tanpa berpikir panjang menolaknya, jika lebih baik mereka makan masing-masing saja. Wajah Aileen memerah karena bisa-bisa nya Arjuna memanggil nya seperti itu di depan umum, membuatnya sangat risih apakah Arjuna tidak sadar jika hal itu akan membuat penghuni sekolah membicarakan hal itu berbicara buruk tentang dirinya.
"Kamu kenapa? Kita ga apa kok kalau kamu makan sama kak Juna"
Aileen menggeleng pelan, jika dia bergabung makan dengan Arjuna dan teman-teman sekelas bisa-bisa Aileen jadi bahan gosip mereka. Karena hampir sebagian teman Arjuna tidak menyukai Aileen karena sikap dinginnya pada Arjuna tanpa tau alasan dari sikap yang ditunjukkan Aileen itu karena dia sangat segan pada Arjuna yang notabene nya kakak kelas juga ketua osis juga ditambah dengan label yang sudah terlanjur mereka berikan pada Aileen jika Aileen hanya ingin populer di sekolah.
__ADS_1
Tanggapan Aileen yang menolak ajakan Arjuna mendapat respon yang dari teman sekelasnya terutama teman dekat Arjuna, temannya itu mengomentari soal hubungannya dengan Aileen yang dirasa semakin hari bukannya semakin mesra dan lengket justru semakin terasa renggang. Juna semakin dibuat tidak karua atas respon yang baru saja ditunjukkan pada Aileen di hari jadi mereka.
"Apa mungkin Aileen tidak benar-benar serius dengan hubungan ini?"
...🏫🏫🏫...
Aileen dan Aruna sudah pulang lebih dulu mereka lebih sering pulang dijemput oleh orang tua mereka di bandingkan pulang menggunakan kendaraan umum.
Tyas yang lebih sering menghabiskan waktu di sekolah walaupun kegiatan sekolah sudah usai, hal itu ia pilih karena dia tidak mau sendiri di rumah dia akan pulang saat jam jam kepulangan tantenya dari tempat kerja.
Seperti saat ini Tyas sedang berada di lapangan sekolah menyaksikan pertandingan seru-seruan antara anak laki-laki, kenapa dibilang pertandingan seru-seruan karena siapapun pemenangnya tidak akan mendapatkan hadiah apapun.
Setelah kejadian beberapa hari lalu saat Tyas diantar Jamal, Tyas selalu mendapati tatapan tajam dari para harimau betina teman sekelas Jamal. Sebenernya Tyas kurang enak melihatnya tapi karena sikap bebal Tyas tatapan mereka pun hanya dianggap angin lalu, bahkan tak jarang Tyas dengan sengaja menyapa Jamal jika sedang berpapasan atau ketika Jamal sedang berolahraga.
Tyas sedang merekam kegiatan Jamal yang bermain basket dengan kamera Jamal yang ia pinjam, tak jarang Jamal melambai kearah kamera dan memberikan beberapa flying kiss untuk beberapa fansnya yang sedang menonton.
Tyas duduk di bangku penonton paling depan. Mengabaikan teriakan-teriakan para gadis yang sungguh membengkakan telinga. Memilih tetap merekam, lensa kamera yang ia pengang mengikuti setiap gerakan dari tubuh tinggi Jamal. Tangan pria itu gesit memainkan bola, merebut bola dari lawan dan beberapa kali memasukan bola berwarna oren itu ke dalam ring.
Pemuda itu melangkahkan kakinya ke arah bangku penonton, menampilkan senyum kemenanganya yang di sambut histeris para penggemarna. Gadis-gadis itu terpesona akan semua hal yang di lakukan Jamal. Tubuh penuh keringatnya itu menambahkan kesan **** dengan lengan berotot yang terekspos bebas.
"Tadi ngerekamnya bener ga ?? jangan malah fokus ke Adit tadi ??" bukannya berterima kasih pada Tyas, pemuda itu malah menuduhnya.
"Lihat aja sendiri hasil rekamnya, epic udah kaya sinematografer aku ," ucap Tyas percaya diri. Memeperlihatkan hasil rekamannya pada Jamal.
"Good," tangan Jamal mengelus kepala Tyas pelan. Bahkan senyumnya juga terukir di wajah bulenya, seperti bangga dengan rasa percaya diri yang Tyas miliki. Dan hasil rekamannya juga memang bagus.
Adegan itu di tatap iri oleh para gadis yang melihatnya. Banyak dari mereka yang mendesis kecewa ada juga yang malah sampai mengumpat kesal.
"Gua ganti baju dulu, lu tunggu disini jangan pulang duluan ya bocil,"
"Ishhh," Tyas mendesis sebal. Tak suka dengan sebutan Jamal tadi.
"Kita beli jajan nanti," Jamal tersenyum jail. Mengacak pelan rambut Tyas, kemudian berlalu meninggalkan Tyas.
__ADS_1
Gadis berbadan mungil itu menatap setiap pasang mata yang menatap ke arahnya. Hal biasa yang ia dapatkan setelah berteman dengan Jamal. Dia menganggap hal itu sebagai latihan kalau nanti di masa depan dia menjadi kekasih idol kesukaannya. Mungkin nanti akan lebih banyak dan jauh lebih mengerikan dari pada ini.
Otak yang bersemayam di kepalanya itu masih sempat sempatnya berkhayal.
*
*
*
Sampailah mereka di mini market yang tidak jauh dari sekolah. Tyas dan Jamal masuk ke dalam mini market itu, berjalan ke lorong tempat aneka snack.
"Budged jajannya berapa kak ??"
"Ya lu kalau di jajanin jangan aji mumpung, ambil seperlunya aja,"
"Tapi kalau ngemil kita kan butuh banyak, ada chiki, air buat minum, es krim, terus-"
"Dua item aja ga boleh lebih,"
"Eh?? kok dikit,"
Tidak memperdulikan Tyas, Jamal memilih berjalan ke lorong dengan banyak lemari es berisikan berbagai macam minuman. Jamal membuka salah satu pintu lemari es itu dan mengambil satu minuman isotonik untuk dirinya.
Setelah itu dia kembali mendatangi Tyas yang tengah terdiam di laci makanan. Gadis itu berdiri dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagunya, mencoba berpikir. Dengan syarat dua item yang Jamal beri padanya, akhirnya tangan gadis itu mengambil keripik singkong berukuran paling besar setelah itu ia berjalan dan mengambil 1 jus apel kemasan yang dingin.
"Lu ga salah ngambil yang seliter,"
"Emang kenapa ?"
"Nguras dompet gua itu,"
"Yang penting dua item kan," Tyas melengos ke meja kasir begitu saja. Dia bahkan tidak melihat tatapan sinis Jamal padanya.
__ADS_1